MENDUDUKKAN KEKAGUMAN

“Saya begitu sedih,” kata seorang rekan dalam kesempatannya berbincang tentang pengalamannya pertama kali ditugaskan international assignment, alias pindah kerja ke luar negeri.

Apa pasal dia begitu sedih?

Pasalnya adalah, seorang teman yang baik, yang dia temukan di negara yang baru dia tempati itu, dipindahkan tugas pula ke tempat lain.

Jadi setelah sekira enam bulan penyesuaian di negara baru, di tempat dimana dia belum mengenal seorang pun, akhirnya dia mendapatkan teman kerja yang banyak sekali membantu dan menjadi akrab, tetapi tak lama teman yang begitu menolong itu malah dipindahkan ke tempat lain.

Rasa kehilangan tersebab seorang figur yang banyak menolong itu telah pergi, itulah yang membuat dia menangis.

Dalam banyak sekali kesempatan, saya pun yakin kita pernah mengalami hal serupa. Satu hal baru saya pahami akhir-akhir ini, hal itu adalah tentang kekaguman yang mesti didudukkan secara benar.

Seringkali, Allah menghilangkan seseorang yang kita jadikan tempat bergantung, atau sebaliknya kitalah yang dipindahkan ke sebuah tempat dimana kita tak mengenal seseorangpun tempat kita meminta bantuan, atau kita –mengutip bahasa Syaikh Abdul Qadir Jailani- dibuat berputus asa dari manusia –karena manusia tak bisa membantu kita- ; semuanya saya rasa dalam tujuan yang sama, yaitu menyadarkan bahwa sebenar penjagaan, perlindungan, dan pertolongan adalah dari Allah. Meski dizahirkan lewat “tools”, perangkat yang berbeda-beda.

Mungkin itu juga salah satu sebabnya, mungkin lho ya, seorang musafir doanya makbul. Karena musafir adalah orang yang sangat boleh jadi masuk dalam kondisi bergantung sepenuhnya pada Allah. Tak ada makhluq yang dia kenal untuk dimintai tolong dalam perjalanannya.

Kepahaman ini sebenarnya senada dengan bahasan yang telah kita bincang-bincang sebelumnya, yaitu tentang mendudukkan cara pandang dalam beramal. Dimana kita memandang amaliyah sebagai sebentuk karunia. Amal yang kita lakukan, alih-alih dipandang sebagai sebuah prestasi yang kita unjukkan kehadapan Allah; sebaliknya malah kita pandang sebagai karunia dari Allah. Pemberian.

Kalau kita menengok DIRI SENDIRI. Jika amaliyah kita adalah “pemberian”, karunia Allah, maka sebanyak apapun amaliyah, semestinya tidak menjadikan sebagai kebanggaan. Premisnya jelas, bagaimana kita mau berbangga atas sesuatu yang sebenarnya pemberian? Bagaimana kita mau membanggakan, kalau kita sebagai orang yang menerima pemberian?

Itu kalau kita pandang dari sisi kita. Amaliyah kita, merupakan anugerah. Sejatinya adalah Allah yang terlebih dulu berbaik hati pada kita, hingga kita tergerak menujuNya.

Dan saya baru saja menyadari juga hal ini dalam kaitannya dengan memandang kebaikan, pertolongan, bantuan, pengajaran dari orang lain kepada kita.

Saat kita memandang orang lain, sejatinya orang lain-pun hanya merupakan keran kebaikan. Yang sebenarnya membantu adalah Allah, lewat takdir yang dia susun dan menggerakkan siapapun saja yang DIA pilih kala itu. Yang sejatinya mengajar adalah Allah. Melalui takdir yang membiarkan keilmuan dan hikmah mengalir lewat lisan, tulisan, perbuatan, siapapun saja yang DIA kehendaki.

Sebab itu, maka kekaguman harus didudukkan pada porsinya yang sesuai. Kita tidak mengagumi seseorang itu sebagai sebuah pribadi yang menjaga dan menunjuki kita, tetapi kita melihat keindahan penjagaan dan pengaturan Allah yang “bermain” dalam setiap jengkal hidup kita.

Kadang-kadang, kita lupa melihat penjagaan dan pengaturan Allah, maka ada-ada saja cara Allah untuk mengingatkan kembali bahwa Yang Maha Hidup lagi Terus Menerus Mengurus MakhluqNya (Ya Hayyu, Ya Qayyumu) adalah Dia.

Saya rasa seperti rekan saya tadi, sang penolong terdekat dipindahkan, untuk membuat dia bersedih dan merasa hilang pegangan, lalu diadakan penolong lainnya. Sejatinya penolong tetaplah Allah, tetapi perangkatnya ditukar-tukar ganti. Supaya kita tak “lekat” pada perangkat.

Menariknya, berterimakasih kepada orang yang telah menjadi jalan pertolongan, menjadi jalan kebaikan bagi kita, merupakan salah satu yang tertuntunkan juga. Seperti sebuah hadits mengatakan bahwa tak disebut bersyukur pada Allah jika seseorang tak berterimakasih kepada manusia[1]

Artinya, selepas kita memahami bahwa sejatinya penolong adalah Allah SWT, maka kita harus menunjukkan hormat dan terimakasih kepada orang yang sudah menjadi keran kebaikan itu. Show some respect-lah istilahnya, untuk orang yang telah dipilih oleh Allah menjadi keran kebaikan, menjadi perangkat penolong kita. Dan dengan pemahaman begitulah rasanya kita akan duduk pada sikap yang benar dalam menata kekaguman.

Kita melihat pengaturannya Allah, sambil pada saat yang sama kita berterimakasih kepada perangkat manusia-nya. Ini sangat indah sekali, itulah adab.

Tapi ngomong-ngomong mengenai istilah perangkat. Syaikh Abdul Qadir Jailani rupanya memang betul-betul menggunakan istilah “perangkat” ini untuk menjelaskan tentang posisi spiritual orang-orang yang mencapai level “Abdal”.

Abdal, diambil dari kata Badal, yang artinya pertukaran[2].

Memang kita sudah mafhum sekali, bahwa istilah Abdal sangat lekat sekali dengan frasa “wali”, wali abdal, misalnya.

Kalau istilah wali secara sederhana kita lekatkan pada makna orang-orang yang dekat pada Allah, wakilNya, maka ternyata menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani orang-orang yang dekat pada Allah itu berderajat-derajat, dan penjelasan mengenai salah satu istilah yang menggambarkan orang yang dekat sekali pada Allah; tersebab perubahan paradigma; dulunya dia memandang melulu kebendaan, akhirnya sekarang terpandang pengaturan Allah dimana-mana, lalu diri dia “berubah” cara pandang terhadap hidup, dari diri dia yang dulu, menjadi diri dia yang sekarang; maka dia disebut Abdal.

Orang yang bertukar paradigma.

Dan orang-orang yang sudah betul-betul menyadari bahwa amaliyah dirinya adalah karunia Allah, kebaikan orang lain adalah wujud penjagaan Allah, dan secara jelas melihat pengaturan Allah terzahir dimana-mana, dan menyadari bahwa sejatinya kita ini hanya tools, perangkat untuk menzahirkan kebaikan-kebaikan dari Allah; itulah juga makna yang hendak dijelaskan Sang Syaikh lewat frasa “Abdal”.

Sederhananya, Jika Ibnu Qayyim Al Jauziyah menjelaskan bahwa orang-orang yang sudah terpandang pada pengaturan Allah SWT itu disebut mencapai tingkatan musyahadah, “penyaksian”[3], maka Syaikh Abdul Qadir Al Jailani menyebut mereka yang sudah berubah paradigma dan sampai level musyahadah itu sebagai Abdal, orang yang bertukar pandang, dan mereka menyadari betul makna sejatinya bahwa mereka hanyalah “Alat”, keran kebaikan, “perangkat” mungkin begitu istilahnya.

Jadi kesimpulannya, untuk kita pribadi, kita pandang segala kebaikan dan amal kita sebagai anugerah Allah. Dan dalam melihat orang lain, kita melihat penjagaan dan pengaturan Allah SWT, sambil menjaga adab dan berterimakasih kepada siapapun yang telah Allah beri penghormatan untuk menzahirkan kebaikan itu.

Mendudukkan kekaguman pada porsinya yang cantik.

~~~~~~

[1] “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954)

[2] Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuhul Ghaib

[3] Baca artikel “Dibalik Tabir Keteraturan” (1,2 dan 3)

Gambar saya pinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s