KHALIFAH BERTEMU TUHANNYA

Kalau adu ibadah, antara Manusia dan Malaikat, pastilah Malaikat pemenangnya. Malaikat tercipta dengan “ketaatan mutlak” by default.

Saya teringat dengan sebuah petuah seorang guru yang menceritakan ulang keberatan malaikat saat Allah hendak menciptakan manusia.

Keberatan itu adalah karena kebingungan Malaikat, kok kenapa Allah menciptakan manusia dengan potensi merusak, Kenapa harus buat ciptaan lagi? Sedangkan kalau masalah ibadah kepada Allah; Malaikat ini jagonya.

Ada malaikat yang sejak Allah ciptakan kerjaannya bertasbih, ada yang sujud, ada yang memanggul arasy, begitu saja sejak dulu dan tanpa ada perubahan, tak ada jenuh dan bosan.

Sedangkan manusia tidak begitu. Karena Manusia itu berbeda fungsi. Fungsi manusia itu adalah fungsi “pengelolaan” pada semesta. Kekhalifahan.

Maka, selain ibadah khusus seperti shalat, memuji bertasbih dan semacamnya -yang juga dilakukan Malaikat-, manusia melakukan ibadah juga dalam konteks pengelolaannya akan dunia.

Membongkar hukum gravitasi. Memahami kedokteran. Mengenal kimia. Mempelajari gejala alam. Membuat bendungan. Memakmurkan alam. Kesemuanya pekerjaan yang manusia lakukan itu adalah dalam rangka fungsi pengelolaannya terhadap alam. Tugas kekhalifahan yang tidak diberikan pada Malaikat, tidak juga pada Jin.

Kemudian, sang guru melanjutkan. Dalam kepahaman bahwa keseluruhan panjang kehidupan manusia setiap hari ini adalah juga ibadah; maka peribadatan khusus manusia seperti sholat, zikiran, baca quran, dan sebagainya itu haruslah dimaknai sebagai komunikasi antara khalifah dan Tuhannya yang telah memberikan tugas kekhalifahan itu.

Saat sholat misalnya, itu merupakan jenak “laporan” antara seorang khalifah dengan Rabb-nya. Maka dalam konteks “melapor” seperti itulah seorang khalifah itu akan mendapatkan enlightment.

Sebuah sholat, atau ibadah khusus, yang dilakukan tanpa dilambari kepahaman bahwa sejatinya manusia itu punya tugas pengelolaan/kekhalifahan sepanjang jenak hidupnya; akan menjadi sebuah ibadah yang hambar. Karena kosong. Dalam ibadahnya, orang tersebut tak mengerti hendak mengadu apa, hendak melapor apa.

Tentu kita paham, bahwa sholat pun bisa bermuatan pujian, tak melulu permintaan. Tetapi tetap saja, sholat yang benar-benar bermakna pujian adalah sholat yang lahir dari keseharian seseorang yang menemukan ke-Akbar-an, ke-Rahmaan-an, ke-Rahiim-an Allah SWT dalam kehidupannya.

Dalam perjalanan pengelolaannya itu, dia menemukan kekuasaan Rabbnya. Maka wujud kekaguman dan kesalutannya akan tercurah-curah pada detik sholatnya, ataupun zikirnya.

Seolah-olah, sang khalifah menemukan Tuhannya dalam kesehariannya menjalankan tugas di bumi inj.

Ini begitu mencerahkan buat saya. Dan saya baru memahami, tanpa kesadaran “khoirunnas anfauhum linnas” atau tanpa kesadaran sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, atau tanpa kesadaran bahwa kita ada fungsi kekhalifahan; maka ibadah kita tak akan pernah menemukan maknanya.

Karena, jikalah kita hendak “ber-tema-kan” pujian dan kesalutan dalam ibadah kita, kita tak bisa, sebab tak kita temukan kebesarannya dalam keseharian kita yang hambar tanpa amal kekhalifahan.

Karena, jikalah hendak “ber-tema-kan” permohonan dan rasa fakir dalam ibadah kita, kita tak bisa, sebab tak kita temukan kebutuhan dan rasa rindu akan pertolonganNya pada keseharian kita yang datar tanpa kecimpung dalam pengelolaan semesta.

Pada tataran kita masing-masing, menemukan makna bahwa setiap kita memiliki takdir kekhalifahan; adalah luar biasa penting. Sehingga ibadah khusus kita nanti adalah ekspresi melapor, minta tolong, bercakap, pada Tuhan yang semakin kita kenal sepanjang kehidupan kekhalifahan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s