MENGEJAR ORANG-ORANG SUCI (2)

Para nabi dibekali dengan ‘pengetahuan langit’ yang membuat mereka begitu tajam dan holistik pandangannya, tetapi sekaligus membuat perbedaan pemahaman antara mereka dan orang awam semakin jauh. Saking jauhnya perbedaan pandangan itu, Para Nabi sering menjadi terasing.

Nabi Nuh berdakwah sepuluh abad, tetapi pengikut beliau hanya tiga belas orang. SEPULUH ABAD.

Nabi Musa berdakwah pada kaum pembangkang. Setelah segala mujizat spektakuler musa, dan baru saja ditunjukkan lagi pertolongan dengan tenggelamnya firaun, mereka malah mengatakan kepada Musa “Pergilah engkau bersama Tuhan engkau, berperanglah engkau berdua, kami hendak duduk-duduk di sini saja.” Saat Musa mengajak memasuki tanah suci. Mereka meminta makanan turun dari langit. Setelah turun manna wa salwa mereka meminta pula variasi makanan kacang-kacangan. Puncaknya, mereka balik lagi menyembah patung sapi.

Begitu juga Hud AS, Begitu juga Yunus AS hingga Beliau sebegitu kecewanya dan meninggalkan kaumnya. Dan sederet nenama para Nabi masa silam dengan perjuangan mereka yang berat.

Betapapun permaafan adalah utama, tetapi Allah ‘mengerti’ keterbatasan manusia. Maka selain ada bab tentang welas asih ada pula bab tentang ketegasan. Mungkin ini adalah bentuk akomodir secara lahiriah, bentuk keadilan satu dibayar satu.

Dalam konteks permakluman terhadap keterbatasan yang manusiawi seperti di atas itulah, kita menjadi mengerti betapa beratnya dialektika batin para Nabi.

Ada permaafan dan permakluman beratus tahun, tetapi ada pula ‘doa’ yang menghancurkan. Sebuah doa yang mau tak mau muncul dari keletihan dan sekaligus kerinduan agar Allah datangkan orang-orang yang mengerti dengan risalah tauhid.

Di ambang batas perjuangan yang panjang itu, di ambang batas perbedaan pandangan itu, mereka mendoakan agar orang-orang yang membangkang itu diberikan balasan yang setimpal.

Disitulah kita mendengar cerita ummat terdahulu yang dihancur leburkan dengan bencana. Banjir. Gunung berapi.Topan-badai. Dikutuk menjadi kera.Ditenggelamkan di laut. Dan sebagainya. Allah menggantikan mereka dengan kaum yang lebih baik, dan kita mengerti kepayahan para Nabi pengusung risalah Tauhid itu.

Setiap Nabi memiliki sebuah doa yang paling mustajab. Nabi-nabi sebelum Rasulullah menggunakan doa mereka untuk menghancurkan musuh-musuh Allah. Tetapi Rasulullah menggunakan doanya untuk membentengi ummatnya.

Maka beliau Rahmat seluruh alam. Tersebab doa beliau, tidak akan ada lagi penghancuran masal kepada ummatnya, seperti disapu bersihnya ummat terdahulu. Seberapapun membangkangnya ummat, Allah tak akan menurunkan bala dari langit. Kita semua diselimuti doa Rasulullah. Beliaulah penghulu para Nabi.

Terlepas dari itu semua, kita melihat betapa Allah menurunkan pemahaman akan sifat-sifatNya melalui asbab Nuzul yang begitu luar biasa. Maka bagaimana kita tidak bersholawat kepada para Nabi?

Saat kita sekarang tinggal menyerap ilmu saja bahwa Allah-lah sebenar-benar pendidik, sedangkan realita penzahiran sifat itu sudah mereka yang pikul lewat penyampaian risalah beratus tahun dan orang yang paham bisa dihitung jari.

Kita tinggal menyerap ilmu saja bahwa Allah-lah sebaik-baik pelindung, sedangkan realita penzahiran sifat itu sudah mereka yang pikul, lewat darah dan air mata, diburu, diancam dibunuh, dan tragedi yang menghilangkan orang-orang terdekat.

Tiap kali dihadang cobaan, bagaimana kita tak teringat para Nabi.

Disitulah saya mengerti makna sholawat. Mengakui dengan jujur kepada Allah, bahwa keridhoan yang saya punya tak seujung kuku orang-orang suci masa silam.

Cukuplah saya mengaku bahwa saya tak punya daya, tak punya upaya, tak sanggup untuk mensabari segala coba sehebat mereka, tetapi mudah-mudahan sedikit cinta ini menjadikan Allah ridho dan mengumpulkan bersama-sama di syurga. Sebab rahmatNya semata, bukan sebab amal kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s