MENITI JALAN KEFAKIRAN

Sang penghulu Para Nabi, Jenderal orang-orang suci, sebaik-baik pecinta,  dan Jika boleh menyebutnya “pejalan”; maka beliau sesabar-sabar manusia yang meniti jalan “pulang”. Rasulullah SAW, Seorang pemimpin besar yang dalam do’anya meminta untuk dihidupkan dalam keadaan miskin, mati dalam keadaan miskin, dan dikumpulkan dalam kelompok orang-orang miskin.1)

Miskin, adalah metafora, dari rasa fakir dan rasa butuh terhadap Allah.

Gelegak rasa fakir dan butuh terhadap pertolongan Allah itu; seringkali baru bisa dicerna oleh orang yang kesehariannya dilumuri dengan takdir yang membelit dan membanting-banting. Yang menghancurkan egonya sampai tak bersisa. Meruntuhkan keakuannya sampai–menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani- seperti tempayan pecah. Yang mau tak mau memunculkan rasa fakir. Rasa hina-dina. Rasa jelek, dan rasa tak akan mampu “Sampai” ke tujuan tanpa pertolongan Allah.

Kadang-kadang saya merenung, seperti apa gejolak rasa yang dialami orang-orang itu? Yang menjalani takdir penghambaan sampai ke titik paling nadir. Apakah tak ada gejolak? Apakah selalu tenang dan tak merasa berat?

Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. At-Taubah: 41)

Ternyata sejarah juga merekam bahwa meniti jalan penghambaan itu berat. Meskipun untuk orang-orang sekualitas mereka.

Siapa yang tak berat meninggalkan anak dan istri pada lembah tak berpenghuni, Makkah, seperti Ibrahim? Yang sampai hampir tak terjawab ketika hajar melontar tanya berkali-kali, “kenapa kau tinggalkan kami?”.

Siapa yang tak akan berat, saat memimpin sebuah Risalah pada masa dimana Keturunan Laki-laki merupakan pertanda kemuliaan nasab, lalu saat anak laki-laki yang didamba kemudian lahir; tak lama diambil lagi oleh Sang Penciptanya. Nyatanya Rasulullah SAW menangis. Seorang sahabat bertanya kenapa beliau menangis, beliau jawab bahwa tangisan itu adalah rahmat.2)

Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. At-Taubah: 41)

Jika kita diperintah berangkat baik ringan maupun berat, berarti rasa berat itu memang ada. Dan rasa berat yang “indah” adalah rasa berat yang memunculkan rasa fakir –tersebab meski berat; tetap menjalankan apa yang Allah suruh-. Rasa berat yang memecahkan tempayan “keakuan”.

Saking beratnya gejolak rasa yang dititi dalam jalan kefakiran itu, dalam pada kesedihan ditinggal Khadijah dan pamannya, Rasulullah SAW berdo’a di bawah pohon anggur, kala kepalanya mengucurkan darah akibat dilempari batu oleh penduduk thaif, kata beliau:

“Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai diriku? Tetapi asal Kau tidak murka padaku, aku tidak perduli semua itu. –Hanya saja, kesehatan dan karunia-Mu lebih lapang bagiku-

Gejolak rasa berat itu ternyata memang ada. Tetapi rasa berat yang “indah” ternyata adalah rasa berat yang memunculkan sikap fakir dihadapan Allah. Seperti yang dititi para Nabi dan orang-orang shalih sepanjang sejarah. Orang-orang yang lebih mengkhawatiri saat senangnya ketimbang saat dukanya. Sebab saat dukanya; timbul rasa fakir pada Tuhannya.

Maka saat kita dihantam kesulitan hidup, bagaimana tak teringat kita pada Orang-orang shalih? Sebaik-baik drama kesabaran. Seindah-indah akhlaq keridhoan.

Meski menangis dan rasa bergolak itu memang ada, tetapi pergolakan kesedihan yang “cantik” rupanya memunculkan rasa fakir dan butuh terhadap pertolongan Allah.

Saat meniti jalan kefakiran dengan susah dengan payah itulah, kita rindu untuk bertemu mereka. Teman-teman yang mengajarkan kita memandang hidup dengan benar. Teman-teman terbaik di tempat terbaik.

Bahkan Rasulullah pada menjelang akhir hayatnya berdo’a: “Ya Allah ampunilah bagiku, rahmati diriku, dan pertemukan aku dengan ar Rafiq al A’la”. 3)

Sebagian orang-orang alim mengatakan Rafiq al A’la berarti sebaik-baik teman.

Sebagaimana saat dilanda ujian; kita merindukan para Nabi dan orang-orang shalih; Ternyata begitu juga para Nabi. Pada akhir hayatnya ditawarkan apakah memilih dunia ataukah akhirat? Maka Sang Nabi menjawab “Rafiq al A’la” beliau memilih sebaik-baik teman, di sebaik-baik tempat.

Maka wafatlah beliau SAW, menjumpai orang-orang yang semasa hidupnya; hidup dalam kemiskinan, dan mati dalam kemiskinan. Miskin adalah metafora, dari rasa fakir dan butuh terhadap Allah.

gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini  

References

1. “Allahumma Ahyinii Miskiinan, wa Amitnii Miskiinan, wahsyurniii fii Jumratil-masaakiin” Artinya : “Ya Allah ! Hidupkanlah aku dalam keadaan MISKIN, dan matikanlah aku dalam keadaan MISKIN, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang MISKIN”. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah
2.  Anas bin Malik berkata: “Rasulullah masuk (*di rumah ibu susuan Ibrahim)menemui Ibrahim yang dalam keadaan sakaratul maut bergerak-gerak untuk keluar ruhnya. Maka kedua mata Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallampun mengalirkan air mata. Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata, “Wahai Abdurrahman bin ‘Auf, ini adalah rahmah (kasih sayang)”. Kemudian Nabi kembali mengalirkan air mata dan berkata,“Sungguh mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridhoi oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim”(HR Al-Bukhari no 1303)
3. Sunan at Tirmidzi, Kitab ad Da’awat, hadits nomor 3418 : Memberitakan kepada kami Harun; memberitakan kepada kami Abdah, dari Hisyam bin Urwah, dari ‘Abbad bin Abdillah bin az Zubair, dari Aisyah berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah di hari menjelang wafatnya: “Ya Allah ampunilah bagiku, rahmati diriku, dan pertemukan aku dengan ar Rafiq al A’la”. (Abu Isa at-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan sahih
Iklan

One thought on “MENITI JALAN KEFAKIRAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s