DIBALIK PESONA

Adik tertua dari K.H. Abdullah Gymnastiar menangis saat melihat ikan yang berenang hilir mudik di dalam aquarium. Saya teringat dengan cerita ini yang dulu saya sering dengar sewaktu masih kuliah di Bandung. Adik beliau itulah, yang menurut K.H. Abdullah Gymnastiar dianggap sebagai guru pertama beliau.

Saat itu Sang Adik menangis kala memandangi ikan yang melenggok indah didalam aquarium. Aa gym muda kala itu tak mengerti dan bertanya kenapa sang adik menangis melihat ikan? Sedangkan sang Adik tentu saja kesulitan menjelaskan kenapa dia menangis dalam bahasa yang dimengerti orang awam.

Sekilas lalu saya ingat inti ceritanya, Sang Adik mengatakan kepada beliau, betapa indah ikan-ikan itu, dan betapa Maha Indah penciptanya.

Sang adik; kita tahu lewat kisah yang disampaikan Aa gym sendiri; tak lama kemudian meninggal dunia. Selepas itu barulah aa gym akhirnya beroleh kepahaman tentang pengenalan kepada Allah SWT, tetapi sang adik yang telah lebih dulu ‘musyahadah’[1] selalu dikenangnya sebagai sang guru pertama.

Pesan adiknya kepada beliau sederhana saja, bahwa apapun segala pencapaian yang dimiliki di dunia ini, tidak akan berguna jika tidak mengenal Allah.

Saya teringat kembali dengan cerita ini saat mendengar kisah seorang arif[2] yang memperoleh musyahadah dan kemana-mana selalu membawa sajadah, lalu berhenti untuk melakukan sholat dua rakaat pada hamparan padang rumput dan mana-mana saja yang dia temui.

Orang-orang ini, terpandang pada Yang Dibalik Pesona.

Sebuah hadits Qudsi mengatakan bahwa pada mulanya hanya Allah saja yang ada, tiada apapun bersamaNya[3].

Dia berkehendak menciptakan makhluq, maka DIA menciptakan alam semesta ini. Dan alam semesta ini bergerak mengikut apa yang telah DIA tuliskan.

Kesegala kejadian yang terjadi di alam ini merupakan ejawantah dari asma dan sifatNya, sudah terangkum dalam Qada dan QadarNya.

Secara simpel kita bisa bahasakan bahwa apapun yang terjadi, pastilah bercerita atau pastilah merupakan manifestasi dari dua penggolongan sifat utama yang DIA ingin ajarkan, yang pertama dinamakan “Jalal” (kebesaran dan keagungan) dan yang kedua dinamakan “Jamal” (keindahan).[4]

Dan orang-orang yang terpandang kepada Keindahan sifat Allah SWT inilah; yang terpandang pada JAMAL-Nya inilah yang tak dimengerti kebanyakan orang. Seperti adiknya K.H. Abdullah Gymnastiar yang menangis memandangi ikan berenang, dan seperti sang Arif yang berhenti dan melakukan sholat dua rakaat pada hamparan rerumputan yang dia temukan.

Jika orang-orang kebanyakan memandang pada pesona lahiriah semata, mereka terpandang pada Yang Dibalik Pesona, Yang membuat pesona.

Dahulu, saya mengira bahwa untuk mencapai derajat “musyahadah” seperti ini, kita harus melakukan sedemikian banyak peribadatan yang mengagumkan, sehingga kemudian Allah akan menganugerahkan kepada kita kepahaman dan salah satu karuniaNya itu adalah bahwa kita tak sekedar terhenti memandang pada pesona di Alam Raya ini, melainkan kita terpandang pada Yang Dibaliknya lagi, Pemilik Pesona.

Approach semacam itu tentu tidak keliru. Hanya saja saya baru memahami bahwa ada approach atau pendekatan satu lagi. Ada approach yang lebih ringkas, karena tak semua orang bisa menjalankan peribadatan yang begitu banyak kuantitasnya.

Pendekatan yang lebih ringkas itu adalah dengan memahami wacana keilmuannya terlebih dahulu.

Jika pendekatan pertama itu adalah dengan beribadah sebanyak-banyaknya, sehingga nanti pengertian akan diperoleh seiring dengan anugerah Musyahadah. Maka sebalikna pada pendekatan kedua ini, pengertian-pengertian kita perolehi dari belajar lewat keilmuan yang jelas, Qur’an dan Hadits, juga petunjuk orang-orang arif.

Sehingga jika kita sederhanakan skemanya adalah belajar mengenal Allah lewat literatur yang shahih, dan memahami kehidupan dan peribadatan keseharian kita lewat paradigma yang sudah kita dapatkan itu. Sehingga peribadatan dan keseharian menjadi lebih bermakna tersebab sudah mengenal Allah lewat keilmuan yang dipelajari lewat lisan orang-orang arif.

Mereka sudah bercerita banyak pada kita bahwa tak ada satu gerak-pun di alam raya ini yang luput dari takdir dan kehendakNya, dan mereka sudah pula bercerita bahwa apapun saja yang terjadi adalah manifestasi dari Asma dan SifatNya yang terangkum dalam JALAL dan JAMAL-Nya. Maka kita tinggal membawa paradigma itu dalam keseharian kita.

Saat kita memandang alam raya, memandang keindahan segala tatanan dan kecantikan keelokan apa saja yang kita temui di dunia ini, kita belajar menafikan segala pesona itu, dan menyadari bahwa apapun saja keindahan yang kita pandang di alam ini hanyalah perangkat milikNya, cara Dia untuk bercerita tentang diriNya, lewat manifestasi sifat-sifat yang mengajarkan keindahan (JAMAL)Nya.

Sampai nanti kita baru pelan-pelan mengerti mengapa seseorang menangis memandangi ikan berenang, dan mengapa seseorang tak kuasa menahan keinginan untuk sholat saat melihat hamparan rerumputan.

Memandang Yang Dibalik Pesona.

catatan kaki:

[1] Dalam bahasa Ibnu Qayyim, Musyahadah berarti pengelihatan hakiki yang bersifat ruhani, yang menunjukkan pada keagungan dan keesaanNya. (orang yang menyaksikan keesaan Allah Azza wa Jalla, sehingga ia temukan segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak bergerak kecuali atas takdir dan kehendak-Nya. (Ibnu Qayyim, Qada dan Qadar, (hal 32))

[2] H. Hussien Abdul Latiff

[3] H.R. Bukhari

[4] Penggolongan manifestasi sifat menjadi Jalal dan jamal dikutip dari Futuh Ghaib, Syaikh Abdul Qadir Jailani.

gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s