JATUH BANGUN MENGHAPUS “AKU”

Saya teringat seorang rekan saya bercerita. Dia tidak mendapatkan penghargaan dari kantornya. Pasalnya adalah dia dan rekan satu tim-nya sudah bekerja mati-matian untuk sebuah project. Dan dia merasakan bahwa dirinya bekerja lebih banyak, -atau paling tidak sama banyak- dengan rekan satu tim-nya. Tetapi karena entah apa, hanya rekan satu tim-nya yang mendapatkan penghargaan dari kantor.

Sempat beberapa saat dia memendam kecewa, tentu saja. Tetapi pada akhirnya dia mendapatkan sebuah pelajaran hidup. Bahwa seharusnya kesedihan itu tak perlu.

Yang pertama adalah karena sebenarnya Allah membagikan rezeki kepada siapapun yang dia kehendaki. Yang kedua adalah –rekan saya mendapatkan kepahaman yang lebih tinggi– bahwa sesungguhnya antara hati manusia, dan perasaan sedih, adalah dua hal yang terpisah. Ada sang pengamat di dalam diri (subject), dan ada sebuah sensasi perasaan yang menjadi object yang diamati.Tetapi saya sedang tak ingin membahas itu.

Yang menarik sebenarnya, kenyataan bahwa begitulah cara Allah mengajar. Allah mengajar manusia, salah satunya lewat kejadian hidup.

Rekan saya ini, mengatakan bahwa belakangan dia mulai memahami keterkaitan antara kejadian hidup dan hubungannya dengan “mengenal Allah”, lewat sebuah hadits yang menjelaskan bahwa Allah maha Rahmaan. Maha penyayang bahkan lebih menyayangi manusia dibanding seorang ibu menyayangi anaknya.

Rahmaan, adalah sebuah “entry point”.

Lewat entry point sifat Rahmaan, rekan saya ini menjadi bisa berinteraksi kepada Sang Empunya sifat.

Bahwa Allah SWT yang selama ini kita sembah adalah Yang Maha Penyayang, bahkan dalam hal-hal yang menurut kita tidak mengenakkan; pastilah masih berada dalam balutan Rahmaan-Nya.

Ada satu hal yang sangat berguna, menurut saya. Yaitu pelajaran dari guru-guru kearifan yang mengatakan bahwa memang seharusnya kita memandang kehidupan ini sebagai media Dia untuk menceritakan diriNya.

Kejadian hidup, tidak sekedar dipandang sebagai kejadian hidup. Tetapi kejadian hidup kita maknai sebagai sebuah cerita dari Allah, yang bertujuan mengenalkan diriNya kepada kita.

Kali ini Dia bercerita pada diri kita tentang Rahmaan-Nya, lewat kejadian hidup yang kita alami.

Kali lain Dia bisa bercerita pada diri kita tentang Rozaq-Nya, lewat kejadian hidup yang lain lagi.

Bisa tentang Rahiim-Nya. Tentang Mutakabbir-Nya. dan lain-lain.

Kalau kita memandang kehidupan sebagai media Dia menceritakan diriNya. Maka, kita tidak akan sakit hati, kata guru-guru. Malah kita akan selalu mendapatkan hikmah.

Semisal kita memandang pekerjaan kantor sebagai pengaturan Dia membagikan rizki, tentang Dia yang sedang “bekerja” meninggikan siapa yang Dia mau, menyembunyikan siapa yang Dia mau; maka kita akan semakin kenal dengan Dia.

Diri kita sendiri menjadi ‘hilang’. Karena seluruh kehidupan ini memang konteksnya tentang “DIA”. Tidak pernah tentang diri kita.

Kalau kita lupa memandang kehidupan sebagai konteks “DIA menceritakan diriNya”. Maka seketika itu juga kita sudah “merasa ada”.

Dan berbarengan dengan perasaan “merasa ada” itulah segala penyakit bisa muncul. Bisa ada dengki. Bisa ada kecewa. bisa ada dendam.

Selama ini, kita salah. Kita memberantas dendam-nya. memberantas sakit hatinya. memberantas dengkinya. Tetapi kita tidak pernah memberantas “aku”-nya.

Kalau perasaan “merasa ada” masih ada di dalam diri kita, maka selamanya penyakit hati akan ada.

Tapi kalau perasaan “merasa ada” sudah sirna. Dan kita memandang kehidupan sebagai pentas pagelaran DIRINYA semata, maka kita tidak akan kecewa.

Rekan saya, -dan saya tentu saja-, jatuh bangun dalam praktek ini.

Tetapi, setidaknya, kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan. Setiap kali perasaan kecewa dan sakit hati muncul, berarti itu alarm bahwa kita sudah “merasa ada”, dan kita harus kembali lagi membenahi cara pandang.

Bahwa semua ini tentang DIA. bukan tentang kita pribadi.

Maka nanti DIA akan mengajarkan rahasia namaNya yang lain lagi ke kita.

kata imam Al-Ghozali. Siapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, maka dia akan menyadari bahwa dia tiadalah wujud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s