YANG MENCINTA DAN KEMBALI (2)

Ada sebuah hadist, yang dari dulu saya agak bingung apa korelasinya hadist ini? Alhamdulillah, saya mendapatkan pencerahan dari Ustadz Abdul Aziz. Saya hendak ceritakan pula disini.

Hadist tersebut kurang lebih isinya: “Yang paling aku sukai dari dunia ini, wanita, wangi-wangian, dan sholat.”

Hadist itu dulu yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa sholat ditempatkan pada level yang sejajar dengan wanita dan wangi-wangian?

Ada penjelasan yang mengatakan bahwa wanita, wewangian dan sholat diletakkan dalam satu tema yang sama, yaitu konteks feminin-nya. Ya saya pikir okelah.

Tetapi, baru sekarang saya mengerti sebuah pendekatan yang menarik lagi bahwa hadist itu tidak bercerita tentang level yang sama. Maksudnya, Rasulullah bukanlah menyamakan antara sholat, wangi-wangian, dan wanita. Melainkan Rasulullah bercerita tentang penghalang “perjalanan” dan solusinya.

Jadi begini kurang lebih, telah kita pahami bahwa di dalam diri manusia ada “dorongan”, dan dorongan itu bermacam-macam bentuknya, tetapi mayoritas dorongan atau kehendak (hawa) dari dalam diri manusia (nafs/ nafsu) itu menuju ke arah keburukan.

Salah satu dari sekian banyak dorongan itu adalah syahwat. Dan itu natural sekali. Sangat logis, bahwa dorongan (hawa) dari dalam diri (nafsu) yang berupa syahwat ini merupakan salah satu palang terbesar bagi orang-orang yang ingin meniti jalan kembali kepada Allah.

Sebagian spiritualis, mereka menyadari akan hal ini, dan menjalani hidup kerahiban. Pada kuil-kuil, umpamanya. Mereka malah sama sekali meninggalkan hawa di dalam diri, untuk menjadi pandito. Sisi spiritual mereka meningkat pesat sekali, tetapi bagi islam ini tak sesuai fithrah. Tak natural. Karena manusia dilengkapi dengan dorongan jasadiah.

Solusi dalam islam adalah dengan lembaga pernikahan. Begitulah, memang benar bahwa menikah itu separuh agama. Karena sehebat apapun orang, dia akan sulit untuk total menuju Allah selama dia masih dihalangi kebutuhan jasadiah. Salah satu dari gejolak jasadiah itu bisa diredam dengan pernikahan.

Itulah maksud dari hadist itu, setelah penghalang perjalanan diredam, maka berwangilah dan menghadap kepada Allah tanpa dihalangi anasir-anasir tingkat rendah lagi. Make sense.

Serupa dengan itu, puasa-pun bertujuan meredam gejolak. Hanya saja, saya rasa puasa itu tidak hanya meredam gejolak syahwat, tetapi juga meredam gejolak yang lebih kompleks, semisal amarah, kesedihan, dan segala macamnya yang disetir oleh pengaruh hormonal.

Maka sebagaimana menikah sebagai upaya memuluskan perjalanan menuju Tuhan, saya kira puasa-pun begitu. Ianya bukanlah sebuah ibadah yang berdiri sendiri tanpa konteks, tetapi dia berada dalam bingkai cerita orang-orang yang kembali.

Puasa, sebagai pemulus perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s