YANG MENCINTA DAN KEMBALI (4)

Tanpa hidayah, perjalanan sejauh apapun yang dilakukan manusia hanya akan membuat manusia melihat “keteraturan-keteraturan” di alam ini, tidak sampai membuat manusia menyadari Sang Pencipta keteraturan itu.

Ambil contoh tentang gerhana. Bangsa primitif jaman dulu mempercayai mitos bahwa gerhana itu disebabkan oleh sesuatu yang ghaib karena bulan ditelan oleh batara kala. Oleh sebab itu, orang-orang dulu membuat bebunyian yang riuh dengan tujuan agar batara kala mengeluarkan kembali bulan yang telah dia telan.

Setelah lebih maju, sains, membantu manusia menyingkap, bahwa gerhana ternyata “disebabkan” oleh posisi bumi matahari dan bulan yang berada dalam satu garis lurus. Sains, telah menyibak bahwa gerhana bukanlah disebabkan sesuatu yang “ghaib”.

Semakin hari, semakin banyak hal yang disingkap oleh sains, dan sebab itu, persepsi manusia tentang keghaiban menjadi pudar. Termasuk dalam hal ini adalah kepercayaan tentang Tuhan.

Dulunya, manusia mengira bahwa Tuhan terlibat dalam hampir segala lini kehidupan manusia, tetapi setelah mengetahui fakta sains manusia menyadari bahwa semakin mereka “mempelajari” dan “menyibak” alam semesta, mereka akan bertemu dengan “keteraturan-keteraturan”.

Dengan memahami gejala keteraturan itu, maka manusia bisa menggunakan hukum sebab-akibat itu untuk kepentingan dirinya. Tetapi persandaran manusia kepada Tuhan menjadi pudar. Karena keteraturan di alam ini bisa dibuktikan secara empiris. Sedang Tuhan, tak terjangkau.

Siang dan malam karena rotasi bumi. Gerhana karena revolusi. Dan apel jatuh karena gravitasi. Hampir-hampir tak ada Tuhan disana, kata sebagian golongan.

Mengenai gravitasi ini, kita tahu bahwa cerita apel jatuh dan Newton yang mendapatkan “ilham” mengenai gravitasi; sangatlah masyhur. Kita dengarkan apa kata Newton mengenai hukum temuannya itu, “Gravitasi menerangkan gerakan planet-planet, namun tidak dapat menerangkan siapa yang menggerakkannya pertama kali. Tuhan mengatur semua hal dan mengetahui apa saja yang ada atau dapat dilakukan.”

Itulah yang saya maksudkan dengan “tanpa hidayah, manusia akan ‘hanya’ terpandang pada keteraturan-keteraturan di alam semesta”. Manusia semakin sulit menyadari keterlibatan Tuhan, karena kemana mereka menyibak, disitu mereka menemukan hukum alamiah yang menyebabkan sesuatu terjadi.

Ilmuwan besar, Stephen Hawkings, sempat menulis bahwa “tidak perlu Tuhan untuk menggerakkan alam semesta ini”, karena dalam pencariannya, Hawkings menemukan bahwa begitu banyak keteraturan di alam semesta. Hukum-hukum yang menjadi sebab segala yang terlihat. Saking teraturnya, dia menyimpulkan Tuhan tak perlu ikut andil dalam mengatur alam semesta yang sudah bergerak sesuai dengan tatanan yang ada ini.

Di sini, saya menemukan bahwa wejangan ulama-ulama arif -meski dengan bahasa yang tidak berbau sains- sejatinya melampaui jamannya.

Para guru-guru kearifan, mengatakan bahwa segala yang ada ini (benda-benda atau ciptaan apapun saja) adalah sesuatu yang “diadakan” oleh Tuhan.

Sesuatu yang diadakan atau dizahirkan oleh Tuhan, disebut dengan sesuatu yang “Baharu”, maksudnya, ciptaan adalah sesuatu yang memiliki awal, maka itu disebut “baharu”.

Sesuatu yang baharu, adalah kreasionalnya Allah. Sebuah pagelaran yang bercerita tentang sifat-sifat yang Dia hendak nyatakan.

Lawannya, -kalau boleh dikatakan begitu- adalah Sang Penciptanya. Yang ada tanpa ada permulaan, disebut QADIM.

Sang Pencipta, adalah tak serupa tak seumpama. Dia adalah rahasia dibalik rahasia. Begitu apik Allah menzahirkan alam raya sebagai bukti keberadaan diriNya, tetapi sekaligus sebagai tabir bagi orang-orang yang tak mampu “membaca” pertanda.

Sang Pencipta tidak akan bisa disentuh oleh pencapaian terhebat sains, ataupun pendakian tertinggi dari spiritual manusia siapapun saja.

Oleh ulama dulu, mereka samarkan bahasan ini dengan mengatakan bahwa, yang BAHARU (segala ciptaan), tak akan pernah bisa mengkaji yang QADIM. sebabnya adalah yang QADIM memang tak akan pernah terjangkau. Tak ada umpama yang bisa menggapainya.

Itu sebab, segala benda, segala kejadian hidup, hukum sebab-akibat, keteraturan alam raya, dan apapun saja yang bisa manusia kaji dan teliti adalah bukan Dia.

Hanya orang-orang yang menyerah, dan meyakini bahwa ada DIA yang tak serupa tak seumpama, yang menciptakan segala yang zahir inilah yang akan diberikan kepahaman.

Sebagaimana Ibrahim as, yang mengkaji bulan, mengkaji bintang, tetapi kemudian menyerah, dan mengaku ‘Sesung­guhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.'” (QS. al-An’am: 77)

‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.'” (QS. al-An’am: 78-79)

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” Thaha -110

Artinya, pembacaan, pengkajian, pencapaian terhebat manusia sekalipun, hanya akan bisa mengantar manusia “membaca” ismi Robbi. Asma-asma penciptaanya. Kreasionalnya. Kejadian hidup yang terzahir yang merangkum sifat-sifat dan makna-makna tentang Dia.

ALLAH sendiri tak akan terbaca, tak akan tertengok, tak tersentuh, oleh science semutakhir apapun saja, oleh pendakian spiritual setinggi apapun saja.

Sehingga, dengan mengetahui fakta ini kita akan tahu kemana tempat “pulang” kita, tak terkecoh kita oleh benda-benda, karena kita tahu bahwa kepada Sang Pemilik Kehidupan dan segala yang terhampar inilah kita “kembali”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s