HINGGA DIA YANG MENGANGKAT

Kita tahu, bahwa selalu ada dorongan di dalam diri manusia; barulah selepas itu terwujud menjadi sebuah aktivitas fisik.

Awalnya dorongan itu bisa saja merupakan dorongan rendah semisal nafsu jasadiah. Karena lapar, maka manusia makan misalnya. Tetapi seiring perjalanan hidup, orang yang kenal dirinya kenal Tuhannya menjadi paham bahwa dia hidup ada peranan, ada fungsi yang harus ditunaikan. Dia menjadi paham juga bahwa segala kejadian hidup adalah tentang Allah menyatakan diriNya. Maka lambat laun cara pandang / dorongan orang ini melakukan sesuatu bisa jadi berubah, lebih bermakna.

Contoh sederhananya, orang ini paham bahwa dia harus bekerja pada siang harinya, dia paham juga bahwa pekerjaan itu bukan tentang dia melainkan tentang ‘Allah membagikan rezeki pada orang-orang’, “kebetulan” saja dia terlibat. Dia tahu bahwa dirinya biasanya saat siang hari akan ngantuk dan tidak fokus; maka pagi harinya dia minum kopi, agar tertunaikan peranan dia dengan baik.

Nah…maka “minum kopi-nya” orang ini, KARENA ALLAH.

Sebuah dorongan yang timbul dari ‘pemaknaan tentang Dia’.

Dan kita tahu, bahwa dorongan ini tak bisa dibuat-buat. ALLAH sendiri yang turunkan. Maka dalam sebuah ayat terkutipkan perkataan Iblis pada Allah ‘Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan semua manusia, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlasin (ikhlas)’” (QS Shaad: 81-82). Mukhlasin berarti “dibuat ikhlas”.

Maka ikhlas adalah rahasia…di dalam rahasia….di dalam rahasia yang Allah taruh di hati hambaNya yang beriman.

“Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril as. apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata,“Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya? “ Allah swt. yang Mahaluas Pengetahuan-Nya menjawab, “Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.“(HR. al-Qazwini).

Kalau ikhlas adalah melakukan sesuatu karena dorongan karena Allah, maka Ridho adalah sisi mata uang satunya lagi.

RIDHO adalah sikap dimana dia menerima apa yang diberikan pada dia sekarang, baru setelah itu dilanjutkan dengan dia bergerak ke arah lebih baik dengan dorongan IKHLAS.

Setiap detik, ada takdir menerpa kita. Setiap takdir adalah seakan pemberitahuan bahwa kita harus bergerak ke arah kebaikan.

Tertakdir dosa, berarti disuruh taubat. Ridho (terima) lalu ikhlas (bergerak dalam bingkai kepahaman akan Dia).

Tertakdir uang kehabisan, berarti disuruh bergerak mencari (bisa pinjam, atau kerja lebih keras). Ridho…lalu bergerak dalam bingkai ikhlas.

Jika tertakdir uang habis sedang dia merutuk-rutuk karena itu berarti dia tak ridho. Lalu dia bergerak kerja lebih keras karena ingin menyaingi pencapaian rekannya, berarti dia tak ikhlas.

Tak ada yang berbeda pada LUARANNYA, yang berbeda hanya YANG DALAM.

Itu sebab, syaikh Abdul Qadir jailani pernah berkata, “Seperti juga rasa lapar adalah takdir-Nya, kemudian Allah memerintahkan agar kita melawan takdir tersebut dengan makan yang juga merupakan takdirNya. Jika seorang hamba menyerah kepada takdir lapar, meskipun ia mampu untuk melawannya dengan takdir makan, hingga ia mati, niscaya ia mati dalam keadaan maksiat.”

Ngeri kan? Supaya kita tak keliru-keliru mana ridho mana ikhlas.

Nah…..kembali lagi tentang “maqom”. Memang ada, beberapa orang yang Allah takdirkan bahwa pandangan mata hati mereka sudah tidak lagi tertengok pada “sebab-akibat”. Sudah tertengok Allah melulu.

Misalnya, Maryam. Dia hanya sibuk beribadah, tetapi Allah turunkan dari syurga makanan-makanan ke mihrabnya.

Seandainya kala itu maryam ingin berusaha, “wah…ga ada makanan nih, masa di mihrab melulu, usaha dulu lah cari kerja.”

Maka Maryam sudah menjadi “turun” dari maqom yang tinggi. Pasalnya, Allah sudah letakkan dia pada maqom “tajrid” yaitu seseorang yang tak lagi tertengok pada sebab-akibat, tetapi tertengok pada Allah melulu. Kalau dia berusaha, maka turun derajat.

Sebaliknya, model kita-kita ini. Kalau lapar ga mau cari makan, ya lucu. Karena, kita bukan disana maqomnya. Kita adalah “asbab”, orang-orang yang masih terpandang pada sebab-akibat.

Maka pakailah petuah Syaikh Abdul Qadir, lapar…kerja, cari makan. Tapi ridholah….tapi ikhlaslah…

Sampai Allah sendiri yang menaikkan taraf kamu. Kata sang Syaikh.

———
*) Syaikh Abdul Qadir Jailani, dikutip dari buku Ibnu Qayim Al Jauziyah tentang taubat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s