SANG MAHA CINTA

Adakah tema tulisan, atau syair, atau gubahan lagu, gurindam, atau apa saja, yang bisa mengalahkan jumlah karya manusia dengan tema tentang “cinta”?

Mungkin tak ada. Cinta, hampir mendominasi seluruh susastra manusia.

Tadinya, saya mengira bahwa cinta mencintai ini perkara keterpesonaan manusia kepada sesuatu di luar dirinya. Keterpesonaan yang dalam, yang membuat seseorang rela mengorbankan apa saja.

Seorang pecinta terpesona pada kekasihnya. Orang tua pada anaknya. Para pejuang pada tanah airnya. Pendeknya, ada objek diluar manusia itulah yang menjadi sumber pesona, yang membuat manusia sampai rela menapaki epik demi epik pengorbanan.

Tapi ternyata persepsi saya dulu itu keliru.

Sekarang-sekarang baru saya mengerti. Bukan keterpesonaan pada objek, yang membuat manusia rela berkorban, tetapi justru karena rasa cinta yang memang sudah ditanamkan dalam diri manusia itulah; maka manusia akan mencari muara untuk melabuhkan rasa cintanya.

Setiap manusia, diberikan energi penggerak. Karena ada lapar, maka manusia mencari muara, labuhannya bisa pada makanan apa saja, katakanlah bakso. Tetapi sebenarnya bukan bakso yang melaparkan manusia, tetapi rasa laparlah yang mendorong manusia menemukan makanan.

Begitu juga cinta. Setiap manusia memiliki setitik cinta dari rahmat Tuhannya. Setangkup cinta pada ceruk hati manusia, pada sanubari yang paling dalam, ada rahmat yang Tuhan letakkan.

Maka manusia sejahat apapun orangnya pasti akan bergerak mencari tempat dia menumpahkan rasa cinta dan kasih sayang itu. Tempat dia meluberkan kasih sayang. Dia akan mencari, sampai aliran rahmat itu bertemu muaranya sendiri.

Allah s.w.t memiliki 100 rahmat. Dari Rahmat-rahmat itu Dia menurunkan 1 rahmat untuk para jin , manusia , hewan dan binatang melata. Dengan rahmat itu juga para makhluk dapat berkasih sayang, berlemah lembut , dan dengannya juga binatang buas menyayangi anak-anaknya. Allah s.w.t mengakhirkan 99 rahmat-Nya yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat nanti.” (HadisMuttafaqun ‘alaih , Bukhari dan Muslim )

Bukan keterpesonaan pada bayi -yang bahkan belum dia lihat- yang membuat sang Ibu rela berberat-berat menanggung janin di perutnya, melainkan karena rahmat Allah itu. Setangkup cinta yang memang Allah telah tarok. Cinta yang mau tak mau memaksa manusia menemukan muaranya.

Sang bayi, menjalankan takdir Allah untuk menjadi wadah menerima rahmat dari hati sang Ibu. Sang Ibu, mau tak mau akan mengasihi, tersebab cinta yang sudah dipatri di hatinya.

Maka tak peduli terluka dia, tak peduli amblas dia, lenyap dia, berdarah-darah dia, tetapi asalkan cinta itu bisa menyata di bumi, maka manusia akan rela.

Jadi yang kita lihat sebenarnya bukan pagelaran keterpesonaan manusia satu dengan lainnya, melainkan sejarah panjang penjagaan Tuhan pada makhluknya. Meruah-ruah drama cintanya Allah pada makhluk.

Binatang buas tak memakan anaknya sendiri. Burung burung mengepak sayap puluhan kilo menghantar ulat-ulat pada paruh anak-anaknya yang kecil, merah, dan berbulu halus. Sang Bapak berpeluh keringat sepanjang hari. Sang ibu mengasuh anak. Tentara menabur darah memagari negri. Semua ini pagelaran cinta Ilahi.

Setangkup kasih yang Dia titip pada ceruk hati tiap insan.

Jadi bila ingin melihat rahmat Allah, lihatlah pada hati kita sendiri, lalu lihatlah orang-orang yang kita sayangi, begitulah cara Allah menjaga mereka. Melalui kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s