MENYAPU HATI

Pernahkah kita menjadi desperate atau kecewa berat dalam menyapu rumah? Umpama kita menyapu rumah di pagi hari, lalu siangnya rumah kita kembali kotor. Toh kita tidak pernah desperate, tidak pernah putus asa dan ngambek lalu tidak mau menyapu rumah kita lagi bertahun-tahun. Paling banter kita ngomel sedikit, lalu tak lama kemudian kita kembali menyapu entah siangnya, entah sore harinya.

Begitu juga, saya baru menyadari bahwa proses tazkiyatun nafs itu adalah never ending process. Tak usah pikirkan hasilnya, tak usah pikirkan ‘kok saya kotor terus, kok salah terus, kok ga nyampe-nyampe’ ga usah. Yang penting, bersihkan saja hati kita. Mengingat Allah, sambil duduk, sambil berdiri, sambil berbaring.

Seperti yang seorang sahabat lakukan, melepaskan segala dengki dan dendam sebagai amalan yang dia dawamkan setiap harinya, kemudian diganjar dengan syurga.

Kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, “Mengenal Allah, adalah kerja senantiasa”, mungkin maksud beliau dalam konteks itu.

Menyapu hati kita, dari segala kotoran-kotoran, sampai nanti Allah sendiri yang membersihkannya.

Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS An-Nuur : 21)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s