KHALIFAH, KELINGKING, DAN UPILNYA

Dulu waktu saya kuliah di Jatinangor (Bandung coret), sedang gandrung-gandrungnya memantau siqran MQFM Radionya aa gym, saya “merekam” dalam benak saya, sebuah perumpamaan menarik dari aa gym.

“Kalau kita cuma kelingking, ga usah melakukan hal besar seperti mengangkat meja, kelingking bisa patah. Lakukan saja tugasnya kelingking, misalnya ngupil.” Kata Beliau sambil kelakar.

Sepintas sederhana. Pesan moralnya adalah kita harus berbuat sesuai proporsi kita.

Tapi, tema “berbuat sesuai proporsi” ini ternyata saya temukan lebih sufistik dari yang saya perkirakan.

Kita sama-sama mengerti bahwa ada tuntutan di dalam diri manusia untuk berbuat baik dan menjadi ada di tengah-tengah masyarakat. Tetapi, tuntutan ini sebenarnya masih tuntutan dari dorongan hawa. Hawa nafsu untuk menjadi “ada”.

Keinginan untuk menjadi ada, tidaklah merupakan kepingan puzzle yang tepat untuk menggenapi sabda Nabi bahwa sebaik-baik diantara manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat untuk orang lainnya.

Karena keinginan menjadi ada, meskipun secara lahiriah terlihat memberikan manfaat untuk orang lain, sebenarnya tumbuh dari keinginan mendapatkan manfaat untuk diri sendiri. Jadi fokusnya sebenarnya dirinya sendiri, bukan keinginan memberi manfaat.

Misalnya, berbuat baik karena ingin merasakan sensasi kebahagiaan di dalam diri. Ini ego.

Seseorang yang melakukan sesuatu karena egonya, cenderung mengejar bentukan luar dari sebuah kebaikan yang dia lakukan.

Misalnya, dia ingin menjadi pembicara yang didengar ratusan ribu orang. Dan keinginan lainnya.

Dia akan menilai kebaikan sebuah amal, dari seberapa megah bangunan amal itu pada zahirnya yang tampak. Sehingga orang ini akan sibuk mencari cara untuk memegahkan amalan lahiriahnya.

Seperti kelingking ingin mengangkat meja, kata aa gym.

Dan ini jamak dialami para pemuda. Pemuda, memiliki letupan semangat besar seakan-akan ingin memindahkan gunung.

Padahal, hidup ini bisa menjadi harmonis karena setiap orang menjalankan peranan dia masing-masing.

Ada pedagang bakso. Ada polisi. Ada dosen. Ada mahasiswa. Ada alim ulama.

Kalau misalnya kita mengejar bentukan lahiriah sebuah amal, lalu semua orang di dunia menjadi alim ulama, lalu siapa yang menggerakkan roda ekonomi? Siapa yang menjadi dosen? Siapa yang membahagiakan mahasiswa dengan dagangan buat makan siang? Dan macam-macam lagi perumpamaan.

Harmoninya hidup ini, adalah karena setiap orang menjalankan dia punya tugasan dengan frame bahwa mereka menjalankan fungsi khalifah di muka bumi.

Artinya, menjalankan apapun profesi kehidupan mereka berkelindan dengan hubungan pribadi antara dirinya dan Allah, yang pada gilirannya akan bisa memberikan kemanfaatan pada orang lainnya.

Kita tengok Abu bakar RA. Tidak mati syahid sebagaimana Umar dan Utsman juga Ali. Tidak pernah disiksa seperti Bilal. Tetapi Beliau menjadi yang termulia diantara semuanya.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Beliau menjadi lebih tinggi dikarenakan sesuatu yang menetap di hatinya. Yaitu kesadaran bahwa Beliau melakukan segala sesuatunya karena Allah.

Dalam hadits pula kita tengok ada kisah Uwais Al Qarniy yang tidak masyhur di bumi, tetapi masyhur di langit.

Dan banyak kisah lainnya yang muaranya adalah bahwa profesi, atau amaliah seseorang pada luarannya; bukan faktor utama. Yang utama adalah dalemnya.

Saat dalemnya sudah “dapet“, maka apapun aktivitas amaliah pada luarannya akan bernilai tinggi.

Meskipun itu sebatas level “kelingking membersihkan upil.” Itupun tinggi.

Hal ini banyak diwanti para ulama arifin, agar tidak semua orang –karena dorongan ingin mendekat pada Allah– lantas meninggalkan dia punya perniagaan. Meninggalkan aktivitas dunia dia. Atau meski tidak se-ekstrim itu, tetapi dia merasa bahwa aktivitas dunia dia itu kalah “bernilai ibadah” dengan orang-orang yang memang bergelut pada aktivitas keagamaan.
Polisi kalah bernilai dari ulama, pekerja lapangan minyak kalah bernilai dari guru ngaji, atau sebaliknya. Nah…..ini ndak betul.

Setiap orang, Allah berikan tugas. Setiap tugas akan membutuhkan perangkatnya sendiri. Yang menulis tugas adalah Allah, yang ngasih perangkat Allah juga.

Jika ingin melihat apa tugasan kita sekarang, coba lihat apa yang kita miliki, lihat harta, lihat keilmuan kita, lihat lingkungan kerja kita, artinya itulah tugas kita sekarang.

Menjadi yang banyak memberi kemanfaatan diantara manusia, bukanlah dengan meninggalkan tugasan kita yang ada sekarang, dan mencari tugasan lain yang lebih berbau spiritual. Melainkan membenarkan cara pandang, dan memaknai bahwa kehidupan itu sebuah interaksi antara kita sebagai hamba, dan Allah yang ingin memperkenalkan diriNya pada hambaNya lewat berbagai-bagai tema kehidupan.

Dari sanalah, barulah apa saja yang kita kerjakan akan bernilai tinggi di sisiNya, dan masalah kemanfaatan pada manusia; Dia yang akan mengaturnya.

Saya kutipkan tulisan Cak Nun, “orang hidup itu seperti permainan sepak bola, setiap orang harus memiliki pemahaman yang memadai tentang siapa dia, apa posisinya, agar ia tahu harus melangkah kemana dan bagaimana”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s