MENGHAPUS PRESTASI

taubat

Konon, setelah khalifah Umar Bin Khattab meninggal dunia, seorang sahabat bermimpi bertemu dengan khalifah Umar. Kemudian, sahabat itu bertanya kepada khalifah umar bagaimana keadaan Beliau di alam kubur. Khalifah menjawab, Beliau diselamatkan dan dimudahkan urusannya di alam barzakh tersebab Beliau pernah menolong seekor burung pipit.

Alkisah, Umar sedang berjalan menuju alun-alun kota, dan melihat anak-anak memainkan seekor burung pipit di tangannya. Karena kasihan, Umar tergerak untuk membeli burung itu dan kemudian melepaskannya. Perbuatannya itulah yang konon kemudian menjadi sebab dimudahkan urusannya dan dilepaskan dari siksa kubur.

Kisah ini memang bukan menjadi dasar hukum, tetapi sekedar sebagai sebuah pesan moral, cerita ini mengandung sesuatu yang kita jamak temukan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu betapa kebaikan yang banyak kita lakukan, kadang-kadang tidak terlepas dari cela, dan kita tidak pernah tahu entah kebaikan yang mana yang akan menyelamatkan kita.

Untuk itulah, orang-orang arif mengajarkan agar kita tidak melulu “mendekati” Allah dengan memandang kepada keadilan dan kekuasaannya (sifat Jalal-Nya). Jika kita mendekati Allah dengan memandang sifat keadilannya -semata- maka kita tidak akan mampu.

Karena ‘adil’ berarti kita akan diganjar sesuai dengan kualitas amal kita, sedangkan amal kita lebih banyak ga benernya ketimbang benernya.

Sekarang ini, kita tidak usah diajari lagi mengenai kenyataan bahwa Allah itu maha kuasa dan maha membalas, karena dari kecil kita sudah terbiasa memandang Allah dari sisi keadilan dan pembalasanNya. Tetapi kita tidak terbiasa memandang dan mengakrabi Allah dari sisi bahwa DIA maha welas asih, penerima taubat, dan menyimpan 99 rahmatNya di hari muka nanti.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki 100 rahmat. Diturunkan (ke dunia) satu rahmat untuk jin, manusia, dan binatang. Dengan itu mereka saling simpati dan kasih sayang. Dengan satu rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya. Dan Allah swt. menyimpan 99 rahmat bagi hamba-Nya di hari kiamat.” (Muttafaqun alaihi)

Orang-orang yang memandang Allah bahwa Dia maha Pengasih Penyayang, akan tidak putus harapan. Karena memang fithrah manusia itu adalah keliru, salah, dan banyak dosa. Orang-orang yang berharap kepada Allah, justru dengan salah dan dosanya itu mereka pulang kepada Allah, dan meminta permaafan.

Jika kita berada dalam konteks meminta permaafan, meminta tolong, meminta belas kasih kepada Allah, maka kita akan berada pada kondisi orang-orang yang tidak pernah merasa bahwa dirinya memiliki suatu kehebatan yang bisa diandalkan. Karena memang semuanya itu karunia Allah.

Banyak kita temukan literatur dimana Allah mengatakan, kamu harus sabar…tetapi kemudian ditambahkan lagi, kamu tidak akan bisa sabar kecuali dengan pertolongan Allah (Billah).

Ada juga perintah ikhlas. Disuruh ikhlas…tetapi kemudian ditambahkan juga, kamu ndak akan bisa ikhlas, kecuali dengan pertolongan Allah (Billah).

Juga sebuah ungkapan yang masyhur la hawla wa la quwwata illa BILLAH.

Semua-muanya menyuruh kita agar cara pandang kita dibenerin. Jangan menggunakan cara pandang itung-itungan dan merasa seperti seakan-akan kita ini sedang ingin unjuk prestasi pada Allah. Nanti kalau tahu bahwa amalan kita jelek semua, baru nyadar, baru kecewa sendiri.

Jadi bagaimana?

Ya teruslah meniti jalan pulang. Lakukan segala macam kebaikan apa saja yang kita bisa lakukan, tetapi mentalitasnya dirubah, kata guru-guru. Jangan seperti unjuk prestasi. Tetapi lakukan seperti orang yang minta tolong. Orang yang minta tolong, pasti “menengok” yang dimintai tolong.

kalau kita selalu menengok Yang Dimintai Tolong, berarti memang kita ga peduli dengan bentukan lahiriah amal kita. Tak sempat untuk merasa besar. Itulah makna Billah.

Dan nantinya, sak suka-suka Allah saja menyelamatkan kita entah dari celah yang mana. Seperti Umar yang diselamatkan karena burung pipit -padahal amalan beliau seabrek-abrek, bukan?- seperti juga kisah seorang pelacur yang diselamatkan karena memberi minum seekor anjing, dan kisah seorang pembunuh yang memenggal seratus orang kemudian pada ujung hidupnya diselamatkan karena keinginan taubat (kembali ke Allah).

washbir, wama shobruka illa billah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s