YANG TERSEMBUNYI

Sejauh-jauh diri ini melangkah pergi, kan berakhir juga di wajahMu nanti. Sedalam laut biru di bawah bumiku, masih juga kan kutemukan diriMu.

Sebait lagu Opick itu terlantun sangat bening malam kemarin. Pada lekuk-lekuk jalanan Jakarta yang mengular dan merah kerlap-kerlip oleh lampu kendaraan yang dibebat kemacetan.

Saya melihat jalanan dari dalam mobil, sambil meresapi senandung itu, dan lalu kembali disadarkan oleh pertanyaan klise setiap anak cucu adam.

Kenapa kita ada?

Darimana kita ini?

Mau kemana kita ini?

Dan tiba-tiba saja, hari sudah setengah perjalanan -mungkin- lalu berhenti pada sepotong episode dimana kemacetan Jakarta yang klasik membuat sebagian orang larut dalam keletihan yang menyebalkan, tetapi mungkin sebagian orang ada yang malah menikmati jeda perenungan itu.

Melihat deretan panjang mobil yang berderum, lampu-lampu gedung tinggi, siluet awan yang menabiri bulan, dan kaki yang letih menginjak pedal Rem. Orang-orang hendak kemana? mencari apa?

Ya Rabbi…. betapa banyak manusia telah Engkau zahirkan di muka bumi ini.

Kami pergi pagi, pulang larut malam hari. Bekerja mengumpulkan uang untuk kami habiskan pada harta yang tiada pernah benar-benar kami nikmati. Lalu segundukan harta itu mengharuskan kami bekerja lebih payah lagi, agar bisa terjaga kepemilikannya dengan lestari. Untuk inikah manusia ini?

Bila setiap letih hari-hari hanya berhenti pada sejumlah deret angka nol di rekening sendiri, betapa kerdil dan merugi. Keletihan yang tak terelakkan, dan kegagalan menangkap makna.

Saya kembali teringat wejangan seorang guru. Pada mulanya hanya ada DIA. Sang Rahasia Agung, tersembunyi, tiada dikenali.

DIA hendak “melihat diriNya” seolah-olah dari luar diriNya. Maka DIA zahirkanlah makhluk.

Saat alam raya terzahir, DIA gelarkan ceritra. Perjalanan panjang manusia mencari jati dirinya. Siapa kita, dari mana, mau kemana?

Sebagian orang khilaf dalam “membaca”, ada yang berhenti pada pembacaan keberadaan dirinya sendiri. Maka hidup bagi mereka adalah seputar mencari harta, dan benda-benda.

Jika harta dan benda dilekatkan pada diri kita, maka segala yang lekat; menuntut penjagaan dan pemeliharaan. Maka kita semakin letih didera keseharian hidup. Kalaupun bahagia, bahagianya tipuan.

Sebagian orang-orang yang lain, dikenalkanNya pada diriNya. Dan akhirnya mereka menjadi mengerti, bahwa sejak dulu, ceritra kehidupan ini bukan tentang konteks manusia. Tapi tentang DIA. Tentang DIA menyatakan diri.

Pada keseharian yang sama letihnya dengan orang-orang lain yang hiruk pikuk mencari harta semata, orang-orang yang mengenalNya akan bisa menangkap makna. Sesuatu yang lebih dalam.

Ada yang hendak DIA ceritakan lewat nama-namaNya yang baik (Asmaul Husna). Setiap nama menyimpan potensi makna. Setiap makna-makna menceritakan DIA Sang Empunya asma dan sifat.

Maka orang-orang yang kenal padanya, melihat Dunia ini sebagai pagelaran perkenalan dariNya.

Setiap hari DIA menabur rezeki. Menyempitkan siapa yang DIA kehendaki. Melapangkan siapa yang DIA kehendaki. Menguji siapa yang DIA kehendaki, melapangkan dada orang-orang yang teruji; siapa saja yang DIA kehendaki.

Sesiapa yang melihat hidup sebagai ceritra diri mereka sendiri, akan tersiksa oleh semuanya.

Sesiapa yang melihat hidup sebagai pagelaran sifat Tuhannya, dan perkenalan dariNya, akan menyerah. Aslam.

Nabi Muhammad SAW :
…dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. 27:91)
Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”. (QS. 39:12)

Yang menyerah, tidak memaki kehidupan.

Yang tak memaki kehidupan, akan melihat bahwa kehidupan ini penuh dengan pengaturan.

Yang melihat pengaturan, akan menyadari bahwa setiap pengaturan memilki keindahan makna.

Yang melihat makna dibalik setiap pengaturan menyadari bahwa setiap makna adalah ceritra tentang sifatNya.

Yang kenal sifat kenal asma’Nya.

Yang kenal itu semua akhirnya kenal DIA.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s