DIBALIK TABIR KETERATURAN (2)

Telah kita ketahui, berdasarkan pembahasan Ibnu Qayyim bahwa di dunia inilah Allah SWT memanifestasikan kenyataan akan Asma dan Sifat yang dia miliki.

Telah pula kita ketahui, dengan begitu mengertilah kita bahwa tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi dengan random dan tanpa arti. Pastilah berhikmah. Dan hikmah itu antara lain adalah mengajari manusia tentang DIA, lewat cerita tentang Asma dan Sifat yang dia miliki pada seluruh lini kejadian hidup yang kita jalani.

Yang Ibnu Qayyim ungkapkan ini, barulah belakangan saya sadari bahwa rupanya senada dengan maksud Ibnu Athoillah walaupun dalam bahasa yang berbeda.

Ibnu Athoillah dalam aforismanya di Al-Hikam mengatakan “Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”

Maksud beliau ternyata begini. Semua nama-nama Allah adalah “husna” (Asmaul Husna). Dan sebab itulah segala sifatNya baik, karena bertujuan mengajari manusia. Maka orang yang arif adalah orang-orang yang berbaik sangka pada Allah karena mengerti bahwa segala yang terjadi merupakan manifestasi Asma dan SifatNya, yang juga berarti bahwa semuanya sebenarnya “baik”. Maka dalam ujian hidup pun mereka berbaik sangka pada Allah, karena sangat mengerti bahwa kejadian hidup dan kesulitan apapun yang mereka alami sejatinya bukan karena Allah ingin menyiksa, tetapi karena Allah ingin mengajarkan tentang sifat-sifatNya kepada manusia.

Senadalah hal itu dengan yang dimaksud Ibnu Qayim tadi.

Akan tetapi, sebuah hal sangat indah dituliskan Ibnu Qayim dalam bukunya yang lain, yaitu “Qada dan Qadar”, dimana beliau mengoreksi kesalahan sebagian kalangan yang sudah mencapai taraf “musyahadah” atau sudah “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah dimana-mana itu.

Apa yang Ibnu Qayyim koreksi, bisa kita lihat pada cuplikan di bawah ini.

“Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.”

Agar tidak terlampau abstrak, mungkin kita coba menggambarkan seperti ini. Dari penggambaran seperti ini insyaAllah kita akan memahami apa hal yang dikoreksi oleh Syaikh Ibnu Qayyim untuk orang-orang yang sudah Musyahadah. (Tentu kita pahami bahwa Ibnu Qayyim-pun sudah “musyahadah”, berarti ini adalah sebuah dialektika yang cantik antar para “penyaksi”)

Sebuah gejolak perasaan yang seringkali di alami oleh orang-orang yang sudah “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah dimana-mana, adalah mereka menjadi tahu bahwa semuanya itu sebenarnya “netral”. Tak ada baik tak ada buruk. Baik dan buruk itu ada setelah Allah menetapkan suatu hukum.

Ini sebuah contoh lagi supaya tidak terlampau abstrak.

Umat Nabi Musa a.s. pada zaman itu dikenai sebuah larangan, yaitu larangan bekerja di hari sabtu. Kalau kita nilai larangan itu dengan kacamata zaman sekarang, bukankah itu sebuah larangan yang aneh? Apa kesalahannya bekerja di hari sabtu?

Tapi… itulah “hukum” yang Allah tetapkan untuk mereka, pada zaman itu. Sehingga, bekerja mencari nafkah –sekalipun halal pekerjaannya- tetapi jika dilaksanakan pada hari sabtu merupakan pelanggaran. Orang yang bekerja di hari sabtu, menjadi orang yang keji.

Pertanyaannya, adakah “bekerja” itu merupakan sebuah perbuatan yang keji? Sama sekali tidak, bukan? Atau adakah “hari sabtu” itu hari yang keji? Tentu saja tidak, bukan?

Tetapi “bekerja” menjadi dinilai “keji” karena Allah membuat sebuah “hukum” agar bekerja di hari sabtu tidak boleh. Maka yang keji bukan pada “bekerja”-nya itu sendiri, tetapi pada pelanggaran terhadap titah Tuhan.

Sama juga dengan perumpamaan begini. Seekor ayam, boleh saja memakan makanan yang ditemukan ayam lain. Bila perlu berkelahi sampai satu ayam lain mati. Tidak ada yang mengatakan ayam itu “keji”. Kenapa? Karena tidak ada sebuah norma bahwa mencuri itu tidak boleh pada tatanan masyarakat ayam. Tetapi, pada masyarakat manusia ada tatanan seperti itu, yang Allah buat.

Jadi, sejatinya yang “keji” bukanlah mengambil makanan-nya, yang keji adalah pelanggaran terhadap titah Allah.

Begitulah, bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini sejatinya sebagai pengejawantahan Asma dan SifatNya, dan ternyata segala sesuatu itu adalah “netral” dalam tanda kutip, sesuatu itu menjadi memiliki norma boleh-dan tidak boleh, keji dan mulia, adalah setelah norma itu Allah yang tentukan. Bukan semata-mata karena perbuatan itu sendiri.

Nah…. Kesadaran seperti itulah yang kadang kebablasan. Sehingga, kata Ibnu Qayyim, sebagian orang-orang yang mencapai taraf “musyahadah” atau “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah dimana-mana, dia menjadi sungkan, dan tidak mau lagi menegur untuk mengatakan yang benar itu benar yang salah itu salah.

Kenapa kebablasan seperti itu? Antara lain karena mereka mengerti bahwa segala sesuatu adalah penzahiran cerita Asma dan SifatNya, hal lainnya adalah karena mereka mengerti bahwa dibalik segala sesuatu pastilah ada hikmah yang manusia tidak tahu.

Sikap inilah yang dikoreksi oleh Ibnu Qayyim. Sehingga beliau mengatakan bahwa, meskipun seseorang itu sudah “musyahadah” atau “menyaksikan” keteraturan pengaturan Allah SWT di bumi ini, itu tidak lantas membuat orang tersebut meninggalkan upaya menyebut kebaikan pada yang baik, menyebut keburukan pada yang buruk.

“Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.”[1]

Sebuah analogi yang sederhana adalah begini. Seandainya kita melihat ada seorang pencuri di depan kita, maka kita tangkap pencuri itu dan kita bawa ke polisi untuk kemudian diadili. Betapapun kita sudah mengerti bahwa boleh jadi sang pencuri itu ada karena sebenarnya manifestasi dari sifat pengampunannya.

Atau sebuah contoh lain. Bagi umat islam babi adalah haram. Kemudian para saintis berusaha menyingkap tabir dan melihat macam-macam tipe cacing ada pada babi. Kemudian apakah jika cacing-cacing berbahaya telah bisa dihilangkan dari babi, maka babi menjadi halal? Tentu saja tidak. Kenapa tidak? Karena bukan masalah cacingnya, tetapi masalah “titah”nya. Sebuah hal menjadi halal atau haram karena titah. Kita ikut “game-plan”nya Allah.

Sekali lagi, itu sama persis seperti pembahasan mengenai bekerja di hari sabtu bagi Yahudi di zaman Musa a.s. bukan bekerjanya yang membuat itu terlarang, bukan pula hari sabtunya, tetapi karena ada titah Allah yang membuat sebuah hukum berlaku seperti itu, maka seperti itulah hukum yang harus kita jalani. Kita ikut “game-plan”nya Allah.

Ya sama juga dengan cerita Nabi Adam a.s. Mosok gara-gara makan buah kemudian diusir dari syurga? Ya tentu saja. Karena bukan masalah buah-nya. Tetapi masalah titahnya. Allah yang membuat norma-norma. Kita ikut “game-plan”nya Allah.

Dan kesimpulannya saya kutipkan lagi dari bukunya Ibnu Qayyim. Bahwa suatu perbuatan itu memiliki dua sisi. Pertama sisi yang berkaitan dengan  Tuhan (kesempurnaan Qada dan QadarNya), dan yang kedua adalah sisi kemanusiaan (norma benar-salah yang sudah Allah buat untuk manusia).

Kesempurnaan akan terwujud, jika salah satu dari dua sisi kacamata itu tidak hilang. Pada satu sisi orang yang sudah musyahadah akan menyadari qadha, takdir, kehendakNya dalam memanifestasikan Asma dan Sifat. Tetapi pada saat yang sama juga dia menyaksikan perbuatan, kejahatan, atau ketaatan dalam kaitannya dengan norma yang sudah Allah SWT susun untuk diikuti “game plan”-nya di dunia ini.

Singkat kata seperti para Nabi. Setinggi-tinggi “musyahadah”, tetapi tetap mengajarkan manusia bahwa yang ini benar, yang itu keliru. Meskipun mereka tahu, benar dan salah itu sejatinya bukan karena perbuatannya, tetapi karena norma yang Allah sudah susun. Dan sejatinya mereka juga tahu, bahwa segala yang terjadi telah sempurna karena merupakan manifestasi Asma dan Sifat yang Dia miliki

Wallahualam

—-

[1] Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam bukunya “Qada dan Qadar”, mengutip pengarang buku Manazilus Sa’irin.

One thought on “DIBALIK TABIR KETERATURAN (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s