MENUTUPI GUNUNG FUJI DAN KERETA YANG TAK MENINGGALI

blog“Coba kau pandangi gunung itu,” saya ingat potongan kalimat itu dari sebuah novel tentang kisah samurai jepang, novel yang saya baca saat saya masih kuliah. Entah apa judul novelnya saya tak ingat lagi.

“Rentangkan tanganmu, dan cobalah kau tutupi gunung itu!” Perintah seorang laki-laki pada rekannya.

“Tak mungkin kita bisa merangkul gunung, pun tak akan kita bisa menutupi gunung sebesar gunung Fuji ini dari pandangan orang-orang.” Jawab lelaki itu.

“Itulah intinya.” Sahut sang rekan yang memerintahkannya merentangkan tangan dan merangkul Gunung Fuji.

Kisah itu kalau saya tak khilaf, bercerita tentang kebesaran seseorang guru. Semakin besar seseorang, semakin nyata imbas dari perbuatan dan kharismanya, maka orang tersebut akan semakin menjadi “milik” khalayak.

Orang-orang yang sudah menjadi “milik” khalayak akan sulit untuk “dimiliki” secara personal. Sebagaimana Gunung Fujiyama yang besar itu, tak akan bisa ditutupi meski kita merentangkan tangan sebagaimanapun juga.

Saya teringat dengan kisah ini, karena kebetulan membaca “Latha-iful Minan” karya Ulama besar Ibnu Athaillah. Dan saya terkesiap karena kisah tentang orang-orang yang mencoba “memiliki” seorang yang sejatinya berada pada level “milik khalayak” ini sering terjadi, dan akrab dalam lingkungan kita sendiri.

Tapi saya teruskan dulu mengutip Lathaiful Minan. Diceritakan, Ibnu Athaillah sang ulama punggawa fikih Mazhab Maliki itu begitu terkesan dengan gurunya Abul Abas Al Mursi[1]. Ulama nan arif dan zuhud itu memancarkan pesona yang membuatnya ingin berlama-lama dan menjadi dekat pada beliau.

Dalam suatu kesempatan, Ibnu Athaillah yang baru belajar itu mengatakan pada seorang murid yang lebih senior darinya bahwa dia ingin sang guru memerhatikannya, karena dia ingin menjadi dekat pada Sang Guru.

Apa jawab murid senior itu? Dikatakannya pada Ibnu Athaillah agar tidak menuntut guru memerhatikannya, sebaliknya Ibnu Athaillah-lah yang harus memerhatikan Sang Guru, karena kadar perhatian Sang Guru kepadanya akan berbanding lurus dengan kadar “perhatian”nya kepada Sang Guru.

Ternyata sejarah mencatat, bahwa berbilang tahun kemudian Ibnu Athaillah benar-benar “memerhatikan” Sang Guru, dalam arti, beliau adalah pembelajar yang benar-benar mempelajari apa yang Sang Guru ajarkan.

Dan tercatat bahwa Ibnu Athaillah adalah seorang ulama yang bisa menjabarkan dengan indah dua mainstream besar keilmuan, ilmu lahiriah atau syariat karena beliau ulama Mazhab Maliki, dan keilmuan batin atau tasawuf sebagai penuntun para “pencari” menemukan Tuhannya.

Saya jadi teringat dengan sebuah ungkapan yang dinisbatkan pada Sayidina Ali Karamallahu wajhahu:

“Sesungguhnya kebenaran itu tidak dikenali melalui orang-orang, namun kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenali orang-orangnya”.

Atau dalam lain pandang, kita bisa katakan bahwa dengan mengenali kebenaran dan “berakrab” dengan lelaku orang-orang yang benar, dan arif, maka mau tak mau kita akan tertuntunkan untuk masuk dalam gerbong yang sama dengan mereka.

Saya teringat, dalam beberapa kesempatan saya bertemu dengan orang-orang arif yang memukau keilmuannya. Besar hasrat hati untuk membersamai orang-orang arif tersebut, tapi tak selalunya ada kesempatan. Seringkali karena keterbatasan pribadi, atau lebih seringnya karena orang-orang yang kita kenal arif dan memang Allah anugerahkan peranan untuk mengajar masyarakat, pastilah mereka sudah menjadi “milik khalayak.”

Dan ingin mendaku seseorang yang sudah menjadi “milik khalayak” sebagai seseorang yang kita kenal secara pribadi, tentulah sulit. Sesulit merentangkan tangan menutupi gunung Fuji pada cerita di awal tadi.

Saya ingat Rasulullah SAW, orang yang benar-benar menjadi “milik khalayak.” Dan semua sahabat ingin mendekat karena beliau seperti magnet yang memancarkan kharisma. Beliau seumpama sumur kebijakan yang tak habis ditimba.

Tetapi nyatanya memang beliau dekat dengan semua orang. Dalam sebuah riwayat kita pernah dengar bahwa setiap orang yang berbicara dengan beliau akan merasa bahwa merekalah orang yang paling diperhatikan.

Tentu kita tahu, bagaimanapun akan tetap ada sahabat yang masuk dalam lingkaran terdekat beliau, seperti khulafaur rasyidin. Tetapi itupun kita paham karena situasi dan kondisi membuatnya begitu.

Dan dalam lain cerita, ada juga seorang sahabat yang tak begitu intens bertemu beliau, tetapi kepada sahabatnya yang lain –yang dekat secara jarak dan frekuensi pertemuan- beliau katakan untuk mencari seseorang yang bernama Uwais Al Qarniy (orang yang tidak dekat secara fisik dengan beliau itu tadi).

Lewat cerita sejarah kita tahu, Uwais Al Qarniy ini hanya sekali saja pergi ke tempat Rasulullah, dan itupun tidak sempat bertemu. Tetapi namanya disebut-sebut sebagai orang yang makbul doanya, dan khulafaur Rasyidin meminta doa pada beliau. Meski secara fisik Uwais Al Qarniy tidaklah berada pada lingkaran terdekat Rasulullah SAW.

Dan dalam suatu hadits, Rasulullah pernah juga bersabda bahwa sahabat beliau adalah orang-orang yang belum pernah bertemu muka dengan beliau, tetapi mengimani dan mencintainya. [2]

Intinya saya rasa, kita menjadi fakir sajalah kepada Allah[3], dan nanti kita akan dihantarkan untuk masuk dalam majelis orang-orang yang sama-sama fakir kepada Allah.

Jangan mencari orangnya, tetapi carilah Allah dan kita akan didekatkan kepada siapapun yang berjalan ke arah yang sama.

Tetapi sebenarnya, keseluruhan cerita tentang merangkum Gunung Fujiyama ini saya tuliskan dalam kaitannya dengan Ilustrasi satu lagi ini.

Masih dalam Lathaiful Minan. Suatu hari Ibnu Athaillah yang merasa begitu dekat dan ingin meniru Sang Guru dalam amaliyah dan kezuhudannya, datang menemui gurunya dan hendak mengutarakan hasrat untuk meninggalkan usaha lahiriah. Karena beliau merasa bahwa usaha lahiriah itulah yang menyebabkan beliau tidak total dalam mengabdi kepada Allah. (Dengan bekerja, dan sibuk berkecimpung dalam aktivitas duniawi, maka beliau sulit membersamai Sang Guru, dan lagi sulit untuk mengabdi total kepada Allah, menurut beliau kala itu.)

Tetapi apa jawab gurunya? “Bukan begitu caranya, tetaplah dalam posisi yang Allah berikan kepadamu. Bagian untukmu yang Allah berikan lewat diriku pasti akan sampai kepadamu.”

Artinya jelas. Bahwa yang pedagang tetaplah menjadi pedagang. Yang dokter tetaplah menjadi dokter. Yang guru tetaplah menjadi guru. Yang pegawai tetaplah dengan kepegawaiannya.

Karena makna-makna mengenai hubungan manusia dan Tuhannya itu akan ditemui dalam keseluruhan panjang cerita di “gerbong kereta” kita masing-masing.

Sesuatu yang para ulama arif katakan dengan “khauf” atau rasa takut kepada Tuhan, bukanlah sebuah ungkapan abstrak yang hanya bisa ditemui dengan peribadatan adiluhung dan memesona dalam jumlah, tetapi ianya juga tercetak jelas dan bisa dicecap dalam keseharian kita yang dihantam berbagai-bagai masalah.

Sang pegawai yang limbung diterpa urusan kantor, pada akhirnya merasakan kekuasaan Allah dan melihat keagungan Allah lewat cerita dalam kesehariannya. Itulah gerbong keretanya.

Sesuatu yang para ulama arif katakan dengan “roja’” atau pengharapan kepada Tuhan, juga bukan sebuah emosi abstrak yang hanya bisa ditemui dengan zikir beribu lafadz.

Tetapi ianya juga berkelindan pada keseharian seorang dokter yang setiap hari melihat puluhan pasangan suami-istri khusyu berdoa untuk kelahiran bayi-bayi mereka. Atau seorang lemah yang terbaring pada ranjang rumah sakit dan melantunkan doa kesembuhan. Itulah gerbong keretanya.

Jika kita telah mengerti bahwa yang penting adalah mengakrabi kebenaran, dan menjadi fakir kepada Allah agar kita terkumpulkan pada majelis orang-orang yang sama.

Maka kereta pembawa kita menemukan makna-makna perhubungan manusia dan Tuhan itu sejatinya jalan hidup kita sendiri-sendiri. Kereta yang tak akan pernah meninggali.

Dalam pemaknaan seperti itulah, rasanya kita tak perlu bersedih hati untuk tak mampu secara fisik dekat dengan orang-orang arif yang “dimiliki khalayak”, pun tak perlu bersedih hati untuk melihat ketertinggalan pencapaian ibadah dibandingkan rekan-rekan yang gemilang. Karena sebenarnya kita tak pernah ketinggalan kereta. Kita sudah di dalam kereta. Keretanya ialah cerita hidup setiap kita.

Tinggal merubah cara pandang bahwa segalanya adalah cara Dia mengajar, sehingga segalanya adalah pula cara kita belajar. Dan kita perlu menyalin ulang petuah Syaikh Abdul Qadir Jailani, petuah indah berikut ini:

Berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.[4]

 

catatan kaki:

[1] Sang ulama zuhud nan arif itulah yang mengubah pandangan Ibnu Athaillah dari yang melulu memandang negatif pada tasawuf menjadi mengetahui bahwa tak selamanya tasawuf itu keliru, sebagaimana tak semua pembelajar fikih itu benar penafsirannya.

[2] Diriwayatkan dari Abu Jum’ah ra yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah ra yang berkata “Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau”. Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab “Ya ada, yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744 dengan sanad yang shahih.

[3] Fakir kepada Allah adalah ungkapan majazi, maksudnya adalah merasa butuh terhadap pertolongan Allah.

[4] Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuh Al Ghaib

Iklan

MENCARI YANG TAK KEMANA-MANA

Pada sebuah sesi bicara dalam panggung “Ted’s talk” seorang narasumber memberikan sebuah wacana begitu cantik tentang pandangannya bagi orang-orang yang sering melakukan perenungan “ke dalam”, orang-orang yang sering tafakur dan menilik batinnya sendiri.

Sebelum lebih jauh kita membincang, secara sederhana baiknya kita gunakan dua mainstream ini dalam kaitannya dengan bagaimana seseorang mengisi energi jiwanya.

Yang pertama adalah orang-orang yang hobi merenung, mengamati batinnya sendiri, orang yang dibahas dalam bincang paragraf di atas.

Yang kedua adalah orang-orang yang hobi bertualang, dan mengamati yang diluar diri mereka.

Atau dalam perumpamaan yang lebih pas kita bisa katakan bahwa golongan pertama adalah para pejalan “kedalam”, dan yang kedua adalah para pejalan “keluar”. Journey inward, dan journey outward.

Orang-orang yang kecenderungan batinnya adalah melakukan journey inward, acapkali secara keliru ditafsirkan oleh khalayak sebagai orang yang anti sosial. Padahal, tak begitu, hanya saja orang-orang tipe ini mereka begitu tekun menilik ke dalam dirinya sendiri, melakukan perjalanan dengan menguliti lapis-lapis emosi dan fikiran mereka sendiri, sehingga mereka mendapatkan bahwa “perjalanan”; atau journey; yang mereka lakukan itu bisa memberikan semacam daya refresh. Menyegarkan. Atau kata orang-orang, mencerahkan.

Begitu kata sang pembicara.

Tiba-tiba saya tertarik menulis kembali mengenai hal ini dalam kaitannya dengan dimensi yang lebih spiritual.

Bagi orang-orang tipikal “journey inward” itu, mereka tak perlu berdiri di puncak everest untuk merasakan bahwa dirinya kecil dan tak berdaya, bahwa Tuhan ternyata begitu besar dan digdaya. Karena definisi itu, pemaknaan itu, telah mereka peroleh lewat perjalanan perenungan mereka ke dalam jiwanya sendiri.

Saat orang-orang kebanyakan tak mampu memisahkan antara consicusness, kesadaran dirinya, dan anasir emosinya dan fikirannya, para perenung mampu mengamati dengan objektif ruang-ruang batinnya sendiri. Dari penelusuran itulah mereka seringkali menemukan makna dari kekuasaan Tuhan, atas ketakjuban melihat kekompleks-an diri mereka, yang berarti juga kekompleks-an manusia.

Satu kekeliruan saya dulu, saya mengira bahwa hanya orang-orang yang punya kecenderungan merenung seperti ini sajalah yang pada akhirnya akan memaknai hidup dengan lebih spiritual. Atau dalam bahasa lainnya, dimensi esoteris agama hanya bisa dicecap oleh orang-orang yang suka bertafakur lewat pola journey inward semata. Setidaknya dulu begitulah kesimpulan prematur saya.

Ternyata saya keliru. Setelah berulang kali saya bertemu dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan journey outward. Mereka bukan perenung dalam artian bukan orang yang hobi duduk tafakur, membaca, dan mengamati diri mereka sendiri. Tetapi mereka adalah orang-orang yang hobi berpetualang. Naik gunung. Mendaki bukit, menuruni lembah dan ngarai. Yang pada gilirannya, ternyata model perjalanan seperti itu juga membuat mereka beragama dengan lebih “dalam,” mengakrabi Tuhan dalam sikap yang lebih dari sekedar formalitas.

Teringat saya akan sebuah kisah. Dimana seorang sahabat Rasulullah SAW yang begitu asik beribadah. Kerjaannya puasa melulu, dan beribadah melulu hingga melupakan keluarganya, saking asyiknya “journey inward.” Tetapi sahabat ini kemudian ditegur. Agar beliau balance dalam memposisikan kehidupannya. Bahwa anaknya memiliki hak atas dirinya, istrinya punya hak atas dirinya, begitu juga lingkungan sekitarnya memiliki hak atas dirinya.

Kisah di atas dan kisah yang saya kutip dibawah nanti mungkin tak terlampau relevan, mengingat tentu naif menyamakan antara “journey inward” dan ibadah khusus seperti sholat.

Pada intinya, pesannya kita bisa pahami, bahwa memang betul kata pepatah, manusia itu bukanlah makhluk jasadi yang memiliki sisi ruhani, manusia sebaliknya adalah makhluk ruhani yang tinggal pada alam jasadi.

Tetapi, betapapun juga, justru karena sekarang kita tinggal di alam nyata inilah maka journey outward menjadi memiliki porsinya. Bahwa hidup tak melulu perenungan ke dalam, tapi juga menempuh perjalanan ke luar diri.

Rasulullah SAW selepas tahannuts di gua hira, menghantar risalah ke khalayak ramai. Selepas mi’raj beliau bukannya asyik-asyik di puncak langit tetapi kembali ke peradaban yang penuh sesak dan gonjang-ganjing.

Jadi terpahamkanlah saya bahwa baik journey inward, maupun journey outward akan memiliki momentnya sendiri, dan dua-duanya  akan bisa mengantarkan manusia untuk menyaksikan keagungan Tuhannya.

Orang yang terbiasa tafakur, merenung,  atau berjalan “kedalam”, pada akhirnya setelah menemukan sekian makna-makna akan “dipaksa” untuk “keluar” dan memberi sumbangsih ke masyarakat. Bahwa hidup bukan untuk menjadi pertapa semata, tetapi juga menyaksikan Keagungan, dan Keindahan Allah, Jalal dan Jamal-Nya Allah SWT yang tersebar terserak-serak di merata alam ini.

Definisi mengenai kefakiran dan kecilnya diri –yang mereka temukan dalam duduk tafakurnya yang hening- akan menemukan realitasnya saat mereka dihantam gada persoalan pada kecimpungnya di dunia luar.

Begitupun sebaliknya, orang-orang yang terbiasa berjalan “keluar.” Hobi bertualang. Jalan-jalan. Pergi kesana-sini. Berbaur dalam khalayak, lebur dalam keramaian pasar, pada akhirnya akan menemukan jenaknya dimana mereka terpaksa atau dipaksa berjalan “kedalam”.

Realita mengenai lelah dan capeknya, perih dan pedihnya petualangan, baru akan mereka temukan makna dan definisinya setelah mereka mengambil jeda sejenak dan kontemplatif “kedalam.” Seperti kata Rumi, “Dan kau…kapan kau akan mulai perjalanan panjang ke dalam dirimu?” Tempat dimana jutaan fakta realita lapangan mengendap dan terakumulasi jernih menjadi makna-makna yang cerah.

Dengan begitu semua seharusnya “menemukan” Tuhan. Karena padaNya semata muara segala perjalanan

Mungkin itulah mengapa kita dengar masyhur sekali ungkapan bahwa para sahabat Rasulullah SAW adalah umpama singa-singa lapar di siang hari, tetapi pada malamnya mereka menjelma rahib-rahib.

Sebuah skema perjalanan “keluar” dan “kedalam” yang sangat elok. Untuk “mencari” Tuhan, yang sejatinya tak kemana-mana.

 

MENYUSUN ULANG MAKNA LILLAH

Green-leaf-water-droplet

Ada satu kesalahan saya dulu, dalam memaknai kata “Lillah.”

Dulu saya mengira bahwa sebuah pekerjaan dikerjakan dengan “Lillah”, untuk Allah, berarti pekerjaan itu dilakukan dengan sama sekali bebas konteks.

Misalnya sholat, maka sholat yang “Lillah” itu saya kira sholat yang bebas konteks. Orang sholat bukan karena dipicu kondisi butuh duit. Orang sholat bukan karna dia ada masalah.

saya mengira, orang yang sholat karena dia pengen sholat saja; itulah yang “Lillah.”

Belakangan, saya baru memahami kekeliruan saya dalam memaknai Lillah.

Dan saya baru menyadari bahwa cara Allah mengajak hambaNya kembali padaNya salah satunya adalah dengan “memecahkan tempayan” ke-akuan hambaNya lewat ujian hidup.

Maka, saat ada seseorang dibelit hutang, dan dengan kondisi dibelit hutang itulah dia menemukan makna kefakiran, lalu orang tersebut sholat dengan situasi batin yang meminta tolong dan mengakui bahwa DIA-lah Yang Maha Kaya; maka “Lillah” lah orang itu.

Saat ada seseorang digelontori masalah, dan dengan kondisi banyak masalah itulah maka orang tersebut menemukan makna ketidak berdayaan, lalu orang tersebut berdo’a dalam do’a yang mengakui kelemahan diri dan menyaksikan Kekuasaan Allah; maka “Lillah“-lah orang itu.

Dan disini saya baru mengerti bahwa segala peribadatan kita, sesungguhnya tak pernah lepas dari konteks hidup kita. Dan kondisi dimana kita tergerak berangkat beribadah karena konteks hidup kita; dan kita “menyaksikan” kekuasaan Allah dalam ‘ibadah yang mengakui kelemahan diri itu’; maka “Lillah“-lah itu.

Ada orang yang kesulitan lantas berdo’a meminta pertolongan, maka orang itu “Lillah” jika yang dia saksikan adalah Kekuasaan Rabb-nya dalam aktivitas berdo’a-nya itu.

Orang yang banyak kemudahan dalam hidupnya, lantas memuji Allah sebagai ekspresi kesyukurannya, maka orang itu “Lillah” jika yang dia saksikan adalah Welas Asih, rahmatnya Allah dalam aktivitas memujinya itu.

Jadi segala ibadah kita, baru saya sadari, tak akan pernah bisa kita lepaskan dari konteks hidup kita.

Apatah ibadah itu merupakan bentuk minta tolong pada Allah karena kesulitan yang menggiring kita bertemu pertolonganNya. Atau ibadah yang semata memuji DIA karena kebersyukuran atas kemudahan hidup yang kita cecap dalam perjalanan kita.

Dua-duanya melekat erat pada pengalaman hidup kita masing-masing. Dan dua-duanya merupakan jalan untuk “Lillah“…jika dalam peribadatan yang disetir oleh duniawi itu, nyatanya kita [yang kecil] menemukan DIA [Yang Besar] dalam peribadatan itu.

Dan sebaliknya, meskipun ibadah kita banyak, boleh jadi ibadah kita itu tidak “Lillah”, jika ibadah kita itu fokus pada isi permintaannya. Yang kesulitan hidup beribadah dengan fokus pada permintaan akan kemudahannya, yang butuh duit fokus pada duitnya,  bukan ekspresi dari situasi batin yang menemukan diri begitu kecil; sehingga kita menyaksikan Yang Maha Besar.

Jadi, dalam pemaknaan seperti di atas, barulah saya mengerti bahwa beribadah atau kembalinya kita pada Allah, yang didorong oleh kebutuhan hidup, itu tetap “Lillah” kok…

 

TENGGELAM DALAM kekecilan

CELLS IN HUMAN BODY

Berapa jumlah sel dalam tubuh manusia? Estimasi para ilmuwan mengatakan sebuah range yang sangat besar antara “5 billion, to 200 million trillion cells.”[1] Entah bagaimana metoda mereka melakukan perhitungan itu.

Yang menarik adalah, setiap sel kita ketahui tersusun dari molekul, setiap molekul terdiri dari unsur, dan unsur dipecah menjadi atom-atom.

Tak ingin berpanjang kata tentang hal yang hampir semua orang tahu, kita sudah paham bahwa di dalam atom pun masih ada elektron dan proton-neutron yang semua bergerak sendiri dengan intelegensianya sendiri.

Sebuah gerak sederhana saja, semisal gerak kita “mengambil air minum,” pada tataran yang mikro berarti adalah gerak dari triliunan sel dan atom-atom.

Kalau perputaran elektron di dalam atom itu tidak pernah kita setir, lalu pertanyaan yang logis adalah benarkah persepsi kita bahwa kitalah yang menyetir sebuah gerak ‘mengambil air minum’ itu? Jangan-jangan, gerak kita mengambil air minum itu sebenarnyapun bukan kita yang menggerakkan? –karena merupakan sebuah gabungan dari triliunan gerak atom yang sudah otomatis bergerak sendiri-. Melainkan sebuah gerak yang sudah disusunkan.

Tetapi sebenarnya bukan itu yang hendak saya obrolkan. Saya tiba-tiba teringat dengan bahasan ini karena mendapati begitu banyak tulisan yang bertebaran dari para motivator yang menyarankan sebuah cara untuk membuat seseorang menjadi optimis.

Katakanlah misalnya kita kita ingin melakukan sesuatu, maka kita membuat sebuah visualisasi di benak kita, sebuah bayangan semacam hipnosa diri sendiri, bahwa kita pasti bisa, kita sukses, dan kita sangat hebat. Bayangan itu kelak akan menghipnosa diri kita sendiri dan menjadi terpacu untuk sukses dan berani.

Dulu bahasan itu begitu menarik buat saya. Barulah belakangan ini setelah menemukan beberapa kajian dari orang Arif[2], saya mendapati bahwa metoda hipnosa diri sendiri dengan kata-kata optimis semacam itu, sering bertabrakan dengan pandangan para arifin dalam islam.

Misalnya, kita tengok sejarah Nabi Yunus a.s kala dimakan ikan Nun, lalu beliau mengucapkan do’a yang masyhur: “Tiada Tuhan melainkan Engkau! Maha Suci Engkau! Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri”.(QS Al-Anbiya’ : 87).

Doa Nabi Adam a.s. kala terpisah dengan siti Hawa:

“Keduanya berkata: Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf [7]: 23.)

Para arifin mengatakan, alih-alih menghipnosa diri dengan memvisualisasikan kehebatan diri, Para Nabi dan orang-orang shalih malah kebalikannya. Mereka menenggelamkan diri dalam pengakuan kekerdilan dan kelemahan. Dan dengan tenggelam dalam pengakuan kelemahan diri itulah mereka mengenal Kebesaran Tuhan.

Dan sejarah mencatat juga, orang-orang yang menenggelamkan diri dalam pengakuan kekerdilan dan kelemahan inilah yang pada akhirnya ditolong oleh Allah.

Yunus a.s dikeluarkan dari perut Ikan Nun, dikembalikan ke daratan, dan mendapati penduduk Ninawa pada akhirnya kembali beriman.

Adam a.s dan Hawa akhirnya dipertemukan kembali.

Kalau kita bawa lagi perbincangan ini pada sebuah fakta modern sekarang bahwa di dalam tubuh kita sendiri begitu banyak kehidupan yang sama sekali kita tidak ada campur tangan mengaturnya. Dan dalam skala makro pun kita tahu bahwa pergerakan planet-planet di alam semesta ini juga tak ada campur tangan manusianya. Maka kita tahu bahwa sejatinya hampir semua –atau mungkin memang semua- lini dalam kehidupan kita ini sudah disusun dengan rapih dan indah.

Semakin menyadari keteraturan susunan yang tak pernah kita ikut campur tangan ini, semakin dekatlah pada Yang Menyusunnya.

Dan ternyata kita tengok bahwa kebiasaan untuk menghipnosa diri dengan segala kalimat optimis itu pada tataran tertentu malah menjadi kontra produktif, karena ternyata memperbesar ‘keakuan,’ yang pada gilirannya akan membuat manusia tersiksa sendiri, karena begitu banyak variabel di dalam hidup ini yang tak mungkin disetir oleh mereka.

Dan dalam kaitannya dengan dimensi spiritualitas islam, saya temukan orang-orang arif mengatakan bahwa kehidupan ini tujuannya hanya satu, yaitu mengenali Allah SWT. Dan pengenalan terhadap Allah SWT salah satunya didapatkan lewat pengakuan akan kelemahan diri. Atau kebalikannya, tak mungkin kedekatan pada Allah diperoleh siapapun yang memandang pada kebesaran dirinya sendiri.

Ali bin Abi Thalib berkata: “Allah membuatku mengenal diriku sendiri melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]”[3]

Orang-orang yang mengenal Allah, dan menjadi dekat kepada Allah, adalah selalu orang-orang yang dibuat menyadari kelemahan dirinya, dan menyadari ketidakmampuan dirinya. Semakin mereka menyadari begitu banyak variabel yang sejatinya tidak pernah disetir oleh manusia, semakin mereka mengenali Allah sebagai Sang Pemilik segala pagelaran yang bergerak dengan serba otomatis itu.

Mereka mendapati diri sendiri sebagai begitu miskin dan papa, lalu mengenali Allah sebagai Yang Maha Kaya.

Mereka dapati diri sebagai yang begitu bodoh dan tak tahu apa-apa, lalu mengenali Allah sebagai Yang Maha Memiliki Ilmu dan Bijaksana.

Semakin mereka mengakrabi dirinya sebagai seorang yang tidak punya kuasa, semakin mereka menjadi kenal dengan Yang Memiliki Daya.

Semakin mereka menyadari dirinya kecil, Semakin tahu bahwa DIA-lah Yang Besar.

catatan kaki:

[1] http://phenomena.nationalgeographic.com/2013/10/23/how-many-cells-are-in-your-body/

[2] H. Hussien Abdul Latiff

[3] Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Al Qur’an Tematik Spiritualitas dan Akhlak, (452), 2010

MEMASUKI GERBANG DO’A

Pesawat yang ditumpangi Dr. Ishaan seorang dokter spesialis dari Pakistan tiba-tiba rusak dan mendarat darurat pada sebuah tempat terpencil karena guruh dan kilat.

Karena ada sebuah urusan yang begitu urgent, maka diputuskanlah jika mereka harus mencari tumpangan kendaraan yang kebetulan melintas, dan tidak usah menunggu pesawat diperbaiki terlebih dahulu.

Saat mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil, tiba-tiba turun hujan lebat disertai gemuruh dan petir. Jalanan jadi berlumpur dan sulit dilalui, memaksa mereka untuk berhenti.

Dari kejauhan, Dr. Ishaan dan beberapa orang rekannya melihat ada sebuah gubuk, lalu mereka memutuskan untuk berteduh disana.

Ternyata gubuk itu dimiliki oleh seorang Nenek yang sudah tua, dan sang nenek sedang merawat seorang anak yang sedang sakit.

Singkat cerita, Dr. Ishaan bertanya pada sang Nenek, kenapa anak itu?

Lalu dijelaskanlah bahwa sang anak itu mengidap sakit yang langka, yang hanya bisa diobati oleh seorang dokter spesialis. Mereka sudah pergi ke kota dan mendatangi RS untuk mendaftar, tetapi saking padatnya jadwal sang dokter maka dokter hanya bisa ditemui enam bulan ke depan setelah pendaftaran.

Betapa kagetnya Dr. Ishaan ketika beliau menyadari bahwa dirinyalah dokter yang dimaksud. Sayalah dokter itu, Ibu. Katanya.

Sang nenek seketika menangis. Dr. Ishaan dan Sang Nenek akhirnya menyadari bahwa doa Nenek yang setiap hari meminta pada Allah SWT agar menyembuhkan sang anak; akhirnya menjadi sebab pesawat sang dokter rusak, hujan turun, mobil tak bisa melanjutkan perjalanan, dan dokter tersebut diantar langsung ke rumah mereka.

Betapa kuatnya do’a.[1]

Saya tertarik kembali menukil kisah ini, karena teringat dengan sebuah perbincangan begitu klasik. Tentang “takdir”.

Segala sesuatu, telah ada di dalam ilmu Allah. Dan begitu banyak hadits dan tulisan para ulama membahas tentang ini. Kemudian bertanya-tanyalah kita, lantas apa makna do’a jika semuanya sudah tertakdir dan masuk dalam Qada dan Qadarnya Allah?

Pertanyaan kita, persis sama dengan pertanyaan seorang sahabat. Suatu hari seorang sahabat Rasulullah bertanya pada beliau, apakah kita harus berpasrah saja tak usah berusaha, bukankah semua sudah tertakdir?

Kata nabi, tetaplah berusaha, dan jangan berpasrah. Karena, setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang tertulis baginya.[2]

Jika kita tergerak berdo’a, berarti saat itu Allah menuliskan kita tergerak berdo’a, pintu pengenalan.

Setelah memahami ini, kita tidak lagi menganggap do’a sebagai bentuk pemaksaan terhadap Allah agar menuruti apa yang kita mau, tapi do’a berubah fungsi menjadi sarana curhat.

Seperti ungkapan orang-orang arif, jika Allah ingin memberi, maka Allah berikan dulu wadahnya.

Jika Allah ingin memberi kita kendaraan, misalnya, Allah berikan dulu wadahnya berupa kesulitan dalam pekerjaan yang kita lalui karena jarak tempuh yang jauh. Berupa perasaan lelah dan sangat butuh akan pertolongan Allah, lalu berupa do’a yang menegakkan kehambaan dan memuji Allah. baru diujungnya Allah kasih kendaraan.

Saya teringat kembali salah satu kajian dari seorang Arif[3], dimana beliau memberi perumpamaan dalam kaitannya dengan mengenali Allah SWT; bahwa kehidupan ini ‘seumpama’ si kecil mengenal YANG BESAR.

Kita sebagai manusia, dan juga alam semesta raya ini jika dikumpulkan masihlah sungguh kecil dibandingkan ke-Maha-an Allah SWT.

Karena Allah SWT ingin dikenali, maka Dia menzahirkan alam raya ini, menzahirkan ciptaan.

Dan keseluruhan perjalanan makhluq di alam kehidupan ini, tujuannya hanya satu yaitu mengenaliNya.

Pada ciptaan, dititipkan olehNya perasaan fakir dan butuh kepada Allah.

Cara Allah meletakkan rasa ‘fakir’ dan kerdil dalam diri kita, biasanya lewat kejadian hidup. Lewat ujian. Lewat kebutuhan-kebutuhan.

Dengan mengenali diri kita (yang kecil) sebagai makhluq yang tak punya daya, maka kita akan mengenali DIA sebagai Yang Memiliki Daya.

Dengan mengenali diri kita (yang kecil) sebagai yang miskin dan papa, maka kita akan mengenali DIA sebagai yang Maha KAYA.

Dengan mendapati diri kita (yang kecil) sebagai yang bodoh dan tak tahu, maka kita mengenali DIA sebagai Yang Memiliki Ilmu.

Begitu juga kaitannya dengan do’a. Apapun saja bentuk do’a kita, sebenarnya kalau diperhatikan merupakan ekspresi yang terangkum dari perumpamaan itu tadi, seolah-olah tentang si kecil menyanjung YANG BESAR.

Dengan berdo’a, si kecil mengaku kecil dan mengenali kekecilannya, maka dengan itu dia mengAkbarkan YANG BESAR.

Memang Allah SWT buat kita untuk berdo’a. Kenyataan bahwa kita berdo’a, sejatinya memang dibuat olehNya sebagai bentuk pengenalan.

Dia ingin dikenal, dibuatnyalah kita mendapati diri sebagai yang begitu kecil, dengan itu kita kenali DIA sebagai yang begitu besar.

Dan betapa takjub saya mendapati kata-kata Ali Ibn Abi Thalib berikut ini:

“Allah membuatku mengenal diriku sendiri, melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan bahwa aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]”[4]

si kecil, mengenali YANG BESAR. Saat menemukan diri sebagai yang begitu kecil, saat itulah kita akan mengenaliNya sebagai Yang Begitu Besar.

Dalam pemaknaan begitulah saya rasa sebaiknya kita menghayati do’a. Tak melulu sebagai bentuk permintaan kebendaan, pun tak menjadi bingung dengan apa yang sudah ditetapkan.

Janganlah kamu berdoa: “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau mau, rahmatilah aku jika Engkau mau,” hendaknya dia mantapkan hati atas doanya itu karena sesungguhnya Allah tidaklah dipaksa oleh doanya itu.” (HR. Bukhari No. 6339, 7477, Muslim No. 2679).

Saat kita berdo’a, berdoalah sepenuh hati.

Jangan fikirkan yang belum terjadi, jangan tetapkan yang belum terjadi, karena semua dalam ilmu Allah, rapat tersimpan dan kita tak pernah tahu apa yang bakal terjadi.

Allah sesungguhnya tidaklah dipaksa dengan do’a kita. Melainkan, baru belakangan saya mengerti bahwa do’a itu sebagai wujud dari pengenalan. Saat kita tergerak berdo’a karena menyadari kekecilan kita, disitu kita bertemu dengan pengenalan kebesaran Dia.

Do’a, adalah salah satu bentuk pengenalan.

Jadi kita berdoa saja sepenuh hati, sebagai wujud dari kita mengenaliNya dengan segala sifat Kebesaran dan Kekuasaan, lewat kita mendapati diri kita sebagai yang berdo’a dan penuh dengan kefakiran.

karena DIA mempunyai Sifat sebagai Yang Maha Memberi, Maha Mengabulkan Do’a, maka sebagai ejawantah sifatNya itu akan selalu ada hambaNya yang tertakdirkan merasa begitu kecil dan kemudian berdo’a.

Sebagaimana ungkapan masyhur dari Umar, “Aku tak membawa hasrat pengabulan, melainkan aku membawa hasrat do’a. Saat aku tergerak berdo’a, aku tahu pengabulan bersamanya.”

Indah sekali, bukan? Menyadari bahwa saat kita berdo’a, merupakan bukti dari penzahiran sifatNya.

catatan kaki:

[1] Kisah ini saya dengar dari YouTube, pada rekaman tentang kekuatan do’a, disampaikan oleh Mufti Ismail Menk, mengutip seorang ulama di Saudi Arabia yang mendengarkan penuturan langsung dari Dr. Ishaan seorang dokter spesialis yang sangat terkenal di Pakistan.

[2] Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. H.R Muslim

[3] H. Hussien bin Abdul Latiff

[4] Tafsir Al Quran Tematik, Spiritualitas dan Akhlaq. Kementrian Agama RI (hal, 452)

Saya pinjam gambar ilustrasi dari sini

DIBALIK PESONA

Adik tertua dari K.H. Abdullah Gymnastiar menangis saat melihat ikan yang berenang hilir mudik di dalam aquarium. Saya teringat dengan cerita ini yang dulu saya sering dengar sewaktu masih kuliah di Bandung. Adik beliau itulah, yang menurut K.H. Abdullah Gymnastiar dianggap sebagai guru pertama beliau.

Saat itu Sang Adik menangis kala memandangi ikan yang melenggok indah didalam aquarium. Aa gym muda kala itu tak mengerti dan bertanya kenapa sang adik menangis melihat ikan? Sedangkan sang Adik tentu saja kesulitan menjelaskan kenapa dia menangis dalam bahasa yang dimengerti orang awam.

Sekilas lalu saya ingat inti ceritanya, Sang Adik mengatakan kepada beliau, betapa indah ikan-ikan itu, dan betapa Maha Indah penciptanya.

Sang adik; kita tahu lewat kisah yang disampaikan Aa gym sendiri; tak lama kemudian meninggal dunia. Selepas itu barulah aa gym akhirnya beroleh kepahaman tentang pengenalan kepada Allah SWT, tetapi sang adik yang telah lebih dulu ‘musyahadah’[1] selalu dikenangnya sebagai sang guru pertama.

Pesan adiknya kepada beliau sederhana saja, bahwa apapun segala pencapaian yang dimiliki di dunia ini, tidak akan berguna jika tidak mengenal Allah.

Saya teringat kembali dengan cerita ini saat mendengar kisah seorang arif[2] yang memperoleh musyahadah dan kemana-mana selalu membawa sajadah, lalu berhenti untuk melakukan sholat dua rakaat pada hamparan padang rumput dan mana-mana saja yang dia temui.

Orang-orang ini, terpandang pada Yang Dibalik Pesona.

Sebuah hadits Qudsi mengatakan bahwa pada mulanya hanya Allah saja yang ada, tiada apapun bersamaNya[3].

Dia berkehendak menciptakan makhluq, maka DIA menciptakan alam semesta ini. Dan alam semesta ini bergerak mengikut apa yang telah DIA tuliskan.

Kesegala kejadian yang terjadi di alam ini merupakan ejawantah dari asma dan sifatNya, sudah terangkum dalam Qada dan QadarNya.

Secara simpel kita bisa bahasakan bahwa apapun yang terjadi, pastilah bercerita atau pastilah merupakan manifestasi dari dua penggolongan sifat utama yang DIA ingin ajarkan, yang pertama dinamakan “Jalal” (kebesaran dan keagungan) dan yang kedua dinamakan “Jamal” (keindahan).[4]

Dan orang-orang yang terpandang kepada Keindahan sifat Allah SWT inilah; yang terpandang pada JAMAL-Nya inilah yang tak dimengerti kebanyakan orang. Seperti adiknya K.H. Abdullah Gymnastiar yang menangis memandangi ikan berenang, dan seperti sang Arif yang berhenti dan melakukan sholat dua rakaat pada hamparan rerumputan yang dia temukan.

Jika orang-orang kebanyakan memandang pada pesona lahiriah semata, mereka terpandang pada Yang Dibalik Pesona, Yang membuat pesona.

Dahulu, saya mengira bahwa untuk mencapai derajat “musyahadah” seperti ini, kita harus melakukan sedemikian banyak peribadatan yang mengagumkan, sehingga kemudian Allah akan menganugerahkan kepada kita kepahaman dan salah satu karuniaNya itu adalah bahwa kita tak sekedar terhenti memandang pada pesona di Alam Raya ini, melainkan kita terpandang pada Yang Dibaliknya lagi, Pemilik Pesona.

Approach semacam itu tentu tidak keliru. Hanya saja saya baru memahami bahwa ada approach atau pendekatan satu lagi. Ada approach yang lebih ringkas, karena tak semua orang bisa menjalankan peribadatan yang begitu banyak kuantitasnya.

Pendekatan yang lebih ringkas itu adalah dengan memahami wacana keilmuannya terlebih dahulu.

Jika pendekatan pertama itu adalah dengan beribadah sebanyak-banyaknya, sehingga nanti pengertian akan diperoleh seiring dengan anugerah Musyahadah. Maka sebalikna pada pendekatan kedua ini, pengertian-pengertian kita perolehi dari belajar lewat keilmuan yang jelas, Qur’an dan Hadits, juga petunjuk orang-orang arif.

Sehingga jika kita sederhanakan skemanya adalah belajar mengenal Allah lewat literatur yang shahih, dan memahami kehidupan dan peribadatan keseharian kita lewat paradigma yang sudah kita dapatkan itu. Sehingga peribadatan dan keseharian menjadi lebih bermakna tersebab sudah mengenal Allah lewat keilmuan yang dipelajari lewat lisan orang-orang arif.

Mereka sudah bercerita banyak pada kita bahwa tak ada satu gerak-pun di alam raya ini yang luput dari takdir dan kehendakNya, dan mereka sudah pula bercerita bahwa apapun saja yang terjadi adalah manifestasi dari Asma dan SifatNya yang terangkum dalam JALAL dan JAMAL-Nya. Maka kita tinggal membawa paradigma itu dalam keseharian kita.

Saat kita memandang alam raya, memandang keindahan segala tatanan dan kecantikan keelokan apa saja yang kita temui di dunia ini, kita belajar menafikan segala pesona itu, dan menyadari bahwa apapun saja keindahan yang kita pandang di alam ini hanyalah perangkat milikNya, cara Dia untuk bercerita tentang diriNya, lewat manifestasi sifat-sifat yang mengajarkan keindahan (JAMAL)Nya.

Sampai nanti kita baru pelan-pelan mengerti mengapa seseorang menangis memandangi ikan berenang, dan mengapa seseorang tak kuasa menahan keinginan untuk sholat saat melihat hamparan rerumputan.

Memandang Yang Dibalik Pesona.

catatan kaki:

[1] Dalam bahasa Ibnu Qayyim, Musyahadah berarti pengelihatan hakiki yang bersifat ruhani, yang menunjukkan pada keagungan dan keesaanNya. (orang yang menyaksikan keesaan Allah Azza wa Jalla, sehingga ia temukan segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak bergerak kecuali atas takdir dan kehendak-Nya. (Ibnu Qayyim, Qada dan Qadar, (hal 32))

[2] H. Hussien Abdul Latiff

[3] H.R. Bukhari

[4] Penggolongan manifestasi sifat menjadi Jalal dan jamal dikutip dari Futuh Ghaib, Syaikh Abdul Qadir Jailani.

gambar ilustrasi dipinjam dari link ini