ORANG-ORANG YANG MENCARI

huangshan

“Saya bukan Budhist, Bukan Christian, bukan Islam,” kata seorang rekan kerja saya dalam bahasa inggris yang cadel dengan logat China-nya.

Pembicaraan seputar pekerjaan kantor, dan segala pernak-perniknya, entah bagaimana membawa kami pada pembicaraan mengenai makna kehidupan bagi kami masing-masing.

Saya tebak, usia beliau lebih tua dari saya sekitar 6 sampai 10 tahun. Dia dari Beijing. Berkeluarga, dan punya satu anak.

Dia, istrinya, dan juga anaknya, tidak menganut salah satupun agama. Mungkin dekat kepada Budha, tetapi dia tidak beragama Budha. Dia katakan, kehidupan cina dengan paham komunisnya tidak memberikan ruang yang lega untuk keberagamaan tumbuh subur. Sehingga, banyak orang China yang tidak terlalu ambil pusing dengan apa agama mereka.

Saya menemani beliau makan siang pada sebuah restaurant kecil sekitar sepuluh menit dari kantor.

Dari situlah saya “menangkap” gejala itu, bahwa seorang China dengan perawakan mirip jet lee di depan saya ini adalah seorang “seeker“, Salik dalam porsi-nya sendiri, dan sangat nyata bahwa dia ini mencari makna hidup.

Untuk seorang yang tumbuh besar dalam kehidupan Negri Cina yang komunis, dan dia jarang tersentuh kehidupan keberagamaan, saya cukup salut dengan pernyataan yang dia buat.

Sekali lagi, dalam english yang cadel dia katakan, “i noticed, if we dont have any spiritual believes, or religion, we will lost guidance in this life.” kata beliau.

So true, saya bilang. Dan saya memperhatikan dia bercerita, bahwa dia membaca tentang Christianity, tentang Budhism, tentang islam. Disitulah dia berkata bahwa dia bukan Budha, bukan Islam, bukan kristen, tetapi dia mulai meyadari bahwa harus ada satu spiritual belief yang dia pegang sebagai guidance. Pelita yang memandu dia dalam hiruk pikuk karir yang kaku, klise dan kerap membuat orang lupa makna hidup.

Kenapa islam di arab begini, kenapa di melayu begini? kenapa di indonesia begini? kenapa topinya begini, kenapa kopiah begitu? kenapa sorban di Oman begitu? dan serentet pertanyaan lagi dia lontarkan dalam obrolan makan siang yang singkat itu.

Kami berbincang panjang, saya ceritakan pada rekan saya itu, bahwa dia haruslah bisa membedakan antara budaya, dan agama. Culture and religion. Mayoritas hal-hal yang dia tanyakan itu berkaitan dengan budaya, yang kerap kali tak ada kaitannya dengan agama. Atau ada kaitan, tapi tidak substantif.

Saya menghargai pencarian dia, teringat saya pada sebuah wejangan seorang ulama kharismatik. Jika kita memaksa seseorang untuk merubah pendapatnya secara radikal, berarti kita memotong proses pencarian orang itu. Dan itu tidak baik. Sebaiknya, kita biarkan dia melanjutkan pencarian, dan kita membantu memberikan data sesuai yang dia butuhkan.

Satu hal, saya katakan kepadanya, yang sering terlupa dari kita. Kita terlalu banyak memandang agama sebagai set of rules. kumpulan tata aturan. Kumpulan seremoni. Hingga kita lupa hal yang paling krusial dari keberagamaan itu sendiri, sisi spiritualitasnya, yaitu mengenal Tuhan, membangun hubungan dengan Tuhan. Itu intinya. Setelah memahami itu, barulah set of rules menjadi punya arti.

Satu fakta yang dia baru tahu adalah bahwa Islam bukan Muhammadanism, bukan agama yang di-create olah Nabi Muhammad. Dia cukup kaget juga mendengar itu.

Saya menambahkan, bahwa islam memandang islam bukanlah satu-satunya agama yang mengajarkan orang menyembah sang pencipta. Menyembah Tuhan. Islam mengakui, kenabian para nabi yang lain. Tak kurang dari seratus dua puluh lima ribu nabi-nabi tersebar di muka bumi ini.

Tetapi risalah yang dibawa mereka, sejatinya hanya satu. Mengenalkan manusia kepada Allah SWT. Kenali Allah-nya dulu, baru bicara tentang set of rules. Rules come later.

Disitulah saya ceritakan kepada Beliau, seperti apa konsepsi islam tentang Allah SWT.

Pada zaman azali, zaman dimana hanya Dia semata yang ada. Tak ada ciptaan. Tak ada ruang, tak ada waktu, tak ada gelap tak ada terang, tak ada benda, tak ada segala sesuatu apapun yang bisa diindera dan dimengerti manusia. hanya Dia yang ada. Dia adalah ALLAH SWT.

Karena DIA ingin dikenali, maka dia menciptakan makhluk (menzahirkan) makhluk.

Berarti, dia menzahirkan ruang, menzahirkan massa, menzahirkan langit dan bumi, manusia, jin, malaikat, planet, bintang, nebula, dan sebutlah apapun saja yang bisa dipersepsikan manusia. semua yang bisa manusia persepsikan, adalah ciptaan.

Maka, islam melarang manusia menyembah ciptaan. segala apapun yang bisa kita persepsikan, kita bayangkan, kita reka, kita sentuh, kita kaji dengan sains, itu adalah ciptaan. Islam mengajarkan kita menyembah penciptanya. itulah Allah.

Laisa Kamislihi Syaiun. Tak serupa tak seumpama.

“Menarik,” dia bilang. Dia mengatakan bahwa paparan tadi dekat sekali dengan kajian sains, bing bang theory. Saya katakan, ya, tentu saja, begitulah persepsi islam tentang Tuhan.

letakkan sejenak segala atribut dan set of rules, kenali dulu Tuhannya. Dari situ kita baru melangkah.

“I have to read quran, one day” Dia bilang.

Saya mengamini dalam hati. Lalu kami melanjutkan makan siang. Sambil saya membatin, Siapa yang mencari, akan bertemu. InsyaAllah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s