MENCARI YANG TAK KEMANA-MANA

Pada sebuah sesi bicara dalam panggung “Ted’s talk” seorang narasumber memberikan sebuah wacana begitu cantik tentang pandangannya bagi orang-orang yang sering melakukan perenungan “ke dalam”, orang-orang yang sering tafakur dan menilik batinnya sendiri.

Sebelum lebih jauh kita membincang, secara sederhana baiknya kita gunakan dua mainstream ini dalam kaitannya dengan bagaimana seseorang mengisi energi jiwanya.

Yang pertama adalah orang-orang yang hobi merenung, mengamati batinnya sendiri, orang yang dibahas dalam bincang paragraf di atas.

Yang kedua adalah orang-orang yang hobi bertualang, dan mengamati yang diluar diri mereka.

Atau dalam perumpamaan yang lebih pas kita bisa katakan bahwa golongan pertama adalah para pejalan “kedalam”, dan yang kedua adalah para pejalan “keluar”. Journey inward, dan journey outward.

Orang-orang yang kecenderungan batinnya adalah melakukan journey inward, acapkali secara keliru ditafsirkan oleh khalayak sebagai orang yang anti sosial. Padahal, tak begitu, hanya saja orang-orang tipe ini mereka begitu tekun menilik ke dalam dirinya sendiri, melakukan perjalanan dengan menguliti lapis-lapis emosi dan fikiran mereka sendiri, sehingga mereka mendapatkan bahwa “perjalanan”; atau journey; yang mereka lakukan itu bisa memberikan semacam daya refresh. Menyegarkan. Atau kata orang-orang, mencerahkan.

Begitu kata sang pembicara.

Tiba-tiba saya tertarik menulis kembali mengenai hal ini dalam kaitannya dengan dimensi yang lebih spiritual.

Bagi orang-orang tipikal “journey inward” itu, mereka tak perlu berdiri di puncak everest untuk merasakan bahwa dirinya kecil dan tak berdaya, bahwa Tuhan ternyata begitu besar dan digdaya. Karena definisi itu, pemaknaan itu, telah mereka peroleh lewat perjalanan perenungan mereka ke dalam jiwanya sendiri.

Saat orang-orang kebanyakan tak mampu memisahkan antara consicusness, kesadaran dirinya, dan anasir emosinya dan fikirannya, para perenung mampu mengamati dengan objektif ruang-ruang batinnya sendiri. Dari penelusuran itulah mereka seringkali menemukan makna dari kekuasaan Tuhan, atas ketakjuban melihat kekompleks-an diri mereka, yang berarti juga kekompleks-an manusia.

Satu kekeliruan saya dulu, saya mengira bahwa hanya orang-orang yang punya kecenderungan merenung seperti ini sajalah yang pada akhirnya akan memaknai hidup dengan lebih spiritual. Atau dalam bahasa lainnya, dimensi esoteris agama hanya bisa dicecap oleh orang-orang yang suka bertafakur lewat pola journey inward semata. Setidaknya dulu begitulah kesimpulan prematur saya.

Ternyata saya keliru. Setelah berulang kali saya bertemu dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan journey outward. Mereka bukan perenung dalam artian bukan orang yang hobi duduk tafakur, membaca, dan mengamati diri mereka sendiri. Tetapi mereka adalah orang-orang yang hobi berpetualang. Naik gunung. Mendaki bukit, menuruni lembah dan ngarai. Yang pada gilirannya, ternyata model perjalanan seperti itu juga membuat mereka beragama dengan lebih “dalam,” mengakrabi Tuhan dalam sikap yang lebih dari sekedar formalitas.

Teringat saya akan sebuah kisah. Dimana seorang sahabat Rasulullah SAW yang begitu asik beribadah. Kerjaannya puasa melulu, dan beribadah melulu hingga melupakan keluarganya, saking asyiknya “journey inward.” Tetapi sahabat ini kemudian ditegur. Agar beliau balance dalam memposisikan kehidupannya. Bahwa anaknya memiliki hak atas dirinya, istrinya punya hak atas dirinya, begitu juga lingkungan sekitarnya memiliki hak atas dirinya.

Kisah di atas dan kisah yang saya kutip dibawah nanti mungkin tak terlampau relevan, mengingat tentu naif menyamakan antara “journey inward” dan ibadah khusus seperti sholat.

Pada intinya, pesannya kita bisa pahami, bahwa memang betul kata pepatah, manusia itu bukanlah makhluk jasadi yang memiliki sisi ruhani, manusia sebaliknya adalah makhluk ruhani yang tinggal pada alam jasadi.

Tetapi, betapapun juga, justru karena sekarang kita tinggal di alam nyata inilah maka journey outward menjadi memiliki porsinya. Bahwa hidup tak melulu perenungan ke dalam, tapi juga menempuh perjalanan ke luar diri.

Rasulullah SAW selepas tahannuts di gua hira, menghantar risalah ke khalayak ramai. Selepas mi’raj beliau bukannya asyik-asyik di puncak langit tetapi kembali ke peradaban yang penuh sesak dan gonjang-ganjing.

Jadi terpahamkanlah saya bahwa baik journey inward, maupun journey outward akan memiliki momentnya sendiri, dan dua-duanya  akan bisa mengantarkan manusia untuk menyaksikan keagungan Tuhannya.

Orang yang terbiasa tafakur, merenung,  atau berjalan “kedalam”, pada akhirnya setelah menemukan sekian makna-makna akan “dipaksa” untuk “keluar” dan memberi sumbangsih ke masyarakat. Bahwa hidup bukan untuk menjadi pertapa semata, tetapi juga menyaksikan Keagungan, dan Keindahan Allah, Jalal dan Jamal-Nya Allah SWT yang tersebar terserak-serak di merata alam ini.

Definisi mengenai kefakiran dan kecilnya diri –yang mereka temukan dalam duduk tafakurnya yang hening- akan menemukan realitasnya saat mereka dihantam gada persoalan pada kecimpungnya di dunia luar.

Begitupun sebaliknya, orang-orang yang terbiasa berjalan “keluar.” Hobi bertualang. Jalan-jalan. Pergi kesana-sini. Berbaur dalam khalayak, lebur dalam keramaian pasar, pada akhirnya akan menemukan jenaknya dimana mereka terpaksa atau dipaksa berjalan “kedalam”.

Realita mengenai lelah dan capeknya, perih dan pedihnya petualangan, baru akan mereka temukan makna dan definisinya setelah mereka mengambil jeda sejenak dan kontemplatif “kedalam.” Seperti kata Rumi, “Dan kau…kapan kau akan mulai perjalanan panjang ke dalam dirimu?” Tempat dimana jutaan fakta realita lapangan mengendap dan terakumulasi jernih menjadi makna-makna yang cerah.

Dengan begitu semua seharusnya “menemukan” Tuhan. Karena padaNya semata muara segala perjalanan

Mungkin itulah mengapa kita dengar masyhur sekali ungkapan bahwa para sahabat Rasulullah SAW adalah umpama singa-singa lapar di siang hari, tetapi pada malamnya mereka menjelma rahib-rahib.

Sebuah skema perjalanan “keluar” dan “kedalam” yang sangat elok. Untuk “mencari” Tuhan, yang sejatinya tak kemana-mana.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s