MEMASUKI GERBANG JAMAL

Beberapa tahun lalu, sewaktu saya masih ditugaskan di lapangan pengeboran minyak, saya merasa hari-hari begitu berat buat saya lewati. Sekarang jika saya kilas balik, memang hal itu seperti petualangan yang seru. Menaiki helikopter, terasing dilautan lepas pada sebuah kapal pengeboran minyak laut dalam, atau juga menaiki pesawat capung lalu disambung menyusuri sungai Barito untuk sampai di pedalaman Kalimantan menjadi pemburu minyak tak kenal malam tak kenal siang. Tetapi sewaktu lalu itu memang saya rasakan betapa melelahkan dan berat.

Dalam situasi yang melelahkan itu, saya ingin berdoa kepada Allah. Hendak meminta pertolongan. Hasrat hati ingin dipindahkan supaya bekerja ditempat yang lebih cocok dengan saya. Tetapi setiap kali berdo’a saya takut keliru. Jangan-jangan ini tidak nrimo? Jangan-jangan saya nanti tidak ridho pada Allah? Bukankah para Aulia selalu meridhoi apapun saja yang Allah berikan?

Gejolak itu terjadi cukup lama, sampai kemudian saya menyadari dimana letak kelirunya saya dulu.

Pagi ini saya tergerak untuk menuliskan kembali kebodohan saya itu, dan inilah point-point dimana saya keliru mendudukkan konteksnya, dahulu.

Kekeliruan PERTAMA saya adalah saya keliru untuk telah mengira bahwa ucapan lisan dan detak di dalam hati itu berbeda. Saya mengira, bahwa Allah menilai apa yang terzahir di lisan, sementara Allah lupa apa dengan yang di dalam hati.

Berbulan-bulan saya tak meminta apa-apa pada “Lisan” saya, demi mencontohi sikap tinggi para Aulia dengan “Diam”nya mereka, tetapi belakangan saya baru menyadari bahwa jika di hati saya masih gelisah dan merasakan berat dengan keadaan, dan detak hati saya masih hendak meminta pertolongan, berarti kondisi itulah sebenarnya yang zahir ada pada saya.

Lisan diam, tetapi hati bergolak, sama sekali tidak menjadikan saya selevel aulia.

Dengan diamnya lisan, tetapi di hati masih berdetak meminta pertolongan Allah untuk dipindahkan ketempat yang lebih cocok dengan saya, berarti saya masih harus mengakrabi Allah pada tataran itu.

Mengakrabi Allah lewat kebutuhan di dalam hidup saya.

Jadi satu yang saya garis bawahi adalah, perlu jujur melihat apa gerangan yang bergejolak di hati kita. Dan lewat segala gejolak di hati itulah kita diundang untuk menemui Allah.

Jika di hati bergejolak meminta pertolongan, maka zahirkanlah gejolak hati itu dalam lisan yang berdo’a. Berdo’a berarti menegakkan kehambaan. Jangan gegabah meloncat pada level tinggi yang tak sanggup kita tiru.

Jika Allah mentakdirkan gejolak rasa butuh di dalam hati, maka jadikan saja itu sebagai kendaraan menuju Allah. Sebagaimana Umar r.a. berkata: “Aku tidak membawa hasrat pengabulan, tetapi aku membawa hasrat do’a. Jika aku tergerak berdo’a, maka aku tahu pengabulan bersamanya”.

Zakariya a.s berdo’a meminta keturunan berpuluh tahun. Musa pun berdo’a ketika diperintahkan menghadapi Fir’aun. Berdo’a adalah wujud kehambaan.

Kekeliruan KEDUA, adalah saya melulu mengakrabi Allah pada sisi Jalal-Nya.

Jika kita sepakati istilahnya Ibnu Qayyim bahwa apapun saja yang terjadi di dunia ini adalah dalam rangka manifestasi Asma dan SifatNya, maka kita kutip Juga Syaikh Abdul Qadir Jailani yang mengatakan bahwa Perbuatan Allah atau manifestasi sifatnya itu bisa dikelompokkan dalam dua kelompok besar: Yang pertama sifat JALAL-Nya (Kebesaran dan keagungan), yang kedua sifat JAMAL-Nya (Keindahan)[1]

Sejak kecil kita mengakrabi Tuhan dalam persespsi bahwa Allah adalah hobi menyiksa hambaNya. Padahal, kita tahu ada hadits yang mengatakan rahmatNya mengalahkan kemurkaanNya.

Memang benar ada sifat-sifat yang merupakan ejawantah dari kebesaran dan keagunganNya, karena itu pula banyak hal yang berat di dunia ini. Karena itu pula Dia bisa murka. Tetapi MurkaNya, tidak dalam konteks bahwa manusia ini adalah musuh yang harus disiksa. Belakangan saya baru paham, Manifestasi sifat Jalal (KeagunganNya) pun dalam rangka mengajar manusia. Dan Dia adalah pengajar yang rahmatNya mendahului murkaNya.

Maka, persepsi saya bahwa jika saya berdoa maka Allah akan murka pada saya, karena saya mengira bahwa “meminta berarti menabrak ‘keridhoan’ “; adalah persepsi yang sangat keliru.

Setiap orang, diberikan jalan untuk mendekat kepadaNya. Dan salah satu jalan itu boleh jadi adalah ujian hidup yang menumbuhkan rasa fakir dan butuh pertolongan Allah. Maka jika gejolak rasa di hati sangat butuh pertolongan Allah, maka berdo’alah.

Mengakrabi Allah, pada sisi Jamal-Nya ini, sering sekali terlupa oleh saya. Dan mungkin oleh kebanyakan kita. Sehingga saya hidup dalam pengertian-pengertian yang begitu murung, karena selalu memandang Allah pada sisi JALAL-Nya, keagunganNya yang mendebarkan.

Teringat saya sebuah kisah dimana seorang guru mengajarkan muridnya tentang Allah SWT, dan sang murid ditampakkan kepada JalalNya Allah SWT, lalu mati seketika. Tentulah itu kematian yang Syahid untuk mati dalam ketakutan kepada Tuhan. Tetapi dari sana pula kita belajar, bahwa ketidak proporsionalan kita dalam mengenal Allah berimbas berat pada diri kita sendiri.

Masih dari Futuhul Ghaib saya kutipkan, kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, salah satu catatan sejarah bahwa Rasulullah terpandang pada sifat Jalal-Nya adalah sebuah kisah dimana kita dengar Rasulullah SAW sholat, dan dari dadanya terdengar suara gemuruh gelegak, saking takutnya kepada Allah. Itulah saat dimana Rasulullah SAW terpandang JALAL-Nya.

Nah… ada satu yang membuat saya terperanjat, dan ini baru saya temukan pada Futuh Ghaib. Kata Sang Syaikh, salah satu makna dari ucapan Rasulullah SAW kepada Bilal, “Wahai Bilal, hiburlah hati kami / istirahatkanlah kami dengan sholat” Yaa Bilal, arihna bi shalaah, adalah bermaksud agar Nabi memasuki shalat dengan merasakan manifestasi sifat Jamal Allah itu. Merasakan keindahan. Welas Asih. Karena itu Nabi bersabda, “Dan kesejukan mataku, telah kurasakan dalam shalatku”.[2]

Membaca ini saya terperanjat. Nabi-Pun ingin memandang Allah pada sisi welas asih dan keindahan-Nya.

Kalau Ibnu Qayyim mengatakan bahwa kehambaan ditegakkan dengan dua sayap, khauf (takut) dan Roja’ (pengharapan), maka saya rasa makna itu sebangun dengan istilah Syaikh Abdul Qadir Jailani, bahwa kita harus mengakrabi Allah tak melulu pada sisi JALAL-Nya (keagungan/ keperkasaan), tetapi juga sisi JAMAL-Nya (Keindahan, welas asih).

Dan semua manifestasi Asma dan SifatNya dalam hidup ini, dibalut dengan Rahmat yang mendahului murka.

Dan secara subjektif pula saya rasakan bahwa perintah memulakan segala sesuatu dengan Bismillahirrahmaanirrahiim adalah agar kita memasuki hidup dengan merasakan manifestasi JAMAL-Nya. Rahman Rahim. Wallahualam.

Kekeliruan ketiga saya adalah saya melupakan proses. Bahwa untuk sampai kepada maqom spiritual yang “Tiada lagi kehendak diri kita” dan berganti dengan semua kehendak Allah mewujud, pastilah ada prosesnya.

Dan proses itu adalah jalan kehidupan kita masing-masing. Tergantung cerita hidup, tergantung konteks kita masing-masing, tergantung peranan masing-masing.

Maka ada orang-orang yang hidupnya dibanting-banting dan dengan itu merasa begitu butuh pertolongan Allah, menjadi fakir di hadapan Allah. Maka pulanglah kepada Allah lewat gejolak rasa itu. Berdo’a, dalam do’a yang menyatakan kefakiran diri.

Ada orang yang hidupnya digelontori karunia dan kemudahan, maka tak terpandang olehnya selain dari keMaha Baikan Allah dan welas asihNya, tak mungkin orang ini pulang lewat tangisan mendayu-dayu, karena gejolak rasa yang ada pada dirinya adalah bahagia dan kesyukuran. Maka pulanglah lewat tahadduts bin ni’mah. Mensyukuri pemberian Allah, dengan mengabarkan karunia Allah. Atau dalam konteks lain, maksudnya adalah menceritakan kebaikan Allah, sehingga apa yang ada pada kita dimaknai BUKAN sebagai pencapaian diri sendiri, melainkan dimaknai sebagai kebaikan dari Allah.

Dan orang yang selalu kembali pada Allah lewat apapun takdir hidup yang dia alami, lama kelamaan akan terproses untuk sampai pada sebuah kondisi dimana dia merasa tak penting lagi segala kejadian hidup. Yang penting Allah-nya.

Dan saya rasa itulah maksud dari Hadist Qudsi: “Siapa yang lebih sibuk berdzikir kepadaKu dibanding meminta kepadaKu, justru Aku beri ia lebih utama dibanding yang Kuberikan kepada orang-orang yang meminta”.

Hadits ini belakangan baru saya mengerti, bercerita tentang maqom seseorang yang sudah Musyahadah (menyaksikan pengaturan Allah dimana-mana). Bahwa orang-orang yang sudah terpandang Allah melulu, akan mendapatkan keutamaan dibanding orang yang terpandang melulu kebendaan.

Tetapi untuk sampai kesitu, hemat saya, adalah dengan menjadikan segala apapun yang kita alami sebagai jalan pulang. Berdo’a, sampai kita nanti menyadari bahwa yang penting adalah kenyataan bahwa “kita berdo’a”, bukan do’a-nya itu sendiri.

Mengetahui ini sangat penting, setidaknya bagi saya pribadi. Agar saya tidak keliru bersikap, seandainya bertemu seseorang yang Allah panggil “kembali” pada Nya lewat kejadian hidup yang menimbulkan rasa butuh, dan saya dengan jumawa melarangnya berdo’a.

Wallahualam.

~~~

[1] Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuhul Ghaib

[2] Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuhul Ghaib (Ajaran kesembilan)

gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s