DIBALIK TABIR KETERATURAN (3)

Dalam satu riwayat, Adam a.s berdebat dengan Musa a.s di Syurga. Musa mengatakan kepada Adam a.s bahwa karena Adam-lah ummat manusia dikeluarkan dari Syurga. Kemudian Adam menjawab kepada Musa a.s, bagaimana bisa Musa menyalahkan Adam atas sesuatu yang telah tertulis?

“Adam dan Musa bertemu, Musa berkata kepada Adam; ‘Wahai Adam, engkaulah orang yang telah mencelakakan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga.’ Lalu Adam ganti berkata kepada Musa; ‘Wahai Musa, Bukankah Allah telah memilihmu dengan risalah dan kalam-Nya (diajak bicara secara langsung), dan Allah juga telah menurunkan kepadamu Taurat? Musa menjawab; ‘Ya.’ Adam berkata lagi; Bukankah kamu mendapatkan di dalamnya bahwa hal itu telah ditetapkan kepadaku sebelum aku diciptakan? Musa menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: “Maka Adam dapat mengalahkan Musa.” (H.R. Bukhari No. 4367)[1]

Yang jadi menarik adalah, apakah BERDALIH atas nama takdir seperti itu dibolehkan?

Pembicaraan ini sangat ramai sejak zaman dahulu. Ibnu Qayyim menjelaskan dengan sangat apik dalam bukunya “Qadha dan Qadhar”. Tetapi sebelum kita pantau bersama penjelasan beliau, tentu sangat elok jika kita mendudukkan kembali perbincangan ini dalam urutan yang sinambung dengan pembahasan sebelumnya.

Yang pertama bahwa orang-orang yang telah “Musyahadah”-lah yang dapat menyaksikan kesempurnaan pengaturan Allah di muka bumi. Dan bahwa segala yang terjadi pastilah dalam tujuan manifestasi Asma dan SifatNya (baca DISINI)

Yang kedua bahwa setinggi-tingginya Musyahadah mestinya tidak membuat seorang hamba meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan dan menyebut buruk pada keburukan. (baca DISINI)

Saya kutipkan lagi dari buku Ibnu Qayyim. Sebagian kalangan yang mempelajari tentang takdir, banyak mensikapi mengenai kesempurnaan Qada dan Qadar dengan sedikit kebablasan. Membuat mereka selalu berdalih atas nama takdir.

Contoh yang agak ekstrim adalah seperti ini. Karena mereka tahu bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan, maka mereka berdalih dengan mengatakan bahwa  KEJAHATAN ATAU DOSA yang mereka lakukan-pun adalah bentuk ketaatan. Kenapa? karena dengan melakukan kejahatan / dosa maka mereka sudah memenuhi iradah atau kehendak Allah.

Orang ini, BERDALIH atas nama takdir. Alasannya sederhana saja, Adam a.s saja berdalih dengan nama takdir saat berdebat dengan Musa, kenapa saya tak boleh berdalih juga atas nama takdir?

Banyak ungkapan ganjil dari orang-orang yang berdalih atas nama takdir, semisal begini, “Orang yang arif (mengerti) tidak akan menjauhi kemungkaran selamanya, karena ia memahami rahasia Allah Ta ‘ala dalam penetapan takdir-Nya.” Ganjil, bukan?

Ibnu Qayyim menjelaskan, dimana letak perbedaan antara nabi Adam a.s dan orang-orang  yang keliru untuk telah BERDALIH atas nama takdir sebagai justifikasi dosa yang SEDANG mereka lakukan. Tetapi sebelum kita kutip penjelasan Ibnu Qayyim mengenai perbedaannya, rupanya Al Qur’an pun mengabadikan kisah orang-orang yang BERDALIH atas nama takdir untuk menjustifikasi dosa yang SEDANG mereka lakukan.

Dan Orang-orang musyrik berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa izin-Nya.” Demikian juga yang diperbuat orang-orang sebelum mereka, maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Al-Nahl 35)

Seolah-olah orang musyrikin berkata, ngapain kamu menasihati kami, kalau Allah mau kami beriman maka kami beriman. Dalam lain kata, biarkanlah kami berbuat dosa, jangan ikut campur, ini Allah sendiri yang menuliskan kami berbuat dosa.

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Nafkahkanlah sebagian dari rezki yang diberikan Allah kepada kalian,” maka orang-orang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kalian melainkan dalam kesesatan yang nyata.” (Yaasin47)

Saat diperintahkan menafkahkan sebagian rizki, maka mereka BERDALIH lagi dengan mengatakan kenapa kita harus memberi makan orang-orang yang kalau Allah mau mentakdirkan mereka makan; pastilah mereka makan.

Ternyata Qur’an sudah mengabadikan banyak sekali golongan yang BERDALIH atas nama takdir untuk sebuah dosa yang SEDANG mereka lakukan. Dan ini menimbulkan kekisruhan.

Apa bedanya orang-orang itu, dengan Nabi Adam a.s yang juga BERDALIH atas nama takdir? Ibnu Qayyim menjelaskan kurang lebih seperti berikut, saya rangkumkan point-pointnya:

Pertama, Allah mentakdirkan segalanya ini berlaku, dalam sebuah game-plan besar yaitu mengenalkan tentang diriNya. Maka pada sisi manusiawi, segala takdir yang SEDANG berlaku mestilah disikapi dengan sikap batin yang “mengandalkan” Allah untuk kembali kepada Allah. Karena hanya Allah yang mampu mentakdirkan orang itu beramal. (intinya adalah kita berupaya mengenal Dia lewat kejadian apapun)

Saya masih ingat salah satu syarahan seorang guru tentang DOSA. Yang beliau sampaikan itu baru sekarang saya mengerti bahwa sangat senada dengan maksudnya Ibnu Qayyim.

kata beliau kurang lebih: saat kita SEDANG berada pada kondisi berdosa, kita harus ingat bahwa hanya Allah semata yang bisa selamatkan kita. Karena dorongan hendak melakukan dosa itu pun sejatinya telah masuk dalam Qada dan Qadar-Nya. Maka menyikapinya adalah, kita “kembali” pada Allah, “mengingatNya” dan minta tolong Allah agar selamatkan kita dari dorongan berbuat dosa. Bukan mengandalkan kemampuan diri beramal semata-mata tetapi lupa menyandarkan amal pada pertolongan Allah.

Maka barulah dengan cara pandang seperti itu kita akan mengerti dialektika berikut ini, ada ayat yang mengatakan ini “Yaitu bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. ” (Al-Takwir 28)…. tapi di sisi lain Allah mengatakan begini “Dan kalian tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali jika dikehendaki Allah. ” (Al-Insan 30)

Kita disuruh menempuh jalan lurus, lalu kita diberitahu bahwa tak akan mampu kalau tak Allah tolong.

Maksudnya adalah, justru dengan mengetahui tentang takdir-lah, orang-orang akan semakin beramal dan mengandalkan Allah (meminta pertolongan Allah atas amal yang dia lakukan) bukan mengandalkan dirinya sendiri. Karena tidak ada yang mampu membuat mereka beramal, dan tidak ada yang mampu menghindarkan kita dari dosa, selain dari Allah sendiri.

Dialektika itu hanya akan dipahami oleh yang mengerti tentang kuasa Allah atas takdir.

Begitulah kita harusnya bersikap. Semakin mengetahui kuasa Allah atas takdir, mengetahui la hawla wa la quwwata illah billah, semakinlah kita mengandalkan Allah dalam segala lini hidup. Bukan sebaliknya, malah BERDALIH dengan takdir atas dosa yang SEDANG kita lakukan.

Nah…. apa bedanya dengan berdalih yang dilakukan Nabi Adam a.s.?

Bedanya adalah, Nabi Adam a.s. berdalih atas sesuatu yang sudah lewat, dan sesuatu itu telah ditaubati oleh Nabi Adam a.s.

Setiap kejadian hidup, adalah untuk mengenalkan-Nya.  Sebuah kenyataan bahwa kita TERLANJUR berbuat dosa-pun, sejatinya adalah cara Allah mengundang kita “kembali” padaNya lewat jalur pertaubatan.

Jadi…jika seseorang berdosa, lalu dosanya mengantar dia kembali pada Allah lewat jalan pertaubatan, itu sudah sesuai alur yang benar.

Seperti Nabi Adam a.s. Dosa yang TERLANJUR dia lakukan, menjadikan dia lebih mengenal Allah pada AsmaNya Al-Ghafuur, beliau bertaubat bersama Hawa, dan melanjutkan hidup dalam pengenalan yang lebih dalam akan Allah SWT (karena kenal AsmaNya satu lagi, Yang Maha Pengampun).

Nah… saat seseorang sudah melakukan pertaubatan sampai sebegitu jauhnya, dan sudah meninggalkan dosanya, dan dosanya malah mengantarnya menjadi orang yang “kembali” pada Allah lewat jalan penyesalan; maka saat semua itu sudah dilakukan, masih ada yang mengungkit-ungkit, kita disudutkan oleh orang lain atas dosa silam yang telah ditaubati; bolehlah dia mengatakan -seolah olah- kenapa kamu mencelaku, itu sudah tertakdir, dan lewat takdir itulah aku menjadi semakin mengenalNya, lewat takdir itu aku kembali padaNya.

—–

[1] Telah menceritakan kepada kami [Ash Shalt bin Muhammad] Telah menceritakan kepada kami [Mahdi bin Maimun] Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Sirin] dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adam dan Musa bertemu, Musa berkata kepada Adam; ‘Wahai Adam, engkaulah orang yang telah mencelakakan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga.’ Lalu Adam ganti berkata kepada Musa; ‘Wahai Musa, Bukankah Allah telah memilihmu dengan risalah dan kalam-Nya (diajak bicara secara langsung), dan Allah juga telah menurunkan kepadamu Taurat? Musa menjawab; ‘Ya.’ Adam berkata lagi; Bukankah kamu mendapatkan di dalamnya bahwa hal itu telah ditetapkan kepadaku sebelum aku diciptakan? Musa menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: “Maka Adam dapat mengalahkan Musa.”H.R. Bukhari No 4367

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s