PENGETAHUAN YANG MEMBINASAKAN

Masyhur kita dengar ungkapan, jangan banyak bertanya, nanti seperti kaum Bani Israil, binasa karena banyak bertanya.

Singkat cerita, di zaman Nabi Musa as terjadi pembunuhan yang mengakibatkan perdebatan karena mereka saling tuduh tentang siapa pembunuhnya. Allah SWT memberitahukan pada Musa as agar Bani Israil menyembelih sapi betina, dan memukul mayat tersebut dengan salah satu bagian dari sapi betina yang telah disembelih, agar sang mayat menjadi hidup kembali dan memberitahukan mengenai siapa yang membunuhnya.

Tetapi dasar Bani Israil “jahil”, alih-alih menuruti perintah, mereka malah mengejek dan sibuk berkelit dengan pertanyaan.

Perintah awalnya sederhana, sembelih sapi betina! Tetapi mereka tidak puas dan bertanya (sebab mereka masih ada semacam rasa sungkan menyembelih sapi yang dulunya sempat mereka jadikan berhala).

Akhirnya diberitahu bahwa sapinya adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda.

Alih-alih melakukan, merekapun sibuk bertanya lagi, dan bertanya lagi (karena memang enggan melakukan). Hingga akhirnya syarat sapinya menjadi demikian rumit.

Sapi betina, tidak tua tidak muda, belum pernah dipakai membajak tanah, tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak cacat, tak ada belangnya.

Dan konon pula Bani Israil harus membayar sangat mahal untuk sapi betina itu karena susah didapatkan.

Ternyata, pertanyaan seperti inilah yang tidak boleh, yaitu bertanya yang mempersulit diri sendiri karena di dalam dirinya memang ada keengganan untuk melaksanakan perintah.

Lalu, di dalam sebuah hadist pula ada cerita dimana Rasulullah marah kepada orang-orang yang bertanya kepada beliau dengan maksud mengejek, yaitu pertanyaan yang tidak penting. Rasulullah sedang ceramah, orang-orang malah bertanya siapa bapaknya? apakah antara dirinya dan bapaknya ada pertalian nasab? dimana untanya?

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Satu kaum bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan maksud mengejek. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Siapa ayahku?’ Orang yang untanya tersesat berkata, ‘Di mana untaku?’ Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat ini, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian’.” (al-Mâ-idah/5:101)

Lalu ada juga kita dengar hadist bahwa saat Rasulullah berkhutbah dan mewajibkan haji, ada orang yang bertanya spontan “apakah setiap tahun?” Dan Rasulullah diam, hingga orang tersebut mengulangi pertanyaannya tiga kali, lalu Rasul katakan seandainya Beliau mengiyakan, maka hal tersebut akan menjadi wajib dan kalian tidak akan sanggup.

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah”. Seseorang berkata,”Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Maka beliau diam hingga orang tersebut mengulanginya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Kalau aku katakan ya, niscaya hal tersebut menjadi wajib, dan niscaya kalian tidak akan sanggup,” kemudian beliau bersabda,”Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakan semampu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu pada kalian, tinggalkanlah” (HR. Muslim)

Ternyata, konteks bertanya yang keliru adalah banyak bertanya karena keengganan melakukan, bertanya hal yang tidak praktikal, dan bertanya yang pertanyaan itu nanti malah menyulitkan diri sendiri.

Saya ingat ada sebuah cerita, saya lupa siapakah ulama yang diceritakan ini. Suatu hari dalam pengajian, seorang anak muda bertanya pada ulama itu, “Bagaimanakah cara orang sholat menghadap kiblat kalau dia lagi di bulan?”

Maka sang Ulama menjawab, “Duhai anak muda, salah sekali pertanyaanmu, harusnya kamu bertanya bagaimana caranya biar kita bisa pergi ke bulan?”

Sang ulama, mengajarkan anak muda itu untuk bertanya sesuatu yang lebih manfaat dan praktikal.

Berarti, saat kita menempatkan pertanyaan dalam konteksnya yang tepat, bukan pertanyaan jahil seperti di atas, maka “bertanya” itu akan menjadi gerbang ilmu.

Teringat sebuah kisah saat ada seorang sahabat yang mati karena mandi wajib dan membasahi kepalanya padahal kepalanya sedang terluka.

Abu Daud meriwayatkan bahwa Jabir ra berkata, “Kami sedang pergi dalam sebuah perjalanan. Lalu ada seorang dari kami yang terkena batu sehingga kepalanya terluka. Setelah itu pada malam hari ia “bermimpi”. Iapun bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Apa saya boleh tayammum?”

Mereka berkata, “Tidak ada rukhsah (keringanan) bagimu jika masih bisa memergunakan air.”

Akhirnya ia mandi dan tidak lama kemudian meninggal dunia.

Ketika sampai di Madinah, kami sampaikan peristiwa tersebut kepada Nabi saw. Beliau berujar, “Mereka telah membinasakannya, semoga mereka dibinasakan oleh Allah. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak tahu. Obat dari ketidaktahuan adalah bertanya. Cukup bagi orang tadi (yang kepalanya terluka) untuk bertayammum, membalut lukanya, lalu mengusapnya. Sementara bagian tubuh lainnya disiram dengan air.”

Obat dari ketidaktahuan adalah bertanya.

Sebagaimana kita sudah mengetahui bahwa ada bertanya yang mencerahkan, ada bertanya yang membinasakan, begitu juga dengan ilmu ada berguna dan ada yang tak berguna.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR . Muslim)

Jika obat dari ketidak tahuan adalah bertanya, maka berarti melalui gerbang pertanyaan (keingintahuan) lah maka ilmu akan datang.

Dan tantangannya adalah, bagaimana kita bisa menjadikan ilmu yang kita punya sebagai sesuatu yang praktikal, berdaya guna, agar ilmu menjadi bermanfaat. Tuliskan, sebarkan, ajarkan pada orang lain sebatas yang kita tahu, meski satu ayat.

———-

gambar saya pinjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s