PROSES MERINDU

Saya ingat, suatu ketika seorang kawan saya pernah dimarahi habis-habisan oleh pimpinan di perusahaan tempat saya bekerja. Apa pasal? Pasalnya adalah rekan kerja saya ini tidak melaporkan kepada pimpinan, tentang sebuah incident.

Sebenarnya, incidentnya itu sendiri adalah sebuah incident kecil. Tidak ada korban. Tidak ada kerusakan berarti. Bisa diselesaikan sendiri dengan segera. Pendek kata, hampir bisa diabaikan. Tetapi, kenapa sang pimpinan sangat marah?

Ternyata, kemarahan itu bukan pada incidentnya, tetapi pada “pelanggaran” terhadap “proses” yang berlaku di perusahaan. Setiap incident, harus dilaporkan kepada pimpinan. Itu peraturannya. Dan pelanggaran terhadap hal itu, berarti pelanggaran terhadap proses yang mesti berlaku. Pelanggaran terhadap proses, bahkan bisa lebih fatal, ketimbang incidentnya itu sendiri.

Di dalam kehidupan keseharian kita, saya rasa hal ini juga applicable. Dalam bingkai spiritualitas yang telah diajarkan Rasulullah kita diberitahu sebuah proses yang mesti kita lakukan untuk menyaring sesuatu. Proses itu adalah membandingkan atau mem-filter, atau menguji-cobakan sesuatu dengan kitabullah, dan Sunnah-nya. Baru selepas itu kita boleh menerima, atau menolak sesuatu.

“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya yaitu: Kitabullah dan sunnah NabiNya.” Al Hadist.

Meng-crosscheck sesuatu yang kita yakini, dengan literatur Qur’an dan Sunnah, adalah sebuah metodologi, sebuah proses. Orang yang tidak sesat, adalah orang yang menjalankan proses itu. Artinya, seseorang itu patuh pada metodologi yang sudah diajarkan Rasulullah SAW.

Pertanyaannya adalah, apakah setiap orang yang sudah menjalankan proses, menjalankan metodologi yang sama; akan selalu berujung pada kesimpulan yang sama? Belum tentu. Karena, banyak faktor yang akan menghasilkan sebuah kesimpulan akhir. Bisa faktor sosio-kultural. Bisa faktor kepahaman seseorang. Bisa faktor ketrampilan bahasa. Bisa faktor derajat ketersingkapan (mukasyafah) seseorang. Macam-macamlah. Tetapi intinya, jika sebelum seseorang sampai pada kesimpulan akhir; dia sudah membandingkan segala sesuatunya dengan Quran, dan Sunnah, sebatas apa yang dia pahami dengan segala daya yang ada pada dirinya; maka “sudah menjalankan proses-lah orang itu”.

Empat mazhab ada, karena perbedaan keilmuan, cara pandang, latar budaya, kelengkapan data, dan lain sebagainya. Tetapi, empat-empatnya sudah menjalankan proses, apa itu? Upaya membandingkan sesuatu dengan Quran dan dengan Sunnah.

Apabila sudah dilakukan upaya pembandingan itu, maka sudah termasuk orang-orang yang dijamin oleh Rasulullah, tidak akan termasuk yang sesat. Allah SWT maha mengetahui apakah seseorang sudah menjalankan sesuai dengan proses yang semestinya berlaku, ataukah tidak.

Hal ini berarti pula, saat ada sebuah pendapat, katakanlah seorang alim-kah, seorang arifin-kah, seorang bijak cendikia-kah, kita ikuti; kita tidak mengikuti karena ketokohan orang tersebut. Tetapi kita mengikuti mereka karena mereka bersesuaian dengan Quran dan Sunnah setelah kita coba pahami dengan segala keterbatasan kita yang manusiawi.

Bagaimana jika ternyata pilihan kita itu berbeda dengan rekan kita? Pertanyaannya adalah, apakah rekan kita sudah menggunakan proses yang sama? Jika proses yang sama sudah digunakan, metodologi yang sama sudah digunakan, maka ibarat hujjah sudah bertemu hujjah, tak boleh ada hujaT.

Karena yang Maha luas dan komprehensif pemahamannya hanyalah Dia, maka kebenaran sejati hanya milik Dia juga. Kita, dan rekan kita itu, sama-sama perindu ridhoNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s