MEMECAHKAN TEMPAYAN (2)

Jika kita sudah paham, bahwa kebahagiaan yang didirikan di atas pondasi rasa ke-aku-an adalah kebahagiaan yang semu, ilusi, bermata dua; disatu saat akan menjelma kesedihan. Maka tentulah kebahagiaan sejati itu adalah saat hilangnya ke-aku-an.

Hilangnya ke-aku-an, tidak berarti bahwa secara lahiriah kehidupan kita menjadi mudah, acapkali masalah tetap ada, tetapi saat kita memandang permasalahan kehidupan sebagai cara Allah bercerita –bukan tentang konteks kita pribadi-, maka hilangnya “aku” tersebut, akan berfaedah terhadap tiadanya duka lara.

Kejadian-kejadian di dalam hidup kita datang dan pergi. Dan di dalam segala kejadian hidup itu, secara LAHIRIAH, mestilah ada sempit atau lapang. Dan ternyata, ada sikap yang diajarkan pada kita agar kita bisa menghilangkan ke-aku-an –dan pada akhirnya memandang bahwa konteks segala hidup ini adalah tentang Allah bercerita tentang diriNya saja-

Sikap pertama, adalah tuntunan dalam menghadapi kelapangan. Katakanlah saat kita mendapatkan prestasi dan segala macam kemudahan hidup yang secara simple bisa dikatakan orang sebagai “pencapaian”, achievement. Sikap yang dituntunkan adalah “mengembalikan” pencapaian itu kepada Allah. Menceritakan nikmat Allah yang ada pada kita.

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu sebutkan”. (QS Adh-Dhuha:11)

Yang diceritakan adalah nikmat Tuhan. Bukan pencapaian diri sendiri.

Seumpama kita berhasil lolos pada ujian masuk sebuah perusahaan elit, yang kita ceritakan adalah bagaimana Allah mempertemukan kita pada lowongan pekerjaan itu, bagaimana ternyata dulu kita tak tertarik pada bidang studi yang kita ambil saat kuliah; tapi ternyata malah menjadi jalan kita masuk ke sebuah perusahaan yang baik, bagaimana kita merasa kemampuan berbahasa inggris jelek; tetapi kok ya bisa kebetulan pertanyaan saat wawancara sudah begitu familiar dengan kita. Dan lailn-lain. Dan lain-lain.

Saat selalu menengok kemudahan dan kelapangan yang kita dapat pada sisi yang mengingatkan bahwa segala hal itu adalah karena karunia Allah semata; maka lama kelamaan kita akan sadar bahwa sejatinya kita tiada pencapaian.

Konteks kemudahan dan kemelimpahan dalam hidup kita ternyata adalah karunia Allah, bukan karena kehebatan pribadi. Hilang “aku”nya.

Secara subjektif, saya merasakan bahwa mungkin inilah yang “terpandang” oleh Rasulullah, saat Futuh Makkah[1], penaklukkan Makkah secara besar-besaran. Dimana seisi kota yang dahulunya memusuhi beliau sekarang takluk tanpa syarat dan beliau memasuki kota dengan kewibawaan yang menggelegar. Semua musuh tunduk, menyerah, takluk dan tak berani melawan.

Tetapi bukan kepongahan karena “pencapaian” yang beliau nampakkan, justru menunduk menaiki untanya dan lisannya basah dengan istighfar. Kemuliaan yang beliau dapat, beliau sadari merupakan karunia Allah.

Kalau kita flash back sejak kematian khadijah, Abu Thalib, peristiwa dilempari di Thaif, pergi ke Madinah, Perang Badar yang gemilang, kekalahan di Uhud, dan segala macam peristiwa yang hilir mudik datang, naik-turun seperti roller coaster, tentulah sangat terbaca bahwa kegemilangan Fathu Makkah itu skenario yang sudah di plot oleh Allah. Bukan pencapaian pribadi Rasulullah dan para sahabat.

Hilang “aku” nya.

Jika menceritakan kemudahan dan kelapangan yang kita terima dalam sudut pandang “nikmat Tuhan”; akan lambat laun membuat kita hilang keakuan. Maka pada pendekatan satunya lagi, saat mendapatkan segala belit kesulitan dan kesempitan, ada juga cara agar kita hilang keakuan.

Cara kedua ini adalah dengan menjadikan segala kesulitan kita sebagai batu loncatan mendekat kepada Allah.

Cara kedua ini, secara menyedihkan sering dimaknai keliru oleh sebagian orang. Saya sering mendengar ucapan bahwa sedekah tidak boleh berharap. Ibadah harus ikhlas, tanpa embel-embel harapan apapun.

Ucapan itu benar, pada maqomnya sendiri. Agak sulit kita memahami pendekatan kedua ini kalau tidak berbicara tentang maqom, peringkat-peringkat ruhani.

Cara Allah menuntun orang untuk “kembali” kepadaNya, bermacam-macam. Ada orang yang dibelit oleh kesulitan hidup. Karena kesulitan hidup itulah, maka orang ini berdo’a kepada Allah dan meminta tolong.

Umpamakanlah hutang. Karena hutang membelit, maka orang tersebut yang tadinya enggan berdo’a dan meminta tolong, jadi terfikir untuk meminta tolong kepada Allah.

Bentuk minta tolongnya macam-macamlah. Ada yang dengan bersedekah. Sedekahnya itu, hanya sebuah ejawantah dari sikap batin yang merasa tak ada tempat lain meminta pertolongan selain daripada Allah. Ada yang sholat dhuha. Sholat dhuha, memang dikhususkan untuk meminta rezeki. Sholat hajat. Dan bahkan dalam segala sholat kita membaca pada duduk antara dua sujud, meminta “Ampunan, rahmat, ditutupi aib kita, diangkat derajat, ditambahkan rizki, permaafan, dan kesehatan tubuh” Kurang duniawi apa itu? Pendeknya, apapun konteks peribadatan yang dilakukan, asalkan berada dalam bingkai “mengembalikan” segala persoalan kepada Allah, itu sudah sesuai tuntunan.

Tentu kita paham, yang diminta adalah sesuatu yang tidak dalam tujuan foya-foya dan kesenangan semata.

Maka menjadi miris, saat orang-orang yang dibelit kesulitan hidup, ingin kembali kepada Allah lewat jalan kesulitan hidup itu tadi, kemudian malah dimarahi dan dikecam karena sholat bukan buat bayar hutang, sedekah bukan buat mendapat kekayaan.

Tentu…tentu kita tidak berbicara kekayaan untuk berfoya-foya, tetapi, semua peribadatan yang berada dalam konteks meminta pertolongan kepada Allah, itu berarti juga menghilangkan ke-aku-an.

Orang yang setiap kali dibelit kesulitan, dia berharap kepada Allah. Lama-lama akan semakin mengerti bahwa sebenarnya penggenggam sejati segala permasalahan adalah Allah SWT, lama-lama orang ini akan hilang “aku” nya. Tidak lagi mengandalkan dirinya, tetapi mengandalkan Allah.

Segala usaha yang dilakukannya, dimaknai dalam bingkai itu. “merayu” Allah. Kalau dia bekerja, maka kerjanya dalam sikap batin yang merayu Allah agar mengaruniakan rizki. Saat dia beribadah, ibadahnya juga ejawantah dari sikap butuh terhadap pertolongan Allah.

Nanti…orang-orang semacam ini akan mendewasa amalnya. Mungkin pada gilirannya nanti mereka hanya sibuk beramal saja, tanpa sebersitpun permintaan terucap dari lisannya. Tetapi itu tingkatan yang tinggi.

Dan untuk orang-orang yang baru meniti jalan pulang, karena Allah bukakan pada mereka pintu kebutuhan hidup, maka biarlah mereka meniru Zakariya a.s. Saat merayu Allah meminta keturunan:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridai” QS. Maryam [19]: 4 – 6.

Bahkan sang Nabi Pun berdo’a kepada Allah meminta keturunan. Keturunan bukankah kebendaan? Bukankah keduniawian? Tetapi bukan itu intinya. Intinya adalah bagaimana setiap kesulitan hidup apa saja yang menghimpit kita, menjadikan kita pulang ke Allah. Itu intinya.

Maka agak kurang elok saat ada orang yang kesulitan keturunan misalnya, kemudian dimarahi saat ingin mendekati Allah lewat jalan sholat-kah, sedekah-kah, baca Qur’an-kah. Lalu dibilang, jangan beribadah untuk dunia!

Bukan untuk dunia, sahabat. Tetapi mereka menjadikan segala kesulitan duniawi sebagai jalan pulang. Itu.

—-

[1] Ibnu Katsir mengatakan bahwa peristiwa Fathu Makkah inilah yang dimaksud oleh Surat An-Nashr, ketika pertolongan Allah berupa kemenangan telah datang, dan orang memasuki agama Allah dengan berbondong-bondong, kita disuruh menyucikan Tuhan, dan memujiNya, serta ber-istighfar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s