YANG MENCINTA DAN KEMBALI (1)

Apa jadinya, seandainya kekisah para Nabi yang kita dengar, tidak sedikitpun menggambarkan bahwa merekapun adalah manusia biasa yang pernah khilaf?

Saya rasa, ummat mereka yang terlanjur berdosa akan hidup dalam penyesalan panjang dan rasa putus asa untuk “sampai” kepada Allah. Sebab tak ada tuntunan pertaubatan.

Tetapi tidak. Kita tahu dalam sejarah bahwa Adam as memulai tugas besar kekhalifahan dengan dosa memakan buah khuldi. Yunus as sempat pergi dan meninggalkan tugas dakwah pada kaum ninawa. Musa as pernah membunuh. Dan sederet nama orang-orang suci lainnya yang ternyata manusia biasa, pernah khilaf dan berdosa, namun mereka meniti jalan panjang pertaubatan yang mengantarkan mereka kembali kepada Allah.

Premisnya sederhana saja. Jika orang semulia mereka saja pernah bersalah, apalagi model kita ini?

Dan kesimpulan selanjutnya adalah, bahwa seperti apapun kesalahan kita, ternyata yang penting adalah kita meniti jalan “pulang”. Karena tema hidup ini sebenarnya mencari jalan pulang. Dan salah satu jalan panjang menuju Allah itu dimulai pada gerbang pertaubatan.

Taubat berarti “kembali”. Dan orang-orang yang kembali, diganjar langsung dengan peringkat “dicintai” Allah. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah : 222).

Tidak peduli seperti apa track record kekhilafan, asalkan kekhilafan menjadi jalan pertaubatan, yang berarti menghantarkan seseorang kembali kepada Allah, berarti orang itu diberi rahmat oleh Allah. Berarti pula dia masuk dalam golongan orang-orang yang dicintaiNya.

Dalam konteks “kembali” kepada Allah inilah, saya rasa, puasa menemukan maknanya. Sebagai  sesuatu yang Allah ganjar khusus. Salah satu sebabnya saya kira, karena puasa ini adalah salah satu lelaku yang memudahkan jalan “kembali” seseorang kepada Allah.

Saat manusia ingin kembali kepada Allah, banyak hal yang mengganggu mereka.

Hal yang mengganggu itu bisa jadi dorongan dari luar diri, yaitu sesuatu keburukan yang disetir oleh dorongan syaitan. Dan untuk sebuah keburukan yang datang dari LUAR diri kita ini, ada antitesisnya, yaitu sebuah dorongan kebaikan yang juga datang dari LUAR diri kita, katakanlah dorongan malaikat.

Itu jika kita bicara anasir di LUAR diri manusia. Tetapi, karena manusia selain merupakan makhluk ruhani, juga merupakan makhluk jasadi sekaligus. Maka ada satu lagi dorongan atau kehendak yang muncul dari dalam diri manusia itu sendiri.

Diri manusia itu disebut “Nafs” atau disebut “Nafsu”, dan kehendak yang muncul disebut “Hawa”. Kita mengenalnya sebagai Hawa Nafsu. Dorongan dari dalam diri kita sendiri.

Dorongan diri kita sendiri ini, lebih cenderung kearah keburukan. Tabiatnya adalah mencari sesuatu yang menyenangkan. Atau bisa juga membesarkan sesuatu sehingga menjadi tak terkontrol.

Ilustrasinya adalah begini. Semisal kita mendapatkan sebuah suasana ruhani yang “given”, artinya ada sebuah dorongan kebaikan yang “datang” kepada kita, sehingga kita merasakan perasaan takut kepada Allah. Bukankah itu baik?

Ya, itu baik. Sampai kemudian kehendak dari dalam diri, hawa dari nafs ikut bermain, dan membesarkan volume ketakutan itu, dari “khauf” yang tadinya mendorong orang kembali pada Allah, kemudian malah menjadi rasa putus asa yang menjauhkan manusia dari Allah.

Perumpamaan lainnya adalah semisal kita mendapatkan suasana ruhani yang “given” berupa rasa cinta kepada Allah. Tetapi karena faktor hawa dari dalam nafs, maka dorongan rasa cinta itu menjadi berlebihan, sehingga tadinya cinta, menjadi lalai dan menggampangkan saking merasa dekat.

Itu perumpamaan Hawa di dalam nafs manusia. Banyak lagi dorongan dari dalam diri manusia itu sendiri, yang semuanya cenderung pada keburukan. Misalnya perasaan marah dan emosi yang hormonal. Contoh paling simpel adalah wanita saat menjelang haid.

Atau macam-macam lagi dorongan emosional karena pengaruh jasadi. Amarah. Kesedihan. Kegembiraan berlebih. Dan berbagai-bagai, yang disetir oleh hormon.

Manusia akan sangat sulit meniti jalan kembali kepada Allah, sebab rintangan ini banyak sekali. Sudahlah ada dari luar, ada pula dari dalam diri.

Maka, untuk orang-orang yang kesulitan meniti jalan kembali, kesulitan melakukan laku spiritual mengingati Allah dan meniti jalan pulang, dianjurkan berpuasa. (Tentu Ramadhan lain soal, itu kewajiban).

Maka puasa, hemat saya bukanlah sebuah ibadah yang berdiri sendiri. Agak tidak masuk akal, bukan, jika kita tidak makan, kita tidak minum, kemudian kok ujug-ujug Allah cinta pada kita dan Allah mengatakan bahwa Puasa itu untukKu. Dan Allah membanggakan kita diantara para malaikatNya?

Kan agak aneh saja, seperti ada yang kurang.

Baru sekarang saya memahami, bahwa puasa merupakan sebuah mekanisme logis, yang memuluskan jalan bagi orang-orang yang meniti jalan pulang. Segala hambatan dari dalam diri manusia itu sendiri, hawa dari dalam nafs, akan diredam oleh mekanisme puasa. Gejolak diri mereda, dan manusia menjadi lebih mudah untuk meniti jalan “kembali”.

Dalam konteks meniti jalan kembali inilah, saya kira, jika kita puasa, maka kita akan menjadi orang-orang yang dibanggakan Allah diantara malaikatNya. Karena kita bersusah payah dengan segala cara, agar dalam kelemahan manusia yang natural ini, kita tetap bisa “pulang”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s