MENYUSUN ULANG MAKNA LILLAH

Green-leaf-water-droplet

Ada satu kesalahan saya dulu, dalam memaknai kata “Lillah.”

Dulu saya mengira bahwa sebuah pekerjaan dikerjakan dengan “Lillah”, untuk Allah, berarti pekerjaan itu dilakukan dengan sama sekali bebas konteks.

Misalnya sholat, maka sholat yang “Lillah” itu saya kira sholat yang bebas konteks. Orang sholat bukan karena dipicu kondisi butuh duit. Orang sholat bukan karna dia ada masalah.

saya mengira, orang yang sholat karena dia pengen sholat saja; itulah yang “Lillah.”

Belakangan, saya baru memahami kekeliruan saya dalam memaknai Lillah.

Dan saya baru menyadari bahwa cara Allah mengajak hambaNya kembali padaNya salah satunya adalah dengan “memecahkan tempayan” ke-akuan hambaNya lewat ujian hidup.

Maka, saat ada seseorang dibelit hutang, dan dengan kondisi dibelit hutang itulah dia menemukan makna kefakiran, lalu orang tersebut sholat dengan situasi batin yang meminta tolong dan mengakui bahwa DIA-lah Yang Maha Kaya; maka “Lillah” lah orang itu.

Saat ada seseorang digelontori masalah, dan dengan kondisi banyak masalah itulah maka orang tersebut menemukan makna ketidak berdayaan, lalu orang tersebut berdo’a dalam do’a yang mengakui kelemahan diri dan menyaksikan Kekuasaan Allah; maka “Lillah“-lah orang itu.

Dan disini saya baru mengerti bahwa segala peribadatan kita, sesungguhnya tak pernah lepas dari konteks hidup kita. Dan kondisi dimana kita tergerak berangkat beribadah karena konteks hidup kita; dan kita “menyaksikan” kekuasaan Allah dalam ‘ibadah yang mengakui kelemahan diri itu’; maka “Lillah“-lah itu.

Ada orang yang kesulitan lantas berdo’a meminta pertolongan, maka orang itu “Lillah” jika yang dia saksikan adalah Kekuasaan Rabb-nya dalam aktivitas berdo’a-nya itu.

Orang yang banyak kemudahan dalam hidupnya, lantas memuji Allah sebagai ekspresi kesyukurannya, maka orang itu “Lillah” jika yang dia saksikan adalah Welas Asih, rahmatnya Allah dalam aktivitas memujinya itu.

Jadi segala ibadah kita, baru saya sadari, tak akan pernah bisa kita lepaskan dari konteks hidup kita.

Apatah ibadah itu merupakan bentuk minta tolong pada Allah karena kesulitan yang menggiring kita bertemu pertolonganNya. Atau ibadah yang semata memuji DIA karena kebersyukuran atas kemudahan hidup yang kita cecap dalam perjalanan kita.

Dua-duanya melekat erat pada pengalaman hidup kita masing-masing. Dan dua-duanya merupakan jalan untuk “Lillah“…jika dalam peribadatan yang disetir oleh duniawi itu, nyatanya kita [yang kecil] menemukan DIA [Yang Besar] dalam peribadatan itu.

Dan sebaliknya, meskipun ibadah kita banyak, boleh jadi ibadah kita itu tidak “Lillah”, jika ibadah kita itu fokus pada isi permintaannya. Yang kesulitan hidup beribadah dengan fokus pada permintaan akan kemudahannya, yang butuh duit fokus pada duitnya,  bukan ekspresi dari situasi batin yang menemukan diri begitu kecil; sehingga kita menyaksikan Yang Maha Besar.

Jadi, dalam pemaknaan seperti di atas, barulah saya mengerti bahwa beribadah atau kembalinya kita pada Allah, yang didorong oleh kebutuhan hidup, itu tetap “Lillah” kok…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s