MEMASUKI GERBANG JAMAL

Beberapa tahun lalu, sewaktu saya masih ditugaskan di lapangan pengeboran minyak, saya merasa hari-hari begitu berat buat saya lewati. Sekarang jika saya kilas balik, memang hal itu seperti petualangan yang seru. Menaiki helikopter, terasing dilautan lepas pada sebuah kapal pengeboran minyak laut dalam, atau juga menaiki pesawat capung lalu disambung menyusuri sungai Barito untuk sampai di pedalaman Kalimantan menjadi pemburu minyak tak kenal malam tak kenal siang. Tetapi sewaktu lalu itu memang saya rasakan betapa melelahkan dan berat.

Dalam situasi yang melelahkan itu, saya ingin berdoa kepada Allah. Hendak meminta pertolongan. Hasrat hati ingin dipindahkan supaya bekerja ditempat yang lebih cocok dengan saya. Tetapi setiap kali berdo’a saya takut keliru. Jangan-jangan ini tidak nrimo? Jangan-jangan saya nanti tidak ridho pada Allah? Bukankah para Aulia selalu meridhoi apapun saja yang Allah berikan?

Gejolak itu terjadi cukup lama, sampai kemudian saya menyadari dimana letak kelirunya saya dulu.

Pagi ini saya tergerak untuk menuliskan kembali kebodohan saya itu, dan inilah point-point dimana saya keliru mendudukkan konteksnya, dahulu.

Kekeliruan PERTAMA saya adalah saya keliru untuk telah mengira bahwa ucapan lisan dan detak di dalam hati itu berbeda. Saya mengira, bahwa Allah menilai apa yang terzahir di lisan, sementara Allah lupa apa dengan yang di dalam hati.

Berbulan-bulan saya tak meminta apa-apa pada “Lisan” saya, demi mencontohi sikap tinggi para Aulia dengan “Diam”nya mereka, tetapi belakangan saya baru menyadari bahwa jika di hati saya masih gelisah dan merasakan berat dengan keadaan, dan detak hati saya masih hendak meminta pertolongan, berarti kondisi itulah sebenarnya yang zahir ada pada saya.

Lisan diam, tetapi hati bergolak, sama sekali tidak menjadikan saya selevel aulia.

Dengan diamnya lisan, tetapi di hati masih berdetak meminta pertolongan Allah untuk dipindahkan ketempat yang lebih cocok dengan saya, berarti saya masih harus mengakrabi Allah pada tataran itu.

Mengakrabi Allah lewat kebutuhan di dalam hidup saya.

Jadi satu yang saya garis bawahi adalah, perlu jujur melihat apa gerangan yang bergejolak di hati kita. Dan lewat segala gejolak di hati itulah kita diundang untuk menemui Allah.

Jika di hati bergejolak meminta pertolongan, maka zahirkanlah gejolak hati itu dalam lisan yang berdo’a. Berdo’a berarti menegakkan kehambaan. Jangan gegabah meloncat pada level tinggi yang tak sanggup kita tiru.

Jika Allah mentakdirkan gejolak rasa butuh di dalam hati, maka jadikan saja itu sebagai kendaraan menuju Allah. Sebagaimana Umar r.a. berkata: “Aku tidak membawa hasrat pengabulan, tetapi aku membawa hasrat do’a. Jika aku tergerak berdo’a, maka aku tahu pengabulan bersamanya”.

Zakariya a.s berdo’a meminta keturunan berpuluh tahun. Musa pun berdo’a ketika diperintahkan menghadapi Fir’aun. Berdo’a adalah wujud kehambaan.

Kekeliruan KEDUA, adalah saya melulu mengakrabi Allah pada sisi Jalal-Nya.

Jika kita sepakati istilahnya Ibnu Qayyim bahwa apapun saja yang terjadi di dunia ini adalah dalam rangka manifestasi Asma dan SifatNya, maka kita kutip Juga Syaikh Abdul Qadir Jailani yang mengatakan bahwa Perbuatan Allah atau manifestasi sifatnya itu bisa dikelompokkan dalam dua kelompok besar: Yang pertama sifat JALAL-Nya (Kebesaran dan keagungan), yang kedua sifat JAMAL-Nya (Keindahan)[1]

Sejak kecil kita mengakrabi Tuhan dalam persespsi bahwa Allah adalah hobi menyiksa hambaNya. Padahal, kita tahu ada hadits yang mengatakan rahmatNya mengalahkan kemurkaanNya.

Memang benar ada sifat-sifat yang merupakan ejawantah dari kebesaran dan keagunganNya, karena itu pula banyak hal yang berat di dunia ini. Karena itu pula Dia bisa murka. Tetapi MurkaNya, tidak dalam konteks bahwa manusia ini adalah musuh yang harus disiksa. Belakangan saya baru paham, Manifestasi sifat Jalal (KeagunganNya) pun dalam rangka mengajar manusia. Dan Dia adalah pengajar yang rahmatNya mendahului murkaNya.

Maka, persepsi saya bahwa jika saya berdoa maka Allah akan murka pada saya, karena saya mengira bahwa “meminta berarti menabrak ‘keridhoan’ “; adalah persepsi yang sangat keliru.

Setiap orang, diberikan jalan untuk mendekat kepadaNya. Dan salah satu jalan itu boleh jadi adalah ujian hidup yang menumbuhkan rasa fakir dan butuh pertolongan Allah. Maka jika gejolak rasa di hati sangat butuh pertolongan Allah, maka berdo’alah.

Mengakrabi Allah, pada sisi Jamal-Nya ini, sering sekali terlupa oleh saya. Dan mungkin oleh kebanyakan kita. Sehingga saya hidup dalam pengertian-pengertian yang begitu murung, karena selalu memandang Allah pada sisi JALAL-Nya, keagunganNya yang mendebarkan.

Teringat saya sebuah kisah dimana seorang guru mengajarkan muridnya tentang Allah SWT, dan sang murid ditampakkan kepada JalalNya Allah SWT, lalu mati seketika. Tentulah itu kematian yang Syahid untuk mati dalam ketakutan kepada Tuhan. Tetapi dari sana pula kita belajar, bahwa ketidak proporsionalan kita dalam mengenal Allah berimbas berat pada diri kita sendiri.

Masih dari Futuhul Ghaib saya kutipkan, kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, salah satu catatan sejarah bahwa Rasulullah terpandang pada sifat Jalal-Nya adalah sebuah kisah dimana kita dengar Rasulullah SAW sholat, dan dari dadanya terdengar suara gemuruh gelegak, saking takutnya kepada Allah. Itulah saat dimana Rasulullah SAW terpandang JALAL-Nya.

Nah… ada satu yang membuat saya terperanjat, dan ini baru saya temukan pada Futuh Ghaib. Kata Sang Syaikh, salah satu makna dari ucapan Rasulullah SAW kepada Bilal, “Wahai Bilal, hiburlah hati kami / istirahatkanlah kami dengan sholat” Yaa Bilal, arihna bi shalaah, adalah bermaksud agar Nabi memasuki shalat dengan merasakan manifestasi sifat Jamal Allah itu. Merasakan keindahan. Welas Asih. Karena itu Nabi bersabda, “Dan kesejukan mataku, telah kurasakan dalam shalatku”.[2]

Membaca ini saya terperanjat. Nabi-Pun ingin memandang Allah pada sisi welas asih dan keindahan-Nya.

Kalau Ibnu Qayyim mengatakan bahwa kehambaan ditegakkan dengan dua sayap, khauf (takut) dan Roja’ (pengharapan), maka saya rasa makna itu sebangun dengan istilah Syaikh Abdul Qadir Jailani, bahwa kita harus mengakrabi Allah tak melulu pada sisi JALAL-Nya (keagungan/ keperkasaan), tetapi juga sisi JAMAL-Nya (Keindahan, welas asih).

Dan semua manifestasi Asma dan SifatNya dalam hidup ini, dibalut dengan Rahmat yang mendahului murka.

Dan secara subjektif pula saya rasakan bahwa perintah memulakan segala sesuatu dengan Bismillahirrahmaanirrahiim adalah agar kita memasuki hidup dengan merasakan manifestasi JAMAL-Nya. Rahman Rahim. Wallahualam.

Kekeliruan ketiga saya adalah saya melupakan proses. Bahwa untuk sampai kepada maqom spiritual yang “Tiada lagi kehendak diri kita” dan berganti dengan semua kehendak Allah mewujud, pastilah ada prosesnya.

Dan proses itu adalah jalan kehidupan kita masing-masing. Tergantung cerita hidup, tergantung konteks kita masing-masing, tergantung peranan masing-masing.

Maka ada orang-orang yang hidupnya dibanting-banting dan dengan itu merasa begitu butuh pertolongan Allah, menjadi fakir di hadapan Allah. Maka pulanglah kepada Allah lewat gejolak rasa itu. Berdo’a, dalam do’a yang menyatakan kefakiran diri.

Ada orang yang hidupnya digelontori karunia dan kemudahan, maka tak terpandang olehnya selain dari keMaha Baikan Allah dan welas asihNya, tak mungkin orang ini pulang lewat tangisan mendayu-dayu, karena gejolak rasa yang ada pada dirinya adalah bahagia dan kesyukuran. Maka pulanglah lewat tahadduts bin ni’mah. Mensyukuri pemberian Allah, dengan mengabarkan karunia Allah. Atau dalam konteks lain, maksudnya adalah menceritakan kebaikan Allah, sehingga apa yang ada pada kita dimaknai BUKAN sebagai pencapaian diri sendiri, melainkan dimaknai sebagai kebaikan dari Allah.

Dan orang yang selalu kembali pada Allah lewat apapun takdir hidup yang dia alami, lama kelamaan akan terproses untuk sampai pada sebuah kondisi dimana dia merasa tak penting lagi segala kejadian hidup. Yang penting Allah-nya.

Dan saya rasa itulah maksud dari Hadist Qudsi: “Siapa yang lebih sibuk berdzikir kepadaKu dibanding meminta kepadaKu, justru Aku beri ia lebih utama dibanding yang Kuberikan kepada orang-orang yang meminta”.

Hadits ini belakangan baru saya mengerti, bercerita tentang maqom seseorang yang sudah Musyahadah (menyaksikan pengaturan Allah dimana-mana). Bahwa orang-orang yang sudah terpandang Allah melulu, akan mendapatkan keutamaan dibanding orang yang terpandang melulu kebendaan.

Tetapi untuk sampai kesitu, hemat saya, adalah dengan menjadikan segala apapun yang kita alami sebagai jalan pulang. Berdo’a, sampai kita nanti menyadari bahwa yang penting adalah kenyataan bahwa “kita berdo’a”, bukan do’a-nya itu sendiri.

Mengetahui ini sangat penting, setidaknya bagi saya pribadi. Agar saya tidak keliru bersikap, seandainya bertemu seseorang yang Allah panggil “kembali” pada Nya lewat kejadian hidup yang menimbulkan rasa butuh, dan saya dengan jumawa melarangnya berdo’a.

Wallahualam.

~~~

[1] Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuhul Ghaib

[2] Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuhul Ghaib (Ajaran kesembilan)

gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Iklan

MENDUDUKKAN KEKAGUMAN

“Saya begitu sedih,” kata seorang rekan dalam kesempatannya berbincang tentang pengalamannya pertama kali ditugaskan international assignment, alias pindah kerja ke luar negeri.

Apa pasal dia begitu sedih?

Pasalnya adalah, seorang teman yang baik, yang dia temukan di negara yang baru dia tempati itu, dipindahkan tugas pula ke tempat lain.

Jadi setelah sekira enam bulan penyesuaian di negara baru, di tempat dimana dia belum mengenal seorang pun, akhirnya dia mendapatkan teman kerja yang banyak sekali membantu dan menjadi akrab, tetapi tak lama teman yang begitu menolong itu malah dipindahkan ke tempat lain.

Rasa kehilangan tersebab seorang figur yang banyak menolong itu telah pergi, itulah yang membuat dia menangis.

Dalam banyak sekali kesempatan, saya pun yakin kita pernah mengalami hal serupa. Satu hal baru saya pahami akhir-akhir ini, hal itu adalah tentang kekaguman yang mesti didudukkan secara benar.

Seringkali, Allah menghilangkan seseorang yang kita jadikan tempat bergantung, atau sebaliknya kitalah yang dipindahkan ke sebuah tempat dimana kita tak mengenal seseorangpun tempat kita meminta bantuan, atau kita –mengutip bahasa Syaikh Abdul Qadir Jailani- dibuat berputus asa dari manusia –karena manusia tak bisa membantu kita- ; semuanya saya rasa dalam tujuan yang sama, yaitu menyadarkan bahwa sebenar penjagaan, perlindungan, dan pertolongan adalah dari Allah. Meski dizahirkan lewat “tools”, perangkat yang berbeda-beda.

Mungkin itu juga salah satu sebabnya, mungkin lho ya, seorang musafir doanya makbul. Karena musafir adalah orang yang sangat boleh jadi masuk dalam kondisi bergantung sepenuhnya pada Allah. Tak ada makhluq yang dia kenal untuk dimintai tolong dalam perjalanannya.

Kepahaman ini sebenarnya senada dengan bahasan yang telah kita bincang-bincang sebelumnya, yaitu tentang mendudukkan cara pandang dalam beramal. Dimana kita memandang amaliyah sebagai sebentuk karunia. Amal yang kita lakukan, alih-alih dipandang sebagai sebuah prestasi yang kita unjukkan kehadapan Allah; sebaliknya malah kita pandang sebagai karunia dari Allah. Pemberian.

Kalau kita menengok DIRI SENDIRI. Jika amaliyah kita adalah “pemberian”, karunia Allah, maka sebanyak apapun amaliyah, semestinya tidak menjadikan sebagai kebanggaan. Premisnya jelas, bagaimana kita mau berbangga atas sesuatu yang sebenarnya pemberian? Bagaimana kita mau membanggakan, kalau kita sebagai orang yang menerima pemberian?

Itu kalau kita pandang dari sisi kita. Amaliyah kita, merupakan anugerah. Sejatinya adalah Allah yang terlebih dulu berbaik hati pada kita, hingga kita tergerak menujuNya.

Dan saya baru saja menyadari juga hal ini dalam kaitannya dengan memandang kebaikan, pertolongan, bantuan, pengajaran dari orang lain kepada kita.

Saat kita memandang orang lain, sejatinya orang lain-pun hanya merupakan keran kebaikan. Yang sebenarnya membantu adalah Allah, lewat takdir yang dia susun dan menggerakkan siapapun saja yang DIA pilih kala itu. Yang sejatinya mengajar adalah Allah. Melalui takdir yang membiarkan keilmuan dan hikmah mengalir lewat lisan, tulisan, perbuatan, siapapun saja yang DIA kehendaki.

Sebab itu, maka kekaguman harus didudukkan pada porsinya yang sesuai. Kita tidak mengagumi seseorang itu sebagai sebuah pribadi yang menjaga dan menunjuki kita, tetapi kita melihat keindahan penjagaan dan pengaturan Allah yang “bermain” dalam setiap jengkal hidup kita.

Kadang-kadang, kita lupa melihat penjagaan dan pengaturan Allah, maka ada-ada saja cara Allah untuk mengingatkan kembali bahwa Yang Maha Hidup lagi Terus Menerus Mengurus MakhluqNya (Ya Hayyu, Ya Qayyumu) adalah Dia.

Saya rasa seperti rekan saya tadi, sang penolong terdekat dipindahkan, untuk membuat dia bersedih dan merasa hilang pegangan, lalu diadakan penolong lainnya. Sejatinya penolong tetaplah Allah, tetapi perangkatnya ditukar-tukar ganti. Supaya kita tak “lekat” pada perangkat.

Menariknya, berterimakasih kepada orang yang telah menjadi jalan pertolongan, menjadi jalan kebaikan bagi kita, merupakan salah satu yang tertuntunkan juga. Seperti sebuah hadits mengatakan bahwa tak disebut bersyukur pada Allah jika seseorang tak berterimakasih kepada manusia[1]

Artinya, selepas kita memahami bahwa sejatinya penolong adalah Allah SWT, maka kita harus menunjukkan hormat dan terimakasih kepada orang yang sudah menjadi keran kebaikan itu. Show some respect-lah istilahnya, untuk orang yang telah dipilih oleh Allah menjadi keran kebaikan, menjadi perangkat penolong kita. Dan dengan pemahaman begitulah rasanya kita akan duduk pada sikap yang benar dalam menata kekaguman.

Kita melihat pengaturannya Allah, sambil pada saat yang sama kita berterimakasih kepada perangkat manusia-nya. Ini sangat indah sekali, itulah adab.

Tapi ngomong-ngomong mengenai istilah perangkat. Syaikh Abdul Qadir Jailani rupanya memang betul-betul menggunakan istilah “perangkat” ini untuk menjelaskan tentang posisi spiritual orang-orang yang mencapai level “Abdal”.

Abdal, diambil dari kata Badal, yang artinya pertukaran[2].

Memang kita sudah mafhum sekali, bahwa istilah Abdal sangat lekat sekali dengan frasa “wali”, wali abdal, misalnya.

Kalau istilah wali secara sederhana kita lekatkan pada makna orang-orang yang dekat pada Allah, wakilNya, maka ternyata menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani orang-orang yang dekat pada Allah itu berderajat-derajat, dan penjelasan mengenai salah satu istilah yang menggambarkan orang yang dekat sekali pada Allah; tersebab perubahan paradigma; dulunya dia memandang melulu kebendaan, akhirnya sekarang terpandang pengaturan Allah dimana-mana, lalu diri dia “berubah” cara pandang terhadap hidup, dari diri dia yang dulu, menjadi diri dia yang sekarang; maka dia disebut Abdal.

Orang yang bertukar paradigma.

Dan orang-orang yang sudah betul-betul menyadari bahwa amaliyah dirinya adalah karunia Allah, kebaikan orang lain adalah wujud penjagaan Allah, dan secara jelas melihat pengaturan Allah terzahir dimana-mana, dan menyadari bahwa sejatinya kita ini hanya tools, perangkat untuk menzahirkan kebaikan-kebaikan dari Allah; itulah juga makna yang hendak dijelaskan Sang Syaikh lewat frasa “Abdal”.

Sederhananya, Jika Ibnu Qayyim Al Jauziyah menjelaskan bahwa orang-orang yang sudah terpandang pada pengaturan Allah SWT itu disebut mencapai tingkatan musyahadah, “penyaksian”[3], maka Syaikh Abdul Qadir Al Jailani menyebut mereka yang sudah berubah paradigma dan sampai level musyahadah itu sebagai Abdal, orang yang bertukar pandang, dan mereka menyadari betul makna sejatinya bahwa mereka hanyalah “Alat”, keran kebaikan, “perangkat” mungkin begitu istilahnya.

Jadi kesimpulannya, untuk kita pribadi, kita pandang segala kebaikan dan amal kita sebagai anugerah Allah. Dan dalam melihat orang lain, kita melihat penjagaan dan pengaturan Allah SWT, sambil menjaga adab dan berterimakasih kepada siapapun yang telah Allah beri penghormatan untuk menzahirkan kebaikan itu.

Mendudukkan kekaguman pada porsinya yang cantik.

~~~~~~

[1] “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954)

[2] Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuhul Ghaib

[3] Baca artikel “Dibalik Tabir Keteraturan” (1,2 dan 3)

Gambar saya pinjam dari link ini

MENGHITUNG KECACATAN

Dalam sebuah presentasi di kantor sekitar hampir setahunan lalu, saya pernah ditanyai habis-habisan dan kesulitan menjawab. Kalau saya mengingat hal tersebut, saya malah menjadi geli sendiri. Pasalnya, hal itu terjadi persis setelah bulan sebelumnya saya dipuji untuk telah begitu baik membawakan presentasi.

Selepas pujian itu, saya menebak bahwa seperti umumnya tuntutan para petinggi kantor, mereka pasti mengharapkan presentasi berikutnya untuk lebih baik lagi dari yang sudah-sudah. Akhirnya, hampir keseluruhan potongan slide bulan berikutnya itu saya buat dalam tujuan yang begitu menggelikan, yaitu supaya diakui bahwa presentasi kali itu lebih baik daripada pencapaian sebelumnya.

Hasilnya? Mereka sama sekali tak melihat presentasinya, tetapi menanyakan sesuatu yang diluar cakupan presentasi itu, dan membuat saya bingung harus menjawab apa.

Setiap kali mengingat itu, saya menjadi tertawa dan teringat kebodohan diri sendiri. Betapa pergeseran tujuan dan niat dalam beramal itu begitu halus, dan tanpa disadari sudah berubah dengan sendirinya. Tetapi saya bersyukur, tanpa kejadian itu, mungkin saya akan selalu membuat atau menyiapkan presentasi bulanan dalam kerangka yang begitu picis, yaitu membuat atasan terpukau, dan itu saya rasa sangat rendah.

Tetapi ngomong-ngomong, bukan masalah presentasinya itu yang membuat saya tertarik ingin bercerita, melainkan mengenai hal menyadari “kecacatan amal”.

Dalam kasus yang telah saya ceritakan tadi, saya baru menyadari sebuah “kecacatan amal” setelah mendapatkan kenyataan yang kurang sesuai dengan harapan. Jadi, istilahnya saya dipaksa untuk mentafakuri kebodohan diri sendiri. Pertanyaannya, bagaimana seandainya presentasi berjalan mulus, akankah saya menyadari sebuah kecacatan amal itu?

Ternyata, ada dua pendekatan yang sangat menarik dari orang-orang arif dalam kaitannya dengan membenarkan posisi batin dalam beramal.

Saya akan ceritakan pendekatan pertama dulu, yaitu pendekatan yang selama bertahun-tahun saya terapkan, dan belakangan saya baru sadari bahwa pendekatan ini kalah praktis dengan pendekatan kedua.

Dalam spiritualitas islam, orang-orang arif mengatakan bahwa cara “mendekati Tuhan” adalah dengan membersihkan diri dari akhlaq tercela, setelah dibersihkan dari akhlaq tercela barulah kemudian diisi dengan akhlaq terpuji. Nah…dalam kaitannya dengan mengosongkan diri dari akhlaq tercela inilah berarti kita harus selalu melakukan tafakur atas amal-amal yang telah dilakukan. Sambil menggenjot peribadatan sebanyak-banyaknya.

Ini metoda pertama. Singkatnya, dalam metoda pertama ini, umpamakanlah kita bersedekah, selepas bersedekah maka kita akan mentafakuri amal. Jangan-jangan saya tadi riya. Jangan-jangan saya tadi kurang ikhlas. Atau jangan-jangan saya tadi harusnya bisa melakukan sesuatu yang lebih baik, harusnya saya bisa menyumbang lebih banyak.

Pendeknya, dengan selalu menyadari bahwa amal-amal yang dilakukan adalah hal yang senantiasa keliru, maka seseorang akan selalu merasa kurang, dengan begitu maka akan selalu beramal.

Hal ini tentu saja baik sekali. Tetapi belakangan saya menyadari juga bahwa metoda ini kalau tidak dimaknai secara benar akan membuat seseorang frustasi. Apa pasal? Pasalnya, semakin seseorang menggenjot amal peribadatan yang dia lakukan, semakin banyak dia beramal, semakin dia menyadari bahwa begitu banyak cela dalam amalnya. Ada riya, kalau tak riya maka ada ujub, boleh jadi dia frustasi karena harusnya dia sudah meningkat kualitas dan kuantitas amalnya tetapi kok ternyata masih stagnan. Dan sebagainya.

Setiap seseorang melakukan suatu amal, dia berharap bahwa amal itulah yang akan menghantarkan dia kepada Allah. Berarti, pergantungannya adalah kepada amal itu sendiri. Bukan kepada Allah. Amal dimaknai sebagai sebuah unjuk prestasi kepada Allah. Akibatnya, setiap kali dia menyadari kecacatan amalnya, dia akan frustasi menuju Allah. Sehingga boleh jadi dia akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ‘tak akan mungkin, orang dengan kapasitas seperti saya akan bisa “menuju” Allah’.

Tentu tidak semua orang akan sampai pada kesimpulan seperti itu, tetapi setidaknya banyak orang yang jatuh pada kesimpulan serupa, dan ini saya alami juga, sebabnya adalah saya memperbanyak amalan, saya mengira amalan-lah yang akan menghantarkan saya kepada Allah, dan saya frustasi tersebab kecacatan pada amal yang saya lakukan. Premisnya sederhana, amal yang cacat berarti tak sampailah saya menuju Allah. Karena yang menyampaikan kepada Allah adalah amal.

Itu pendekatan pertama. Lalu ada pendekatan kedua yang diajarkan para arifin. Dan saya temukan bahwa pendekatan kedua ini dalam banyak sisi lebih praktis dan lebih cocok buat saya.

Seperti apa pendekatan kedua itu? Pendekatan kedua adalah alih-alih menggenjot peribadatan  gila-gilaan sebagai sebuah upaya mendekat kepada Tuhan, dan alih-alih selalu melihat kepada kecacatan amal, pendekatan ini malah menekankan kepada penyadaran kepahaman bahwa manusia itu sejatinya tiada berdaya, dan amal itu sejatinya adalah anugerah Allah SWT kepada hambanya, lambat laun amal akan meningkat sebagai imbas dari pengenalan yang lebih dalam akan pengaturan Allah.

Bergantungnya, kepada Allah-nya, bukan kepada amalnya.

Sebenarnya pendekatan seperti ini diajarkan pula para arifin zaman modern sekarang ini[1], tetapi untuk kepentingan ilustrasi dan penjelasan, rasanya sangat membantu jika kita mengutip kembali dari Ibnu Athoillah. Beliau selalu menekankan kepada kita tentang pentingnya isqath al-tadbir, mengistirahatkan diri dari turut mengatur.

Dalam pandangan Ibnu Athoillah[2], pengabdian kita kepada Allah SWT seharusnya tak hanya ditunaikan dengan menjalankan kewajiban, yakni segala yang diperintahkan oleh Allah SWT, namun pula dengan menjalani ketetapan, yakni segala yang telah ditentukan Allah.

Ilustrasi yang sederhana begini. Saat seseorang beramal, katakanlah dia sholat subuh. Dalam beramal itu, seseorang itu memaknainya sebagai anugerah kebaikan dari Allah. Allah ingin hambaNya mendekat kepadaNya, karena itu Allah menganugerahi hambaNya itu amal peribadatan. Akhirnya, ibadah dimaknai sebagai sebuah bentuk kesyukuran kepada Allah. Tak ada “aku” disana. Dalam artian, tak ada perasaan bahwa diri kita sedang unjuk prestasi kepada Allah, yang ada malah sebaliknya, kita sedang mensyukuri kenyataan bahwa kita tertakdir beramal.

Sebaliknya, saat khilaf dan menemukan kecacatan pada amal, umpamanya peribadatan menjadi menurun dan tak sebaik hari-hari sebelumnya, disitulah pula kita akan menyadari bahwa sejatinya yang menggenggam hati manusia adalah Allah. Justru semakin menyadari kenyataan dari “la hawla wa la quwwata illa billah”, tak ada daya berkebaikan, tak ada daya menjauhi keburukan kecuali dengan pertolongan Allah.  Dan orang ini akan semakin meminta tolong pada Allah agar dimampukan beramal. Dia tetap menuju Allah, lewat jalan pertaubatan.

Orang-orang yang menyadari bahwa pengaturan Allah berlaku dalam segala-gala aspek hidupnya, dalam taat dan khilafnya, akan malah menjadi semakin mendekat kepada Allah.

Kalau amaliyah disadari sebagai sebuah anugerah, maka lambat laun konteks “aku” dalam beramal akan sirna. Seseorang tidak akan putus asa dari rahmat Allah, karena memang dia menyadari bahwa bukan dirinya sendirilah yang akan menyampaikan pada Tuhannya, melainkan dengan pertolongan Allah-lah dia akan sampai. Istillahnya, Lillah-Billah. Lillah (Melakukan peribadatan untuk Allah), dengan menyadari pertolongan Allah dalam amaliyah (Billah).

Saat seseorang khilaf telah berdosa-pun, pendekatan yang sebaiknya dilakukan adalah menyadari bahwa hanya Allah SWT lah yang bisa melepaskan manusia dari jerat dosa. Maka pertaubatan dilakukan dalam pemaknaan meminta rahmat dan kasih sayang Allah agar dibantu berkebaikan. Akan tetapi, pertaubatan yang keliru adalah dengan melulu menggenjot peribadatan agar kuantitas meningkat, tetapi tidak menyadari sama sekali pengaturan Allah SWT dalam amalnya. Hal seperti ini disebut Lillah-Binafsihi. Lillah (menuju Allah / Untuk Allah), tetapi mengandalkan diri sendiri (Binafsihi).

Dan orang-orang yang melulu mengandalkan diri sendiri inilah, yang most likely akan kecewa, karena mendapati dirinya sendiri begitu banyak cela, dan merasa tak akan pernah sampai. Sebaliknya, yang mengandalkan Allah akan tahu bahwa sejak awal dirinya memang tak bisa diandalkan, maka amal yang dilakukan adalah wujud syukur atas karunia tuhannya, dan cela pada dirinya tak membuat dia frustasi dan kehilangan harapan, karena fithrah manusia memang banyak cela, dan semakin mengetahui dirinya banyak cela semakinlah dia berharap pertolongan Allah.

Konteks “Aku” (binafsihi) dalam beramal menjadi hilang, berganti dengan kesadaran penuh bahwa Allah lah yang menolong kita menuju Dia (Billah).

Tetapi, cara pertamapun jika dilakukan dengan pemahaman yang benar, saya rasa akan berakhir pada kesimpulan yang sama dengan pendekatan kedua tadi. Saat seseorang menyadari bahwa dirinya selalu cacat dan tak benar dalam beramal, maka dia akan berhenti mengandalkan dirinya sendiri. Tentu bukan berhenti beramal, tetapi paradigma dia dalam memandang amal menjadi bergeser, dari yang tadinya amal dimaknai sebagai unjuk prestasi, berubah menjadi amal yang dimaknai sebagai ungkapan kesyukuran atau sebagai permohonan agar ditolong Allah untuk menuju kepadaNya.

Baiknya kita pungkasi dengan pesan Ibnu Athoillah, dalam Al-Hikam:

“Di antara tanda sukses di akhir perjalanan adalah kembali kepada Allah sejak permulaan.”

~~~

[1] Arif Billah Hj. Hussien Bin Abdul latiff

[2] Pandangan Ibnu Athoillah tentang Isqath Al Tadbir, secara subjektif saya rasakan senada dengan pandangan Ust. Hj. Hussien Bin Abdul Latiff tentang ketiadaan wujud dan keridhoan.

*) gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

MENUNGGU PENGERTIAN

Apakah gerangan kiranya suatu kondisi yang dapat membuat kita menjadi mudah menjalani kesulitan? Salah satu diantaranya mungkin adalah jika kita mengerti hikmah dibalik kesulitan itu.

Seorang pasien yang disuntik dokter atau bahkan dibedah, menjadi lebih “mudah” menghadapi kengerian itu, atau setidaknya menjadi mau menjalani pembedahan, jika dia mengerti bahwa “kesulitan” itu memiliki hikmah antara lain jalan kesembuhan penyakitnya.

Pengertian akan hikmah ini, sudah jamak dipahami seseorang. Saat terjadi sesuatu, orang akan mencari hikmahnya. Atau, saat ada sebuah peraturan yang harus kita jalani, harus kita taati, seseorang akan mencari hikmah dibalik peraturan itu.

Tetapi pemahaman akan hikmah ini, juga menjadi salah satu jalan yang dilakukan sebagian kalangan untuk mengutak-atik “hukum”.

Jika Babi dilarang untuk dimakan oleh orang-orang Muslim, maka sebagian orang ada yang mencari hikmah dibalik pelarangan makan Babi. Ditemukanlah salah satu hikmah, antara lain dengan tidak makan Babi seseorang akan terhindar dari cacing-cacing yang bersembunyi dibalik daging Babi. Kemudian dimainkanlah logika itu, sehingga dengan dalih bahwa cacing-cacing sudah bisa dihilangkan dengan teknologi modern, maka harusnya Babi menjadi halal kata mereka. Apa sebab? Sebabnya adalah “hikmah” dibalik pelarangan makan Babi sudah tercapai oleh teknologi modern, yaitu meskipun makan Babi seseorang akan tetap terhindar dari cacing-cacing. Ini logika yang kurang tepat.

Belakangan saya baru mengerti bahwa para ulama mengatakan bahwa suatu hukum berlaku karena “Titah” dari Allah. Bukan karena sebuah hikmah yang bisa disingkap manusia. Maka suatu hukum akan tetap berlaku, apakah hikmah tersingkap oleh manusia, ataukah belum tersingkap oleh manusia. Terlebih lagi, tidak selamanya manusia bisa mengerti tujuan sebenarnya dari pemberlakuan “Titah” itu.

Maka Babi tetap haram, tak soal apakah cacing bisa dihilangkan apakah tidak dari dagingnya. Boleh jadi kesehatan terhindar dari cacing adalah suatu hikmah. Tapi apakah itu tujuan sebenarnya dari pelarangan Allah terhadap makan Babi? Belum tentu. Bisa jadi sama sekali bukan itu.

Para arifin memberitahu kita, bahwa “sebuah kenyataan kalau kita mematuhi titah Tuhan”; itulah yang lebih penting. Karena titah itu bisa saja tidak rasional untuk logika manusia yang terbatas. Adam tak boleh makan buah. Ummat Musa a.s. tak boleh kerja di hari sabtu. Semua karena “Titah”, yang hikmahnya boleh jadi bisa kita “baca”, boleh jadi juga tak bisa “dibaca”, dan belum tentu juga bahwa hikmah yang kita baca itulah tujuan sebenarnya dari pemberlakuan titah itu.

Karena, seorang Arif mengajarkan, bahwa terkadang hikmah itu baru bisa tersingkap setelah berbilang zaman. Seperti pelarangan Adam memakan buah Khuldi, itu hanya salah satu asbab untuk Planning Maha Besar menurunkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Tujuan sebenarnya dari pemberlakuan suatu kejadian selalu ada pada Allah itu sendiri. Hanya Allah yang paling mengerti tentang kenapa sesuatu itu berlaku. Dan manusia hanya diberi mengerti sebatas apa yang Allah buat manusia / makhluq itu mengerti.

Dan kenyataan inilah yang sekarang sangat membuat saya terkagum-kagum pada kisah orang-orang shalih. Mereka mensabari kejadian hidup, mensabari takdir, pada saat “hikmah”nya sama sekali belum kelihatan.

Jika hikmah sama sekali tak nampak, tetapi kejadian tetap disabari, berarti kan itu merupakan pertanda adab batin yang sangat tinggi, bukan? Berbaik sangka pada Allah atas kesempurnaan sifat Dia. Dan ini yang mengagumkan.

Nabi Yakub a.s. kehilangan anak yang paling dia cintai yaitu Yusuf a.s, karena makar saudara-saudaranya sendiri. Apa hikmahnya? Sekarang memang kita tahu hikmahnya, pada akhirnya setelah melewati onak-duri maka Yusuf a.s menjadi menteri kerajaan dan lepas dari segala fitnah. Tetapi beratus tahun lalu, pada saat hal itu terjadi, Nabi Yakub a.s tak mengerti apa maksud semua itu. Dalam ketidak mengertiannya itu, dalam kondisi dimana “hikmah” belum lagi tampak, kita membaca rekaman sejarah bahwa sikap yang dituntunkan beliau adalah mengadukan kesedihannya kepada Allah[1], dan kesabaran yang indah[2]. Meski secara lahiriah beliau sedih, menangis hingga matanya buta.

Dulu, dalam persepsi saya bahwa orang-orang yang dekat dengan Allah (Aulia) adalah orang-orang yang penuh keajaiban. Weruh sakdurunge winarah. Tahu sebelum terjadi. Melihat apa yang orang lain tak lihat. Tetapi ternyata sebenar-benar orang salih adalah orang-orang yang baik sangka pada Allah karena mengerti kesempurnaan sifatNya. Bahwa segala-gala yang terjadi merupakan manifestasi sifatNya, yang terangkum dalam nama-namaNya, yang semuanya baik (Husna). Maka kita lihat para Nabi mensabari kejadian hidup dalam fase dimana “hikmah” dari kejadian itu tak selalunya mereka mengerti.

Nabi Yakub a.s. memang tahu bahwa anak-anaknya berdusta dengan mengatakan bahwa Yusuf a.s dimakan serigala, [3] tetapi pada saat yang sama Nabi Yakub a.s tak mengerti plot besar cerita, apakah nanti anaknya akan kembali padanya? Apakah anaknya selamat dan baik-baik saja.

Mensabari kejadian hidup, dalam pengertian akan kesempurnaan sifat Allah, dalam kenyataan bahwa “hikmah” dari suatu kejadian pun belum tampak pada mereka. Itu yang mengagumkan dan betapa berat untuk kita tiru.

Hati boleh sedih, mata boleh menangis, tetapi tak kita ucapkan pada lisan selain dari apa yang diridhoi.

Teringat sebuah kisah dimana Rasulullah “dimarahi” oleh seorang wanita yang beliau nasihati agar bersabar; karena beliau dapati wanita itu menangis meratapi kematian seseorang di pekuburan.  Disitulah Rasulullah SAW malah dimarahi oleh sang wanita itu. Belakangan wanita itu baru menyadari bahwa yang dia marahi barusan adalah Rasulullah, maka wanita itu meminta maaf dengan mengetuk pintu rumah beliau. Disitulah Rasulullah mengatakan bahwa yang disebut sabar itu adalah saat “pukulan pertama”.[4] Mensabari kejadian hidup pada saat “hikmah” nya belum lagi tampak.

Berdasarkan wejangan seorang guru nan arif[5] inilah saya baru paham. Bahwa orang yang mengenal Allah bukanlah orang yang selalu mengetahui keajaiban-keajaiban atau hal-hal yang tak nampak oleh orang lain. Melainkan, pengenalan yang sejati pada Allah itu ditandai dengan mensabari kejadian hidup yang bahkan saat itu kita tak mengerti hikmahnya sama sekali. Itulah “kedekatan”.

Mensabari kejadian hidup saat “hikmah”nya masih disembunyikan dari kita; adalah penanda bahwa kita mengerti kesempurnaan sifatNya. Adalah juga berarti kita sabar pada pukulan pertama. Adalah juga berarti kita sudah meniru adab para Nabi dan Aulia.

Barulah disini saya mengerti, bahwa sebenar-benar Aulia Allah itu adalah orang-orang yang menjalani takdir hidup membanting-banting dengan ridho, sampai mereka sadar betul kekuasaan Allah. Aulia bukannya orang yang happy-happy main magic dan kesaktian. Melainkan orang yang menjadi sebenar-benar penyaksi kekuasaan Allah. Dan itu tak gampang.

Maka sangatlah benar Sang Syaikh Abdul Qadir Jailani menasihati untuk berpuas dirilah atas apa yang ada pada kita, sampai Allah sendiri menaikkan taraf kita.

Sampai nanti mudah-mudahan Allah sendiri yang memberi tahu hikmah dan pengertian tentang sesuatu itu, boleh jadi segera, boleh jadi nanti, atau boleh jadi hikmahnya malah tersingkap setelah orang yang menjalani hidup itu sendiri tiada. Tapi kita sudah berbaik sangka, karena percaya.

Kita kutib petuah indah Al-Hikam sekali lagi:

“Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”[6]

~~~~~~~

[1] Yakub berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf: 86)

[2] “Kesabaran itu indah. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Yusuf: 83)

[3] Berkata Yakub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya”. (Yusuf: 96)

[4] hadist dari Anas Bin Malik. (“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melewati seorang wanita yg sedang berada di sebuah kuburan sambil menangis. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata padanya : “Bertaqwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah”. Maka berkata wanita itu : “Menjauhlah dariku engkau belum pernah tertimpa musibah seperti yg menimpaku” dan wanita itu belum mengenal Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu disampaikan padanya bahwa dia itu adl Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika itu ditimpa perasaan seperti akan mati . Kemudian wanita itu mendatangi pintu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan dia tidak menemukan penjaga- penjaga pintu maka wanita itu berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku belum mengenalmu maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata : “Sesungguhnya yg dinamakan sabar itu adl ketika pada pukulan pertama”)

[5] Arif Billah, Ust. Hj. Hussien Bin Abdul Latiff

[6] Ibnu Athoillah dalam kitab Al-Hikam mengatakan bahwa baik sangka kepada Allah dalam level tertinggi adalah baik sangka karena mengerti kesempurnaan sifatNya. Dan jika kita belum mampu untuk itu, setidaknya kita berbaik sangka padaNya dengan cara memandang hidup kita pada sisi nikmatnya yang masih bisa kita syukuri.

gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

YANG TERPUJI, YANG MANUSIAWI

kaligrafi-muhammad-saw-vectorUmar r.a berdiri di hadapan orang-orang dan mengancam akan memenggal siapa saja yang mengatakan Rasulullah SAW telah wafat.

Sesungguhnya Rasulullah SAW tidaklah wafat,  melainkan beliau hanya pergi menghadap Tuhannya sebagaimana Musa a.s menghadap Tuhannya, lalu selepas itu beliau akan kembali kepada kita setelah empat puluh hari. Begitu kata Umar r.a mengancam orang-orang. Sering kita baca kisah ini pada kitab-kitab Sirah Nabawiyah.

Pada saat itulah Abu Bakar r.a, seorang Shiddiq menyuruh Umar r.a. untuk duduk. “Duduklah wahai Umar”, lalu beliau melantunkan ayat yang diakui para sahabat bahwa seolah-olah itulah kali pertama mereka mendengar ayat itu dibacakan. Seolah ayat itu tidak pernah turun sebelumnya.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144)

Selepas itu tersadarlah para Sahabat, bahwa memang betul Rasulullah SAW telah wafat.[1]

Kecintaan yang begitu besar pada Rasulullah SAW –dan tentu saja keimanan yang begitu solid pada Allah SWT- membuat para Sahabat rela mengorbankan apa saja untuk mendukung risalah beliau.

Seorang Nabi yang mengusung risalah tauhid yang sama dengan yang diusung Ibrahim, Musa, Isa dan seluruh jajaran Nabi dan Rasul sepanjang sejarah. Seorang yang jujur nan terpercaya, sampai-sampai para kafir Makkah kesulitan untuk memfitnah beliau, dan akhirnya menggunakan kenyataan kecintaan para sahabat itu sebagai alat untuk menyerang Rasulullah. “Jangan dekati Muhammad, sesungguhnya dia telah memisahkan bapak dari anaknya, memisahkan seorang suami dari istrinya” begitu kurang lebih sebuah propaganda yang dilancarkan untuk menyerang Rasulullah.

Dan memang propaganda itu ada sisi benarnya. Saat seseorang telah meyakini kebenaran risalah yang beliau usung, meyakini kebenaran islam, maka terpisahlah dia dengan orang-orang yang masih “tertutup”.

Dan kesediaan untuk terpisahkan dari kerabat dekat itu merupakan juga salah satu bukti yang menunjukkan betapa kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW sangatlah besar. Kecintaan yang sekali waktu membuat mereka “sedikit” lupa bahwa Rasulullah adalah seorang Nabi yang manusiawi.

Seperti peristiwa kematian Rasulullah SAW tersebut. Bahkan sekelas Umar r.a sulit menerima fakta bahwa Rasul telah wafat, tetapi Abu Bakar r.a akhirnya menyadarkan semua orang bahwa Sang Nabi yang dicintai khalayak itu telah pergi. Sang Nabi yang Manusiawi.

Sulit kita menemukan kisah lain, dimana seorang Nabi menyampaikan kitab suci yang isinya adalah salah satunya teguran terhadap Sang Nabi itu sendiri.

Sebagaimana kisah turunnya surah Abasa, Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa Surah itu turun sebagai teguran kepada Rasulullah SAW yang bermuka masam, saat beliau diinterupsi oleh Ibnu Ummi Maktum disaat Rasulullah sedang presentasi dihadapan para pembesar Quraisy karena mengharapkan keislaman para pembesar itu –yang tentu saja akan berdampak lebih masif dan luas, karena islamnya pemimpin suatu kaum biasanya akan diikuti secara masal oleh kaumnya-.

Dalam pada itulah, Rasulullah ditegur oleh Allah SWT. Dan teguran itu mengabadi dari generasi ke generasi sebagai cerminan kita juga.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada Allah, maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi di sucikan, di tangan para penulis (Malaikat), yang mulia lagi berbakti.[2]

Dari sana kita bercermin, bahwa ajaran ini akan sampai pada orang-orang yang benar-benar ingin membersihkan diri. Sampaikanlah pada yang benar-benar ingin menerimanya dan jangan membeda-bedakan.

Tetapi dari sana pula kita belajar, bahwa Sang Nabi yang kita cintai adalah orang yang begitu manusiawi. Tetapi justru kemanusiawian beliaulah yang membuat kita menitiskan air mata dan mensaluti pribadinya.

Akankah datang kesalutan pada pribadi yang tak manusiawi? Justru kesalutan datang karena mengetahui bahwa pribadi yang mengagumkan itu terpancar dari seorang manusia yang sama seperti kita, bukan dari malaikat. Beliau memakan apa yang kita makan. Hidup sebagaimana umumnya manusia lain hidup. Lapar pada perang Khandaq dan melilit pinggang dan perutnya dengan kain diisi kerikil untuk menahan perih. Seorang yang tidak sakti mandraguna, melainkan geraham dan giginya lepas pada perang Uhud, beliau menyayangkan sikap ummatnya, tetapi beliau lalu ditegur oleh Allah[3]. Seorang pemimpin perang yang sekaligus seorang suami nan bersahaja yang juga bingung kala istri-istrinya menuntut uang tambahan lebih dari Ghanimah perang, sampai beliau harus menyepi selama sebulan sampai turun wahyu menegur sikap para istrinya.

Seorang dengan derajat kedekatan yang sangat tinggi pada Allah, sehingga namanya disandingkan dalam syahadat. Siapa mengakui Allah sebagai Tuhannya, maka mesti pula mengakui Muhammad sebagai yang diutusNya. Tetapi pada saat yang sama tak pernah disebut guru atau maha guru oleh ummatnya, melainkan orang-orang sezaman mengakrabinya sebagai sahabat. Hubungan pertemanan sesama makhluk Tuhan, bukan Guru-Murid.

Agaknya hubungan egaliter semacam itulah yang menyentuh hati Bilal Bin Rabbah. Sehingga berbulan-bulan menangis tak mampu melantunkan azan pada puncak menara masjid selepas kewafatan Rasulullah SAW. Bagaimana hendak melantunkan azan, bila setiap kali azan mengingatkan akan kebersahajaan beliau. Seorang pemimpin negara yang mengangkat budak hitam legam yang terhinakan menjadi pelantun azan.

Semakin dia manusiawi, semakin orang-orang mensaluti pribadinya. Saat kesehariannya semakin dekat dengan keseharian kita, maka kita menjadi mengerti seperti apa beban yang dipanggulnya. Karena sakit di kita, sama dengan sakit di beliau. Tetapi sabar di beliau, melintasi titik paling nadir yang bisa dicapai oleh siapapun saja.

Dari seseorang yang sangat manusiawi inilah kita belajar mengenal Tuhan, dan menata akhlaq dalam cerita hidup beliau yang menyejarah. Dari “pertemanan” yang mencerahkan itulah kita mendengar kisah Bilal yang saat disiksa dihimpit batu oleh majikannya masih melafazkan zikir, Ahad….Ahad….Ahad…. (Esa-nya Allah).

Telah banyak kita dengar, bahwa Sang Nabi yang manusiawi inilah yang telah “diramalkan” dalam banyak manuskrip. Seorang nabi yang akan datang untuk mencerahkan ummat. “Ramalan” menyebutnya dalam banyak aksara dan istilah, tetapi artinya satu jua. Muhammad. Yang Terpuji.

~~~~~~~~~

[1] Rasulullah wafat pada 12Rabi’ul Awwal 11 H pada usia enam puluh tiga tahun lebih empat hari (Sirah Nabawiyah, Shafiyyurrakhman Al-Mubarakfury)

[2] (QS. 80: 1-16)

[3] (lalu beliau berkata “bagaimana bisa suatu kaum akan memperoleh kebahagiaan sedang mereka melumuri wajah Nabi mereka dengan darah”, ucapan beliau ditegur oleh Allah SWT lewat Ali Imran : 128 yang kurang lebih menyatakan bahwa tak ada campur tangan beliau dalam kebijakan Allah SWT; apakah mengilhami orang-orang tersebut penyesalan ataukah menyiksa mereka tersebab kedurhakaan). Membaca Sirah Nabi Muhammad, Quraish Shihab

DIBALIK TABIR KETERATURAN (3)

Dalam satu riwayat, Adam a.s berdebat dengan Musa a.s di Syurga. Musa mengatakan kepada Adam a.s bahwa karena Adam-lah ummat manusia dikeluarkan dari Syurga. Kemudian Adam menjawab kepada Musa a.s, bagaimana bisa Musa menyalahkan Adam atas sesuatu yang telah tertulis?

“Adam dan Musa bertemu, Musa berkata kepada Adam; ‘Wahai Adam, engkaulah orang yang telah mencelakakan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga.’ Lalu Adam ganti berkata kepada Musa; ‘Wahai Musa, Bukankah Allah telah memilihmu dengan risalah dan kalam-Nya (diajak bicara secara langsung), dan Allah juga telah menurunkan kepadamu Taurat? Musa menjawab; ‘Ya.’ Adam berkata lagi; Bukankah kamu mendapatkan di dalamnya bahwa hal itu telah ditetapkan kepadaku sebelum aku diciptakan? Musa menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: “Maka Adam dapat mengalahkan Musa.” (H.R. Bukhari No. 4367)[1]

Yang jadi menarik adalah, apakah BERDALIH atas nama takdir seperti itu dibolehkan?

Pembicaraan ini sangat ramai sejak zaman dahulu. Ibnu Qayyim menjelaskan dengan sangat apik dalam bukunya “Qadha dan Qadhar”. Tetapi sebelum kita pantau bersama penjelasan beliau, tentu sangat elok jika kita mendudukkan kembali perbincangan ini dalam urutan yang sinambung dengan pembahasan sebelumnya.

Yang pertama bahwa orang-orang yang telah “Musyahadah”-lah yang dapat menyaksikan kesempurnaan pengaturan Allah di muka bumi. Dan bahwa segala yang terjadi pastilah dalam tujuan manifestasi Asma dan SifatNya (baca DISINI)

Yang kedua bahwa setinggi-tingginya Musyahadah mestinya tidak membuat seorang hamba meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan dan menyebut buruk pada keburukan. (baca DISINI)

Saya kutipkan lagi dari buku Ibnu Qayyim. Sebagian kalangan yang mempelajari tentang takdir, banyak mensikapi mengenai kesempurnaan Qada dan Qadar dengan sedikit kebablasan. Membuat mereka selalu berdalih atas nama takdir.

Contoh yang agak ekstrim adalah seperti ini. Karena mereka tahu bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan, maka mereka berdalih dengan mengatakan bahwa  KEJAHATAN ATAU DOSA yang mereka lakukan-pun adalah bentuk ketaatan. Kenapa? karena dengan melakukan kejahatan / dosa maka mereka sudah memenuhi iradah atau kehendak Allah.

Orang ini, BERDALIH atas nama takdir. Alasannya sederhana saja, Adam a.s saja berdalih dengan nama takdir saat berdebat dengan Musa, kenapa saya tak boleh berdalih juga atas nama takdir?

Banyak ungkapan ganjil dari orang-orang yang berdalih atas nama takdir, semisal begini, “Orang yang arif (mengerti) tidak akan menjauhi kemungkaran selamanya, karena ia memahami rahasia Allah Ta ‘ala dalam penetapan takdir-Nya.” Ganjil, bukan?

Ibnu Qayyim menjelaskan, dimana letak perbedaan antara nabi Adam a.s dan orang-orang  yang keliru untuk telah BERDALIH atas nama takdir sebagai justifikasi dosa yang SEDANG mereka lakukan. Tetapi sebelum kita kutip penjelasan Ibnu Qayyim mengenai perbedaannya, rupanya Al Qur’an pun mengabadikan kisah orang-orang yang BERDALIH atas nama takdir untuk menjustifikasi dosa yang SEDANG mereka lakukan.

Dan Orang-orang musyrik berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa izin-Nya.” Demikian juga yang diperbuat orang-orang sebelum mereka, maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al-Nahl 35)

Seolah-olah orang musyrikin berkata, ngapain kamu menasihati kami, kalau Allah mau kami beriman maka kami beriman. Dalam lain kata, biarkanlah kami berbuat dosa, jangan ikut campur, ini Allah sendiri yang menuliskan kami berbuat dosa.

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Nafkahkanlah sebagian dari rezki yang diberikan Allah kepada kalian,” maka orang-orang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kalian melainkan dalam kesesatan yang nyata.” (Yaasin47)

Saat diperintahkan menafkahkan sebagian rizki, maka mereka BERDALIH lagi dengan mengatakan kenapa kita harus memberi makan orang-orang yang kalau Allah mau mentakdirkan mereka makan; pastilah mereka makan.

Ternyata Qur’an sudah mengabadikan banyak sekali golongan yang BERDALIH atas nama takdir untuk sebuah dosa yang SEDANG mereka lakukan. Dan ini menimbulkan kekisruhan.

Apa bedanya orang-orang itu, dengan Nabi Adam a.s yang juga BERDALIH atas nama takdir? Ibnu Qayyim menjelaskan kurang lebih seperti berikut, saya rangkumkan point-pointnya:

Pertama, Allah mentakdirkan segalanya ini berlaku, dalam sebuah game-plan besar yaitu mengenalkan tentang diriNya. Maka pada sisi manusiawi, segala takdir yang SEDANG berlaku mestilah disikapi dengan sikap batin yang “mengandalkan” Allah untuk kembali kepada Allah. Karena hanya Allah yang mampu mentakdirkan orang itu beramal. (intinya adalah kita berupaya mengenal Dia lewat kejadian apapun)

Saya masih ingat salah satu syarahan seorang guru tentang DOSA. Yang beliau sampaikan itu baru sekarang saya mengerti bahwa sangat senada dengan maksudnya Ibnu Qayyim.

kata beliau kurang lebih: saat kita SEDANG berada pada kondisi berdosa, kita harus ingat bahwa hanya Allah semata yang bisa selamatkan kita. Karena dorongan hendak melakukan dosa itu pun sejatinya telah masuk dalam Qada dan Qadar-Nya. Maka menyikapinya adalah, kita “kembali” pada Allah, “mengingatNya” dan minta tolong Allah agar selamatkan kita dari dorongan berbuat dosa. Bukan mengandalkan kemampuan diri beramal semata-mata tetapi lupa menyandarkan amal pada pertolongan Allah.

Maka barulah dengan cara pandang seperti itu kita akan mengerti dialektika berikut ini, ada ayat yang mengatakan ini “Yaitu bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. ” (Al-Takwir 28)…. tapi di sisi lain Allah mengatakan begini “Dan kalian tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali jika dikehendaki Allah. ” (Al-Insan 30)

Kita disuruh menempuh jalan lurus, lalu kita diberitahu bahwa tak akan mampu kalau tak Allah tolong.

Maksudnya adalah, justru dengan mengetahui tentang takdir-lah, orang-orang akan semakin beramal dan mengandalkan Allah (meminta pertolongan Allah atas amal yang dia lakukan) bukan mengandalkan dirinya sendiri. Karena tidak ada yang mampu membuat mereka beramal, dan tidak ada yang mampu menghindarkan kita dari dosa, selain dari Allah sendiri.

Dialektika itu hanya akan dipahami oleh yang mengerti tentang kuasa Allah atas takdir.

Begitulah kita harusnya bersikap. Semakin mengetahui kuasa Allah atas takdir, mengetahui la hawla wa la quwwata illah billah, semakinlah kita mengandalkan Allah dalam segala lini hidup. Bukan sebaliknya, malah BERDALIH dengan takdir atas dosa yang SEDANG kita lakukan.

Nah…. apa bedanya dengan berdalih yang dilakukan Nabi Adam a.s.?

Bedanya adalah, Nabi Adam a.s. berdalih atas sesuatu yang sudah lewat, dan sesuatu itu telah ditaubati oleh Nabi Adam a.s.

Setiap kejadian hidup, adalah untuk mengenalkan-Nya.  Sebuah kenyataan bahwa kita TERLANJUR berbuat dosa-pun, sejatinya adalah cara Allah mengundang kita “kembali” padaNya lewat jalur pertaubatan.

Jadi…jika seseorang berdosa, lalu dosanya mengantar dia kembali pada Allah lewat jalan pertaubatan, itu sudah sesuai alur yang benar.

Seperti Nabi Adam a.s. Dosa yang TERLANJUR dia lakukan, menjadikan dia lebih mengenal Allah pada AsmaNya Al-Ghafuur, beliau bertaubat bersama Hawa, dan melanjutkan hidup dalam pengenalan yang lebih dalam akan Allah SWT (karena kenal AsmaNya satu lagi, Yang Maha Pengampun).

Nah… saat seseorang sudah melakukan pertaubatan sampai sebegitu jauhnya, dan sudah meninggalkan dosanya, dan dosanya malah mengantarnya menjadi orang yang “kembali” pada Allah lewat jalan penyesalan; maka saat semua itu sudah dilakukan, masih ada yang mengungkit-ungkit, kita disudutkan oleh orang lain atas dosa silam yang telah ditaubati; bolehlah dia mengatakan -seolah olah- kenapa kamu mencelaku, itu sudah tertakdir, dan lewat takdir itulah aku menjadi semakin mengenalNya, lewat takdir itu aku kembali padaNya.

—–

[1] Telah menceritakan kepada kami [Ash Shalt bin Muhammad] Telah menceritakan kepada kami [Mahdi bin Maimun] Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Sirin] dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adam dan Musa bertemu, Musa berkata kepada Adam; ‘Wahai Adam, engkaulah orang yang telah mencelakakan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga.’ Lalu Adam ganti berkata kepada Musa; ‘Wahai Musa, Bukankah Allah telah memilihmu dengan risalah dan kalam-Nya (diajak bicara secara langsung), dan Allah juga telah menurunkan kepadamu Taurat? Musa menjawab; ‘Ya.’ Adam berkata lagi; Bukankah kamu mendapatkan di dalamnya bahwa hal itu telah ditetapkan kepadaku sebelum aku diciptakan? Musa menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: “Maka Adam dapat mengalahkan Musa.”H.R. Bukhari No 4367

DIBALIK TABIR KETERATURAN (2)

Telah kita ketahui, berdasarkan pembahasan Ibnu Qayyim bahwa di dunia inilah Allah SWT memanifestasikan kenyataan akan Asma dan Sifat yang dia miliki.

Telah pula kita ketahui, dengan begitu mengertilah kita bahwa tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi dengan random dan tanpa arti. Pastilah berhikmah. Dan hikmah itu antara lain adalah mengajari manusia tentang DIA, lewat cerita tentang Asma dan Sifat yang dia miliki pada seluruh lini kejadian hidup yang kita jalani.

Yang Ibnu Qayyim ungkapkan ini, barulah belakangan saya sadari bahwa rupanya senada dengan maksud Ibnu Athoillah walaupun dalam bahasa yang berbeda.

Ibnu Athoillah dalam aforismanya di Al-Hikam mengatakan “Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”

Maksud beliau ternyata begini. Semua nama-nama Allah adalah “husna” (Asmaul Husna). Dan sebab itulah segala sifatNya baik, karena bertujuan mengajari manusia. Maka orang yang arif adalah orang-orang yang berbaik sangka pada Allah karena mengerti bahwa segala yang terjadi merupakan manifestasi Asma dan SifatNya, yang juga berarti bahwa semuanya sebenarnya “baik”. Maka dalam ujian hidup pun mereka berbaik sangka pada Allah, karena sangat mengerti bahwa kejadian hidup dan kesulitan apapun yang mereka alami sejatinya bukan karena Allah ingin menyiksa, tetapi karena Allah ingin mengajarkan tentang sifat-sifatNya kepada manusia.

Senadalah hal itu dengan yang dimaksud Ibnu Qayim tadi.

Akan tetapi, sebuah hal sangat indah dituliskan Ibnu Qayim dalam bukunya yang lain, yaitu “Qada dan Qadar”, dimana beliau mengoreksi kesalahan sebagian kalangan yang sudah mencapai taraf “musyahadah” atau sudah “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah dimana-mana itu.

Apa yang Ibnu Qayyim koreksi, bisa kita lihat pada cuplikan di bawah ini.

“Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.”

Agar tidak terlampau abstrak, mungkin kita coba menggambarkan seperti ini. Dari penggambaran seperti ini insyaAllah kita akan memahami apa hal yang dikoreksi oleh Syaikh Ibnu Qayyim untuk orang-orang yang sudah Musyahadah. (Tentu kita pahami bahwa Ibnu Qayyim-pun sudah “musyahadah”, berarti ini adalah sebuah dialektika yang cantik antar para “penyaksi”)

Sebuah gejolak perasaan yang seringkali di alami oleh orang-orang yang sudah “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah dimana-mana, adalah mereka menjadi tahu bahwa semuanya itu sebenarnya “netral”. Tak ada baik tak ada buruk. Baik dan buruk itu ada setelah Allah menetapkan suatu hukum.

Ini sebuah contoh lagi supaya tidak terlampau abstrak.

Umat Nabi Musa a.s. pada zaman itu dikenai sebuah larangan, yaitu larangan bekerja di hari sabtu. Kalau kita nilai larangan itu dengan kacamata zaman sekarang, bukankah itu sebuah larangan yang aneh? Apa kesalahannya bekerja di hari sabtu?

Tapi… itulah “hukum” yang Allah tetapkan untuk mereka, pada zaman itu. Sehingga, bekerja mencari nafkah –sekalipun halal pekerjaannya- tetapi jika dilaksanakan pada hari sabtu merupakan pelanggaran. Orang yang bekerja di hari sabtu, menjadi orang yang keji.

Pertanyaannya, adakah “bekerja” itu merupakan sebuah perbuatan yang keji? Sama sekali tidak, bukan? Atau adakah “hari sabtu” itu hari yang keji? Tentu saja tidak, bukan?

Tetapi “bekerja” menjadi dinilai “keji” karena Allah membuat sebuah “hukum” agar bekerja di hari sabtu tidak boleh. Maka yang keji bukan pada “bekerja”-nya itu sendiri, tetapi pada pelanggaran terhadap titah Tuhan.

Sama juga dengan perumpamaan begini. Seekor ayam, boleh saja memakan makanan yang ditemukan ayam lain. Bila perlu berkelahi sampai satu ayam lain mati. Tidak ada yang mengatakan ayam itu “keji”. Kenapa? Karena tidak ada sebuah norma bahwa mencuri itu tidak boleh pada tatanan masyarakat ayam. Tetapi, pada masyarakat manusia ada tatanan seperti itu, yang Allah buat.

Jadi, sejatinya yang “keji” bukanlah mengambil makanan-nya, yang keji adalah pelanggaran terhadap titah Allah.

Begitulah, bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini sejatinya sebagai pengejawantahan Asma dan SifatNya, dan ternyata segala sesuatu itu adalah “netral” dalam tanda kutip, sesuatu itu menjadi memiliki norma boleh-dan tidak boleh, keji dan mulia, adalah setelah norma itu Allah yang tentukan. Bukan semata-mata karena perbuatan itu sendiri.

Nah…. Kesadaran seperti itulah yang kadang kebablasan. Sehingga, kata Ibnu Qayyim, sebagian orang-orang yang mencapai taraf “musyahadah” atau “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah dimana-mana, dia menjadi sungkan, dan tidak mau lagi menegur untuk mengatakan yang benar itu benar yang salah itu salah.

Kenapa kebablasan seperti itu? Antara lain karena mereka mengerti bahwa segala sesuatu adalah penzahiran cerita Asma dan SifatNya, hal lainnya adalah karena mereka mengerti bahwa dibalik segala sesuatu pastilah ada hikmah yang manusia tidak tahu.

Sikap inilah yang dikoreksi oleh Ibnu Qayyim. Sehingga beliau mengatakan bahwa, meskipun seseorang itu sudah “musyahadah” atau “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah SWT di bumi ini, itu tidak lantas membuat orang tersebut meninggalkan upaya menyebut kebaikan pada yang baik, menyebut keburukan pada yang buruk.

“Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.”[1]

Sebuah analogi yang sederhana adalah begini. Seandainya kita melihat ada seorang pencuri di depan kita, maka kita tangkap pencuri itu dan kita bawa ke polisi untuk kemudian diadili. Betapapun kita sudah mengerti bahwa boleh jadi sang pencuri itu ada karena sebenarnya manifestasi dari sifat pengampunannya.

Atau sebuah contoh lain. Bagi umat islam babi adalah haram. Kemudian para saintis berusaha menyingkap tabir dan melihat macam-macam tipe cacing ada pada babi. Kemudian apakah jika cacing-cacing berbahaya telah bisa dihilangkan dari babi, maka babi menjadi halal? Tentu saja tidak. Kenapa tidak? Karena bukan masalah cacingnya, tetapi masalah “titah”nya. Sebuah hal menjadi halal atau haram karena titah. Kita ikut “game-plan”nya Allah.

Sekali lagi, itu sama persis seperti pembahasan mengenai bekerja di hari sabtu bagi Yahudi di zaman Musa a.s. bukan bekerjanya yang membuat itu terlarang, bukan pula hari sabtunya, tetapi karena ada titah Allah yang membuat sebuah hukum berlaku seperti itu, maka seperti itulah hukum yang harus kita jalani. Kita ikut “game-plan”nya Allah.

Ya sama juga dengan cerita Nabi Adam a.s. Mosok gara-gara makan buah kemudian diusir dari syurga? Ya tentu saja. Karena bukan masalah buah-nya. Tetapi masalah titahnya. Allah yang membuat norma-norma. Kita ikut “game-plan”nya Allah.

Dan kesimpulannya saya kutipkan lagi dari bukunya Ibnu Qayyim. Bahwa suatu perbuatan itu memiliki dua sisi. Pertama sisi yang berkaitan dengan  Tuhan (kesempurnaan Qada dan QadarNya), dan yang kedua adalah sisi kemanusiaan (norma benar-salah yang sudah Allah buat untuk manusia).

Kesempurnaan akan terwujud, jika salah satu dari dua sisi kacamata itu tidak hilang. Pada satu sisi orang yang sudah musyahadah akan menyadari qadha, takdir, kehendakNya dalam memanifestasikan Asma dan Sifat. Tetapi pada saat yang sama juga dia menyaksikan perbuatan, kejahatan, atau ketaatan dalam kaitannya dengan norma yang sudah Allah SWT susun untuk diikuti “game plan”-nya di dunia ini.

Singkat kata seperti para Nabi. Setinggi-tinggi “musyahadah”, tetapi tetap mengajarkan manusia bahwa yang ini benar, yang itu keliru. Meskipun mereka tahu, benar dan salah itu sejatinya bukan karena perbuatannya, tetapi karena norma yang Allah sudah susun. Dan sejatinya mereka juga tahu, bahwa segala yang terjadi telah sempurna karena merupakan manifestasi Asma dan Sifat yang Dia miliki

Wallahualam

—-

[1] Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam bukunya “Qada dan Qadar”, mengutip pengarang buku Manazilus Sa’irin.