BERMALAM DI RUMAH PENGHUNI SYURGA

Ada sebuah kisah yang sangat masyhur tentang seorang sahabat yang disebut sebagai penghuni syurga oleh Rasulullah SAW. Ceritanya, saat Rasulullah sedang mengajar pada sebuah majelis ilmu, tiba-tiba Nabi SAW berhenti dan berkata bahwa di pintu dekat mereka itu nanti akan masuk seorang penghuni syurga.

Kejadian tersebut sempat berulang sebanyak kurang lebih tiga kali. Hingga para sahabat yang tentunya orang-orang berilmu dan ahli ibadah menjadi penasaran juga. Kira-kira semantap apakah amalan yang dilakukan seseorang yang disebut-sebut selalu oleh Rasulullah SAW sebagai penghuni syurga itu?

Adalah Abdullah Ibnu Umar, seorang sahabat lainnya, sangat penasaran dan hendak menyelidiki sang penghuni syurga yang selalu disebut-sebut Rasulullah itu. Lalu Abdullah Ibnu Umar menyambangi orang tersebut, sowan, dan numpang bermalam.

Beberapa hari numpang bermalam di rumah orang tersebut, Abdullah Ibnu Umar tidak kunjung menemukan sesuatu yang istimewa. Sholatnya biasa, sholat malampun biasa saja malah kurang jika dibandingkan Abdullah Ibnu Umar.

Akhirnya, karena penasaran, Abdullah Ibnu Umar berterus terang kepada sahabat itu, dan menceritakan hal ihwal alasannya bermalam disana. Sang penghuni syurga yang disebut Rasulullah SAW tadi dengan jujur mengatakan bahwa tak satupun amalan dia istimewa. Apa yang disaksikan Abdullah Ibnu Umar adalah amalan yang dia biasa lakukan setiap hari. Tak lebih. Tak kurang.

Abdullah Ibnu Umar pun akhirnya beranjak pamit. Setelah berapa langkah berlalu, sang sahabat ahli syurga itu kemudian memanggil Abdullah Ibnu Umar dan berkata bahwa tiada keistimewaan pada dirinya. Hanya saja, dia tidak pernah menyimpan dengki dan dendam pada orang lain. Setiap sebelum tidur dia tafakur, kemudian berdoa dan memaafkan semua orang sehingga dia tidur tanpa menyimpan dengki dan dendam pada siapapun.

“Inilah yang telah mengangkat derajat tuan!” Kata Abdullah Ibnu Umar.

Guru-guru yang arif, banyak mengajarkan praktik seperti yang dilakukan sahabat itu. Bertafakur, untuk kemudian mengingat Allah dan melepaskan segala dendam, segala dengki, dan pendeknya segala apapun saja yang membebani jiwa kita. Amalan yang sederhana, tetapi jika dilakukan dengan dawam bisa membersihkan hati dan mengangkat derajat.

Ada ilustrasi yang menarik. Jika kita melihat sebuah bunga. Bunga yang sama sekali belum pernah kita lihat sebelumnya. Selama beberapa menit kita perhatikan bunga itu, lalu kita alihkan pandangan, atau kita pejamkan mata, atau bunga itu dibuang sama sekali; bayangan bunga itu masih bisa kita munculkan lagi di dalam benak kita.

Bayangan bunga di dalam benak kita, adalah suatu memori.

Yang mengamati bayangan itu, adalah al-aql atau spiritual heart atau hati itu sendiri (hati dalam konteks hati yang halus, bukan hati jasadiah). Sebagian orang menyebut yang mengamati itu dengan “kesadaran” atau consciusness kita.

Berpuluh tahun kita hidup, beribu bayangan masuk ke dalam benak kita. Apa saja yang masuk ke dalam benak kita, kita rekam. Sebagian dari bayangan itu (atau rekam masa lalu itu) kita sukai, maka kita terus-terusan menyimpan bayangan itu dalam benak kita. Sesuatu yang tersimpan dan kita “gondeli” istilahnya; akan menjadi lekat dan lebih dari sekedar peristiwa. ianya bisa merusak hati kita. Dalam kaitannya dengan cerita sahabat tadi, saya rasa sahabat itu terus menerus melakukan pembersihan jiwa dengan melepaskan segala peristiwa dari benaknya.

Memorinya tetap ada, tetapi kelekatan jiwa terhadap peristiwa itu sudah hilang. Karena dia maafkan.

Jadi, sebenarnya, konsep kita tentang diri kita, adalah dibentuk dari kumpulan persepsi masa lalu.

Misalnya kita bernama budi. Apa yang si Budi sukai. Cara si Budi memandang. Karakter si Budi, semuanya adalah kumpulan rekam masa lalu yang diketahui oleh Al-aql.

Ibarat kata, yang selama ini dia anggap sebagai “budi” itu sebenarnya tidak ada. Budi adalah kumpulan persepsi yang diketahui oleh Al-aql.

Orang yang tercerahkan, -baru saya mengerti-, bahwa mereka memandang kumpulan memori masa lalu hanyalah sebagai kumpulan memori semata. Tidak menjadi sesuatu yang lekat dan mengotori hatinya.

Kita -kata para arifin- adalah kumpulan peristiwa. Dan sebuah amalan yang luar biasa ringan, tetapi jika dilakukan secara rutin, dawam, akan memiliki efek yang sangat besar adalah menengok kembali ruang batin kita, dan melakukan bersih-bersih. Tazkiyatun nafs.

Memandang peristiwa masa silam, sebagai peristiwa semata, dan tidak menjadikan sesuatu yang lekat dan mengotori jiwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s