TAHU DIRI YANG “CANTIK”

Saya membayangkan, bagaimana awalnya bahasa terbentuk? Kalau kita sepakati bahwa kata-kata adalah sekadar konsensus yang disepakati khalayak untuk mewakili sebuah “makna”; maka sungguh menakjubkan membayangkan bahwa jutaan makna ternyata saling sama-sama dimengerti oleh manusia.

Karena jutaan makna itu saling sama-sama dimengerti, maka itulah kata-kata menjadi punya arti.

Kata “Marah”, kata “Sedih”, kata “gelisah”, kata “bahagia” semua mewakili makna-makna, dan makna-makna itu saling disepakati jutaan manusia sepanjang sejarah. Siapa yang sejatinya mengajar?

Sangat mustahil membayangkan, jika manusia harus memahami makna-makna melulu dari pengajaran mulut ke mulut. Alangkah capeknya? Berapa trilliun anak manusia yang harus diajari tentang makna “marah”, makna “sedih”, makna “gembira”; jika proses kita belajar hanya dari kata-kata?

Belakangan mengertilah saya, memang kata-kata bisa membawa makna-makna, tetapi ternyata lebih sering “makna” datang mendahului kata.

Setiap manusia diajari oleh Allah. Sejak bayi. Sejak kita baru mengenal dunia. Akal manusia lambat laun dijejali dengan makna-makna yang Allah susupkan. Barulah kita mencari kesesuaian makna itu dengan kata-kata yang disepakai konsensus masyarakat. Oooohh….. yang gejolak seperti ini tuh ternyata disebut “marah”, oooh…. Gejolak seperti ini ternyata disebut “gembira”. Allah yang mengajar. Dan keseluruhan manusia di dunia ini lebih seperti sebuah kelompok belajar raksasa, yang kemudian mensepakati apa yang telah diajarkan oleh Allah itu dalam istilah-istilah.

Jika Allah SWT sendiri yang mengajar, maka Allah adalah Maha Guru. Dan cara Allah mendidik tidak pernah linear. Sedangkan penulis novel saja bisa membuat plot yang berbalik-balik, apa lagi Sang Maha Penulis –Jika boleh kita menyebutNya begitu- Maha Suci Dia dari segala umpama.

Jika Allah hendak mengajarkan makna keridhoan, makna kecintaan yang total kepadaNya, maka cara Allah mengajar akan dahsyat dan menggentarkan. Ibrahim diperintah meninggalkan Ismail yang masih bayi di lembah Makkah tak berpenghuni.

Seorang ayah pasti “mengkerut” hatinya. Begitu juga Ibrahim a.s. Tetapi dengan begitulah dia mencecap makna sebenar-benar keridhoan. Kita yang belajar keridhoan dari membaca buku agama dan petuah mutiara guru-guru kearifan, juga bisa menulis tentang keridhoan. Tetapi makna yang sejati adalah yang mencecap pada lubuk hati Ibrahim a.s. Makna yang diajarkan Allah pada beliau lewat kejadian hidup.

Jika Allah ingin mengajarkan makna kesabaran, dibuatnyalah Rasulullah SAW pergi dari kampung kelahirannya karena tak diterima kaumnya sendiri. Sabar yang kita mengerti sebatas kata-kata, tetapi sebenar makna sejati adalah yang mencecap di hati Nabi dan Sahabat-sahabat yang shalih.

Jika Adam a.s tak turun ke bumi dari syurga, adam tak akan memahami sebenar-benar makna Allah Maha Pengampun, dan begitulah Allah mengajar lewat terusirnya Adam a.s dan dipisahkan beratus tahun dengan hawa, tahun-tahun yang diisi dengan mengistighfari diri, lewat lelantun yang menyejarah “rab-banaa Zalamnaa anfusanaa wa il-lam tagfir lanaa wa tar Hamnaa lanakuunan-na minal khaasiriyn (Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi)”[1]

Allah yang mengajar, dalam plot cerita yang tidak pernah linear.

Dari Ismail yang ditinggalkan di lembah Makkah berterusanlah cerita haji, zam-zam yang mengalir tanpa putus.

Hijrah Rasulullah SAW ke Madinah dibayar dengan Futuh Makkah, penaklukan menyejarah yang meruntuhkan berhala di seputaran Ka’bah dengan tangan orang-orang Makkah sendiri ikut membantu.

Dan Adam-Hawa akhirnya bertemu kembali, lalu melahirkan bertrilliun generasi yang nantinya akan memahami juga jutaan makna-makna yang Allah inginkan untuk mereka pahami. Makna-makna yang dititipkan lewat kejadian hidup yang tidak pernah monoton.

Selepas Adam-Hawa bertemu, Qabil membunuh Habil. Lalu tragedi-tragedi lain pada cicit mereka, pada cicit-cicitnya lagi. Juga drama-drama cinta yang lain pada cicit-cicit mereka ya lain. Yang tak pernah linear.

Sudah berapa ribu tahun pagelaran pengajaran ini berjalan? Rupanya bukan tentang manusia. Tetapi tentang Tuhannya. Tentang Sang Maha Pengajar yang memahamkan manusia tentang banyak sekali makna-makna, dan manusia menangkapnya lewat pemahaman indera manusia yang sempit dan terbatas. Orang arif berkata bahwa yang bisa memahami Allah sejatinya Allah sendiri.

Jika makna-makna selalunya diturunkan lewat kejadian hidup, lewat asbabun nuzul yang sesuai dengan peranan dan konteks kita masing-masing, barulah saya menyadari maksud seorang guru pernah berpesan, jangan ngoyo, jangan kalangkabut pengen cepat “bisa”. Hidup biasa sajalah. Jaga halal-haram. Jalankan syariat. Baikkan hati. Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya.

Jika Syaikh Abdul Qadir Jailani berpesan untuk “berpuas hatilah dengan apa yang ada padaMu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu”; sekarang baru saya mengerti bahwa sang Syaikh berpesan dalam konteks itu. Dalam konteks bahwa kesembronoan kita untuk meminta memahami segala makna-makna –yang berarti juga untuk segera menjadi orang-orang dengan peringkat keruhanian tinggi- jangan-jangan jika dikabulkan malah akan menyusahkan diri kita sendiri.

Jika “makna” diturunkan lewat kejadian hidup, maka ingin segera memahami segala “makna” seumpama dengan mengundang segala takdir hidup untuk menimpa kita dalam satu waktu.

Dalam konteks “tahu diri” yang cantik inilah seorang sahabat mengaku pada Rasulullah SAW. Bahwa dia mencintai suatu kaum, tapi tak mampu meniru amalan mereka. Rasulullah mengatakan bahwa dia akan membersamai sesiapa yang dia cintai.[2]

Mungkin itulah makna sholawat. Mencintai Para Nabi dan orang-orang shalih yang sudah melewati berbagai onak-duri yang memahamkan mereka makna-makna, yang dituliskan dan sampai pada kita lewat kata-kata hingga sedikit bisa kita icip-icip hari ini.

Allahuma shalli alaa sayyidina Muhammadin abdika wa nabiyika wa habibika wa rasulikan nabiyyil ummiyyi wa alaa aalihi wa shahbihi wa baarik wa sallim

———————

[1] (Al – A’raf [7] : 23)

[2] Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Humaid bin Hilal dari Abdullah bin Ash Shamit dari Abu Dzar ia bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang laki-laki menyukai suatu kaum, namun ia tidak bisa (meniru) amalan yang mereka lakukan?” beliau menjawab: “Wahai Abu Dzar, kamu akan bersama dengan orang yang kamu sukai.” Abu Dzar berkata, “Sungguh, aku menyukai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Kamu bersama siapa yang kamu sukai.” Perawi berkata, (HR. Abu Daud 4461)

*) saya pinjam gambar ilustrasi dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s