MEMASUKI GERBANG JAMAL (2)

Jika melihat ke angkasa lepas, dan mencoba membandingkan skala bumi dan planet-planet lainnya, barulah kita mengerti bahwa kita tidak hidup dalam sebuah konteks yang sempit, melainkan kita adalah bagian dari alam semesta yang begitu besar dan rapih.

Ilmuwan mengatakan, bahwa planet saturnus 945% lebih besar dari ukuran bumi kita, uranus 400% lebih besar dari bumi, Jupiter 1,120% lebih besar dari bumi. Sederhananya, kita hanya bagian yang begitu kecil dari sistem tata surya kita sendiri. Yaitu matahari yang dikelilingi planet-planet yang berputar mengelilinginya. Revolusi, perputaran yang dari berjuta tahun dulu sampai sekarang masih berjalan, tanpa tersendat.

Kita berbicara itu dalam skala perbandingan bumi dan planet lain dalam tata surya yang sama, kita belum lagi menyentuh soal manusia.

Manusia?

Dalam konteks alam semesta yang besar ini, seperti debu, mungkin lebih kecil dari debu. Sulit sekali membayangkannya.

solar system

[[Eight planets and a dwarf planet in our Solar System, approximately to scale. Pluto is a dwarf planet at far right. At far left is the Sun. The planets are, from left, Mercury, Venus, Earth, Mars, Jupiter, Saturn, Uranus and Neptune. Credit: Lunar and Planetary Institute]][1]

Itu tentang bumi yang baru kita lihat dalam perbandingannya yang indah dengan tata surya.

Sementara di alam semesta ini bertrilliun tata surya. Tata surya kita sendiri berada di dalam sebuah galaksi, bima sakti atau Milky Way.

Milky Way, menurut para saintis terdiri dari sekira 100 hingga 400 milyar bintang-bintang.[2]

Diameter Milky Way ini sekira seratus ribu atau seratus dua puluh ribu tahun cahaya. Jikalah kita bisa menunggangi cahaya, maka dengan kendaraan secepat cahaya itu kita butuh seratus dua puluh ribu tahun untuk dari ujung Milky way hingga tiba di ujung seberangnya.

Baru Milky Way, sedang kita tahu ada beribu-ribu galaksi ada di alam semesta ini.

The Milky Way, it turns out, is no ordinary spiral galaxy. According to a massive new survey of stars at the heart of the galaxy by Wisconsin astronomers, including professor of astonomy Edward Churchwell and professor of physics Robert Benjamin, the Milky Way has a definitive bar feature -- some 27,000 light years in length -- that distinguishes it from pedestrian spiral galaxies, as shown in this artist's rendering. The survey, conducted using NASA's Spitzer Space Telescope, sampled light from an estimated 30 million stars in the plane of the galaxy in an effort to build a detailed portrait of the inner regions of the Milky Way. Used with permission by:  UW-Madison University Communications 608-262-0067 Illustration by: NASA/JPL-Caltech/R. Hurt (SSC/Caltech)
Illustration by: NASA/JPL-Caltech/R. Hurt (SSC/Caltech)

[Map of the Milky Way. Image credit: Caltech]

Betapa manusia begitu kecil. Dan dalam diri kita yang kecil ini pula masih disusun oleh bertrilliun atom-atom yang semuanya bergerak sendiri tanpa pernah kita perintah.

Kita tinggal di dalam sebuah kehidupan besar, dan dalam diri kita pun ada sebuah kehidupan yang besar, yang sedikitpun saja kita tak punya campur tangan dan andil.

Saya teringat dengan seorang guru nan Arif[3] yang mengatakan apa perlunya Tuhan menyiksa kita.

Sekarang-sekarang barulah saya mengerti, bahwa kehidupan manusia yang begitu kecil dan seperti debu ini, dibandingkan kehidupan alam raya yang begitu besar dan luas itu; maka tidaklah mungkin jika Tuhan membuat segalanya ini hanya dalam “konteks” yang begitu keliru kita pahami; menyiksa hambaNya.

Tak mungkin.

Bahwa apapun yang terjadi dalam dunia ini, sudah berada dalam ilmuNya Allah, dalam Qada dan QadarNya yang sempurna, dan semua dalam rangka mengajar dan mendidik manusia untuk mengenalkan manusia padaNya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan : “Allah SWT telah menulis apa yang difirmankanNya dan dikerjakanNya. Dia juga menuliskan semua hal yang sesuai dengan tuntutan nama dan sifat yang disandang-Nya. “[4]

Lalu beliau mengutip hadits Rasulullah: “Seusai menciptakan makhluk, Allah menuliskan dalam kitab-Nya yang berada di sisiNya di atas’Arsy; ‘sesungguhnya rahmatKu mengalahkan kemarahanKu’ “[5]

Segala hal yang terjadi merupakan cara Allah mengajari kita, merupakan manifestasi nama dan sifatNya, dan segala hal dalam balutan rahmatNya yang mengalahkan murkaNya.

Pendek kata, Dia sangat menyayangi kita. Marahnya DIA pun dalam rangka mengajar.

Sampai hal yang secara zahir kita lihat pelik dan memilukan pun masih dalam konteks mendidik. Tidak dalam rangka menyiksa manusia.

Teringat saya pada sebuah hadits Rasulullah[6], dimana Rasulullah berdoa kepada Allah agar tak membinasakan ummatnya dengan bala’ sebagaimana ummat terdahulu dibinasakan. Dan doa itu Allah kabulkan.

Dan itu pula yang belakangan menambah pengertian mengapa Rasulullah mengajarkan kita untuk memulakan segala sesuatu dengan Basmalah, Bismillahirrahmanirrahiim, agar kita memasuki kehidupan, memulakan pekerjaan dengan merasakan manifestasi sifat JAMAL-Nya[7]. KeindahanNya. RahmatNya.

Pada “Futuh Ghaib”, Syaikh Abdul Qadir Al Jilani mengatakan bahwa inilah maksud dari sabda Rasulullah SAW yang meminta bilal mengumandangkan azan, dengan mengatakan, wahai bilal istirahatkan kami dengan sholat. Lalu selepas itu Rasulullah mengatakan Dan kesejukan mataku, telah kurasakan dalam shalatku”.

Kesejukan yang terasa karena beliau merasakan manifestasi sifat JamaliyahNya. Keindahan, rahmat, welas asih Allah SWT. Karena kita pun mengerti bahwa suatu kali rasulullah pun pernah merasakan manifestasi sifat JALAL-Nya, hingga beliau SAW sholat dan terdengar gemuruh gelegak dari dalam dadanya sebab takutnya pada Allah.

Mengakrabi Allah, juga pada sisi JAMALIYAH-Nya, ini yang sering terlupa pada kita, yang sejak kecil dididik dengan dogma bahwa Allah senang menyiksa, dan perhubungan dengan Allah hanyalah mengenai siksa, azab, dan neraka.  Padahal, telah kita tengok perbandingan bumi dan galaksi Milky Way; debu pun tak ada kita ini. Kalau memang Allah hendak menyiksa, tak ada sedikitpun kesulitan bagi Allah. Tetapi Allah hendak mengajari kita mengenal Dia, maka sebab itu DIA gelar pagelaran sangat besar, cantik nan elok di semesta ini.

Satu hal yang saya benar-benar ingat dari wejangan seorang guru[8], adalah tentang “menunggu pengertian.”

Setelah kita pahami bahwa begitu besar alam raya ini digelar, sebagai cara Allah mengajari kita tentang DIA. Dan telah DIA tuliskan segala sesuatu dalam kitabNya, dalam ilmuNya. Dan segala sesuatu yang terjadi adalah tentang manifestasi sifatNya, menceritakan JALAL dan JAMAL-Nya. Dan segala kejadian hidup dalam balutan rahmatNya yang mengalahkan kemurkaanNya. Dan Rasulullah mengajarkan kita mulakan segala sesuatu dengan memasuki gerbang JAMALIYAH-NYA lewat bismillahirrahmanirrahiim.

Setelah kita memahami semua itu, jika kita terbentur pada ujian kehidupan yang pelik dan berat, yang kita ‘belum’ memahami maknanya, dan hikmahnya belum lagi terlihat. Hendaklah kita sabar dan memercayaiNya.

Seperti Adam dan Hawa yang terusir dari syurga dan terpisah jarak konon sekitar tiga ratus tahun, tapi akhirnya dipertemukan kembali.

Seperti Zakariya a.s. yang bermohon agar diberikan keturunan, yang belum mendapatkan pengabulan hingga empat puluh tahun lamanya berdoa, tetapi akhirnya diperkenankan.

Seperti Musa a.s yang melawan tiran paling berkuasa yaitu fir’aun, dan berdoa agar kelaliman ditumbangkan, tetapi jarak pengabulan doanya konon empat puluh tahun (ada juga yang mengatakan delapan puluh tahun, wallahualam).

Mereka menjalani hari dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa sesuatu yang terjadi, pastilah dalam balutan RahmatNya. Meskipun pengertian tentang hikmah suatu kejadian belum lagi tampak, tetapi mereka mensabarinya dan menunggu sampai Allah sendiri nanti yang mengajari tentang hikmah dan pengertian segala sesuatu itu pada waktu yang DIA tentukan sendiri.

MempercayaiNya, bahwa segala sesuatu terjadi tidaklah karena DIA membenci kita, melainkan cara DIA mengajar sebuah hikmah yang kadang manusia sulit mengerti dalam konteks pandangan manusiawi manusia yang begitu kecil. Karena perbuatanNya bergulir dalam konteks yang begitu besar.

Maka jika hikmah itu belum nampak, kita ‘duduklah’ dengan diam dan percaya. Bahwa rahmatNya mengalahkan murkaNya. Dan DIA tidaklah sedang benci kepada kita.

Sekali lagi saya kutipkan pesan Ibnu Athoillah. “Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”[9]

Tetapi beliaupun mengatakan pada baris pertama, bahwa utamanya manusia itu adalah berbaik sangka pada Allah, karena mengerti kesempurnaan sifatNya. Kenal JAMAL-Nya.

Wallahualam

catatan kaki:

[1] http://http://www.universetoday.com/36649/planets-in-order-of-size/

[2] http://http://www.universetoday.com/123225/how-many-stars-are-in-the-milky-way-2/

[3] Ust. H. Hussien bin Abdul Latiff.

[4] Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Qada dan Qadar (ulasan tuntas masalah takdir), hal (113)

[5] H.R.Bukhari (XIII/7553)

[6] “Aku memohon kepada Tuhanku, empat hal. Tiga dikabulkan, yang satu tidak. Aku memintaNya agar tidak menjadikan umatku bersepakat dalam kesesatan, lalu mengabulkannya. Aku memintaNya agar tidak membinasakan mereka dengan bencana seperti umat-umat sebelumnya, lalu mengabulkannya. Aku memintaNya agar mereka tidak dikuasai oleh musuh dari luar mereka, lalu mengabulkannya. Dan aku memintaNya agar tidak terjadi perpecahan, dan saling serang diantara sesama mereka, tapi tidak dikabulkannya” (Hr. Thabrani).

[7] Syaikh Abdul Qadir Jailani mengatakan, bahwa Allah SWT memiliki sifat-sifat yang menunjukkan keagunganNya (JALAL) dan sifat-sifat yang menunjukkan keindahanNya (JAMAL).

[8] H. Hussien Abdul Latiff

[9] Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s