TENGGELAM DALAM kekecilan

CELLS IN HUMAN BODY

Berapa jumlah sel dalam tubuh manusia? Estimasi para ilmuwan mengatakan sebuah range yang sangat besar antara “5 billion, to 200 million trillion cells.”[1] Entah bagaimana metoda mereka melakukan perhitungan itu.

Yang menarik adalah, setiap sel kita ketahui tersusun dari molekul, setiap molekul terdiri dari unsur, dan unsur dipecah menjadi atom-atom.

Tak ingin berpanjang kata tentang hal yang hampir semua orang tahu, kita sudah paham bahwa di dalam atom pun masih ada elektron dan proton-neutron yang semua bergerak sendiri dengan intelegensianya sendiri.

Sebuah gerak sederhana saja, semisal gerak kita “mengambil air minum,” pada tataran yang mikro berarti adalah gerak dari triliunan sel dan atom-atom.

Kalau perputaran elektron di dalam atom itu tidak pernah kita setir, lalu pertanyaan yang logis adalah benarkah persepsi kita bahwa kitalah yang menyetir sebuah gerak ‘mengambil air minum’ itu? Jangan-jangan, gerak kita mengambil air minum itu sebenarnyapun bukan kita yang menggerakkan? –karena merupakan sebuah gabungan dari triliunan gerak atom yang sudah otomatis bergerak sendiri-. Melainkan sebuah gerak yang sudah disusunkan.

Tetapi sebenarnya bukan itu yang hendak saya obrolkan. Saya tiba-tiba teringat dengan bahasan ini karena mendapati begitu banyak tulisan yang bertebaran dari para motivator yang menyarankan sebuah cara untuk membuat seseorang menjadi optimis.

Katakanlah misalnya kita kita ingin melakukan sesuatu, maka kita membuat sebuah visualisasi di benak kita, sebuah bayangan semacam hipnosa diri sendiri, bahwa kita pasti bisa, kita sukses, dan kita sangat hebat. Bayangan itu kelak akan menghipnosa diri kita sendiri dan menjadi terpacu untuk sukses dan berani.

Dulu bahasan itu begitu menarik buat saya. Barulah belakangan ini setelah menemukan beberapa kajian dari orang Arif[2], saya mendapati bahwa metoda hipnosa diri sendiri dengan kata-kata optimis semacam itu, sering bertabrakan dengan pandangan para arifin dalam islam.

Misalnya, kita tengok sejarah Nabi Yunus a.s kala dimakan ikan Nun, lalu beliau mengucapkan do’a yang masyhur: “Tiada Tuhan melainkan Engkau! Maha Suci Engkau! Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri”.(QS Al-Anbiya’ : 87).

Doa Nabi Adam a.s. kala terpisah dengan siti Hawa:

“Keduanya berkata: Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf [7]: 23.)

Para arifin mengatakan, alih-alih menghipnosa diri dengan memvisualisasikan kehebatan diri, Para Nabi dan orang-orang shalih malah kebalikannya. Mereka menenggelamkan diri dalam pengakuan kekerdilan dan kelemahan. Dan dengan tenggelam dalam pengakuan kelemahan diri itulah mereka mengenal Kebesaran Tuhan.

Dan sejarah mencatat juga, orang-orang yang menenggelamkan diri dalam pengakuan kekerdilan dan kelemahan inilah yang pada akhirnya ditolong oleh Allah.

Yunus a.s dikeluarkan dari perut Ikan Nun, dikembalikan ke daratan, dan mendapati penduduk Ninawa pada akhirnya kembali beriman.

Adam a.s dan Hawa akhirnya dipertemukan kembali.

Kalau kita bawa lagi perbincangan ini pada sebuah fakta modern sekarang bahwa di dalam tubuh kita sendiri begitu banyak kehidupan yang sama sekali kita tidak ada campur tangan mengaturnya. Dan dalam skala makro pun kita tahu bahwa pergerakan planet-planet di alam semesta ini juga tak ada campur tangan manusianya. Maka kita tahu bahwa sejatinya hampir semua –atau mungkin memang semua- lini dalam kehidupan kita ini sudah disusun dengan rapih dan indah.

Semakin menyadari keteraturan susunan yang tak pernah kita ikut campur tangan ini, semakin dekatlah pada Yang Menyusunnya.

Dan ternyata kita tengok bahwa kebiasaan untuk menghipnosa diri dengan segala kalimat optimis itu pada tataran tertentu malah menjadi kontra produktif, karena ternyata memperbesar ‘keakuan,’ yang pada gilirannya akan membuat manusia tersiksa sendiri, karena begitu banyak variabel di dalam hidup ini yang tak mungkin disetir oleh mereka.

Dan dalam kaitannya dengan dimensi spiritualitas islam, saya temukan orang-orang arif mengatakan bahwa kehidupan ini tujuannya hanya satu, yaitu mengenali Allah SWT. Dan pengenalan terhadap Allah SWT salah satunya didapatkan lewat pengakuan akan kelemahan diri. Atau kebalikannya, tak mungkin kedekatan pada Allah diperoleh siapapun yang memandang pada kebesaran dirinya sendiri.

Ali bin Abi Thalib berkata: “Allah membuatku mengenal diriku sendiri melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]”[3]

Orang-orang yang mengenal Allah, dan menjadi dekat kepada Allah, adalah selalu orang-orang yang dibuat menyadari kelemahan dirinya, dan menyadari ketidakmampuan dirinya. Semakin mereka menyadari begitu banyak variabel yang sejatinya tidak pernah disetir oleh manusia, semakin mereka mengenali Allah sebagai Sang Pemilik segala pagelaran yang bergerak dengan serba otomatis itu.

Mereka mendapati diri sendiri sebagai begitu miskin dan papa, lalu mengenali Allah sebagai Yang Maha Kaya.

Mereka dapati diri sebagai yang begitu bodoh dan tak tahu apa-apa, lalu mengenali Allah sebagai Yang Maha Memiliki Ilmu dan Bijaksana.

Semakin mereka mengakrabi dirinya sebagai seorang yang tidak punya kuasa, semakin mereka menjadi kenal dengan Yang Memiliki Daya.

Semakin mereka menyadari dirinya kecil, Semakin tahu bahwa DIA-lah Yang Besar.

catatan kaki:

[1] http://phenomena.nationalgeographic.com/2013/10/23/how-many-cells-are-in-your-body/

[2] H. Hussien Abdul Latiff

[3] Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Al Qur’an Tematik Spiritualitas dan Akhlak, (452), 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s