MENGINTIP LEWAT LENSA BESAR

IMG_20150216_150648-01

Penerbangan Jakarta menuju Dubai tertunda karena kendala teknis pada pesawat, otomatis penerbangan lanjutan dari Dubai ke Houston pun tertunda sampai waktu yang belum jelas. Dan ini mengancam keseluruhan rencana perjalanan saya dan beberapa orang rekan kerja menuju San Antonio, sebuah kota terpadat kedua pada negara bagian Texas U.S. dalam rangka sebuah pertemuan urusan pekerjaan.

Setelah berdiskusi larat cukup panjang dengan pihak maskapai, saya tak punya pilihan selain dari mengikuti saja jadwal penerbangan yang baru, dengan resiko bahwa saya pasti akan terlambat tiba di tujuan, tempat dimana acara pertemuan kantor akan diadakan. Tetapi untungnya, saya bersama dengan seorang dengan posisi struktural jauh di atas saya dan berbeda divisi dengan saya; beliau membantu me-reroute semua rute penerbangan kami.

Maka kami akhirnya kami mendapatkan penerbangan maskapai berbeda, Jakarta-Dubai, Dubai-Atlanta, Atlanta-Houston, dan dilanjutkan dengan bus Houston-San Antonio. Mendebarkan, dan tergopoh-gopoh, mengejar waktu yang begitu mepet. Tetapi kami akhirnya bisa tiba di tujuan sekitar dua atau tiga jam sebelum acara dimulai.

Sebelumnya, saya belum pernah melewati rute Atlanta. Penerbangan yang pernah saya tempuh hanyalah jalur Dubai-Houston saja, dan ini mendebarkan karena beberapa hal. Pertama, karena Atlanta konon adalah airport yang sibuk dan kemungkinan kita terpisah antara satu tim dengan rekan-rekannya sangat besar. Kedua, kalaulah terpisah, maka berarti harus menempuh sendiri semua lanjutan penerbangan. Menempuh sendiri tidak begitu saya khawatirkan, yang saya takutkan sederhana saja, uang di kantong mungkin tak cukup untuk sesuatu yang tak terduga.

Satu hal yang saya pelajari dari perjalanan kali itu adalah bahwa betapa luasnya bumi Allah ini, orang-orang hiruk pikuk, begitu banyak, dan kita merupakan salah satu bagian dari sebuah sistem besar alam semesta. Kecil dan terombang-ambing dalam lautan gerak.

Kesadaran bahwa kita merupakan bagian dari sebuah sistem maha besar di alam ini; biasanya bisa dirasakan dengan melalui dua jalan: Pertama, ada perenungan yang kontemplatif yang “masuk” ke dalam diri hingga mendapatkan pencerahan atau enlightment. Bahasa islamnya mungkin tafakur. Kedua adalah dengan melakukan perjalanan ke berbagai tempat, yang pada akhirnya membuat kita sadar bahwa kita adalah bagian dari sebuah sistem maha besar.

Yang pertama adalah “memasuki” dunia batinnya sendiri (Journey Inward), yang kedua adalah menjelajah dunia luar (Journey Outward). Keduanya bermanfaat dan berhikmah.

Saya sendiri merasa beruntung diikutkan dalam acara kali ini, berkesempatan melihat dunia luar dan pelbagai orang dalam bermacam kebangsaan. Idenya sebenarnya sederhana saja, yaitu menyadarkan kepada karyawan bahwa mereka -yang tersebar di seluruh antero dunia- adalah bagian dari sebuah perusahaan besar. We are part of a big family. Dan untuk itu, perusahaan akan membiayai perjalanan meskipun jauh, karena “kesadaran bahwa kita adalah bagian dari satu tata kelola tingkat dunia”; dirasakan begitu krusial.

Jadi persis seperti tesis mengenai dua macam perjalanan itu tadi. Journey inward, dan journey outward. Dua-duanya penting. Krusial.

Satu hal yang saya garis bawahi. Setelah mengikuti pertemuan besar dalam rangka urusan kantor itu, saya barulah melihat bahwa gejolak di kantor saya, pada level negara, sebenarnya merupakan sebuah gejolak imbas dari kebijakan regional, dan kebijakan regional merupakan sebuah imbas dari tata-kelola level Global. Kita memandang menjadi lebih luas. Bigger picture, kata orang-orang.

Saat melihat sesuatu dalam skala yang lebih luas, seringkali kita menjadi paham kenapa hal-hal kecil yang tak mengenakkan harus terjadi, karena hal kecil tersebut merupakan bagian dari mata rantai keputusan pada skala yang lebih tinggi.

Misalnya saja, untuk menyelamatkan perusahaan yang diambang jurang, maka sebagian orang harus di PHK. ini tidak mengenakkan tentu saja. Tetapi sebuah pilihan yang mau tak mau harus diambil karena neraca keuangan yang sudah tidak balance. Dan telat mengambil keputusan akan berakibat collapse-nya perusahaan, dan berakhir pada dampak sosial dan ekonomi yang jauh lebih masif dan menyedihkan.

Atau tak usah contoh perusahaanlah. Ambil contoh pedagang kaki lima di pinggir jalan. Kalau kita melihat pada lensa yang sempit, yaitu lensa pedagang kaki lima, maka adalah sebuah bentuk “kejahatan” untuk membubarkan pedagang kaki lima yang mencari nafkah di pinggir jalan. Tetapi, dalam lensa yang lebih besar, pedagang kaki lima yang memakan bagian jalan sampai tiga perempatnya menimbulkan kemacetan yang luar biasa setiap pagi dan jam sibuk. Anak-anak kecil yang hendak sekolah, Bapak-bapak yang hendak menafkahi anaknya, Ibu-ibu yang mengantarkan anaknya sekolah dan harus berjibaku juga mengejar waktu ke kantor, Ambulance yang terjebak kemacetan, dan segala macamnya sebenarnya adalah dampak pada lensa yang besar. Maka merelokasi pedagang yang mengambil bagian jalan secara tidak elok, adalah mau tak mau harus dilakukan. Dan seorang pemimpin, umumnya akan terjebak pada dialektika pandangan lensa kecil dan atau lensa besar ini.

Tentu kita paham bahwa ada yang namanya pendekatan, ada yang namanya win-win solution. Tapi itu biarlah menjadi bahasan ahli tata kelola kota. Kita hanya ingin mengambil secuplik idenya saja, bahwa kadangkala saat kita melihat suatu perkara dalam lensa yang lebih besar, maka kita akan mengerti lebih baik konteks kejadian yang kita alami. Kita bisa menyesuaikan diri. Atau kalaulah kita berada dalam bagian yang mesti “nrimo” maka kita akan lebih bisa menerima keadaan.

Saya ingin mengaitkan cerita ini dengan tahapan-tahapan dimana Rasulullah SAW di-isra’-kan dan di-mi’raj’-kan oleh Allah. Kita tahu, saat beliau SAW kehilangan seorang istri yang sangat melengkapi diriNya, figur pendamping yang keibuan seperti khadijah, beliau pula kehilangan figur pelindung seperti Abu Thalib. Praktis, beliau menjadi tidak punya suaka politik dan perlindungan keamanan di Makkah. Pun, saat beliau mencoba mencari peruntungan dengan berdakwah di negri makmur Thaif, beliau menjadi bulan-bulanan orang-orang yang melemparinya dengan batu hingga berdarah-darah.

Dan peristiwa isra’ mi’raj terjadi tepat setelah beruntunnya musibah pada tahun duka lara itu.

Kita sudah mengetahui, bahwa memang betul isra’ mi’raj mengajarkan kita tentang sholat. Tetapi, saya belakangan baru juga menyadari bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj juga punya arti penting dalam kaitannya dengan proses dimana Allah SWT mengajarkan Rasulullah SAW untuk melihat konteks kejadian hidupnya dengan lensa yang jauh lebih besar.

Beliau mengimami sholat seluruh para Nabi yang pernah ada. Itu sebuah frame dimana beliau dihibur katakanlah, dimuliakan, dan diberi pengertian kembali bahwa konteks kejadian hidup beliau tidaklah seorang diri, tetapi merupakan bagian dari sebuah cerita kolosal maha besar dimana ratusan ribu para nabi zaman ke zaman terlibat dalam drama mengusung risalah tauhid. Beliau tidak sendiri, melainkan bagian dari PLOT Maha Besar.

Beliau pula, diangkat ke angkasa lepas, melintasi segala tata-surya dan galaksi yang kita kenal. Melintasi tujuh lapis langit. Melintasi sidratul muntaha, hingga ke arasy. Masyhur kita dengar dari berbagai literatur bahwa beliau bertemu dengan banyak para Nabi pada setiap lapisan langitnya, tetapi terlepas dari itu semua, beliau juga diajarkan untuk melihat dari lensa yang lebih besar. Bahwa gejolak kejadian di bumi, terkhusus lagi konstelasi politik di Makkah, sebenarnya begitu kecil karena merupakan setitik saja dari PLOT Maha Besar lainnya, yaitu cerita penciptaan alam semesta dan keseluruhan panjang drama-nya sejak dulu hingga sekarang.

Bahwa segala kejadian di Makkah, juga merupakan salah satu bagian dari plot besar cerita perjalanan manusia sejak adam diturunkan dari syurga, dan menjadi rival abadi dari syaitan-syaitan yang akan terus mengganggu hingga akhir cerita nanti.

Saya pikir, betapa benarnya “timing” penentuan waktu isra’ mi’raj itu.

Saat penuh ujian, apatah yang lebih melegakan ketimbang pesan bahwa kita sebenarnya tak sendiri?

Saat penuh ujian, apatah yang lebih melegakan ketimbang kesadaran bahwa ujian kita sebenarnya bukan karena kita sendiri, melainkan PLOT dari sebuah cerita lain yang jauh lebih besar?

Dan lepas dari semua itu, Rasulullah berhadap-hadapan langsung, dalam tanda kutip, dengan Allah dibalik tabir, kala perintah sholat diterima.

Itulah, saya fikir, yang merupakan pelajaran yang harus dipetik. Maka saat kita berada dalam kesulitan yang mencekam, adalah akan sangat membantu untuk melihat kejadian hidup kita dalam lensa yang lebih besar lagi. Agar tidak menyesali diri, dan tidak menyalahkan keadaan. Karena, seringkali kejadian hidup itu mesti terjadi, sebab ada suatu hikmah dibaliknya.

Lewat pandangan yang menyeluruh, kita akan paham bahwa kejadian hidup, seringkali -atau bahkan selalu- sebenarnya hanyalah sebuah cara untuk menceritakan tentang Penciptanya.

Kadang-kadang, konteks diri kita sendiri pun menjadi hilang. Karena kita melihat lebih luas dan komprehensif, dalam dunia yang luas dan komprehensif, mau tak mau “kita” akan hilang dan lebur. Biarlah Sang Maha Besar yang mengatur plot hidup ini, kita melakukan sesuai porsi apa-apa saja yang kita bisa lakukan. Sisanya biarlah mengalir, dan kita intip saja lewat lensa yang lebih besar tadi.

Gambar ilustrasi saya jepret dari belakang jendela penginapan di San Antonio, Texas U.S

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s