Sejarah (TIDAK) ditulis orang-orang besar

“Aku sungguh-sungguh mulai menelan Al Quran ditahun 28. Jaitu, bila aku terbangun aku membatjanja. Lalu aku memahami Tuhan bukanlah suatu pribadi. Aku menjadari. Tuhan tiada hingganja, meliputi seluruh djagad. Maha Kuasa. Maha Ada. Tidak hanja disini atau disana, akan tetapi dimana-mana. Ia hanja satu. Tuhan ada diatas puntjak gunung, diangkasa, dibalik awan, diatas bintang-bintang jang kulihat setiap malam. Tuhan ada di Venus, dalam radius dari Saturnus. Ia tidak terbagi-bagi dimatahari dan dibulan. Tidak. Ia berada dimana-mana, dihadapanku, dibelakangku, memimpinku, mendjagaku. Ketika kenjataan ini hinggap dalam diriku, aku insjaf bahwa aku tidak perlu takut-takut lagi, karena Tuhan tidak lebih djauh daripada kesadaranku. Aku hanja perlu memandjat kedalam hatiku untuk menemuiNja. Aku menjadari bahwa aku senantiasa dilindung-Nja untuk mengerdjakan sesuatu jang baik. Dan bahwa Ia memimpin setiap langkahku menudju kemerdekaan.”

Potongan paragraf di atas, saya kutip bulat-bulat dari tulisan Soekarno dalam autobiografinya. Saya tertarik membaca biografi seseorang, terlebih yang diceritakan oleh orang itu sendiri. Karena dengan membaca dari sudut padang pelaku itu sendiri; ternyata kita bisa melihat secara jelas alasan-alasan yang dikemukakan seseorang dalam mengambil sebuah tindakan; atau dari sudut yang lain kita menjadi mengerti seperti apa cara Allah “mengajari” orang tersebut.

Contoh paling ideal dan maksum tentu saja Rasulullah SAW, karena terbimbing oleh wahyu. Tetapi kita sepakati bahwa siapapun saja dalam hidup ini bisa menjadi “guru” kita, dalam artian kitalah yang berniat  belajar dan menyaring hikmah dari frame hidup orang lain yang kita “baca”.

Dan kembali mengenai paragraf di atas, apa konteks Soekarno menulis ungkapan tersebut? Ungkapan itu ternyata ditulis pada saat Soekarno dipenjarakan di Bandung. Sukamiskin. Selama empat tahun pengasingan yang sepi dan menjemukan. Di dalam pengasingan, di dalam penjara, kata Soekarno, banyak orang-orang yang menjadi gila dan terguncang jiwanya. Karena kesepian itu “membunuh”. Tetapi, saya mengamati bahwa Soekarno sendiri menjadi bertemu dengan islam dan paham tentang Tuhan di dalam penjara.

Saya ambil kertas, lalu saya menggambar timeline pola yang membuat kisah hidup Soekarno terbaca dengan lebih jelas. Dia hidup dalam didikan keluarga yang tidak terlalu nyar’I dalam Islam. Persentuhan pertamanya dengan islam adalah ketika dia ditakdirkan nge-kos di rumah seorang Bapak Bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto yang mewarnai cara dia berfikir.

Lepas dari Surabaya, dia berpindah ke Bandung menyelesaikan studi dan menjadi besar di Bandung dalam kerumunan massa dan retorikanya yang membakar orang-orang untuk merdeka. Saat popularitasnya menanjak naik, disitulah…..pada jenak melambungnya namanya, Allah takdirkan dia ditangkap oleh Belanda dan dijebloskan ke penjara.

Empat tahun…empat tahun yang lama dan sepi. Tahun-tahun yang membuat banyak orang di penjara yang sama menjadi tidak waras dan sakit. Tetapi Allah mengajarinya disana.

Ceritanya memang masih panjang. Kita mafhum pada akhirnya dia memproklamirkan kemerdekaan. Dan konfliknya dengan Kartosuwiryo yang rekannya sendiri. Juga konfliknya dengan Ulama besar Buya Hamka. Tetapi itupun cerita takdir.

Yang membuat saya tersenyum membaca kisah dia dipenjara saya teringat “Tempayan Pecah”nya Syaikh Abdul Qadir Jailani. Barulah saya mengerti bahwa dalam konteks menghilangkan ke-akuan itu jugalah saya rasa Soekarno digiring ke Penjara oleh takdir. Dan nyatanya dia “menemukan makna kedekatan dengan Tuhan” disana. Di dalam penjara.

Saya kutip lagi apa yang ditulis Soekarno: “Tak pernah orang meragukan adanja Jang Maha Esa kalau orang bertahun-tahun lamanja terkurung dalam dunia jang gelap. Seseorang merasa begitu dekat kepada Tuhan pada waktu ia mengintip melalui lobang ketjil dalam selnja dan melihat bintang-bintang, kemudian merunduk disana selama berdjam-djam dalam kesunjian jang sepi memikirkan akan suatu jang tidak ada batasnja dan segala sesuatu jang ada. Pengasingan jang sepi mengurung seseorang samasekali dari dunia luar. Karena pengasingan jang sepi inilah aku semakin lama semakin pertjaja. Tengah malam kudapati diriku dengan sendirinja bersembahjang dengan tenang.”

Gemetar saya membaca ini. Rasanya ingin menangis. Bukan karena Soekarno…Bukan…Tetapi karena terbayangkan cara Allah mendidik. Allah mendidik lewat kejadian hidup. Yang seringkali keras dan membanting-banting, Ya Rabbi…saya gemetar.

Allah memasukkan siang ke dalam malam, memasukkan malam ke dalam siang. Memunculkan kebaikan dari suatu yang nampaknya buruk. Menyelipkan keburukan dalam sesuatu yang kita kira baik. Semua dalam rangka mengajar.

Siapa yang tahu, bahwa Soekarno justru akan mendapatkan pencerahan di dalam penjara Sukamiskin di Bandung? Tak ada… Justru karena ketidak mengertian itulah, maka para pejuang pemuda bersedih karena ditangkapnya Soekarno. Tetapi dia ditangkap justru mematangkan pengertiannya tentang Tuhan. Begitulah cara Tuhan mengajar.

Seperti Puzzle, ya? Setiap orang memiliki potongan puzzlenya sendiri. Semua puzzle kalau disatukan menjadi sebuah gambar yang utuh. Pelukis gambar yang utuh itu adalah Allah SWT. Dan manusia tak selalu mengerti –atau mungkin tak pernah mengerti- seperti apa gambar besarnya rencana takdir itu. Apa hikmah dibaliknya. Dan hikmah yang terungkap saya percaya juga mungkin masih terlalu kecil dibandingkan plot raksasanya kalau dilihat bahwa cerita manusia ini sudah membentang sejak penciptaan Adam a.s.

Umpama polisi melihat seorang penjahat. Tiadalah yang polisi bisa lakukan selain dari menjalankan peranan puzzlenya, yaitu mengejar sang penjahat, menangkap, bila perlu menembaknya kalau melawan. Itulah peranan polisi. Tetapi sang polisi yang arif mestilah sadar bahwa keseluruhan cerita tak akan pernah bisa dimengerti. Kenapa orang ini jahat? Apakah faktor keluarga? Apakah difitnah? Apakah karena kekurangan asupan ilmu dan pendidikan? Apakah melawan sistem sosial yang dia rasa keliru?

Jika tiap orang sadar bahwa cerita yang lengkap tidak akan pernah dimengerti dari sudut pandang manusia; maka saya rasa setiap peranan akan berbenturan dengan cantik. Dengan indah dan saling mensenyumi peranan lainnya. Do your part lah…. Dan jangan menghakimi orang lain pasti Syurga pasti neraka.

Jika Ali dan Aisyah saja bertemu di gelanggang. Jika Musa dan Khidir saja berpisah jalan. Apatah lagi orang macam kita?

Saya teringat dengan seloroh sebuah perumpamaan. “Sejarah ditulis oleh orang-orang besar”.

Kata-kata itu sempat membakar saya juga, dulu, saya ingin jadi orang besar.

Tetapi baru kini saya mengerti. Saya dulu keliru. Sejarah itu ditulis oleh Allah, dan orang-orang besar jarang menyadari bahwa mereka hanya bagian dari plot. MAHA PLOT. Sebuah rencana besar. Puzzle kehidupan raksasa. Melampaui sekedar Soekarno, sekedar Hatta, Sekedar Kartosuwiryo, Sekedar H.O.S. Tjokroaminoto. Apalagi sekedar kita.

Pada akhirnya tak penting besar atau tidak. Yang penting adalah syukur-syukur tertakdirkan bisa membaca hikmah dari segala frame takdir yang berjalan. Duduk diam-diam di sudut. Rileks one corner. Dan mengingati Allah. Sang pembuat plot Maha Besar. Sejarah rupanya TIDAK ditulis orang-orang besar.

Gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

One thought on “Sejarah (TIDAK) ditulis orang-orang besar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s