MENGERTI MEMANDANG

Ada sebuah diskusi menarik, kenapa saat menyembelih hewan, misalnya hewan qurban, kita tidak membaca “Bismillahirrahmanirrahim”, melainkan membaca “Bismillahiallahuakbar?”

Diskusi tentang itu cukup seru antara seorang ustadz dan jamaahnya.

Tentu jawaban paling pertama adalah karena membaca “Bismillahiallahuakbar” saat menyembelih hewan; sudah disyariatkan, dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dengan sebab itu maka harus ditiru. Kalau itu jawabannya, Itu sudah jelas, tidak perlu dibahas lagi.

Namun, ada salah satu “pemaknaan” menarik mengenai hal ini. Membaca “Bismillahiallahuakbar” saat menyembelih hewan qurban adalah “tepat konteks” karena menyebut “Allahu Akbar” dalam aktivitas menyembelih hewan adalah lebih tepat ketimbang menyebut asmaNya “Rahman” dan “Rahim” lewat “Bismillahirrahmanirrahim”.

Bukan terlarang, tetapi ada konteks yang lebih tepat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Berarti, Rasulullah mengajarkan kita bagaimana agar kita “mengerti memandang” konteks.

Semakna dengan cerita di atas, para ulama juga menyebutkan bahwa dalam “mendekati” Allah SWT, umpama lewat do’a, kita tidaklah elok untuk memujaNya lewat asmaNya yang bertentangan dengan sikap kita meminta.

Misalnya begini, tidak mungkin kita berdoa, “Ya Allah…. mudahkanlah rezekiku, wahai Yang Maha Keras Siksanya.” Kan tak mungkin kita meminta begitu?

Kenapa tak mungkin? Karena kita “mengerti memandang”. Karena kita tahu, pujian kita tak tepat konteks.

Saya teringat akan sebuah aforisma dalam Al-Hikam, yang senada dengan bahasan ini, saya kutipkan disini, “Tiada dosa kecil bila dihadapkan pada keadilan-Nya dan tiada dosa besar bila dihadapkan pada karunia-Nya” begitu kata Syaikh Ibnu Athoillah.

Seorang ‘abid akan takut melakukan sesuatu yang salah, jika ia memandang keadilan Allah SWT. Adil, berarti satu dibalas satu. Berarti sekecil apapun kesalahan akan diganjar.

Tetapi, cara memandang seperti itu, adalah ibarat sebuah rem yang menjaga seseorang agar tidak masuk ke dalam jurang. Sebuah pagar penjaga.

Akan menjadi tidak tepat, atau keliru konteks, jika seseorang pendosa ingin “kembali” menuju Allah, ingin bertaubat, kemudian lalu mendekati Allah lewat cara memandang bahwa Allah itu maha Penyiksa dan Pembalas. Orang ini akan kehilangan harapan.

Seorang pendosa, haruslah meniti jalan kembali, pulang menuju Allah lewat pintu pertaubatan, pengharapan yang memandang pada karuniaNya.

Allah s.w.t memiliki 100 rahmat. Dari Rahmat-rahmat itu Dia menurunkan 1 rahmat untuk para jin , manusia , hewan dan binatang melata. Dengan rahmat itu juga para makhluk dapat berkasih sayang, berlemah lembut , dan dengannya juga binatang buas menyayangi anak-anaknya. Allah s.w.t mengakhirkan 99 rahmat-Nya yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat nanti.” (HadisMuttafaqun ‘alaih , Bukhari dan Muslim)

Begitu banyak penjelasan mengenai karunianya. Tentang 99 rahmatNya menanti di hari akhir nanti. Tentang segala dosa akan diampuni kecuali dosa syirik. Tentang pelacur pun masuk syurga karena memberi minum anjing. Tentang cerita bahwa di awal penciptaan alam semesta Allah telah berfirman rahmatNya mengalahkan kemurkaanNya. Dan banyak lagi cerita tentang karunia. Yang hanya kita bisa pahami saat kita “mengerti memandang”. Bahwa pandangan seperti itu adalah baik untuk orang-orang yang ingin “kembali” kepada Allah.

Dalam ringkasnya, setiap orang yang ingin “kembali” telah ditunggu dengan berbagai karunia. Begitulah seharusnya cara pandang orang-orang yang ingin “kembali” kepada Allah.

Dan ini juga senada dengan pembahasan tingkat tinggi dari orang-orang arif. Manakah yang lebih baik bagi seorang pendosa? Mengingat dosanya, atau tidak mengingat dosanya?

Lalu dijelaskan oleh para arifin, bahwa mengingat dosa; itu adalah baik selama dia menghantarkan seseorang menuju jalan pertaubatan. Selama dosanya itu menghantarkan mereka pada rasa fakir dan berharap akan karunia Allah. Maka hal itu baik.

Akan tetapi, mengingat dosa; yang tidak menghantarkan pada pertaubatan; alih-alih malah mengobarkan rasa sungkan dan rasa tak layak pulang kepada Allah; adalah sikap yang sama sekali keliru.

Artinya, kita telah salah dalam memandang. Kita sudah tidak tepat konteks.

 

—-

*) saya pinjam gambar ilustrasi dari tautan ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s