MEMASUKI GERBANG DO’A

Pesawat yang ditumpangi Dr. Ishaan seorang dokter spesialis dari Pakistan tiba-tiba rusak dan mendarat darurat pada sebuah tempat terpencil karena guruh dan kilat.

Karena ada sebuah urusan yang begitu urgent, maka diputuskanlah jika mereka harus mencari tumpangan kendaraan yang kebetulan melintas, dan tidak usah menunggu pesawat diperbaiki terlebih dahulu.

Saat mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil, tiba-tiba turun hujan lebat disertai gemuruh dan petir. Jalanan jadi berlumpur dan sulit dilalui, memaksa mereka untuk berhenti.

Dari kejauhan, Dr. Ishaan dan beberapa orang rekannya melihat ada sebuah gubuk, lalu mereka memutuskan untuk berteduh disana.

Ternyata gubuk itu dimiliki oleh seorang Nenek yang sudah tua, dan sang nenek sedang merawat seorang anak yang sedang sakit.

Singkat cerita, Dr. Ishaan bertanya pada sang Nenek, kenapa anak itu?

Lalu dijelaskanlah bahwa sang anak itu mengidap sakit yang langka, yang hanya bisa diobati oleh seorang dokter spesialis. Mereka sudah pergi ke kota dan mendatangi RS untuk mendaftar, tetapi saking padatnya jadwal sang dokter maka dokter hanya bisa ditemui enam bulan ke depan setelah pendaftaran.

Betapa kagetnya Dr. Ishaan ketika beliau menyadari bahwa dirinyalah dokter yang dimaksud. Sayalah dokter itu, Ibu. Katanya.

Sang nenek seketika menangis. Dr. Ishaan dan Sang Nenek akhirnya menyadari bahwa doa Nenek yang setiap hari meminta pada Allah SWT agar menyembuhkan sang anak; akhirnya menjadi sebab pesawat sang dokter rusak, hujan turun, mobil tak bisa melanjutkan perjalanan, dan dokter tersebut diantar langsung ke rumah mereka.

Betapa kuatnya do’a.[1]

Saya tertarik kembali menukil kisah ini, karena teringat dengan sebuah perbincangan begitu klasik. Tentang “takdir”.

Segala sesuatu, telah ada di dalam ilmu Allah. Dan begitu banyak hadits dan tulisan para ulama membahas tentang ini. Kemudian bertanya-tanyalah kita, lantas apa makna do’a jika semuanya sudah tertakdir dan masuk dalam Qada dan Qadarnya Allah?

Pertanyaan kita, persis sama dengan pertanyaan seorang sahabat. Suatu hari seorang sahabat Rasulullah bertanya pada beliau, apakah kita harus berpasrah saja tak usah berusaha, bukankah semua sudah tertakdir?

Kata nabi, tetaplah berusaha, dan jangan berpasrah. Karena, setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang tertulis baginya.[2]

Jika kita tergerak berdo’a, berarti saat itu Allah menuliskan kita tergerak berdo’a, pintu pengenalan.

Setelah memahami ini, kita tidak lagi menganggap do’a sebagai bentuk pemaksaan terhadap Allah agar menuruti apa yang kita mau, tapi do’a berubah fungsi menjadi sarana curhat.

Seperti ungkapan orang-orang arif, jika Allah ingin memberi, maka Allah berikan dulu wadahnya.

Jika Allah ingin memberi kita kendaraan, misalnya, Allah berikan dulu wadahnya berupa kesulitan dalam pekerjaan yang kita lalui karena jarak tempuh yang jauh. Berupa perasaan lelah dan sangat butuh akan pertolongan Allah, lalu berupa do’a yang menegakkan kehambaan dan memuji Allah. baru diujungnya Allah kasih kendaraan.

Saya teringat kembali salah satu kajian dari seorang Arif[3], dimana beliau memberi perumpamaan dalam kaitannya dengan mengenali Allah SWT; bahwa kehidupan ini ‘seumpama’ si kecil mengenal YANG BESAR.

Kita sebagai manusia, dan juga alam semesta raya ini jika dikumpulkan masihlah sungguh kecil dibandingkan ke-Maha-an Allah SWT.

Karena Allah SWT ingin dikenali, maka Dia menzahirkan alam raya ini, menzahirkan ciptaan.

Dan keseluruhan perjalanan makhluq di alam kehidupan ini, tujuannya hanya satu yaitu mengenaliNya.

Pada ciptaan, dititipkan olehNya perasaan fakir dan butuh kepada Allah.

Cara Allah meletakkan rasa ‘fakir’ dan kerdil dalam diri kita, biasanya lewat kejadian hidup. Lewat ujian. Lewat kebutuhan-kebutuhan.

Dengan mengenali diri kita (yang kecil) sebagai makhluq yang tak punya daya, maka kita akan mengenali DIA sebagai Yang Memiliki Daya.

Dengan mengenali diri kita (yang kecil) sebagai yang miskin dan papa, maka kita akan mengenali DIA sebagai yang Maha KAYA.

Dengan mendapati diri kita (yang kecil) sebagai yang bodoh dan tak tahu, maka kita mengenali DIA sebagai Yang Memiliki Ilmu.

Begitu juga kaitannya dengan do’a. Apapun saja bentuk do’a kita, sebenarnya kalau diperhatikan merupakan ekspresi yang terangkum dari perumpamaan itu tadi, seolah-olah tentang si kecil menyanjung YANG BESAR.

Dengan berdo’a, si kecil mengaku kecil dan mengenali kekecilannya, maka dengan itu dia mengAkbarkan YANG BESAR.

Memang Allah SWT buat kita untuk berdo’a. Kenyataan bahwa kita berdo’a, sejatinya memang dibuat olehNya sebagai bentuk pengenalan.

Dia ingin dikenal, dibuatnyalah kita mendapati diri sebagai yang begitu kecil, dengan itu kita kenali DIA sebagai yang begitu besar.

Dan betapa takjub saya mendapati kata-kata Ali Ibn Abi Thalib berikut ini:

“Allah membuatku mengenal diriku sendiri, melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan bahwa aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]”[4]

si kecil, mengenali YANG BESAR. Saat menemukan diri sebagai yang begitu kecil, saat itulah kita akan mengenaliNya sebagai Yang Begitu Besar.

Dalam pemaknaan begitulah saya rasa sebaiknya kita menghayati do’a. Tak melulu sebagai bentuk permintaan kebendaan, pun tak menjadi bingung dengan apa yang sudah ditetapkan.

Janganlah kamu berdoa: “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau mau, rahmatilah aku jika Engkau mau,” hendaknya dia mantapkan hati atas doanya itu karena sesungguhnya Allah tidaklah dipaksa oleh doanya itu.” (HR. Bukhari No. 6339, 7477, Muslim No. 2679).

Saat kita berdo’a, berdoalah sepenuh hati.

Jangan fikirkan yang belum terjadi, jangan tetapkan yang belum terjadi, karena semua dalam ilmu Allah, rapat tersimpan dan kita tak pernah tahu apa yang bakal terjadi.

Allah sesungguhnya tidaklah dipaksa dengan do’a kita. Melainkan, baru belakangan saya mengerti bahwa do’a itu sebagai wujud dari pengenalan. Saat kita tergerak berdo’a karena menyadari kekecilan kita, disitu kita bertemu dengan pengenalan kebesaran Dia.

Do’a, adalah salah satu bentuk pengenalan.

Jadi kita berdoa saja sepenuh hati, sebagai wujud dari kita mengenaliNya dengan segala sifat Kebesaran dan Kekuasaan, lewat kita mendapati diri kita sebagai yang berdo’a dan penuh dengan kefakiran.

karena DIA mempunyai Sifat sebagai Yang Maha Memberi, Maha Mengabulkan Do’a, maka sebagai ejawantah sifatNya itu akan selalu ada hambaNya yang tertakdirkan merasa begitu kecil dan kemudian berdo’a.

Sebagaimana ungkapan masyhur dari Umar, “Aku tak membawa hasrat pengabulan, melainkan aku membawa hasrat do’a. Saat aku tergerak berdo’a, aku tahu pengabulan bersamanya.”

Indah sekali, bukan? Menyadari bahwa saat kita berdo’a, merupakan bukti dari penzahiran sifatNya.

catatan kaki:

[1] Kisah ini saya dengar dari YouTube, pada rekaman tentang kekuatan do’a, disampaikan oleh Mufti Ismail Menk, mengutip seorang ulama di Saudi Arabia yang mendengarkan penuturan langsung dari Dr. Ishaan seorang dokter spesialis yang sangat terkenal di Pakistan.

[2] Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. H.R Muslim

[3] H. Hussien bin Abdul Latiff

[4] Tafsir Al Quran Tematik, Spiritualitas dan Akhlaq. Kementrian Agama RI (hal, 452)

Saya pinjam gambar ilustrasi dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s