HILANG KONTEKS TENTANG KITA

Maju-mundur, maju-mundur, itulah yang saya lakukan dalam hal menulis. Beberapa kali saya sempat hiatus menulis, tetapi kemudian saya kembali menulis karena beberapa hal.

Salah satu alasan saya kembali menulis adalah karena nasihat seorang Sahabat yang jauh lebih senior dalam usianya, kepada saya. Beliau mengatakan, boleh jadi tulisan-tulisan ini baru akan benar-benar bermanfaat setelah kita –penulisnya– tiada.

Alasan lainnya adalah, karena saya pada akhirnya mengerti tentang apa yang membuat saya berhenti menulis pada beberapa masa yang silam.

Alasan hiatus panjang dari aktivitas menulis kala itu adalah semacam rasa gelisah karena menilai kepatutan diri. Patutkah saya menulis tentang ini?

Dialektika dalam batin saya sendiri mengenai kepatutan ini; berlangsung cukup lama, sampai lagi-lagi petuah ulama arif masa lampau memberitahu saya dimana letak kelirunya pandangan saya yang masih belia kala itu.

Kita dengarkan apa kata Ibnu Athoillah berikut ini:

”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah Swt kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.”

Orang-orang, yang menceritakan tentang DIRINYA sendiri, akan merasa tak layak, dan pada akhirnya bungkam menceritakan kebaikan, sebab dia menilai dirinya tak layak. Karena, kebaikan dalam hal ini diasosiasikan dengan DIRINYA sendiri. Dirinya adalah kebaikan itu sendiri, sedangkan dirinya sejatinya tak begitu baik, maka berhentilah dia menceritakan kebaikan.

Sedangkan, orang-orang yang menceritakan tentang Rahmat Tuhannya, tentang rahmat Allah SWT, tidak akan bungkam dalam menceritakan kebaikan, karena mereka hanya menceritakan tentang kebaikan Allah, rahmat Allah yang tersebar-sebar, dan tak ada konteks dirinya sendiri dalam hal tersebut.

Ibarat kata, orang ini bertutur “Lho… memang saya pendosa kok, tapi ini bukan tentang saya, ini tentang Tuhan Saya.”

Rupanya, para ulama, para arifin, bisa menulis berjilid-jilid buku dan ribuan tulisan berjudul-judul, adalah karena mereka berada dalam sikap batin yang merasa hanya sebagai “Story Teller” pencerita, penyampai, tentang rahmat Allah, kebaikan Allah yang mereka rasakan dan mereka lihat sepanjang sejarah hidup mereka.

Tengoklah sejarah dimana para ulama itu semakin banyak bukunya, semakin sering pula menangis. Kenapa menangis? karena mereka sadar diri mereka pendosa. Lho kok pendosa menulis? ya tentu menulis, karena tulisannya bukan tentang diri mereka, tetapi tentang rahmat Tuhannya.

Disitulah, saya menyadari letak kelirunya, sekaligus cermin buat saya pribadi, dan mungkin juga untuk rekan-rekan sesama penulis. Saat kita sudah keluar dari sikap sebagai seorang “Storry Teller” yang menceritakan tentang Allah dan rahmatNya yang tersebar sebar, atau saat kita sudah mulai merubah konteks tulisan menjadi seputar diri kita pribadi, atau mengasosiasikan kebaikan dengan diri kita sendiri, maka kita akan bungkam, karena dicekam perasaan keliru dan bersalah untuk telah menuliskan sesuatu yang sebenarnya kita tidak selayak itu.

Hal itu alarm pengingat yang baik, jika kita tercekat menulis, jangan-jangan kita sudah menjadi terlalu memunculkan diri sendiri, ketimbang menceritakan tentang rahmat Allah yang kita lihat di sepanjang hidup kita.

Seseorang yang menulis, dengan konteks pemaknaan bahwa tulisan itu sama sekali bukan tentang dirinya, tetapi tentang Tuhannya, tentang kebaikan yang dia pulung sepanjang perjalanan, akan selalu menyampaikan tanpa rasa sungkan. Karena konteks dirinya sudah hilang sama sekali. Dirinya memang jelek, tapi Tuhannya tidak.

Cara memandang inilah, yang ternyata menentukan keseluruhan gerak perjalanan kita.

Orang yang selalu memandang pada Tuhannya, dalam tanda kutip, berarti memang selalu mengandalkan Allah di sepanjang perjalanan.

Hal ini semakna dengan perkataan agar orang yang hendak “menuju” Allah, mestinya “mengandalkan Allah”, bukan mengandalkan amal. Maksudnya adalah, saat kita beramal, kita menyadari bahwa La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah, tiada mungkin kita sanggup beramal, tanpa pertolongan Allah. Walhasil, dalam beramalpun, konteks diri sendiri menjadi hilang. Beralih menjadi konteks dimana Allah SWT merahmati hambaNya dengan mentakdirkan hambaNya beramal shalih. Sama dengan konteks menulis tadi, diri kita lebur, hilang konteks tentang kita.

Hal ini semakna dengan dialektika seorang pendosa, apa bisa seorang pendosa dirahmati Allah? Saat seorang pendosa melihat pada konteks dirinya sendiri maka dia akan desperate karena amal manusia mana ada benernya? Pasti banyak cacatnya. Tetapi saat dia melihat pada rahmat Allah, maka dia sadar, memang tak akan sebanding antara amal manusia dan rahmat Tuhan, maka dia bertaubat dan mengharapkan bahwa kebaikan serta rahmat Allah sendirilah yang akan menyelamatkannya, sekali-kali bukan dirinya sendiri. Sama dengan konteks menulis tadi.

Hal ini semakna juga, dengan dialektika ini: Apa bedanya, antara tahadduts bin ni’mah (mensyukuri rahmat Allah dengan menampakkan rahmat itu) dengan sombong? Bedanya adalah, orang yang mensyukuri nikmat Allah dengan berpakaian yang rapih dan baik dari rizkinya yang halal, misalnya, adalah orang yang dalam berpakaian dia mengingati rahmat Allah, konteks dirinya sendiri sudah tidak ada lagi. Sama dengan tentang menulis tadi.

Dan masih kata Ibnu Athoillah: Tanda kesuksesan akhir perjuangan adalah bersandar pada Allah sejak dari permulaan.

Maksud beliau, menghilangkan konteks diri kita sendiri dari apapun saja yang kita lakukan, sama seperti tentang menulis tadi

gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

Iklan

MENGINTIP LEWAT LENSA BESAR

IMG_20150216_150648-01

Penerbangan Jakarta menuju Dubai tertunda karena kendala teknis pada pesawat, otomatis penerbangan lanjutan dari Dubai ke Houston pun tertunda sampai waktu yang belum jelas. Dan ini mengancam keseluruhan rencana perjalanan saya dan beberapa orang rekan kerja menuju San Antonio, sebuah kota terpadat kedua pada negara bagian Texas U.S. dalam rangka sebuah pertemuan urusan pekerjaan.

Setelah berdiskusi larat cukup panjang dengan pihak maskapai, saya tak punya pilihan selain dari mengikuti saja jadwal penerbangan yang baru, dengan resiko bahwa saya pasti akan terlambat tiba di tujuan, tempat dimana acara pertemuan kantor akan diadakan. Tetapi untungnya, saya bersama dengan seorang dengan posisi struktural jauh di atas saya dan berbeda divisi dengan saya; beliau membantu me-reroute semua rute penerbangan kami.

Maka kami akhirnya kami mendapatkan penerbangan maskapai berbeda, Jakarta-Dubai, Dubai-Atlanta, Atlanta-Houston, dan dilanjutkan dengan bus Houston-San Antonio. Mendebarkan, dan tergopoh-gopoh, mengejar waktu yang begitu mepet. Tetapi kami akhirnya bisa tiba di tujuan sekitar dua atau tiga jam sebelum acara dimulai.

Sebelumnya, saya belum pernah melewati rute Atlanta. Penerbangan yang pernah saya tempuh hanyalah jalur Dubai-Houston saja, dan ini mendebarkan karena beberapa hal. Pertama, karena Atlanta konon adalah airport yang sibuk dan kemungkinan kita terpisah antara satu tim dengan rekan-rekannya sangat besar. Kedua, kalaulah terpisah, maka berarti harus menempuh sendiri semua lanjutan penerbangan. Menempuh sendiri tidak begitu saya khawatirkan, yang saya takutkan sederhana saja, uang di kantong mungkin tak cukup untuk sesuatu yang tak terduga.

Satu hal yang saya pelajari dari perjalanan kali itu adalah bahwa betapa luasnya bumi Allah ini, orang-orang hiruk pikuk, begitu banyak, dan kita merupakan salah satu bagian dari sebuah sistem besar alam semesta. Kecil dan terombang-ambing dalam lautan gerak.

Kesadaran bahwa kita merupakan bagian dari sebuah sistem maha besar di alam ini; biasanya bisa dirasakan dengan melalui dua jalan: Pertama, ada perenungan yang kontemplatif yang “masuk” ke dalam diri hingga mendapatkan pencerahan atau enlightment. Bahasa islamnya mungkin tafakur. Kedua adalah dengan melakukan perjalanan ke berbagai tempat, yang pada akhirnya membuat kita sadar bahwa kita adalah bagian dari sebuah sistem maha besar.

Yang pertama adalah “memasuki” dunia batinnya sendiri (Journey Inward), yang kedua adalah menjelajah dunia luar (Journey Outward). Keduanya bermanfaat dan berhikmah.

Saya sendiri merasa beruntung diikutkan dalam acara kali ini, berkesempatan melihat dunia luar dan pelbagai orang dalam bermacam kebangsaan. Idenya sebenarnya sederhana saja, yaitu menyadarkan kepada karyawan bahwa mereka -yang tersebar di seluruh antero dunia- adalah bagian dari sebuah perusahaan besar. We are part of a big family. Dan untuk itu, perusahaan akan membiayai perjalanan meskipun jauh, karena “kesadaran bahwa kita adalah bagian dari satu tata kelola tingkat dunia”; dirasakan begitu krusial.

Jadi persis seperti tesis mengenai dua macam perjalanan itu tadi. Journey inward, dan journey outward. Dua-duanya penting. Krusial.

Satu hal yang saya garis bawahi. Setelah mengikuti pertemuan besar dalam rangka urusan kantor itu, saya barulah melihat bahwa gejolak di kantor saya, pada level negara, sebenarnya merupakan sebuah gejolak imbas dari kebijakan regional, dan kebijakan regional merupakan sebuah imbas dari tata-kelola level Global. Kita memandang menjadi lebih luas. Bigger picture, kata orang-orang.

Saat melihat sesuatu dalam skala yang lebih luas, seringkali kita menjadi paham kenapa hal-hal kecil yang tak mengenakkan harus terjadi, karena hal kecil tersebut merupakan bagian dari mata rantai keputusan pada skala yang lebih tinggi.

Misalnya saja, untuk menyelamatkan perusahaan yang diambang jurang, maka sebagian orang harus di PHK. ini tidak mengenakkan tentu saja. Tetapi sebuah pilihan yang mau tak mau harus diambil karena neraca keuangan yang sudah tidak balance. Dan telat mengambil keputusan akan berakibat collapse-nya perusahaan, dan berakhir pada dampak sosial dan ekonomi yang jauh lebih masif dan menyedihkan.

Atau tak usah contoh perusahaanlah. Ambil contoh pedagang kaki lima di pinggir jalan. Kalau kita melihat pada lensa yang sempit, yaitu lensa pedagang kaki lima, maka adalah sebuah bentuk “kejahatan” untuk membubarkan pedagang kaki lima yang mencari nafkah di pinggir jalan. Tetapi, dalam lensa yang lebih besar, pedagang kaki lima yang memakan bagian jalan sampai tiga perempatnya menimbulkan kemacetan yang luar biasa setiap pagi dan jam sibuk. Anak-anak kecil yang hendak sekolah, Bapak-bapak yang hendak menafkahi anaknya, Ibu-ibu yang mengantarkan anaknya sekolah dan harus berjibaku juga mengejar waktu ke kantor, Ambulance yang terjebak kemacetan, dan segala macamnya sebenarnya adalah dampak pada lensa yang besar. Maka merelokasi pedagang yang mengambil bagian jalan secara tidak elok, adalah mau tak mau harus dilakukan. Dan seorang pemimpin, umumnya akan terjebak pada dialektika pandangan lensa kecil dan atau lensa besar ini.

Tentu kita paham bahwa ada yang namanya pendekatan, ada yang namanya win-win solution. Tapi itu biarlah menjadi bahasan ahli tata kelola kota. Kita hanya ingin mengambil secuplik idenya saja, bahwa kadangkala saat kita melihat suatu perkara dalam lensa yang lebih besar, maka kita akan mengerti lebih baik konteks kejadian yang kita alami. Kita bisa menyesuaikan diri. Atau kalaulah kita berada dalam bagian yang mesti “nrimo” maka kita akan lebih bisa menerima keadaan.

Saya ingin mengaitkan cerita ini dengan tahapan-tahapan dimana Rasulullah SAW di-isra’-kan dan di-mi’raj’-kan oleh Allah. Kita tahu, saat beliau SAW kehilangan seorang istri yang sangat melengkapi diriNya, figur pendamping yang keibuan seperti khadijah, beliau pula kehilangan figur pelindung seperti Abu Thalib. Praktis, beliau menjadi tidak punya suaka politik dan perlindungan keamanan di Makkah. Pun, saat beliau mencoba mencari peruntungan dengan berdakwah di negri makmur Thaif, beliau menjadi bulan-bulanan orang-orang yang melemparinya dengan batu hingga berdarah-darah.

Dan peristiwa isra’ mi’raj terjadi tepat setelah beruntunnya musibah pada tahun duka lara itu.

Kita sudah mengetahui, bahwa memang betul isra’ mi’raj mengajarkan kita tentang sholat. Tetapi, saya belakangan baru juga menyadari bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj juga punya arti penting dalam kaitannya dengan proses dimana Allah SWT mengajarkan Rasulullah SAW untuk melihat konteks kejadian hidupnya dengan lensa yang jauh lebih besar.

Beliau mengimami sholat seluruh para Nabi yang pernah ada. Itu sebuah frame dimana beliau dihibur katakanlah, dimuliakan, dan diberi pengertian kembali bahwa konteks kejadian hidup beliau tidaklah seorang diri, tetapi merupakan bagian dari sebuah cerita kolosal maha besar dimana ratusan ribu para nabi zaman ke zaman terlibat dalam drama mengusung risalah tauhid. Beliau tidak sendiri, melainkan bagian dari PLOT Maha Besar.

Beliau pula, diangkat ke angkasa lepas, melintasi segala tata-surya dan galaksi yang kita kenal. Melintasi tujuh lapis langit. Melintasi sidratul muntaha, hingga ke arasy. Masyhur kita dengar dari berbagai literatur bahwa beliau bertemu dengan banyak para Nabi pada setiap lapisan langitnya, tetapi terlepas dari itu semua, beliau juga diajarkan untuk melihat dari lensa yang lebih besar. Bahwa gejolak kejadian di bumi, terkhusus lagi konstelasi politik di Makkah, sebenarnya begitu kecil karena merupakan setitik saja dari PLOT Maha Besar lainnya, yaitu cerita penciptaan alam semesta dan keseluruhan panjang drama-nya sejak dulu hingga sekarang.

Bahwa segala kejadian di Makkah, juga merupakan salah satu bagian dari plot besar cerita perjalanan manusia sejak adam diturunkan dari syurga, dan menjadi rival abadi dari syaitan-syaitan yang akan terus mengganggu hingga akhir cerita nanti.

Saya pikir, betapa benarnya “timing” penentuan waktu isra’ mi’raj itu.

Saat penuh ujian, apatah yang lebih melegakan ketimbang pesan bahwa kita sebenarnya tak sendiri?

Saat penuh ujian, apatah yang lebih melegakan ketimbang kesadaran bahwa ujian kita sebenarnya bukan karena kita sendiri, melainkan PLOT dari sebuah cerita lain yang jauh lebih besar?

Dan lepas dari semua itu, Rasulullah berhadap-hadapan langsung, dalam tanda kutip, dengan Allah dibalik tabir, kala perintah sholat diterima.

Itulah, saya fikir, yang merupakan pelajaran yang harus dipetik. Maka saat kita berada dalam kesulitan yang mencekam, adalah akan sangat membantu untuk melihat kejadian hidup kita dalam lensa yang lebih besar lagi. Agar tidak menyesali diri, dan tidak menyalahkan keadaan. Karena, seringkali kejadian hidup itu mesti terjadi, sebab ada suatu hikmah dibaliknya.

Lewat pandangan yang menyeluruh, kita akan paham bahwa kejadian hidup, seringkali -atau bahkan selalu- sebenarnya hanyalah sebuah cara untuk menceritakan tentang Penciptanya.

Kadang-kadang, konteks diri kita sendiri pun menjadi hilang. Karena kita melihat lebih luas dan komprehensif, dalam dunia yang luas dan komprehensif, mau tak mau “kita” akan hilang dan lebur. Biarlah Sang Maha Besar yang mengatur plot hidup ini, kita melakukan sesuai porsi apa-apa saja yang kita bisa lakukan. Sisanya biarlah mengalir, dan kita intip saja lewat lensa yang lebih besar tadi.

Gambar ilustrasi saya jepret dari belakang jendela penginapan di San Antonio, Texas U.S

CINTA YANG TAHU DIRI

Menarik sekali ketika saya membaca autobiografi Soekarno sebagaimana yang dia tuturkan kepada Cindy Adams, seorang wartawati terkenal kala itu. “Cara paling mudah untuk melukiskan diri Soekarno,” kata beliau mengawali tulisan autobiografi itu, “adalah dengan menamakannya seorang yang maha pecinta. Ia mencintai negerinya, mencintai rakyatnya, mencintai wanita, mencintai seni, dan melebihi daripada segala-galanya ia cinta kepada dirinya sendiri.”

Energi penggerak manusia, salah satu diantaranya mestilah Cinta, dan atau rasa takut atau benci. Saya amati, kutub penggerak itu selalu ada dalam setiap apapun potongan cerita kehidupan manusia. Tetapi, saya sedang tertarik membincangkan satu saja, tentang rasa cinta yang menjadi energi penggerak perubahan.

Perdebatan tentang seorang tokoh, tidak hendak saya bahas pada tulisan ini. Tetapi lihatlah bagaimana kecintaan terhadap negeri dan rakyat, telah menggerakkan sedemikan banyak orang-orang besar berjibaku dan bahkan mengorbankan diri mereka sendiri untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan rakyat dan negeri ini.

Dan yang menarik juga sebenarnya adalah, bahwa kadang-kadang orang-orang yang sama-sama memiliki kecintaan besar terhadap negeri dan rakyat ini bisa berhadapan di panggung sejarah, tersebab cara mereka dalam menterjemahkan kecintaan itu berbeda-beda. Approach yang berbeda-beda. Berperang di panggung sejarah, dan setiap mereka adalah orang yang mencintai negeri ini. Betapa dramanya hidup ini.

Tapi sekali lagi, itu biarlah dibahas oleh sejarawan. Yang belakangan menyedot perhatian saya sama sekali adalah petuah dari seorang arif, yang mengatakan bahwa sesungguhnya, perasaan manusia, bukanlah sesuatu yang bisa manusia buat sendiri, ianya adalah sesuatu yang “given“, sesuatu yang diturunkan ke dalam hati manusia.

Dan, mengikut premis pertama kita di atas, jika cinta -salah satunya- adalah sebuah perasaan yang bisa mengobarkan gerakan, perubahan, cerita manusia. Berarti kita bisa “melihat” begitulah cara Tuhan “menyetting” drama kehidupan manusia; dengan menitipkan cinta di hati mereka, yang dengan itu akan menyetir tindak-tanduk laku manusia, menyetir sejarah.

Dengan cinta yang begitu besar yang dia titipkan ceruk hati manusia itu; dengan itu manusia bergerak melindungi, memikirkan, membaktikan, menghabiskan seluruh jenak detik kehidupannya untuk sesuatu yang dia cintai, atau berarti dalam sudut pandang ini, kita bisa katakan, “untuk sesuatu yang Tuhan sudah siapkan agar dilindungi.”

Dan belakangan, setelah mengetahui bahwa cinta adalah sesuatu yang Tuhan titipkan untuk menggerakkan sejarah manusia, saya baru menyadari bahwa kadang-kadang kita bisa sejenak “mengintip” kemelimpahan rasa cinta, atau energi penggerak itu. Dia kadang-kadang terlalu nyata sampai terekspresikan begitu tersurat dan bisa dibaca oleh kita.

Misalnya saja, seorang tokoh besar yang menggelorakan perubahan -karena energi cinta yang meruah di hatinya- pada saat yang bersamaan akan sering kita perhatikan sebagai seorang pecinta seni, seorang penikmat sastra, atau orang yang gampang trenyuh melihat keindahan. Ini sering sekali saya perhatikan pada orang-orang besar. Dan subjektif saya menyimpulkan, itu efek samping dari energi penggerak berupa cinta yang Allah titipkan pada ceruk batinnya. Cinta yang besar, yang “built-in” mau tak mau mengejawantah.

Berangkat dari pengertian itulah,  saya hendak mengutip kisah Ibrahim a.s,contoh yang ideal,  seseorang yang diberi julukan “khalilullah” atau kekasih Tuhan. Yang dicintai Allah.

Jika kita menggunakan premis “ingatlah AKU, maka aku mengingatmu”, maka segera saja kita ketahui, bahwa julukan khalilullah pada beliau itu juga berarti betapa besar kecintaan beliau kepada Allah.

Sebutlah saja satu per satu fragmen: dimusuhi kaumnya, dimusuhi bapaknya sendiri karena mengusung risalah tauhid. Dilempar Namrud ke kobaran api. Tak punya anak hingga usianya cukup sepuh. Setelah punya anak disuruh tinggalkan anaknya pada lembah tak berpenghuni. Setelah anaknya besar dan menyejukkan hati, disuruh pula anaknya tuk disembelih.

Dan… pada usia tua beliau disuruh berkhitan, lalu serta merta melakukannya dengan tergesa menggunakan sebuah kampak besar, lalu ditegur setengah bercanda bahwa Ibrahim begitu tergesa, padahal belum ditentukan khitannya semestinya dengan alat apa. Ibrahim a.s. menjawab, “sungguh…aku tak suka bila aku harus menunda menjalankan perintahMu.”

Ini bagaimana mau ditiru oleh manusia zaman kita ini? parade cinta paling membelalakkan.

Melihat cerita semacam itu, kadang-kadang saya menjadi sadar, bahwa rentang pencapaian ruhani, dan rentang amal antara kita dan orang-orang Shalih adalah sungguh luar biasa besar. Rentang jarak yang tak terkejar oleh peribadatan yang kita porsir seberapapun juga.

Ditambah lagi, setelah menyadari bahwa tidaklah mudah, mengorbankan sesuatu yang kita cintai, untuk cinta lain yang sebenarnya jauh lebih besar.

Secara tulus hati saya mengakui, masih berat untuk secara total menghamba kepada Tuhan. Masih goyah hati jika ada ujian. Masih berat hati meninggalkan keduniaan.

Jika cinta dunia masih menghalangi, saya katakan saya mesti jujur mengakui, mungkin saja jangan-jangan cinta kepada Tuhan -di diri saya- rupanya tak sebesar itu. Karena cinta yang besar, semestinya menafikan selainnya. Dan itu sudah dibuktikan sejarah.

Barulah saya mengerti makna kutipan hadist Rasulullah SAW berikut, bahwa seseorang akan bersama dengan yang dia cintai. Cintailah orang-orang suci, yang sudah menjalani takdir parade “cinta pada Tuhan” dengan membelalakkan pandangan; meskipun sepenuh hati kita sadar tak akan mungkin kita menyusul mereka.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah? ”Bel­iau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”­ Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya. ”Beli­au shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Humaid bin Hilal dari Abdullah bin Ash Shamit dari Abu Dzar ia bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki menyukai suatu kaum, namun ia tidak bisa (meniru) amalan yang mereka lakukan?” beliau menjawab: “Wahai Abu Dzar, kamu akan bersama dengan orang yang kamu sukai.” Abu Dzar berkata, “Sungguh, aku menyukai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Kamu bersama siapa yang kamu sukai.” Perawi berkata, (HR. Abu Daud 4461)

Saya yakin bahwa sang sahabat bukanlah orang yang tak pernah sholat, bukan orang yang tak pernah puasa. Tetapi, secara subjektif saya mencoba memahami itu sebagai sebuah gejolak dari diri sang sahabat itu, bahwa saat dia mencintai para salihin; dia semakin menyadari juga jarak spiritual yang terentang begitu jauh dan tiada akan tersusul. Sebentuk cinta yang makin menjadi karena sikap “tahu diri”.

Saat perjalanan menapaki jalan yang juga ditapaki para Salihin itu terasa begitu berat dan melelahkan, disitulah sholawat menemukan maknanya.

Dalam kombinasi kesalutan kepada junjungan, rindu yang begitu dalam, dan rasa jujur terhadap kelemahan diri itulah, saya hendak juga mencontoh sang sahabat, “tiadalah apa yang telah saya persiapkan”, melainkan kecintaan kepada Nabi dan orang-orang Shalih.

 

*) gambar ilustrasi dipinjam dari sini

REDAKSI BESAR DAN ADAB YANG TINGGI

Ada sebuah redaksi yang sangat besar, kata Sayid Quthb dalam “Fi Zhilalil Qur’an”, saat beliau mencoba menjelaskan apa yang dia pahami mengenai QS Al-An’am 36.

 “Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil” QS Al-An’am : 36

Rasulullah kala itu begitu berduka dengan ingkarnya kaumnya kepadanya. Maka Allah SWT menegur beliau pada ayat ke 36 Surat Al-An’am itu. Teguran ini, adalah sebentuk teguran sayang. Pasalnya, pada ayat sebelumnya Allah menghibur beliau untuk tak bersedih, karena sebenarnya orang-orang yang ingkar itu mengakui integritas Sang Nabi, hanya saja ego dan kepentingan pribadi menutup mereka untuk menyatakan pengakuan itu.

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. QS Al-An’am : 33

Barulah setelah itu Allah SWT menceritakan bahwa Rasul-rasul terdahulu pula mengalami pendustaan dan penganiayaan.

Dan setelah itu barulah Allah menegur beliau dengan ayat 36 itu.

Jika ingkarnya ummat begitu berat terasa, maka cobalah buat mukjizat yang spektakuler, lubang menembus bumi, atau tangga menuju langit. Tetapi, bukan itu yang bisa menyebabkan mereka beriman. Kalau Allah hendak menjadikan mereka semua dalam petunjuk, maka hal itu pastilah mudah bagi Allah.

Kenapa redaksi ini begitu besar? Saya mengutip bahasa Sayid Quthb, kengerian mengalir dari ayat tersebut jika kita bisa memahami bahwa ayat ini datang dari Rabb penguasa semesta alam, kepada seorang Nabi-Nya yang mulia, seorang ulul azmi, dan tak pernah mendoakan kebinasaan bagi ummatnya seperti yang didoakan Nuh a.s. Tetapi nyatanya tetap Allah SWT tegur.

Menyimak inilah, baru saya mengerti bahwa ada gap yang teramat sangat tidak bisa diukur, antara manusia dan Tuhan.

Dan sebab itulah Allah SWT mengajarkan tata krama, adab batin tingkat tinggi pada Rasulullah SAW, agar bahkan untuk “sekedar” menyayangkan kenyataan bahwa banyak orang yang ingkar; pun sudah tidak pas dalam tata krama.

Sebab everything happen for a reason.

Orang arif mengatakan, para pendosa mestilah ada di dunia ini, agar cerita bahwa Allah SWT bersifat Maha Pengampun; ternyatakan di bumi.

Jika setiap kejadian hidup menceritakan tentang Dia, dan cerita tentang DIA itu berarti menceritakan sifatNya, maka akan ada banyak sekali kejadian di dalam hidup yang mesti terzahir, sebagai ejawantah, sebagai penceritaan sifat itu.

Maha Pengampun, mestilah terceritakan lewat kejadian hidup berupa ada para pendosa, yang kemudian mereka bertaubat, kemudian Allah SWT ampuni.

Maha Pemberi Hidayah, mestilah terceritakan lewat kejadian hidup berupa ada orang-orang yang begitu dalamnya pengenalannya akan Tuhannya, dan menenggelamkan diri dalam peribadatan yang luar biasa banyaknya.

Menghidupkan dan mematikan, mestilah terceritakan bahwa ada kelahiran manusia, dan ada kematian manusia dengan segala macam sebab-musababnya.

Dan lain-lain, dan lain-lain. Yang intinya, setiap kejadian apapun saja dalam hidup ini, for a reason.

Dan inilah yang saya belakangan rasakan, dan baru saja saya mengerti, bahwa inilah tata krama tingkat tinggi, sekaligus sangat berat. Yaitu, untuk tidak pernah mempertanyakan kebijaksanaannya Allah, bahkan pada level gumaman, atau pada level perasaan di dalam hatipun harus ada adabnya. Seperti yang Allah ajarkan pada Rasulullah SAW.

Suatu kali, saya pernah pulang kantor cukup telat. Masih ada pekerjaan yang harus dilanjutkan di rumah. Setibanya di rumah lampu depan ruang tamu konslet, ditambah lagi pompa air ngadat. Banyak sekali kejadian bertumpuk yang membuat kesal. Tetapi di dalam rasa kesal itu, disitulah saya teringat pesanan dari salah seorang guru, yang intinya adalah analog dengan tata batin tingkat tinggi yang Allah ajarkan pada Rasulullah SAW. Maka saya mengistighfari jika di dalam hati ada bersit rasa kesal terhadap kenyataan yang terjadi.

Karena everything happen for a reason. Dan mengecewai sebuah kenyataan yang terjadi, adalah sebuah perbuatan yang kurang pantas. Karena seolah mempertanyakan kebijakan Allah. Padahal, ada rentang pemahaman yang tak bisa dibandingkan sama sekali antara manusia dan Tuhannya.

Maka itu, dalam sejarah kita menyaksikan bahwa Rasulullah-pun ditegur Allah SWT atas “rasa kecewanya”. Sedangkan malaikat, ditegur Allah SWT atas pertanyaannya kepada Allah, kenapa manusia yang dijadikan khalifah di muka bumi. Saya rasa, semuanya merupakan teguran halus untuk memperbaiki tata krama batin.

Easier said than done, kata orang putih. Tentu hal ini tak gampang. Maka saat kejadian hidup terasa begitu berat, saya mengingat sebuah perumpamaan yang diberikan oleh seorang guru, mengajari saya untuk merespon kejadian hidup dengan lebih tepat.

Kita jadikan kejadian hidup itu sebagai batu loncatan untuk mendekat kepada Allah lewat do’a yang mengusung rasa fakir (butuh terhadap pertolongan Allah). Tetapi tidak boleh, ada muatan “marah” kepada Allah, di dalam do’a kita.

Seloroh guru tersebut; saat berdo’a, manja boleh, tetapi marah jangan.

Meminta tolong kepada Allah dengan memelas dan rasa fakir yang sangat; adalah boleh. Tetapi membawa muatan marah kepada Allah, adalah menciderai adab.

Dan dalam tataran tinggi yang menakjubkan, kita lihat bagaimana Rasulullah yang sungguh mulia itu bahkan diajarkan untuk sekedar membatin kecewa saja tak boleh. Sungguh adab yang tinggi.

Saya kira, itulah konteks hadist yang melarang kita untuk mencaci hujan, mencaci angin. Karena dengan muatan rasa marah dalam merespon kejadian hidup; berarti kita telah menciderai adab kepada Allah. Mempertanyakan pengaturan Allah SWT.

“Anak Adam telah menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” (HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246, dari Abu Hurairah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” ( HR. Tirmidzi no. 2252)

Adab batin yang sangat tinggi, rasanya tidak bosan-bosan kita kutip dari cerita Rasulullah SAW saat pergi ke Thaif, sebuah negri makmur di dekat Makkah. Dalam rangka mendakwahkan mengenai Allah SWT kepada orang-orang disana, masih dalam balutan kesedihan setelah wafatnya Khadijah, wafatnya Abu Thalib, malah setiba di Thaif beliau dilempari dengan batu oleh penduduk thaif.

Pada kala itu, beliau tidak membenci penduduk thaif, tidak mendoakan keburukan untuk penduduk thaif, melainkan berdoa kepada Allah. Di dalam do’anya, beliau tidak mengadukan perbuatan penduduk Thaif itu kepada Allah, melainkan melaporkan kelemahan dirinya sendiri.

“Wahai Allah Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan diriku, kekurangan daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan sesama manusia.”

Itulah adab yang tinggi.

—–

gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

MENGERTI MEMANDANG

Ada sebuah diskusi menarik, kenapa saat menyembelih hewan, misalnya hewan qurban, kita tidak membaca “Bismillahirrahmanirrahim”, melainkan membaca “Bismillahiallahuakbar?”

Diskusi tentang itu cukup seru antara seorang ustadz dan jamaahnya.

Tentu jawaban paling pertama adalah karena membaca “Bismillahiallahuakbar” saat menyembelih hewan; sudah disyariatkan, dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dengan sebab itu maka harus ditiru. Kalau itu jawabannya, Itu sudah jelas, tidak perlu dibahas lagi.

Namun, ada salah satu “pemaknaan” menarik mengenai hal ini. Membaca “Bismillahiallahuakbar” saat menyembelih hewan qurban adalah “tepat konteks” karena menyebut “Allahu Akbar” dalam aktivitas menyembelih hewan adalah lebih tepat ketimbang menyebut asmaNya “Rahman” dan “Rahim” lewat “Bismillahirrahmanirrahim”.

Bukan terlarang, tetapi ada konteks yang lebih tepat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Berarti, Rasulullah mengajarkan kita bagaimana agar kita “mengerti memandang” konteks.

Semakna dengan cerita di atas, para ulama juga menyebutkan bahwa dalam “mendekati” Allah SWT, umpama lewat do’a, kita tidaklah elok untuk memujaNya lewat asmaNya yang bertentangan dengan sikap kita meminta.

Misalnya begini, tidak mungkin kita berdoa, “Ya Allah…. mudahkanlah rezekiku, wahai Yang Maha Keras Siksanya.” Kan tak mungkin kita meminta begitu?

Kenapa tak mungkin? Karena kita “mengerti memandang”. Karena kita tahu, pujian kita tak tepat konteks.

Saya teringat akan sebuah aforisma dalam Al-Hikam, yang senada dengan bahasan ini, saya kutipkan disini, “Tiada dosa kecil bila dihadapkan pada keadilan-Nya dan tiada dosa besar bila dihadapkan pada karunia-Nya” begitu kata Syaikh Ibnu Athoillah.

Seorang ‘abid akan takut melakukan sesuatu yang salah, jika ia memandang keadilan Allah SWT. Adil, berarti satu dibalas satu. Berarti sekecil apapun kesalahan akan diganjar.

Tetapi, cara memandang seperti itu, adalah ibarat sebuah rem yang menjaga seseorang agar tidak masuk ke dalam jurang. Sebuah pagar penjaga.

Akan menjadi tidak tepat, atau keliru konteks, jika seseorang pendosa ingin “kembali” menuju Allah, ingin bertaubat, kemudian lalu mendekati Allah lewat cara memandang bahwa Allah itu maha Penyiksa dan Pembalas. Orang ini akan kehilangan harapan.

Seorang pendosa, haruslah meniti jalan kembali, pulang menuju Allah lewat pintu pertaubatan, pengharapan yang memandang pada karuniaNya.

Allah s.w.t memiliki 100 rahmat. Dari Rahmat-rahmat itu Dia menurunkan 1 rahmat untuk para jin , manusia , hewan dan binatang melata. Dengan rahmat itu juga para makhluk dapat berkasih sayang, berlemah lembut , dan dengannya juga binatang buas menyayangi anak-anaknya. Allah s.w.t mengakhirkan 99 rahmat-Nya yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat nanti.” (HadisMuttafaqun ‘alaih , Bukhari dan Muslim)

Begitu banyak penjelasan mengenai karunianya. Tentang 99 rahmatNya menanti di hari akhir nanti. Tentang segala dosa akan diampuni kecuali dosa syirik. Tentang pelacur pun masuk syurga karena memberi minum anjing. Tentang cerita bahwa di awal penciptaan alam semesta Allah telah berfirman rahmatNya mengalahkan kemurkaanNya. Dan banyak lagi cerita tentang karunia. Yang hanya kita bisa pahami saat kita “mengerti memandang”. Bahwa pandangan seperti itu adalah baik untuk orang-orang yang ingin “kembali” kepada Allah.

Dalam ringkasnya, setiap orang yang ingin “kembali” telah ditunggu dengan berbagai karunia. Begitulah seharusnya cara pandang orang-orang yang ingin “kembali” kepada Allah.

Dan ini juga senada dengan pembahasan tingkat tinggi dari orang-orang arif. Manakah yang lebih baik bagi seorang pendosa? Mengingat dosanya, atau tidak mengingat dosanya?

Lalu dijelaskan oleh para arifin, bahwa mengingat dosa; itu adalah baik selama dia menghantarkan seseorang menuju jalan pertaubatan. Selama dosanya itu menghantarkan mereka pada rasa fakir dan berharap akan karunia Allah. Maka hal itu baik.

Akan tetapi, mengingat dosa; yang tidak menghantarkan pada pertaubatan; alih-alih malah mengobarkan rasa sungkan dan rasa tak layak pulang kepada Allah; adalah sikap yang sama sekali keliru.

Artinya, kita telah salah dalam memandang. Kita sudah tidak tepat konteks.

 

—-

*) saya pinjam gambar ilustrasi dari tautan ini

RAHMAT YANG MENGALAHKAN MURKA

Kita sering mendengar, sebuah hadist tentang 100 rahmat. 99 Rahmat Allah “disimpan” untuk hari akhir nanti. Satu rahmat dibagikan ke seluruh dunia, dan dengan rahmat itulah orang-orang berkasih sayang, sampai-sampai binatang buas tidak memangsa anaknya sendiri.

Allah s.w.t memiliki 100 rahmat. Dari Rahmat-rahmat itu Dia menurunkan 1 rahmat untuk para jin , manusia , hewan dan binatang melata. Dengan rahmat itu juga para makhluk dapat berkasih sayang, berlemah lembut , dan dengannya juga binatang buas menyayangi anak-anaknya. Allah s.w.t mengakhirkan 99 rahmat-Nya yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat nanti.”  (HadisMuttafaqun ‘alaih , Bukhari dan Muslim)

Berkaitan dengan konteks rahmat Allah yang begitu besar ini, saya baru menyadari, bahwa segala pekerjaan yang kita mulai dengan Bismillahirrahmanirrahim sebenarnya mendudukkan kembali aktivitas kita dalam konteks bahwa Allah itu begitu luas rahmatNya.

Saya baca pada tafsir Al Jailani, diceritakan bahwa Bismillahirrahmanirrahim pada mulanya diturunkan pada Adam a.s, kemudian bacaan itu diangkat kembali, lalu diturunkan pada Ibrahim a.s, kemudian diangkat lagi dan diturunkan dalam Shuhuf Musa a.s, diangkat kembali dan lalu diturunkan lagi pada Sulaiman a.s, lalu pada Isa a.s, dan turun kembali pada Rasulullah SAW pada permulaan al-fatihah. Lalu selepas itu Rasulullah SAW menyuruh kita untuk memulakan segala sesuatu dengan Basmalah.

Sebelum diajarkan Basmalah, orang-orang Arab waktu itu lebih akrab dengan kalimat Bismika Allahumma. Dengan namaMu ya Allah, Tuhan kami. Tak ada penggandengan sifat Rahman dan Rahim pada konteks kalimat yang memulakan segala aktivitas mereka waktu itu.

Salah satu contoh bahwa Basmallah tidak akrab di telinga orang-orang kala itu adalah cerita sewaktu Rasulullah bercucuran darah sehabis dilempari batu oleh penduduk Thaif, lalu beliau berteduh di bawah pohon anggur, dan seorang pelayan kebun merasa kasihan lalu memberikan anggur untuk Rasulullah. Saat itulah sebelum memakan anggur itu beliau memulakan dengan bismillahirrahmanirrahim.

Kalimat apa itu? Tanya sang penjaga kebun merasa asing? Lalu beliau bercakap-cakap dengan sang penjaga kebun yang pada akhirnya yakin dengan kenabian Rasulullah, karena beliau menyinggung cerita tentang Yunus bin Matta, Nabi yang shalih dari kampung Ninawa, tempat sang penjaga kebun berasal.

Begitulah, kalimat Bismillahirrahmanirrahim; asing bagi orang-orang pada awal kenabian Rasulullah. Dan Rasulullah kembali mengajarkan basmallah agar kita memulai segala sesuatu dalam balutan rahmatNya.

Menarik juga tentang rahmat Allah ini, pada suatu hadist pula kita pernah dengar bahwa saat penciptaan alam semesta, Allah SWT mengatakan bahwa RahmatNya mengalahkan murkaNya.

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : “Ketika Allah menciptakan makhluk, Allah menulis di dalam kitabNya, Dia menulis atas diriNya, Dia meletakkan di sisiNya pada Arasy : “Sesungguhnya rahmatKu mengalahkan kemurkaanKu”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari)

Maka masuk akal dan nyambung juga, kalau dari sekian banyak Asma-Nya, Allah memajukan dua asma yaitu “Rahman” dan “Rahim” untuk dikedepankan dan diperkenalkan kepada manusia. Saya rasa, Rahman dan Rahim mewakili rahmatNya, rahmatNya mengalahkan murkaNya.

Sedang orang-orang arab sebelum kedatangan Rasulullah, keliru mensifati Tuhan; melulu memandang Tuhan pada sisi murkaNya. Segala kejadian hidup, mereka bingkai dengan murkaNya. Sehingga Tuhan berwajah begitu menyeramkan di benak mereka.

Padahal, Rasulullah mengajarkan antitesisnya, seluruh kejadian hidup dibingkai dengan RahmatNya. Jadilah bismillahirrahmanirrahim mengawali konteks semua pekerjaan apapun yang kita lakukan.

Kalau kita pandang Basmallah ini untuk membingkai keseluruhan konteks hidup kita, maka kita tahu bahwa segala hal yang tertakdir pastilah dalam balutan rahman rahimNya.

Memang benar, ada sifatNya yang mewakili murkaNya. Tetapi segala hal yang Dia murka itu pun masih dalam balutan rahmat. Seperti orang tua yang memarahi anaknya karena rasa sayang.

Karena seluruh kejadian hidup bertujuan untuk mengenalkan tentang diriNya, maka kejadian dalam hidup kita tak mungkin random, everything happen for a reason. Pastilah berhikmah.

Tak mungkin tak berhikmah, karena asma yang Dia kedepankan adalah rahman dan rahim itu. Meski zahirnya suatu kejadian nampak buruk; tetapi kejadian itu pastilah masih dalam balutan namaNya yang Rahman, yang Rahim. Tidak berbalut murka.

Karena rahmatNya, mengalahkan murkaNya.

Dalam aforisma Al-Hikam inilah yang dimaksud Ibnu Athoillah dengan berbaik sangka pada Allah karena mengerti kesempurnaan sifatNya.

“Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”

Maksud beliau, paradigma yang tinggi adalah orang yang berbaik sangka pada Allah karena mengerti kesempurnaan sifatNya. Bahwa segala yang berlaku adalah for a reason, dan segala yang berlaku adalah dalam rahmatNya, meskipun terlihat buruk.

Dan kalau belum mampu seperti itu, cara awalannya adalah dengan melihat kejadian hidup pada sisi yang membuat kita bisa bersyukur.

Baru-baru ini saja saya mengerti tentang betapa indahnya konteks yang dibawa oleh basmallah. Memulakan segala sesuatu dengan mengakrabi Tuhan pada sisi Rahman dan RahimNya. Rahmat yang mengalahkan murka.

MENGUMPULKAN YANG TERSERAK

Saat ini, saya sedang mengumpulkan tulisan-tulisan yang terserak pada Blog ini, untuk dirangkum menjadi sebuah buku yang temanya berkaitan satu sama lain.

Tidak ada tujuan lain, selain hanya ingin berbagi dalam bentuk sebuah buku yang runut kepada siapapun yang tertarik mencermatinya.

Hitung-hitung obrolan warung kopi, siapa tahu bermanfaat buat orang lain.

Bismillah