KESEMPITAN YANG MENDEWASAKAN

Dulu, saya termasuk satu dari sekian manusia yang merasa apabila diberikan kelapangan dalam hidup saya bersyukur, apabila mendapat kesempitan saya menganggap Allah sedang marah kepada saya.

Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya (Allâh) mengujinya, lalu membatasi rezekinya (menjadikannya hidup dalam kekurangan), maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku” .Sekali-kali tidak (demikian), …(al-Fajr/89:15-16)

Alhamdulillah, belakangan saya memahami bahwa kelapangan dan kesempitan, dua-duanya adalah sarana Allah mengenalkan diriNya kepada hambaNya.

Orang yang mengenal Allah, akan mendekat pada Allah lewat jalan kesyukuran saat mendapat kelapangan, atau juga semakin mendekat pada Allah lewat jalan kesabaran dan rasa fakir (rasa butuh terhadap pertolongan Allah) saat mendapat kesempitan.

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : “Ketika Allah menciptakan makhluk, Allah menulis di dalam kitabNya, Dia menulis atas diriNya, Dia meletakkan di sisiNya pada Arasy : “Sesungguhnya rahmatKu mengalahkan kemurkaanKu”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Alam raya ini begitu besar, dan manusia begitu kecil. Sungguh salahlah orang-orang yang putus asa terhadap rahmat Tuhan. Dan keliru pula orang-orang yang mempersepsikan Tuhan sebagai sesuatu yang “butuh” kepada penghormatan manusia. Dan dilain sisi juga mempersepsikan bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang begitu tersinggungan dan gemar menyiksa manusia.

Alam raya ini sebesar ini, bisa kita bayangkan kuasa yang DIA miliki. Kasarannya, apa perlunya DIA dengan manusia yang kecil ini? Tuhan tidak menjadi terhormat dengan penghormatan manusia, Tuhan  juga tidak ada kepentingan untuk menyengsarakan manusia di alam raya yang Dia ciptakan begitu besar dan luas ini.

Berapa jauh jarak matahari ke bumi? Jika menggunakan satuan kecepatan cahaya, maka jarak bumi ke matahari dikatakan konon sekitar delapan menit cahaya. Jika satu detik saja, cahaya bisa melaju sejauh 300,000 km. maka delapan menit berarti 300,000 km x 8 menit x 60 detik = 144,000,000 km. Tak terperi jauhnya.

Semakin jauh, berarti pula semakin luasnya alam raya ini. Apalagi jika kita bandingkan antara tatasurya kita dengan sistem perbintangan terdekat yaitu alpha centauri, yang konon dikatakan ilmuwan butuh sekitar 4.3 juta tahun cahaya. Membayangkannya saja sudah sulit. Itu baru ke Alpha centauri. Belum lagi sampai ke ujung galaksi bima sakti.

Diameter Galaksi Bima Sakti, konon 100,000 tahun cahaya. Dan jarak benda terjauh yang manusia bisa observasi dari bumi adalah milyaran tahun cahaya.

Saya bukan ilmuwan, dan bukan bidang saya untuk membahas astronomi. Tetapi gambaran sederhana ini rasanya sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa alam raya ini besar bukan kepalang. Dan pagelaran besar jagad raya ini bukan dalam rangka menyiksa manusia, tetapi dalam rangka mengenalkan Sang Empunya Jagad Raya.

Ibarat kata, Allah menggelar sebuah pentas kolosal untuk mengenalkan dirinya. Segala bintang, nebula, planet, benda-benda yang kita kenal dan tak kita kenal, juga cerita hidup setiap kita, tak lain tak bukan untuk mengenalkan diriNya pada kita. Tak ada urusan dengan siksa-menyiksa.

Karena sifat-sifat yang Dia miliki ada banyak, terkandung dalam asmaul husna, maka cerita setiap orang untuk kembali kepada Dia; bermacam-macam juga.

Ada yang kembali lewat jalan kelapangan (kesyukuran) ada yang kembali dan menjadi kenal padanya lewat jalan kesempitan (sabar dan rasa fakir pada Tuhan). Pendeknya, entry point untuk mengenalNya itu banyak sekali.

Dari sekian banyak Asma’Nya, dua Asma yang Dia pilih untuk dikedepankan pada ummat manusia adalah Rahmaan dan RahiimNya. Bismillahirrahmanirrahim.

Kalimat Bismillahirrahmanirrahim tidak akrab pada masa sebelum kedatangan Rasulullah di Makkah. Orang-orang Makkah kala itu menggunakan kalimat Bismika Allahumma. Dengan namaMu Ya Allah Tuhan kami. Mereka mengakui bahwa Allah adalah Tuhan, tetapi mereka tidak tepat dalam mempersepsikan sifatNya. –tentu terlepas dari fakta bahwa mereka pula mengakui ada sesembahan lain selain Allah-.

Saat hampir keseluruhan aktifitas dalam keseharian kehidupan kita diperintahkan untuk mengawalinya dengan Asma’Nya yang Maha welas asih dan Maha penyayang, berarti pula kita setiap saat diperintahkan untuk membetulkan kembali persepsi kita dalam memandang kehidupan ini. Bahwa kita tidak sedang hidup dalam sebuah dunia yang chaos dan penuh dengan aksi-reaksi kebetulan, tetapi kita hidup dalam balutan Asma’Nya yang Rahmaan dan Rahiim.

Yang memandang kehidupan dalam balutan Rahmaan dan RahiimNya, tidak akan merasa Allah menghinakannya kala dia tertimpa musibah dan kesempitan; melainkan akan kembali pada Allah, dan tidak akan putus asa dalam mengharapkan pertolongan. Karena, sebuah kesempitan yang didesain oleh Sang Maha Welas Asih, mestilah sebuah kesempitan yang mendewasakan dan membahagiakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s