MEMECAHKAN TEMPAYAN (1)

Seandainya kita memenangkan sebuah kompetisi menyanyi tingkat provinsi misalnya, tentulah kita bahagia. Normal sekali. Terlepas dari karena ada hadiahnya, pertanyaannya adalah kenapa kita bahagia karena menang lomba menyanyi? Karena ternyata sebuah perasaan bahwa diri kita “dianggap”, atau diri kita memiliki sebuah “pencapaian”, achievement, itu memberikan sensasi kebahagiaan.

Tengoklah Abraham Maslow, dalam “hierarchy of needs” mengatakan bahwa kebutuhan tertinggi manusia itu adalah untuk “diakui”, menjadi “ada”, “self actualization”.[1]

Saat manusia “diakui”, keberadaannya dihargai, maka ada sensasi rasa bahagia. Dan rupanya kita terus menerus mencari sensasi rasa bahagia ini lewat cara mengukuhkan keberadaan kita di tengah masyarakat.

Alurnya sederhana saja rupanya, kalau kita punya “pencapaian” yang diakui orang lain, maka berarti kita semakin “aktual”, semakin meng-ada, kalau kita meng-ada, maka kita merasakan bahagia.

Tetapi, kebahagiaan itu ternyata semu. Karena, kebahagiaan yang dibangun pada pondasi ke-akuan diri, ibarat pedang bermata dua.

Seorang guru yang arif memberitahu bahwa bersamaan dengan rasa keakuan diri, muncullah segala penyakit hati. Sebutkanlah, apa saja penyakit hati: Riya, Ujub, dengki, marah, apapun saja istilah bahasa merangkumnya; ternyata idenya juga sederhana, karena dirinya tak “diakui” maka segala sensasi kesedihan yang sempit itu muncul, dan menggrogoti.

Sesaat setelah menang lomba menyanyi, kita bahagia. Saat pulang ke rumah kita bercerita dengan semangat kepada tetangga kita atas keberhasilan kita, tetapi tetangga itu acuh tak acuh. JEDERRR…. Kita sakit hati. Tengoklah, betapa senang dan sedih itu sangat temporer. Kenapa kita sakit hati? Karena kita tak diakui.

Pengakuan, atau “keakuan diri” yang tadinya memberikan sensasi bahagia, dalam saat yang sama juga mengancam kita dengan diam-diam dan jahat, membawa sensasi kesedihan.

Rasa ke-aku-an itu pedang bermata dua. Segala kebahagiaan yang dibangun di atas pondasi rasa ke-aku-an dan rasa ingin meng-ada, pastilah semu dan suatu ketika nanti pada momentnya yang tepat; dia akan “merusak” diri kita sendiri.

Pengertian seperti itu, adalah hal yang sangat-sangat fundamental yang baru sekarang saya mengerti dari wejangan para arifin.Betapa pentingnya menghilangkan ke-aku-an.

***

YANG TIADA SEDIH DAN DUKA

Jika kebahagiaan yang dibangun di atas dasar rasa ke-akuan; adalah temporer, semu dan kerdil, fatamorgana, tentulah ada kebahagiaan sejati. Kalau kita mencontek dari cerita para Aulia, ternyata mereka adalah orang-orang yang tidak diombang-ambingkan perasaan. Hati mereka selalu tentram dan tiada gejolak.

Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).

Cukup lama juga tiada mendapatkan jawaban mengenai kenapa mereka tidak berduka cita? Dulunya saya mengira bahwa hidup mereka bahagia terus, dalam artian secara tampak mata, lahiriah, selalu menyenangkan. Tetapi malah kebalikannya, kadang-kadang kita perhatikan orang-orang Shalih malah hidup dalam segala macam bentuk kesulitan. Tetapi kesulitan itu ada pada lahiriahnya, tetapi pada batinnya, mereka tidak berduka.

Karena, mereka tidak lagi menganggap bahwa ada konteks mengenai mereka dalam hidup ini. Konteks hidup ini, tentang Allah menceritakan diriNya saja.

Sudah tentu bahasan ini akan menjadi begitu abstrak. Tetapi katakanlah begini, jika segala sesuatu adalah “diadakan” oleh Allah. Sebuah sebab “diadakan” oleh Allah, dan sebuah akibat “diadakan” oleh Allah, apakah mungkin sebuah sebab menghasilkan akibat? Jangan-jangan, hukum sebab-akibat yang selama ini kita mengerti hanyalah fatamorgana. Karena baik sebab, maupun akibat sama-sama diadakan oleh Allah, berarti penggenggam kekuasaan sejati adalah Allah SWT. Bukan segala sebab-sebab apapun yang kita pandang secara lahiriah.

Orang yang memandang segala-gala dalam konteks cerita tentang Tuhannya, dalam artian menyadari bahwa Allah SWT lah yang memiliki kuasa atas segala sesuatu; berarti hilang “diri” nya. Karena menyadari betul bahwa hampir tidak mungkin –atau memang tak akan pernah mungkin- sesuatu terjadi, tanpa Allah tuliskan sesuatu itu untuk terjadi.

La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah, tiada daya, tiada upaya melainkan karena Allah SWT[2]

Di dalam sebuah riwayat pula dikatakan bahwa saat benar-benar kita menyadari bahwa segala-gala di dalam genggaman Allah (sudah tiada ke-akuan) maka itu adalah kuncinya syurga. Kepada Abu Dzar Rasulullah berkata bahwa mengatakan La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah itu adalah perbendaharaan syurga[3]

Saya catat dari petuah orang-orang arif, bagaimana proses yang umumnya dilalui hingga seseorang itu hilang “aku”nya?

Kata syaikh Abdul Qadir Jailani, salah satu hal yang membuat seseorang itu hilang “aku”nya antara lain biasanya tersebab ujian. Ujian yang berat yang membuat segala harapan orang tersebut pada dunia-kah, pada orang lain-kah, musnah semuanya. Sehingga –masih kata Syaikh Abdul Qadir Jailani- orang ini ibarat “tempayan pecah”, hancur nafsu-nya sehingga jika keakuan itu ibarat air, di dalam tempayan diri orang itu tak lagi tersisa walau setitik air[4].

Hampir seluruh Nabi-nabi dan orang-orang salih yang kita temui, kita lihat dalam sejarah selalu mereka berada dalam kondisi seperti tempayan pecah ini. Dibanting-banting takdir, sampai tak ada lagi pengharapan mereka kecuali kepada Allah semata. Mereka itu, berarti bisa kita bahasakan sebagai
hilang “aku”nya.

Orang-orang yang sudah tidak lagi memandang konteks hidup ini dalam kesempitan pengakuan diri mereka sendiri; akan tiada duka cita. Karena, kalau hasrat untuk menjadi “ber-ada” itu sudah tiada, maka segala duka lara karena tak diakui, tak berada, tak dihargai, dan sebagainya akan sirna juga dengan sendirinya.

……..(to be continued)

[1] Wikipedia : “Maslow’s hierarchy of needs”

[2] “Man Qala La Haula wala Quwwata Illa Billahi Kana dawa’an min tis’atin wa tis’iina da’in, aisaruha al-Hammu”

(yang bermaksud:“Siapa yang mengucapkan ‘La Haula Wala Quwwata illa billahi,’ maka ia akan menjadi ubat kepada 99 penyakit. Yang paling ringan adalah kebimbangan”). (Hadis Riwayat Tabrani)

[3] Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Muhammad] telah menceritakan kepada kami [Waki’] dari [Al A’masy] dari [Mujahid] dari [Abdurrahman bin Abu Laila] dari [Abu Dzar] dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Maukah aku tunjukkan kepadamu perbendaharaan dari perbendaharaan surga?” jawabku; “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Laa haula walaa quwwata illa billah (tiada daya dan tiada upaya kecuali dengan kehendak Allah).” Hadits Ibnu Majah No. 3815

[4] Istilah “tempayan pecah” bisa dilihat dalam buku Syaikh Abdul Qadir Jailani, Futuhul Ghaib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s