KONFERENSI SUFI DAN NGGONDELI DOSA

Dulu waktu saya kecil, mungkin waktu saya SD. Saya teringat di stasiun TVRI ada ceramah subuh. Yang ceramah seorang bapak tua -mungkin sufi atau orang arif-, beliau menceritakan sebuah kisah. Saya tak ingat sumbernya, tapi kisahnya menarik sekedar buat renungan.

Suatu hari di konferensi para sufi orang-orang berkumpul. Mereka mencoba merumuskan apakah taubat itu? Semua dedengkot sufi mengeluarkan pendapatnya. Orang-orang ramai berdebat, tapi kok rasanya belum menemukan sebuah definisi yang pas.

Disaat mereka semua masih belum menemukan definisi yang tepat, waktu istirahat sudah tiba dan masuklah seorang pelayan yang membawakan makanan. Seorang sufi iseng bertanya kepada pelayan itu, “Pelayan, tunggu….coba jelaskan apa definisi ‘taubat’ menurutmu?”

Sang pelayan yang ditanya mendadak itu bingung, lalu menjawab dengan polosnya, “Menurut saya, ‘taubat’ itu artinya melupakan segala dosa.”

Sang sufi berteriak kegirangan. “Nah…ini dia definisi yang kita cari-cari!!” ujarnya.

Kisah ini mungkin hanya rekaan. Tetapi, ada point menarik disini. Begini, saat saya mengamati sebagian orang-orang depresi berat tersebab mereka ‘mengamati’ dosa masa lalunya. Kemudian menjadi ‘enggan’ kembali kepada Allah, karena merasa tak layak. itu adalah ‘jebakan’.

Mengetahui kesalahan itu baik, mengenang-ngenang terus dosa sampai menjadi rikuh dan enggan kembali ke Allah adalah ghurur.

Mungkin itu sebab, Allah melarang seseorang menceritakan dosa yang dia sudah perbuat di masa lalu, kepada orang lain. Apa-apa yang Allah sudah tutupi, kenapa engkau buka? Tak boleh.

Ciri seseorang diberikan rahmat oleh Allah, adalah saat orang itu berdosa, maka dosanya tidak membuat dia lari dari Allah, melainkan menjadi jalan kembali pada Allah.

Mengingat dosa, adalah baik -kata Ibnu Qayyim- apabila mengingat dosa itu menerbitkan rasa ‘butuh’ kepada Allah, butuh rahmat dan pertolongan. Sebagai awalan untuk kembali.

Tetapi saat orang itu sudah meniti jalan pertaubatan, sudah menghabiskan waktu dengan mengingati Allah, lalu terpandang pada rahmat Allah, tertengok Jalal dan Jamalnya, maka melupakan dosa (berpaling dari dosa silam) adalah lebih baik baginya.

Istilahnya, “move on”, tidak “nggondeli” dosanya. Ibarat hati yang sudah penuh dengan ingatan Allah, kenapa kok dibawa masuk ingatan dosa?

Sama juga dengan wejangan seorang guru yang arif,  jika ada masalah, kita meminta tolong pada Allah dengan “doa”, artinya, masalah menjadi jalan kembali kepada Allah. Tapi…jika sedang tak ada masalah, jangan cari masalah. Jangan berdoa untuk hal yang tak perlu.

Ciri seseorang diberi rahmat oleh Allah, adalah saat orang itu ada masalah, masalahnya malah jadi jalan kembali kepada Allah.

Tetapi, setelah hati penuh dengan ingatan Allah, melupakan hal-hal yang tidak penting adalah lebih utama.

Kalau hati sudah bersih, maka jangan bawa masuk hal-hal yang bisa mengotorinya.

Itu sebab, sang arif tadi mengajark “kalau tak ada masalah jangan cari masalah!”

Janganlah kita “berdoa dan minta tolong Allah” untuk menentukan apakah kita makan nasi rames atau makan mie ayam?  Apakah pakai kemeja lengan pendek atau lengan panjang?

karena hal tersebut sejatinya tidak sedang mengganggu hati kita, hati kita sedang mengingati Allah, jangan kita bawa masuk hal yang tak penting.

Tetapi, jika memang ada hal yang besar yang mengganggu kita, maka disitulah kita jadikan hal itu sebagai jalan kembali padaNya. Lewat Doa dan permohonan.

Dan itu menjawab masalah pelik para pejalan ruhani, mana yang lebih utama ingat dosakah atau tak ingat dosa? Berdo’akah atau tidak berdo’a?

Jawabannya tergantung maqom.

Wallahualam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s