KHALIFAH BERTEMU TUHANNYA

Kalau adu ibadah, antara Manusia dan Malaikat, pastilah Malaikat pemenangnya. Malaikat tercipta dengan “ketaatan mutlak” by default.

Saya teringat dengan sebuah petuah seorang guru yang menceritakan ulang keberatan malaikat saat Allah hendak menciptakan manusia.

Keberatan itu adalah karena kebingungan Malaikat, kok kenapa Allah menciptakan manusia dengan potensi merusak, Kenapa harus buat ciptaan lagi? Sedangkan kalau masalah ibadah kepada Allah; Malaikat ini jagonya.

Ada malaikat yang sejak Allah ciptakan kerjaannya bertasbih, ada yang sujud, ada yang memanggul arasy, begitu saja sejak dulu dan tanpa ada perubahan, tak ada jenuh dan bosan.

Sedangkan manusia tidak begitu. Karena Manusia itu berbeda fungsi. Fungsi manusia itu adalah fungsi “pengelolaan” pada semesta. Kekhalifahan.

Maka, selain ibadah khusus seperti shalat, memuji bertasbih dan semacamnya -yang juga dilakukan Malaikat-, manusia melakukan ibadah juga dalam konteks pengelolaannya akan dunia.

Membongkar hukum gravitasi. Memahami kedokteran. Mengenal kimia. Mempelajari gejala alam. Membuat bendungan. Memakmurkan alam. Kesemuanya pekerjaan yang manusia lakukan itu adalah dalam rangka fungsi pengelolaannya terhadap alam. Tugas kekhalifahan yang tidak diberikan pada Malaikat, tidak juga pada Jin.

Kemudian, sang guru melanjutkan. Dalam kepahaman bahwa keseluruhan panjang kehidupan manusia setiap hari ini adalah juga ibadah; maka peribadatan khusus manusia seperti sholat, zikiran, baca quran, dan sebagainya itu haruslah dimaknai sebagai komunikasi antara khalifah dan Tuhannya yang telah memberikan tugas kekhalifahan itu.

Saat sholat misalnya, itu merupakan jenak “laporan” antara seorang khalifah dengan Rabb-nya. Maka dalam konteks “melapor” seperti itulah seorang khalifah itu akan mendapatkan enlightment.

Sebuah sholat, atau ibadah khusus, yang dilakukan tanpa dilambari kepahaman bahwa sejatinya manusia itu punya tugas pengelolaan/kekhalifahan sepanjang jenak hidupnya; akan menjadi sebuah ibadah yang hambar. Karena kosong. Dalam ibadahnya, orang tersebut tak mengerti hendak mengadu apa, hendak melapor apa.

Tentu kita paham, bahwa sholat pun bisa bermuatan pujian, tak melulu permintaan. Tetapi tetap saja, sholat yang benar-benar bermakna pujian adalah sholat yang lahir dari keseharian seseorang yang menemukan ke-Akbar-an, ke-Rahmaan-an, ke-Rahiim-an Allah SWT dalam kehidupannya.

Dalam perjalanan pengelolaannya itu, dia menemukan kekuasaan Rabbnya. Maka wujud kekaguman dan kesalutannya akan tercurah-curah pada detik sholatnya, ataupun zikirnya.

Seolah-olah, sang khalifah menemukan Tuhannya dalam kesehariannya menjalankan tugas di bumi inj.

Ini begitu mencerahkan buat saya. Dan saya baru memahami, tanpa kesadaran “khoirunnas anfauhum linnas” atau tanpa kesadaran sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, atau tanpa kesadaran bahwa kita ada fungsi kekhalifahan; maka ibadah kita tak akan pernah menemukan maknanya.

Karena, jikalah kita hendak “ber-tema-kan” pujian dan kesalutan dalam ibadah kita, kita tak bisa, sebab tak kita temukan kebesarannya dalam keseharian kita yang hambar tanpa amal kekhalifahan.

Karena, jikalah hendak “ber-tema-kan” permohonan dan rasa fakir dalam ibadah kita, kita tak bisa, sebab tak kita temukan kebutuhan dan rasa rindu akan pertolonganNya pada keseharian kita yang datar tanpa kecimpung dalam pengelolaan semesta.

Pada tataran kita masing-masing, menemukan makna bahwa setiap kita memiliki takdir kekhalifahan; adalah luar biasa penting. Sehingga ibadah khusus kita nanti adalah ekspresi melapor, minta tolong, bercakap, pada Tuhan yang semakin kita kenal sepanjang kehidupan kekhalifahan kita.

SANG MAHA CINTA

Adakah tema tulisan, atau syair, atau gubahan lagu, gurindam, atau apa saja, yang bisa mengalahkan jumlah karya manusia dengan tema tentang “cinta”?

Mungkin tak ada. Cinta, hampir mendominasi seluruh susastra manusia.

Tadinya, saya mengira bahwa cinta mencintai ini perkara keterpesonaan manusia kepada sesuatu di luar dirinya. Keterpesonaan yang dalam, yang membuat seseorang rela mengorbankan apa saja.

Seorang pecinta terpesona pada kekasihnya. Orang tua pada anaknya. Para pejuang pada tanah airnya. Pendeknya, ada objek diluar manusia itulah yang menjadi sumber pesona, yang membuat manusia sampai rela menapaki epik demi epik pengorbanan.

Tapi ternyata persepsi saya dulu itu keliru.

Sekarang-sekarang baru saya mengerti. Bukan keterpesonaan pada objek, yang membuat manusia rela berkorban, tetapi justru karena rasa cinta yang memang sudah ditanamkan dalam diri manusia itulah; maka manusia akan mencari muara untuk melabuhkan rasa cintanya.

Setiap manusia, diberikan energi penggerak. Karena ada lapar, maka manusia mencari muara, labuhannya bisa pada makanan apa saja, katakanlah bakso. Tetapi sebenarnya bukan bakso yang melaparkan manusia, tetapi rasa laparlah yang mendorong manusia menemukan makanan.

Begitu juga cinta. Setiap manusia memiliki setitik cinta dari rahmat Tuhannya. Setangkup cinta pada ceruk hati manusia, pada sanubari yang paling dalam, ada rahmat yang Tuhan letakkan.

Maka manusia sejahat apapun orangnya pasti akan bergerak mencari tempat dia menumpahkan rasa cinta dan kasih sayang itu. Tempat dia meluberkan kasih sayang. Dia akan mencari, sampai aliran rahmat itu bertemu muaranya sendiri.

Allah s.w.t memiliki 100 rahmat. Dari Rahmat-rahmat itu Dia menurunkan 1 rahmat untuk para jin , manusia , hewan dan binatang melata. Dengan rahmat itu juga para makhluk dapat berkasih sayang, berlemah lembut , dan dengannya juga binatang buas menyayangi anak-anaknya. Allah s.w.t mengakhirkan 99 rahmat-Nya yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat nanti.” (HadisMuttafaqun ‘alaih , Bukhari dan Muslim )

Bukan keterpesonaan pada bayi -yang bahkan belum dia lihat- yang membuat sang Ibu rela berberat-berat menanggung janin di perutnya, melainkan karena rahmat Allah itu. Setangkup cinta yang memang Allah telah tarok. Cinta yang mau tak mau memaksa manusia menemukan muaranya.

Sang bayi, menjalankan takdir Allah untuk menjadi wadah menerima rahmat dari hati sang Ibu. Sang Ibu, mau tak mau akan mengasihi, tersebab cinta yang sudah dipatri di hatinya.

Maka tak peduli terluka dia, tak peduli amblas dia, lenyap dia, berdarah-darah dia, tetapi asalkan cinta itu bisa menyata di bumi, maka manusia akan rela.

Jadi yang kita lihat sebenarnya bukan pagelaran keterpesonaan manusia satu dengan lainnya, melainkan sejarah panjang penjagaan Tuhan pada makhluknya. Meruah-ruah drama cintanya Allah pada makhluk.

Binatang buas tak memakan anaknya sendiri. Burung burung mengepak sayap puluhan kilo menghantar ulat-ulat pada paruh anak-anaknya yang kecil, merah, dan berbulu halus. Sang Bapak berpeluh keringat sepanjang hari. Sang ibu mengasuh anak. Tentara menabur darah memagari negri. Semua ini pagelaran cinta Ilahi.

Setangkup kasih yang Dia titip pada ceruk hati tiap insan.

Jadi bila ingin melihat rahmat Allah, lihatlah pada hati kita sendiri, lalu lihatlah orang-orang yang kita sayangi, begitulah cara Allah menjaga mereka. Melalui kita.

MENCONTEK SPIRITUALITAS GOOGLE

Jadi…kenapa sebenarnya Google tidak membuat sebuah teknologi PC (Personnal Computer) atau membuat sebuah Operating System untuk sebuah PC atau Laptop? Saya bertanya tentang itu kepada seorang rekan saya yang kebetulan dulu pernah bekerja di Nokia. Saat dia masih di negara asalnya, China.

Mengetahui fakta bahwa rekan saya ini dulunya pernah bekerja di NOKIA, pembicaraan kami sepanjang jalanan dari Balikpapan menuju Kutai Kartanegara pagi itu diwarnai dengan diskusi ngalor ngidul, dimulai dari kenapa NOKIA tidak memasang Android pada Operating Systemnya, kenapa malah Windows Mobile? Lalu cerita tentang kebangkrutan NOKIA, lalu menyambar pada cerita tentang raksasa teknologi Google.

Banyak hal menarik yang dia ceritakan mengenai Google, tetapi satu hal mengenai pertanyaan saya di atas tadilah yang kemudian menjadi tema menarik kami sepanjang perjalanan.

Kenapa Google tidak membuat Operating System sendiri untuk sebuah PC atau LAPTOP, atau kenapa malah Google tidak merambah bisnis PC?

Lalu rekan saya ini menjelaskan dalam bahasa inggris yang pekat dengan logat China-nya. Ini saya baru tahu sekarang. Menurut dia, ada dua pendekatan besar dalam dunia teknologi komputer.

Pendekatan pertama, adalah golongan yang percaya bahwa trend di masa depan adalah personnal computer. Maksudnya, di masa depan, sebuah komputer haruslah menjadi semakin canggih, semakin complicated, dan mempunyai resource atau kemampuan perangkat yang semakin hebat. Apa sebab, sebabnya adalah sebuah aplikasi akan semakin canggih dan untuk menjalankannya butuh resource dan kemampuan dahsyat. Pada golongan inilah berada IBM dan kawan-kawannya.

Pada sisi yang berseberangan, adalah ORACLE. Yang berpendapat bahwa bukan sebuah PC yang harus menjadi semakin kompleks, melainkan sebuah server. Server, haruslah sangat digdaya, sedangkan sebuah PC atau LAPTOP hanya menjadi corong input dan display dari data yang diolah server. Tetapi, sebuah PC itu bisa tersambung ke server.

Tak ingin berpanjang lebar menceritakan tentang teknologi yang saya sendiri tak paham benar, tetapi ide itulah yang ternyata kemudian dipakai oleh Google.

Google tak membuat PC, juga tak terlalu getol membuat operating system, karena Google percaya, bahwa trend masa mendatang adalah CLOUD COMPUTING, dimana orang-orang akan semakin tergantung kepada server.

Sederhananya, seseorang hanya butuh komputer atau perangkat dengan kemampuan kelas medium, asalkan bisa input data, dan bisa display, dan ini yang paling penting “Terhubung dengan internet”.

Maka kita cobalah lihat semua produk Google. Ada Google maps. Google satelite. Google sky. Street view. Dan segala macam produk Google lainnya kesemuanya bisa dijalankan pada komputer kelas menengah, atau rendah, asalkan punya network yang kencang. Dan Google membuat browser hebat untuk menjadi corong display dan inputnya, yaitu Chrome.

Coba kita bayangkan, seandainya, semua kemampuan google maps, semua bank data Google maps, semua kecanggihan grafik Google maps itu harus disimpan pada sebuah PC, kita butuh PC seberapa dahsyat? PC kelas rendah sampai menengah tak akan sanggup menjalankan aplikasi itu. Tetapi, karena segala perhitungan dan algoritma google maps dijalankan oleh server, dan PC hanya menjadi display saja lewat browser, maka aplikasi yang sejatinya begitu kompleks itu terasa sangat ringan. Bahkan handphone bisa membukanya. Sekali lagi, hanya jika kita punya koneksi internet yang cepat dan stabil.

Wah, ini hal yang sangat menarik dan membuka mata saya. Saya mengucapkan terimakasih kepada rekan saya itu. Lalu tiba-tiba saya terfikir tentang sesuatu.

“You know what,” Saya sampaikan padanya, bahwa saya teringat tentang sebuah wejangan yang hampir analog dengan cerita dia barusan.

Sepertinya, saya tahu bagaimana mengaplikasikan strategi Google dalam kehidupan sehari-hari.

Rekan saya itu tertarik dan bertanya, bagaimana caranya?

Saya katakan padanya. Kita ini, setiap hari berhadapan dengan berbagai macam masalah dan perhitungan yang sangat kompleks. Masalah pekerjaan. Masalah rumah tangga. Masalah ekonomi. Dan segala macam masalah.
Dan pendekatan kita dalam mengatasi masalah itu selama ini adalah seperti golongan IBM yang merasa harus mengatasi segala masalahnya sendiri.

Akibatnya, kita harus memiliki PC yang demikian kompleks. Kita membebani diri kita sendiri. Sedangkan, hampir kita bisa katakan bahwa mungkin lebih dari sembilan puluh sembilan persen kejadian di dalam hidup ini tak bisa kita kontrol sama sekali, dan setiap kejadian akan berkelindan dengan kejadian lainnya yang saling mempengaruhi dalam hidup ini.

Jika kita ingin menghadapi semua masalah dengan perhitungan kita sendiri, maka kita bisa gila dan depresi. Apa pasal? Perhitungannya luar biasa kompleks.

Maka sebaiknya, kita tiru google. Sebenarnya kita hanya perlu kemampuan input data, dan kemampuan untuk display saja. Selebihnya, biarkan kalkulasinya dijalankan oleh server. Yang Maha Kuasa. Maka hidup kita akan menjadi lebih ringan.

Saya jadi teringat kembali dengan salah satu kutipan bijak dari aforisma Al-Hikam. “istirahatkan dirimu dari tadbir” kata Sang Bijak Ibnu Athoillah.

Apa itu tadbir? Tadbir adalah memastikan hasil usaha. Menghitung-hitung seandainya saya melakukan aksi begini, maka hasilnya PASTI begini.

Just do your part. Input datanya. Dan selebihnya biarkan Sang Maha Server –meski kita tahu tak ada umpama bisa menjelaskannya– yang mengaturnya.

Satu hal saja yang harus kita benar-benar jaga, yaitu “network”, koneksi yang sangat kencang dan stabil pada Sang Maha Server. Dzikrullah.

==============================================================================

UPDATE, TELAH TERBIT “MENYONTEK SPIRITUALITAS GOOGLE”

Alhamdulillah. Buku “MENYONTEK SPIRITUALITAS GOOGLE” sudah terbit. Buku ini merupakan kumpulan artikel saya di sini, dengan beberapa revisi, dan beberapa tulisan baru yang belum pernah dimuat pada blog ini.

Menyontek Spiritualitas Google -yang merupakan salah satu judul artikel- saya pilih menjadi judul buku ini, karena mewakili keseluruhan tema tulisan yaitu Dzikrullah di Era modern.

Mengingat buku ini diterbitkan bukan lewat penerbit, melainkan Self Publishing, maka metodanya adalah Print On Demand. Buku akan dicetak sesuai dengan yang memesan.

Kunjungi LINK INI untuk pemesanan

Untuk melakukan pemesanan bisa melalui SMS ke 0819 0422 1928/ email keleutikaprio@hotmail.com. Pemesanan akan dilayani pada saat jam kerja antara pukul 08.00-16.00 WIB (Senin-Jumat) dan pukul 08.00-12.00 WIB (Sabtu). Pemesanan buku yang masuk setelah jam kerja akan dilayani di hari berikutnya.

Terimakasih, semoga bermanfaat.

.

BINGKAI KERIDHOAN (2)

Kadang-kadang, saat sedang merenung sendiri, saya sering merasa kerdil. Pasalnya, saya merasa sejauh ini perjalanan hidup saya, saya belum melakukan apapun untuk Allah SWT. Sedangkan khilaf begitu banyak. Sedangkan orang-orang lain melakukan begitu melimpah kebaikan dan manfaat untuk orang lainnya.

Tapi, tak lama kemudian saya teringat hadist Rasulullah SAW bahwa setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa-apa yang telah tertulis baginya.

Jadi mungkin memang jalan “kembali” setiap orang itu beda-beda.

Kalau Allah tuliskan kita “kembali” lewat jalan pertaubatan, ya sudah lewat jalan itulah kita “kembali”. Kalau lewat peribadatan dan kebaikan meruah yang kita lakukan, ya berarti lewat itulah kita “kembali”.

Kemudian saya teringat dengan kisah tentang seseorang yang diganjar syurga, sebab begitu sering membersihkan hatinya dan tidak menyimpan dendam pada orang lain. Sederhana.

Ada juga orang yang masuk syurga dikarenakan begitu baik menjamu tamu.

Ada yang masuk syurga karena hal sesederhana memberi minum seekor anjing.

Jika syurga kita lambangkan sebagai salah satu bentuk ridho nya Allah SWT. Artinya, kesempatan kita masih terbuka. Selama kita tidak memandang perbuatan semata pada aspek lahiriah amal, dan selama kita berbuat karena Allah, dan menyadari bahwa atas rahmat Allah-lah semua ini bisa terjadi.

Maka saya berdoa. Berdoa semoga Allah mentakdirkan saya termasuk orang-orang yang Allah ridhoi. Yang kembali pada Allah lewat apapun kejadian hidup. Yang penting kembali ke Allah.

Selepas doa, saya menyadari, bahwa saya tergerak berdoa pun sebenarnya adalah karena karunia Dia semata. Maka saya bersyukur. Mensyukuri takdir bahwa saya dimudahkan dan ditakdirkan berdoa.

Pada akhirnya, ternyata adalah belajar melihat bahwa gerakNya-lah di merata alam ini. Semua tentang Dia menyatakan diri.

Terserah Dia-lah.

Sesuka-suka Dia saja.

Barulah saya paham maksud doa Rasulullah saat Beliau dilempari penduduk thaif.. asalkan Allah Ridho sisanya terserah Allah saja.

“Kepada siapalah Engkau menyerahkan diriku ini, kepada orang asing yang akan menyerangku atau kepada musuh yang menguasai aku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku maka aku tidak peduli. Namun, afiatMu sudah cukup buatku. ”

Kita ridho kepadaNya, dan berharap Dia ridho pada kita.

MENYAPU HATI

Pernahkah kita menjadi desperate atau kecewa berat dalam menyapu rumah? Umpama kita menyapu rumah di pagi hari, lalu siangnya rumah kita kembali kotor. Toh kita tidak pernah desperate, tidak pernah putus asa dan ngambek lalu tidak mau menyapu rumah kita lagi bertahun-tahun. Paling banter kita ngomel sedikit, lalu tak lama kemudian kita kembali menyapu entah siangnya, entah sore harinya.

Begitu juga, saya baru menyadari bahwa proses tazkiyatun nafs itu adalah never ending process. Tak usah pikirkan hasilnya, tak usah pikirkan ‘kok saya kotor terus, kok salah terus, kok ga nyampe-nyampe’ ga usah. Yang penting, bersihkan saja hati kita. Mengingat Allah, sambil duduk, sambil berdiri, sambil berbaring.

Seperti yang seorang sahabat lakukan, melepaskan segala dengki dan dendam sebagai amalan yang dia dawamkan setiap harinya, kemudian diganjar dengan syurga.

Kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, “Mengenal Allah, adalah kerja senantiasa”, mungkin maksud beliau dalam konteks itu.

Menyapu hati kita, dari segala kotoran-kotoran, sampai nanti Allah sendiri yang membersihkannya.

Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS An-Nuur : 21)

PAK GEMBONG DAN KEBIJAKAN DI LAMPU MERAH

10549790_482878271814909_1276927691_n

Belakangan Hasan melihat dirinya sendiri sebagai golongan orang yang terlalu duniawi dan profan. Pasalnya, Hasan sudah berniat di awal tahun lalu, untuk menjadi lebih tekun beribadah dan lebih menyeimbangkan antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan ruhaninya. Niat menjadi baik itu ada, tetapi saat ibadahnya dia ukur sendiri, ternyata tidak karuan, maka dia kecewa. Semakin beribadah serasa semakin pesimis. Hasan merasa dirinya begitu jelek.

Sebagaimana kebanyakan orang merasa gerah dengan hiruk-pikuk Jakarta yang panas dan riuh, begitu juga Hasan merasa gerah dengan rutinitasnya. Dan gerah dengan naik-turunnya kehidupan ruhaninya sendiri. Bagaimana mungkin, orang yang tiap hari bergelut dengan pekerjaan kantor yang menjemukan dan melalaikan, bisa sampai menuju Tuhan. Begitu pertanyaannya.

Maka sore hari yang cerah itu, Hasan menyengaja untuk pulang lebih akhir. Tujuannya satu saja, dia menawarkan pak Gembong tumpangan mobil untuk sampai ke rumah. Pak Gembong kan selalu pulang lebih akhir dari kebanyakan karyawan. Maka sore itu dia menunggu Pak Gembong, kemudian menawarkan tumpangan.

Seperti lumrahnya setiap pak Gembong dan Hasan bertemu, maka mulailah mereka bercerita panjang-panjang. Hasan sebagai anak muda yang eksekutif, bertanya-tanya, meneliti, dan dahaga akan jawaban. Pak Gembong selalunya menjadi orang biasa, tetapi matang pengalaman hidup.

Seperti jamaknya obrolan, ngalor ngidul dulu kemana-mana, sambil makan kentang potato chips di laci dashboard mobilnya Hasan, barulah Hasan menodong Pak Gembong dengan pertanyaan yang dalam itu. Bagaimana caranya menuju Allah? kok semakin beramal semakin susah rasanya.

Lalu pak Gembong membenarkan posisi duduknya, sambil melihat menerawang jendela mobil yang tersaput debu-debu tipis jalanan sore yang kering.

“Kalau menurut saya sih,mas Hasan,” kata pak Gembong saat menjawab pertanyaan Hasan tentang tips untuk selalu istiqomah berketaatan, “Coba Mas Hasan ingat-ingat saat kita mendekati Allah lewat pintu kebutuhan hidup, umpama lewat ‘doa‘ atau ‘permintaan‘ apa saja. Itu seperti yang doa Mas Hasan baru-baru ini yang minta naik gaji itu, yang minggu lalu Mas Hasan cerita itu. kan ada sebuah sikap tuh…sikap ‘merendah‘, juga sebuah perasaan ‘tidak mampu‘ bukan? ”

“Hehehe akur …Akur pak Mbong. Masih inget aja nih” seru Hasan.

“Biasanya sih saat ada sebuah ketidak mampuan untuk menggapai sesuatu; baru kita berdoa. Biasanya begitu. Betul opo betul Mas? ”

“100 persen tuanku” kata Hasan sambil tergelak.

“Nah….perasaan tidak mampu, sikap merendah itu, pakailah juga dalam perjalanan menuju Allah.” Kata Pak Gembong sambil mengarahkan jarinya menunjuk jalan raya yang sore itu lumayan padat. Mungkin maksudnya menggambarkan perjalanan manusia menuju Allah.

Hasan masih menyimak sambil menyetir sambil memasang telinga.

“Coba tengok kehidupan kita. Sehari beriman, besok berdosa lagi, besoknya beriman lagi, besoknya sibuk terjerat dunia lagi. ” Pak Gembong menambahkan. “Kalau kita mengandalkan kemampuan kita, kan rasa-rasanya ga akan sampai kita ke Allah. Bener ga?”

“Maksudnya, memang kemampuan kita itu sejatinya tidak bisa untuk menempuh perjalanan menuju Tuhan? Opo piye Pak Mbong? ”

“Lha kalau ngandelin kemampuan kita,mana mungkin sampai toh. Jujur-jujur aja coba, Mana mungkin sampai. Dosa segunung. Sehari bener sehari salah. Ibadah ga ada yang total. Kan ga akan sampai kita?”

“Wah kalau ngelihatnya begitu ya ga akan berhasil kayanya Pak Mbong. Dosa terus kayanya kita ini, hehehe. Lha tapi kan Allah Maha Baik. Mosok yo Allah ga kasihan dan membantu kita”

“Lha iku maksude Mas Hasan…perasaan bahwa ‘kalau ngandelin kemampuan kita sendiri ga akan mampu sampai ke Allah‘ itulah yang harus dipakai. Perasaan butuh pertolongan Allah itulah yang mesti dipakai.”

Hasan membelok dan tak lama lalu dijebak deretan panjang mobil yang seperti parkir di perempatan lampu merah. Hasan menarik break dan menoleh ke Pak Gembong yang melanjutkan celotehnya.

“Saat sholat. Jangan mikirin khusyu lah. Mikirin dapet sebuah sensasi begini atau begitu. Tapi saat sholat pakailah mentalitas yang sama pas kita minta sebuah kebutuhan duniawi lewat doa. Sholat itu sebuah interaksi kita minta tolong diantar menuju Dia.”

“Maksudnya, pas sholat saya tidak usah sibuk memperhatikan khusyu apa tidak, tak usah memperhatikan sensasi begitu Pak? ”

“Ya sholat saja sebagaimana Rasul sholat Mas. Maksudnya secara lahiriah ya dijaga, segala tata aturannya dipenuhi. Tapi secara batin, sikap mental, harus dibenerin juga. Sholat itu, umpamanya ni, sebuah bentuk minta tolong ke Allah, bukan sebuah bentuk unjuk prestasi”

“Bukan unjuk prestasi?”

“Ya bukan, bukan memperlihatkan ketekunan dan kehebatan diri, tapi ibarat orang ngetuk pintu dan mau minta tolong. Orang minta tolong itu kan berarti memang ngaku dia ga bisa, namanya juga minta tolong.”

“Ooooh…harus ada Perasaan bahwa kita tahu diri kita lemah, dan ga akan sampai ke Allah tanpa bantuan Allah, begitu maksudnya Pak?”

“Nah itu…..itu kuncinya. Sama juga saat zikiran, pakailah juga mentalitas itu. Sikap minta tolong pada Allah. Apapun ibadah kita, hanya merupakan ejawantah dari sikap minta tolong, dan perasaan tak mampu kita itu Mas.”

Hasan mengangguk kecil. Dan mengetukkan jemarinya pada stir mobilnya.

“Yang menarik mas, jika kita terus menerus beribadah dalam sikap mental begitu, maka…..nanti kita tak akan kehilangan harapan.”

“Kita tetap bisa optimis menuju kepada Allah meskipun ibadah kita jelek? ”

“Lha, kalau saat orang minta tolong, kira-kira dia ngandelin dirinya apa ngandelin yang dimintain tolong? ”

“Ya pasti ngandelin yang dimintain tolong lah Pak mbong, namanya juga minta tolong, hehe.”

“Lha itu mas. Nanti kita baru ngerti maksud ulama-ulama dulu. Jangan tengok amal, just do it saja, tapi dalam keseluruhan amal itu; tengoklah Allah. Dan minta tolong pada Allah agar diperjalankan. Bukan berarti tidak beramal lho. Beramal tetap, tetapi sikap mental pas beramal kudu dirubah…..Bukan sibuk ngitungin amal, tapi sibuk dalam tiap beramal dia pakai mentalitas seperti orang minta tolong ke Allah.”

“Ngerti…ngerti pak Mbong. Bener juga ini Pak Mbong. Kalau kita beramal, mendapatkan letih dan putus asa, jangan-jangan ga ada lagi sikap interaksi semacam itu kepada Allah ya Pak? Tidak ada lagi sikap minta tolong? Mungkin kita kaya orang sibuk sendiri gitu ya Pak? ”

Pak Gembong terkekeh. “Nah….itu udah mantep dirimu mas, hehe kalau mentalitas kita sudah begitu, nantinya ibadah kita akan menanjak dengan sendirinya, karena ditolong oleh Allah, bukan karena kehebatan diri sendiri… Sebaliknya, kalau ibadah kita menghasilkan rasa kecewa dan putus asa, Jangan-jangan selama ini kita menuju Allah dengan mengandalkan diri sendiri.”

“Wuih bener iku Pak, Maka kita akan selalu digagalkan oleh Allah. Sebagai bentuk pembelajaran. Sampai kita ngerti, bahwa ga akan bisa menuju Allah, tanpa sikap meminta tolong pada Allah.”

“Dahsyat iku mas….eh….eh lampu ijo…lampu ijo”

Klakson mobil di belakang mereka sudah menyalak, lampu hijau. Hasan tersadar, lalu sigap melepas break dan menggeser persnelling ke depan lalu meluncur lagi sambil terus bercerita dan sekali-kali mengangguk mendengarkan. Dan mereka kembali berjibaku dalam rapatnya lalu-lintas jakarta. Meniti jalanan yang riuh, dalam pencarian makna hidup yang mengantarkan mereka pada jalan pulang.

——-

*) DZIKIR KOPI PAK GEMBONG

*) AKAR-AKAR DEDAUN DAN AKU

*) BERKAH DI POJOKAN MUSHOLLA

*) YANG DIPERTUAN HAJI