SIKAP PENGEMBALIAN

Kita paham, segala kejadian dari Allah, dan segala kejadian KEMBALI kepada Allah.

Kejadian yang menimpa kita, selalulah harus kita kembalikan kepada Allah. Bentuk pengembalian itu sendiri bisa beragam-ragam.

Handphone hilang, misalnya. Bentuk pengembalian kita kepada Allah adalah dengan meridhoi kejadian. Ingat Dia, dan melafadzkan innalillahi wainnailaihi rajiun.

Setelah “dikembalikan”, maka kejadian hidup (yang berupa kehilangan) telah berhasil kita LONCATI. Kita tak lagi tertengok “kehilangan”, tetapi tertengok pengaturan Allah.

Itu kalau kejadian yang sudah terjadi. Bagaimana kalau kejadian yang belum terjadi? Semisal Allah memasukkan sebuah keinginan di dalam hati kita?

Keinginan, datang dari Allah, maka kembalikan kepada Allah.

Semisal, karena kebutuhan hidup yang sangat mendesak, kita perlu motor untuk mobilitas. Terbitlah keinginan membeli motor di hati kita. Keinginan itu sejatinya dari Allah.

Cara pengembalian kepada Allah adalah dengan DOA. Berdoalah kepada Allah, agar Allah mengaruniakan kemudahan rizki dan kebarokahan rizki.

Ini namanya pengembalian. Sikap pengembalian ini namanya menegakkan sikap penghambaan. Sikap ini juga namanya mengagungkan Allah, hanya Allah sang pemberi rizki.

Contoh kebalikannya adalah TIDAK MENGEMBALIKAN.

Ada kebutuhan, ada keinginan beli motor. Dia tidak berdoa, melainkan sibuuuuuk saja di hatinya mikirin motor. Mikirin cara dapat yang lebih banyak, cara dapat kredit, dsb.

Meskipun pada akhirnya sama-sama terbeli motor. Orang yang pertama berhasil meloncati kebutuhan dan keinginan sampai terpandang pengaturan Allah. Orang kedua terpandang pada kehebatan dirinya sendiri…

Pada gilirannya nanti, orang-orang yang selalu MENGEMBALIKAN, akan menyadari ketiadaan kemampuan diri untuk mengatur kejadian hidup. Orang ini berhenti sibuk “memastikan” hasil usahanya, dan dia terpandang pengaturan Allah dimana-mana. Dia tidak “wujud”.

Sedang yang “tak pernah mengembalikan,” akan “penuh” dengan dirinya sendiri. Dia semakin meng-ada.

Tak usah risau dengan doa. Yang pokok adalah jujur melihat apa yang ada di dalam hati.

Jika ada keinginan, segera kembalikan keinginan itu kepada Allah lewat DOA. Doa yang menegakkan kehambaan. Yang mengagungkan Allah. Sehingga kita terpandang pada pengaturan Dia.

Lama-lama Allah akan memasukkan kondisi yang berbeda di dalam hati kita.

Nantinya bukan lagi penuh dengan keinginan, tetapi penuh dengan kebersyukuran.

Tetapi harus jujur. Jangan di hati ada keinginan, tetapi sikap lahir “diem-diem” seolah maqom “enggan berdoa”, tetapi di batin kepikiran selalu, pada luarannya sibuk merancang usaha, tak ada ingat kepada Allah.

Ini adalah sikap tak jujur, sama sekali bukan “maqom tinggi” melainkan ghurur.

Tak ada kebaikan pada sikap tak jujur menilai diri. Padahal harusnya “keinginan” bisa jadi jalan “kembali”; sikap tak jujur malah menjauhkan.

Nabi Ibrahim as. Berbeda penempatannya. Di hati Beliau hanya  ada Allah semata. Maka sikap lahirnya kita tengok,  adalah “tak ada permintaan” meski Beliau akan dilemparkan ke kobaran Api oleh Namrud.

Lho…tetapi kan Allah SWT sudah tahu apa yang kita butuhkan, tanpa perlu meminta?

Jelas….Allah sudah tahu. Tetapi ini sebenarnya bukan perkara Allah tahu atau tak tahu, ini perkara apa yang berkecamuk di hati kita. Jika ada kebutuhan berkecamuk di hati kita, kebingungan, keperluan, maka memintalah kepada Allah sebagai cara “mengembalikan” keinginan, hingga persandaran kita kembali menjadi hanya pada Dia semata, bukan pada usaha sendiri. Lafadz doa akan mendewasa seiring ketersingkapan ruhani, seiring maqom. Hingga puncaknya adalah pengenalan sejati, yang membuat sang hamba tak lagi terbersit pada keperluan selain dari Allah melulu.

Tetapi sebelum sampai kesana, ikutilah syariat yang dituntunkan Rasulullah SAW. Berdoalah, Dia akan menjawab doa itu.

Jujurlah menilai diri, dan lewat pengembalian; jadikan segala kejadian hidup sebagai jalan pulang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s