MEMBUKA PINTU RAHMAT

Manusia, adalah makhluk yang pembosan. Tabiat manusia adalah tergesa-gesa karena sifat pembosannya itu. Konon, sebelum selesai benar disempurnakan, Adam as sudah tergesa-gesa ingin berdiri.

Yang tak dilengkapi rasa bosan, adalah Malaikat. Konon kita dengar ada malaikat yang tugasnya hanya memuji Allah dengan bertasbih sejak dia diciptakan,sampai sekarang. Itu tok kerjaannya, tak mengeluh, tak ada bosan. Ada yang memanggul arasy, gitu tok, sejak dulu sampai kiamat.

Allah sangat mengetahui sifat pembosan manusia itu, itulah –mungkin– mengapa Allah SWT menciptakan berbagai-bagai amalan lahiriah sebagai jalan mendekatkan diri kepadaNya.

Kita berbicara di luar amalan wajib– Amalan sunnah itu berbagai-bagai, dan manusia bisa mendekatiNya dengan melalui berbagai-bagai entry point itu.

Setiap amalan yang manusia lakukan, disetir oleh kondisi ruhani yang turun kepada manusia itu. –sekali lagi, kita dalam konteks amalan sunnah-.

Maka ada orang yang getol sekali puasa. Ada yang hobinya sholat sunnah. Ada yang hobinya sedekah. Ada yang hobinya sholawatan. Ada yang hobinya tilawah. Kenapa? Ahwal yang berbeda-beda.

Silakan dekati Allah dengan entry point mana saja yang kita suka, karena entry point itu banyak.

Tetapi kuncinya satu. Apapun amalan sunnahnya (bentuk luar ibadah), dalemannya adalah mengingati Allah.

Maka, setelah mengetahui bahwa yang pokok adalah hati (dalam) selalu ingat Allah, dan mengetahui fakta bahwa manusia itu diciptakan dengan tabiat pembosan, dan mengetahui juga fakta bahwa Allah telah menzahirkan macam-macam amaliah; manusia bisa melakukan variasi dalam amaliahnya (luar), asalkan selalu mengingati Allah di dalam jiwanya.

Umpama kita sholat tahajud. Kok rasanya ga “dapet” ya pas sholat tahajud? Maka guru-guru yang arif mengatakan, jangan ngotot.

Ridholah dengan kenyataan bahwa tahajud kita belum bisa khusyu. Jika kita  memaksa ingin khusyu saat kita tahajud dengan ngotot, maka yang timbul adalah nafsu dan kemrungsung kata orang jawa. Hati gelisah dan tak tenang. Karena khusyu itu “given”, sesuatu yang diturunkan karena anugerah.

Sebaiknya terimalah kenyataan bahwa  tahajud kita barusan tak sempurna, lalu misalnya mendekati Allah lewat jalan istighfar atas ke-tak sempurnaan amal,  setelah itu tetaplah mencoba dekati Allah dengan variasi bentukan luar ibadah lainnya.

Bisa “kejar” lewat tilawah.

Lewat tilawah kok rasanya belum “dapet”? kejar lewat sholat dhuha. Atau kejar lewat sedekah.

Pendeknya, di DALAM harus selalu ingat Allah, dan bentukan LUAR ibadah akan menyesuaikan ahwal apa yang turun pada kita.

Seperti cerita Ibnu Qayyim al jauziyah, Beliau biasa berdzikir bakda subuh sampai waktu dhuha.

Saat itu beliau merasa berdzikir kok mentok, rasanya seperti hambar?

Maka beliau tidak ngotot, melainkan tetap zikiran dan “santai” menerima bahwa saat itu tidak bisa “total”.

Sejurus kemudian beliau mendengar berita ada tetangga yang meninggal. Dia tinggalkan zikirannya, lalu dia ganti amaliah dengan membantu pemakaman tetangga.

Aneh tapi nyata, saat bantu tetangga itulah dia merasakan “rahmat” turun.

Jadi, amaliah sunnah bisa berbagai-bagai, dan dekatilah Allah lewat jalan yang mana saja, tak mesti ngotot satu jalan, karena kita tak tahu lewat jalan mana Rahmat itu dibukakan.

Seperti misalnya saat ada tamu, maka amaliyah yang bisa kita lakukan adalah dengan menerima tamu dan memuliakannya, bukannya meninggalkan tamu dan sibuk sholat dhuha.

Meninggalkan tamu dan sibuk sholat dhuha, membuat sang tamu menunggu dengan gelisah, adalah sebuah sikap ketertipuan. Menyangka bahwa hanya amaliyah sunnah berbentuk sholat dhuha itulah yang bisa membuat rahmat Allah datang. Padahal, jika tetap mengingati Allah pada hatiNya, manusia bisa melakukan amaliyah luaran yang sesuai kondisi saat itu. Menerima tamu, pada konteks itu, adalah lebih tepat dibanding sholat dhuha.

Orang-orang arif mengatakan, nantinya kita bisa merasakan, dari amaliyah yang mana Allah turunkan rahmatNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s