From something to NOTHING

zero_hour_cloc_450

Saya teringat akan sebuah kalimat retoris yang dilontarkan Steve Jobs Pada John Sculley. “Apakah kau akan menghabiskan sisa hidupmu berjualan air gula, atau mengubah dunia?”

Ceritanya, kala itu Steve Jobs belum terkenal dan dia dengan percaya diri membujuk John Sculley, (Presiden PepsiCo. Yang menghantarkan PEPSI menyalip ketenaran Coca Cola) untuk bergabung ke dalam Apple.

Tentu lumrah, kalau John Sculley memandang sinis kepada seseorang yang entah siapa, mengajaknya bergabung pada perusahaan antah berantah. Kala itu Sculley di puncak ketenarannya di PEPSI. Mana mungkin dia mau berpindah ke Apple?

Tapi kenyataan malah sebaliknya, kalimat retoris Steve Jobs itu menggelitik hatinya, mengusik tidurnya, dan membuatnya menerima tantangan itu. Tantangan “mengubah dunia”.

Kalau kita pikir-pikir, apalagi sih yang kurang dari seorang Presiden sebuah perusahaan sukses? Dia punya gaji, dia punya kehormatan sebagai seorang petinggi, tetapi toh nyatanya dia menerima “lamaran” Steve Jobs? Apa gerangan yang sebenarnya mendasarinya?

Sesuatu yang membuat dia mengambil keputusan besar itu, adalah mungkin hal yang oleh Abraham Maslow disebut dengan “Aktualisasi Diri”.

Puncak kebutuhan manusia, kata Maslow, adalah Keinginan untuk ‘aktual’ untuk merasa ‘ada’ dan untuk merasa ‘berguna’ di tengah-tengah khalayak. Setiap orang ingin membuat sejarah, sesuai dengan proporsinya masing-masing.

Logika ini, sempat mewarnai kehidupan saya beberapa tahun lamanya.

Pernah, saat kuliah, secara retorik pula saya sampaikan kepada seorang rekan saya, sambil makan gado-gado di gerbang Unpad, pinggiran Jalan Raya Sumedang-Bandung. “Apa sih,” tanya saya pada rekan saya itu, “Sesuatu yang lebih menyedihkan ketimbang ada atau tidak adanya kita di dunia ini ‘ga ngaruh’?”

Pandangan saya yang masih belia kala itu adalah bahwa setiap orang harus menorehkan sejarah. Maklumlah, anak muda. Ditambah lagi para motivator dengan menyala-nyalanya menggoreskan kata-kata mutiara from zero to hero, from nothing to something. Tambah-tambah membara-lah saya waktu itu. “Khoirunnas Anfa’uhum linnas” kata saya menyontek Hadist Sang Nabi, sebaik-baik orang adalah yang berguna bagi orang lain. Maka harus aktual. Harus meng-ada.

Pemahaman itu berubah berapa tahun belakangan. Baru saya mengerti kalau saya dulu itu keliru, setelah saya bertemu dengan banyak guru kearifan yang mengajarkan antitesis dari teori from zero to hero itu.

Rupanya, Aktualisasi diri itu, perasaan ingin menjadi ‘ada’ itu, adalah sebuah pedang bermata dua. Pada satu sisi dia melejitkan potensi seseorang, karena orang tersebut fokus dengan sesuatu yang dia ingin capai, dia punya determinasi yang kukuh. Tetapi pada sisi yang lain, perasaan ‘ada’ itu berkaitan dengan segala macam penyakit.

Sebutlah segala macam penyakit hati, apa saja yang kawan-kawan ingat. Iri, dengki, hasad, hasud, ujub, dan banyak lagi. Semuanya berkaitan dengan perasaan bahwa kita ini “ada”.

Ramai, orang-orang alim yang mengajarkan kita untuk memerangi penyakit hati. Jangan Dengki! Jangan iri! Jangan dendam! Dan selama sekian lama pula kita belajar menghapus segala perasaan itu, tetapi pada gilirannya sendiri, pada jenaknya sendiri, perasaan itu akan bisa muncul kembali. Apa sebab? Sebabnya karena kita merasa ‘ada’.

Orang yang berkebaikan dalam rangka pemenuhan kebutuhan psikologisnya untuk menjadi aktual dan merasa ada, merasakan kebahagiaan saat dirinya diakui di tengah khalayak. Dan ini adalah ghurur, tipuan. Kita tertipu. Karena begitu kebaikan kita tak dihargai orang, maka hati kita akan tergores, perih, pilu, karena keberadaan kita tak diakui.

Saat seseorang menyinggung kita, kita akan muntab dan murka, karena keberadaan kita terancam.

Dan sepanjang perjalanan hidup kita, akan sangat banyak hal-hal yang membuat kita merasakan segala kepiluan tersebab keberadaan kita dilangkahi oleh orang lain.

Sementara itu, orang-orang yang berkebaikan dalam rangka menjadi hamba Tuhan, menemukan kebahagiaan karena ditengah prosesi dia berkebaikan itu; dia semakin menemukan fakta bahwa dirinya sebenarnya ‘bukan sejatinya pelaku kebaikan itu sendiri’. Akan tetapi dia adalah orang yang diberikan kehormatan untuk mengalirkan kebaikan dari Sang Sumber Kebaikan itu.

Apakah dihargaikah atau tak dihargai oleh orang lain, bukan soal.

Dan itulah sebenar-benar makna dari La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah. Tiada daya, tiadalah upaya, semata-mata Billah. Atas izin Allah.

Menghilangkan pengakuan. Melihat pengaturan Dia tersebar-sebar di setiap sudut kejadian hidup. Merelakan diri untuk ‘tiada’, karena segala-galanya sesungguhnya adalah pengaturan Dia.

Orang-orang yang menjadi tiada ini, pada zahirnya akan tetap berkebaikan. Mungkin pencapaian kebaikan mereka secara zahir bisa menyamai orang-orang lain yang juga berkebaikan, mungkin lebih. atau bisa jadi terlihat kurang. Tapi yang berbeda adalah pemaknaan mereka tentang prosesi kebaikan itu.

Bagi mereka, prosesi kebaikan hanyalah sekedar seperti keran yang mengalirkan air. Kita hanya keran, sumber airnya adalah Dia. kita hanya ‘perkakas’Nya.

Saya baru paham. Dengan sikap mental yang beginilah mungkin kita baru mengerti makna hidup, penciptaan manusia. Pengabdian. Dan pada gilirannya menjadi ‘wakil’, pengelola, dan inilah sejatinya ‘berbuat untuk Tuhan”.

Karena untuk Tuhan (Lillah) semata, tidaklah cukup. Kita juga harus Billah, menyadari bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak akan mewujud tanpa Dia mentakdirkan kita berkebaikan. Pengaturan Dia. LIllah-Billah.

Pada pokoknya, yang paling penting adalah menjalankan fungsi kekhalifahan yang sudah dititipkan kepada kita.

Apakah dengan menjalankan fungsi itu maka kita kemudian tertakdir menjadi orang-orang yang berada di pucuk pimpinan, atau menjadi orang-orang yang biasa saja dan bukan pengambil kebijakan, tidak masalah.

Itu semua tergantung seberapa banyak tanggung jawab yang ditakdirkan pada fungsi kekhalifahan kita orang-perorang.

Pokoknya kita hanya perkakasNya saja. Perangkat.

Seperti keran yang mengalirkan air. Adalah sebuah kehormatan bagi keran, untuk menjadi jalan bagi air mengucur. Keran, tak pernah mengaku bahwa air itu darinya. Keran menyadari sepenuhnya bahwa air –seberapapun banyaknya mengucur– adalah dari mata air, bukan dari dirinya.

Jika kewajiban kita saat ini lebih besar lagi, misalnya kita harus menghidupi katakanlah seribu yatim piatu, maka kita bekerja lebih keras lagi untuk membuka keran rezeki lebih lebar. Tetapi selebar apapun juga keran terbuka, sederas apapun air tercurah tetap bukan dari kita.

Seperti Rasulullah, Panglima perang, Kepala Negara, Sekaligus penyandang maqom spiritualitas paling tinggi sepanjang sejarah manusia. Jabatan dan harta ada pada beliau, tetapi tidak pernah melekat dalam jiwanya.

Seseorang yang menyadari bahwa dia hanya menjalankan tugas, dirinya akan menjadi ‘tiada’, dia tidak soal dan tidak juga menganggap dirinya hebat dengan segala yang ada padanya sekarang. Baginya yang penting tugasnya selesai, dan saat waktu tiba nanti dia bisa dengan tenang mengatakan bahwa semua tugas telah dia laksanakan.

Kalau selama ini perjalanan manusia –yang kita pahami dari buku-buku psikologi– adalah journey “from zero to hero”, maka perjalanan kearifan yang diajarkan guru-guru yang ‘sudah menemukan Tuhan’ ialah journey “from hero to zero”.

Bahasa majazi-nya, Diri orang ini ‘tidak ada’. Dia menjadi zero. Dia mengenal Tuhannya, maka dia menjadi ‘tiada’. Jika sebaik-baik seseorang adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain, kata Hadist Rasulullah, sekarang saya pahami dengan lebih jernih. Bahwa kebaikan buat orang lain sejatinya dari Dia, meski zahirnya terlihat mengalir lewat kita.

Maka bagaimanakah hal itu tak baik? Jika begitu mulia penghormatan Allah yang telah mentakdirkan kita beramal untukNya?

Syaratnya cuma satu, kita meniada.

From something, to NOTHING.

2 thoughts on “From something to NOTHING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s