EMPUNYA ASMA DAN SIFAT

Pada mulanya, hanya Dia yang ada. DIA adalah perbendaharaan yang tersembunyi. DIA ingin dikenali, maka DIA menzahirkan makhluk atau ciptaan.

Pada mulanya tiada definisi. DIA adalah rahasia di atas rahasia.

Saat DIA menzahirkan ciptaanlah; segala makna-makna yang hendak DIA sampaikan mewujud. Maka sifat-sifatNya bisa dikenali. Barulah ada definisi tentang DIA.

Setiap sifat dikaitkanNya pada sebuah nama.

Pengetahuan tentang potensi makna, atau sifat-sifat -yang berarti pengetahuan tentang Asma’- inilah yang diajarkan pada Adam as.

وَ عَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا 
“Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-namanya semuanya.  ( awal ayat 31 surat Al Baqarah).

Maka setiap bentang keindahan alam raya, setiap kejadian hidup, secara esensi adalah wujud konkrit menceritakan  sifatNya.

Semisal, kita tahu bahwa DIA maha pengampun, maka kenyataan dari keMaha Ampunan Dia mestilah terzahir, dalam wujud kejadian adanya para pendosa di muka bumi ini, yang kemudian diampuni.

“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim).

Pengenalan akan sifatNya, -dan berarti juga pengenalan akan asma’Nya-, adalah semacam entry point untuk mengenal DIA sang empunya asma’ dan sifat.

Ini yang baru saya mengerti akhir-akhir ini. Bahwa kesal terhadap kejadian hidup yang kita alami, adalah sebuah kebodohan. Karena sama saja dengan kita kesal terhadap kenyataan sifatNya atau kenyataan AsmaNya.

Ilustrasinya begini. Umpama kita berhadapan dengan rekan kerja yang begitu keras kepala misalnya, atau kita berhadapan dengan pimpinan, atau bahkan misalnya anak kita sendiri yang begitu keras, maka kesal kepada kenyataan itu adalah sama saja dengan kesal kepada sebuah kenyataan bahwa “Allah-lah memiliki kuasa menutup hati seseorang”.

Sebuah kejadian yang kita alami tersebut adalah sebuah kenyataan akan sifatNya.

Kecewa terhadap takdir itu, seumpama kita kecewa terhadap salah satu kenyataan asmaNya. Tentunya tak elok.

Sebaliknya, penerimaan akan hal tersebut akan membawa kita kepada pengertian yang sejati bahwa benarlah Dia punya kuasa menutup hati seseorang.

Akhirnya kita menjadi tahu dan yakin akan kenyataan asmaNya. Dengan mengenal asma’Nya, kita menjadi tahu siapa sang Pemilik. DIA-lah tempat kita berlindung dari segala potensi makna yang telah dizahirkan.

Akhirnya Kita kenal DIA, dan kepadaNya-lah kita meminta tolong. Kepada yang Empunya Asma dan Sifat.

Hingga nanti DIA akan memudahkan jalan, dan membuat kita kenal pula dengan kenyataan asmaNya yang lain, yaitu Yang Melapangkan, Yang Memberi Petunjuk, Yang Menerima Taubat, dst.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s