YANG TERPUJI, YANG MANUSIAWI

kaligrafi-muhammad-saw-vectorUmar r.a berdiri di hadapan orang-orang dan mengancam akan memenggal siapa saja yang mengatakan Rasulullah SAW telah wafat.

Sesungguhnya Rasulullah SAW tidaklah wafat,  melainkan beliau hanya pergi menghadap Tuhannya sebagaimana Musa a.s menghadap Tuhannya, lalu selepas itu beliau akan kembali kepada kita setelah empat puluh hari. Begitu kata Umar r.a mengancam orang-orang. Sering kita baca kisah ini pada kitab-kitab Sirah Nabawiyah.

Pada saat itulah Abu Bakar r.a, seorang Shiddiq menyuruh Umar r.a. untuk duduk. “Duduklah wahai Umar”, lalu beliau melantunkan ayat yang diakui para sahabat bahwa seolah-olah itulah kali pertama mereka mendengar ayat itu dibacakan. Seolah ayat itu tidak pernah turun sebelumnya.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144)

Selepas itu tersadarlah para Sahabat, bahwa memang betul Rasulullah SAW telah wafat.[1]

Kecintaan yang begitu besar pada Rasulullah SAW –dan tentu saja keimanan yang begitu solid pada Allah SWT- membuat para Sahabat rela mengorbankan apa saja untuk mendukung risalah beliau.

Seorang Nabi yang mengusung risalah tauhid yang sama dengan yang diusung Ibrahim, Musa, Isa dan seluruh jajaran Nabi dan Rasul sepanjang sejarah. Seorang yang jujur nan terpercaya, sampai-sampai para kafir Makkah kesulitan untuk memfitnah beliau, dan akhirnya menggunakan kenyataan kecintaan para sahabat itu sebagai alat untuk menyerang Rasulullah. “Jangan dekati Muhammad, sesungguhnya dia telah memisahkan bapak dari anaknya, memisahkan seorang suami dari istrinya” begitu kurang lebih sebuah propaganda yang dilancarkan untuk menyerang Rasulullah.

Dan memang propaganda itu ada sisi benarnya. Saat seseorang telah meyakini kebenaran risalah yang beliau usung, meyakini kebenaran islam, maka terpisahlah dia dengan orang-orang yang masih “tertutup”.

Dan kesediaan untuk terpisahkan dari kerabat dekat itu merupakan juga salah satu bukti yang menunjukkan betapa kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW sangatlah besar. Kecintaan yang sekali waktu membuat mereka “sedikit” lupa bahwa Rasulullah adalah seorang Nabi yang manusiawi.

Seperti peristiwa kematian Rasulullah SAW tersebut. Bahkan sekelas Umar r.a sulit menerima fakta bahwa Rasul telah wafat, tetapi Abu Bakar r.a akhirnya menyadarkan semua orang bahwa Sang Nabi yang dicintai khalayak itu telah pergi. Sang Nabi yang Manusiawi.

Sulit kita menemukan kisah lain, dimana seorang Nabi menyampaikan kitab suci yang isinya adalah salah satunya teguran terhadap Sang Nabi itu sendiri.

Sebagaimana kisah turunnya surah Abasa, Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa Surah itu turun sebagai teguran kepada Rasulullah SAW yang bermuka masam, saat beliau diinterupsi oleh Ibnu Ummi Maktum disaat Rasulullah sedang presentasi dihadapan para pembesar Quraisy karena mengharapkan keislaman para pembesar itu –yang tentu saja akan berdampak lebih masif dan luas, karena islamnya pemimpin suatu kaum biasanya akan diikuti secara masal oleh kaumnya-.

Dalam pada itulah, Rasulullah ditegur oleh Allah SWT. Dan teguran itu mengabadi dari generasi ke generasi sebagai cerminan kita juga.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada Allah, maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi di sucikan, di tangan para penulis (Malaikat), yang mulia lagi berbakti.[2]

Dari sana kita bercermin, bahwa ajaran ini akan sampai pada orang-orang yang benar-benar ingin membersihkan diri. Sampaikanlah pada yang benar-benar ingin menerimanya dan jangan membeda-bedakan.

Tetapi dari sana pula kita belajar, bahwa Sang Nabi yang kita cintai adalah orang yang begitu manusiawi. Tetapi justru kemanusiawian beliaulah yang membuat kita menitiskan air mata dan mensaluti pribadinya.

Akankah datang kesalutan pada pribadi yang tak manusiawi? Justru kesalutan datang karena mengetahui bahwa pribadi yang mengagumkan itu terpancar dari seorang manusia yang sama seperti kita, bukan dari malaikat. Beliau memakan apa yang kita makan. Hidup sebagaimana umumnya manusia lain hidup. Lapar pada perang Khandaq dan melilit pinggang dan perutnya dengan kain diisi kerikil untuk menahan perih. Seorang yang tidak sakti mandraguna, melainkan geraham dan giginya lepas pada perang Uhud, beliau menyayangkan sikap ummatnya, tetapi beliau lalu ditegur oleh Allah[3]. Seorang pemimpin perang yang sekaligus seorang suami nan bersahaja yang juga bingung kala istri-istrinya menuntut uang tambahan lebih dari Ghanimah perang, sampai beliau harus menyepi selama sebulan sampai turun wahyu menegur sikap para istrinya.

Seorang dengan derajat kedekatan yang sangat tinggi pada Allah, sehingga namanya disandingkan dalam syahadat. Siapa mengakui Allah sebagai Tuhannya, maka mesti pula mengakui Muhammad sebagai yang diutusNya. Tetapi pada saat yang sama tak pernah disebut guru atau maha guru oleh ummatnya, melainkan orang-orang sezaman mengakrabinya sebagai sahabat. Hubungan pertemanan sesama makhluk Tuhan, bukan Guru-Murid.

Agaknya hubungan egaliter semacam itulah yang menyentuh hati Bilal Bin Rabbah. Sehingga berbulan-bulan menangis tak mampu melantunkan azan pada puncak menara masjid selepas kewafatan Rasulullah SAW. Bagaimana hendak melantunkan azan, bila setiap kali azan mengingatkan akan kebersahajaan beliau. Seorang pemimpin negara yang mengangkat budak hitam legam yang terhinakan menjadi pelantun azan.

Semakin dia manusiawi, semakin orang-orang mensaluti pribadinya. Saat kesehariannya semakin dekat dengan keseharian kita, maka kita menjadi mengerti seperti apa beban yang dipanggulnya. Karena sakit di kita, sama dengan sakit di beliau. Tetapi sabar di beliau, melintasi titik paling nadir yang bisa dicapai oleh siapapun saja.

Dari seseorang yang sangat manusiawi inilah kita belajar mengenal Tuhan, dan menata akhlaq dalam cerita hidup beliau yang menyejarah. Dari “pertemanan” yang mencerahkan itulah kita mendengar kisah Bilal yang saat disiksa dihimpit batu oleh majikannya masih melafazkan zikir, Ahad….Ahad….Ahad…. (Esa-nya Allah).

Telah banyak kita dengar, bahwa Sang Nabi yang manusiawi inilah yang telah “diramalkan” dalam banyak manuskrip. Seorang nabi yang akan datang untuk mencerahkan ummat. “Ramalan” menyebutnya dalam banyak aksara dan istilah, tetapi artinya satu jua. Muhammad. Yang Terpuji.

~~~~~~~~~

[1] Rasulullah wafat pada 12Rabi’ul Awwal 11 H pada usia enam puluh tiga tahun lebih empat hari (Sirah Nabawiyah, Shafiyyurrakhman Al-Mubarakfury)

[2] (QS. 80: 1-16)

[3] (lalu beliau berkata “bagaimana bisa suatu kaum akan memperoleh kebahagiaan sedang mereka melumuri wajah Nabi mereka dengan darah”, ucapan beliau ditegur oleh Allah SWT lewat Ali Imran : 128 yang kurang lebih menyatakan bahwa tak ada campur tangan beliau dalam kebijakan Allah SWT; apakah mengilhami orang-orang tersebut penyesalan ataukah menyiksa mereka tersebab kedurhakaan). Membaca Sirah Nabi Muhammad, Quraish Shihab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s