TANGGA-TANGGA PENGELIHATAN

Apakah gerangan alasannya, seorang sahabat dilarang Rasulullah menyedekahkan lebih dari sepertiga hartanya, sedang di saat yang lain Sayidina Abu Bakar RA kita tahu menyedekahkan SELURUH harta miliknya?

Hal yang seakan inkonsisten ini akan terjawab ternyata, jika kita memahami mengenai apa yang oleh orang-orang arif disebut MAQOM. Atau gampangnya kita istilahkan saja level spiritualitas.

Kita tahu, bahwa selalu ada di dalam diri manusia itu sebuah dorongan yang menyebabkan manusia melakukan sesuatu. Misalnya, karena ada amarah di dalam dirinya, maka manusia memukul orang lain. Itu misal.

Tetapi, khusus lebih spesifik untuk bahasan spiritualitas, orang-orang arif memberi istilah dengan “Ahwal / Hal / Kondisi ruhani” sebagai istilah yang membahasakan dorongan yang terjadi di dalam jiwa manusia itu. Dan memberi istilah lain yaitu “Amal” sebagai sesuatu yang terzahir atau terwujud sebagai aktivitas fisik.

Contohnya kira-kira begini. Karena seorang arif mendapatkan sebuah kondisi ruhani dimana dia merasakan betapa Allah itu Maha Berkuasa, maka secara lahiriyah orang ini akan terus-terusan menangis karena takut. Itu contoh situasi “dalam” menyetir aktivitas “luar.”

Contoh lainnya lagi misalnya, seorang arif mendapatkan sebuah kondisi ruhani dimana dia merasakan betapa Allah itu Baiiiiiiiik sekali. Maka secara lahiriyah orang ini akan senyam-senyum sendiri. Terus-terusan sumringah. Dan merasa hidup ini tanpa beban.

Dua contoh yang berbeda secara lahiriyah, karena kondisi ruhani yang mereka alami berbeda. Nah…selama dia masih sebatas kondisi ruhani begini, dia masih bisa berganti-ganti. Kadang begini, kadang begitu. Tidak tetap. Kadang khusyu’ kadang tidak.

Kondisi Ruhani masih bisa bolak-balik. Misalnya, tempo-tempo saya pernah merasakan begitu khusyuuuu sekali, seakan-akan saya sudah menyamai level para aulia. Dulu saya mengira itu adalah pencapaian spiritual saya. Tapi pas ada masalah, JEDEEERRRR. Goyang. Baru saya tahu bahwa kondisi ruhani waktu itu belum stabil.

Sedangkan “Maqom”, apa itu maqom?

Maqom adalah sebuah level dimana kondisi ruhani yang didapatkan seseorang itu sudah menetap. Teguh. dan tidak lagi bolak-balik. Dirinya betul-betul berubah, maka kita sebut dia “Naik Maqom.” Level spiritualnya naik..

Semakin tinggi maqom seseorang, semakin ibadah atau amal dia menjadi BEYOND / DI ATAS rata-rata orang umum. Tetapi ingat, hal itu disetir oleh kondisi DALEMnya, bukan dibuat-buat. Dan amal mereka tidak bertentangan dengan syariat yang umum, tetapi akan sulit dilakukan orang dengan level MAQOM dibawahnya.

Kalaupun orang dengan maqom dibawahnya mencoba meniru amal lahiriyah orang ini, pasti keliru. Ada yang kurang pas-lah.

Nah…ini kuncinya. Sebagai awalan, SYARIAT yang diajarkan Rasulullah SAW sudah diatur sedemikian rupa sehingga bisa DIAPLIKASIKAN semua maqom. Karena Rasulullah paham bahwa ummat beliau berbeda-beda levelnya.

Jadi kita jalankan syariat ini dengan sebaiknya, tahu tentang diri, tahu tentang Allah (Ma’rifatullah). Maka lama-lama maqom akan naik, dan tanpa sadar amalan lahiriah berubah sendiri menjadi lebih baik.

Jadi harus dari dalam ke luar. Jangan meniru amalan lahiriah (luar) orang dengan maqom puncak, jangan. Tirulah amalan syariat yang dicontohkan Rasulullah. Nanti kalau terus dilakukan, tanpa sadar akan pindah sendiri menjadi amalan dengan maqom orang yang lebih tinggi.

Hal inilah saya rasa, penjelasan mengapa Rasulullah sekali waktu membolehkan seseorang sedekah SEMUA harta, sekali waktu melarang orang lainnya sedekah lebih dari sepertiga harta. Ini juga penjelasan mengapa Rasulullah menganjurkan kita banyak-banyak berdo’a, tapi pada ceritra lainnya kita tahu bahwa Nabiyullah Ibrahim AS enggan berdoa saat detik-detik hendak dilempar ke kobaran api.

Jangan tiru amaliyah lahiriyah yang tinggi-tinggi dari para auliya. Tiru DALEMNYA. Kalau dalemnya sudah dapat. Nanti akan seperti Ibrahim AS. Mau dilempar ke api pun dia tak berdoa, sebab pengelihatan Beliau sudah sangat tajam dan mengerti bahwa semua dalam genggaman takdir Allah, dan Allah Maha Tahu apa yang terjadi, dan Allah tahu yang terbaik. Tapi DALEMANNYA Ibrahim AS setitikpun tidak berontak

Untuk kita-kita ini yang masih gelisah, masih ada senang dan sedih, harus menegakkan kehambaan dengan memuji Allah, meminta tolong padaNya, berlindung pada Nya.

Barulah nanti diperjalankan. Syukur-syukur sampai ‘maqom’ seperti Ibrahim.

Jika kondisi ruhani yang dalam sudah ketemu, bentuk amaliah lahiriyah akan berubah dengan sendirinya.

Kalau amalan lahiriyah yang ditiru, belum tentu kondisi ruhani bisa menyusul. Sederhananya, harus menuruti syariat yang umum yang dicontohkan kanjeng Nabi Muhammad SAW….Barulah nanti Allah akan memperjalankan kita ke maqom-maqom yang ditakdirkan untuk kita.

Semoga gambar di bawah ini membantu.

MAQOM

*) Hadist Qudsi: “Siapa yang lebih sibuk berdzikir kepadaKu dibanding meminta kepadaKu, justru Aku beri ia lebih utama dibanding yang Kuberikan kepada orang-orang yang meminta”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s