DIBALIK TABIR KETERATURAN (1)

Ada seseorang yang melihat sebuah mobil berjalan. Dan seseorang yang mengamati itu kenal dengan sang pengendara mobil. Maka sang pengamat itu akan “menyaksikan”, mengetahui, bahwa apapun saja  aktivitas yang terjadi pada mobil itu; gerak rodanya, suara klaksonnya, wiper yang bergerak, lampu sen yang berkedip; semuanya adalah sejatinya disetir oleh sang pengendara mobil. Apapun gerakan mobil tidak akan menggoyahkan keyakinannya bahwa sebenarnya semua gerakan itu disetir oleh sang pengendara.

Kondisi dimana sang pengamat sudah benar-benar sangat mengetahui bahwa sang pengendara mobil-lah sejatinya yang menggerakkan keseluruhan aktivitas mobil itu, oleh orang-orang arif disebut sebagai “penyaksian”. Penyaksian ini istilah lainnya adalah “Musyahadah”. Bukan lagi melihat gerak mobil, tetapi sudah “menyaksikan” bahwa mobil itu bergerak sebagai imbas saja dari kehendak sang supir.

Ibnu Qayyim, dalam sebuah bukunya yaitu “kunci kebahagiaan” menyebutkan bahwa orang-orang berdasarkan “ketajaman” pandangan hatinya (bashirah), atau kemampuan dia “menyaksikan” terbagi menjadi tiga tipe, kurang lebih begini: orang yang buta sama sekali, orang yang hanya mengikut pandangan orang-orang yang sudah tidak buta lagi, dan yang terakhir adalah orang-orang yang sudah memandang dengan ketajaman hatinya.

Istilah “Musyahadah” ini, sering sekali dipakai dalam kaitannya dengan memahami kehidupan. Yang diamati adalah kejadian sepanjang kehidupan kita, atau alam dan seisinya ini. Dan yang “disaksikan” dalam musyahadah itu adalah keteraturan pengaturannya Allah.

Sebuah perumpamaan sederhananya begini. Umpamakan kita hendak berangkat ke kantor. Dari rumah kita mengendarai sebuah sepeda motor. Orang yang terbiasa memandang dengan lebih luas, akan menyadari bahwa begitu banyak variabel di dalam perjalanannya dari rumah menuju kantor; yang bisa mempengaruhi hasil akhir apakah dia akan sampai ke kantor ataukah tidak.

Misalnya apakah sang satpam komplek sudah membuka gerbang pagi-pagi atau belum. Apakah macet ataukah tidak di pengkolan depan rumah. Apakah dia sudah mengisi bensin atau belum. Jika belum apakah kebetulan di pombensin mengantri atau tidak? Boleh jadi di perempatan sedang ada razia polisi yang memperlambat laju kendaraan. Atau bisa jadi ada kecelakaan di persimpangan.

Variabelnya begitu banyak. Dan ternyata kita sepakati bahwa lebih banyak –atau mungkin semua- variabel yang tidak bisa manusia setir atau pengaruhi, ketimbang variabel yang bisa manusia pengaruhi. Dan setiap variabel saling berkaitan satu sama lain dalam jejaring aksi reaksi yang demikian kompleks.

Atau dalam bahasan yang lebih tinggi lagi, kita tahu bahwa begitu banyak hadits Rasulullah SAW yang mengabarkan kepada kita bahwa sebenarnya segala sesuatu sudah tertulis sejak dari penciptaan alam semesta.

Tetapi saya tidak hendak ngobrol panjang mengenai dialektika yang begitu ramai mengenai qada dan qadar. Cukuplah kita mengerti bahwa begitu banyak variabel yang tak akan bisa manusia setir dalam hidup ini. Dan segala kejadian yang terjadi pasti berhikmah. Everything happens for a reason.

Nah kondisi saat seseorang itu sudah betul-betul memahami bahwa segala-galanya didalam pengaturannya Allah, itulah yang disebut “menyaksikan” atau “musyahadah”. Seseorang itu dengan mata lahiriah melihat segala kejadian yang berlaku di sepanjang hidupnya, tetapi dengan mata hati dia meyakini bahwa semuanya dalam genggaman Allah SWT.

Masih menurut Ibnu Qayyim dalam buku yang sama, kejadian yang terjadi di bumi ini merupakan manifestasi Asma dan Sifat-Nya[1]. Dan orang yang “musyahadah” yang “menyaksikan”, berarti saat melihat apapun maka akan teringat kepada DIA, lewat keteraturan cerita Asma dan Sifat-Nya yang menjadi tema apapun hal yang terjadi di dunia ini.

Umpamanya, takdir kejadian hidup dimana ada para pendosa di muka bumi ini, sebenarnya merupakan manifestasi dari sifat Allah Maha Pengampun. Atau dibalik, karena Allah Maha Pengampun-lah maka terzahirlah di bumi ini para pendosa, yang kemudian mereka bertaubat, dan kemudian Allah ampuni. Atau dalam kata lain, tidak mungkin tidak ada pendosa di muka bumi ini. Kenapa? Karena jika sama sekali tidak ada pendosa –yang kemudian diampuni- maka sifat Allah sebagai al-Ghafuur hanya akan menjadi sekedar nama tanpa bukti. Maka itulah Allah menzahirkan takdir para pendosa, kemudian mereka bertaubat, kemudian Allah ampuni.

Satu lagi misalnya. Kenapa ada tragedi dan perang? Karena itu merupakan salah satu manifestasi dari kenyataan Asma bahwa Allah-lah Yang Menghidupkan, dan Yang mematikan. Maka akan ada kelahiran manusia, dan kematian manusia, dengan segala macam sebab-musababnya yang dizahirkan.

Semua kejadian apa saja, pasti ada artinya. Tidak mungkin random. Setiap kejadian apapun adalah tentang DIA, adalah terwakili pada cerita hidup yang memanifestasikan Asma dan Sifat-Nya. Itulah yang disaksikan oleh orang-orang yang tajam pandangan hatinya. Mereka menengok keteraturan pengaturan Allah di alam semesta.

(bersambung ke bagian dua)

——-

[1] Allah SWT memiliki Asmaa’ul-Husnaa (nama-nama yang indah). Di antaranya adalah al-Ghafuur, ar-Rahiim, al-‘Afuww, al-Haliim, al-Khaafid, ar-Raafi’, al-Mu’izz, al-Mudzill, al-Muhyi, al-Mumiit, al-Waarits, dan ash-Shabuur. Dan, pengaruh dari Asmaa’ul-Husnaa tersebut pasti tampak.Maka dengan kebijaksanaan-Nya, Adam dan keturunannya Dia turunkan ke alam ini, di mana pengaruh Asmaa ‘ul-Husnaa tersebut menjadi nyata.

Di alam inilah Allah SWT mengampuni, mengasihi, mengangkat, memuliakan, menghinakan, menyiksa, memberi, tak memberi, melapangkan dan sebagainya bagi siapa saja yang Dia kehendaki sebagai manifestasi dari asma dan sifat yang Dia miliki. (Ibnu Qayyim dalam buku “kunci kebahagiaan”)

One thought on “DIBALIK TABIR KETERATURAN (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s