MENUTUPI GUNUNG FUJI DAN KERETA YANG TAK MENINGGALI

blog“Coba kau pandangi gunung itu,” saya ingat potongan kalimat itu dari sebuah novel tentang kisah samurai jepang, novel yang saya baca saat saya masih kuliah. Entah apa judul novelnya saya tak ingat lagi.

“Rentangkan tanganmu, dan cobalah kau tutupi gunung itu!” Perintah seorang laki-laki pada rekannya.

“Tak mungkin kita bisa merangkul gunung, pun tak akan kita bisa menutupi gunung sebesar gunung Fuji ini dari pandangan orang-orang.” Jawab lelaki itu.

“Itulah intinya.” Sahut sang rekan yang memerintahkannya merentangkan tangan dan merangkul Gunung Fuji.

Kisah itu kalau saya tak khilaf, bercerita tentang kebesaran seseorang guru. Semakin besar seseorang, semakin nyata imbas dari perbuatan dan kharismanya, maka orang tersebut akan semakin menjadi “milik” khalayak.

Orang-orang yang sudah menjadi “milik” khalayak akan sulit untuk “dimiliki” secara personal. Sebagaimana Gunung Fujiyama yang besar itu, tak akan bisa ditutupi meski kita merentangkan tangan sebagaimanapun juga.

Saya teringat dengan kisah ini, karena kebetulan membaca “Latha-iful Minan” karya Ulama besar Ibnu Athaillah. Dan saya terkesiap karena kisah tentang orang-orang yang mencoba “memiliki” seorang yang sejatinya berada pada level “milik khalayak” ini sering terjadi, dan akrab dalam lingkungan kita sendiri.

Tapi saya teruskan dulu mengutip Lathaiful Minan. Diceritakan, Ibnu Athaillah sang ulama punggawa fikih Mazhab Maliki itu begitu terkesan dengan gurunya Abul Abas Al Mursi[1]. Ulama nan arif dan zuhud itu memancarkan pesona yang membuatnya ingin berlama-lama dan menjadi dekat pada beliau.

Dalam suatu kesempatan, Ibnu Athaillah yang baru belajar itu mengatakan pada seorang murid yang lebih senior darinya bahwa dia ingin sang guru memerhatikannya, karena dia ingin menjadi dekat pada Sang Guru.

Apa jawab murid senior itu? Dikatakannya pada Ibnu Athaillah agar tidak menuntut guru memerhatikannya, sebaliknya Ibnu Athaillah-lah yang harus memerhatikan Sang Guru, karena kadar perhatian Sang Guru kepadanya akan berbanding lurus dengan kadar “perhatian”nya kepada Sang Guru.

Ternyata sejarah mencatat, bahwa berbilang tahun kemudian Ibnu Athaillah benar-benar “memerhatikan” Sang Guru, dalam arti, beliau adalah pembelajar yang benar-benar mempelajari apa yang Sang Guru ajarkan.

Dan tercatat bahwa Ibnu Athaillah adalah seorang ulama yang bisa menjabarkan dengan indah dua mainstream besar keilmuan, ilmu lahiriah atau syariat karena beliau ulama Mazhab Maliki, dan keilmuan batin atau tasawuf sebagai penuntun para “pencari” menemukan Tuhannya.

Saya jadi teringat dengan sebuah ungkapan yang dinisbatkan pada Sayidina Ali Karamallahu wajhahu:

“Sesungguhnya kebenaran itu tidak dikenali melalui orang-orang, namun kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenali orang-orangnya”.

Atau dalam lain pandang, kita bisa katakan bahwa dengan mengenali kebenaran dan “berakrab” dengan lelaku orang-orang yang benar, dan arif, maka mau tak mau kita akan tertuntunkan untuk masuk dalam gerbong yang sama dengan mereka.

Saya teringat, dalam beberapa kesempatan saya bertemu dengan orang-orang arif yang memukau keilmuannya. Besar hasrat hati untuk membersamai orang-orang arif tersebut, tapi tak selalunya ada kesempatan. Seringkali karena keterbatasan pribadi, atau lebih seringnya karena orang-orang yang kita kenal arif dan memang Allah anugerahkan peranan untuk mengajar masyarakat, pastilah mereka sudah menjadi “milik khalayak.”

Dan ingin mendaku seseorang yang sudah menjadi “milik khalayak” sebagai seseorang yang kita kenal secara pribadi, tentulah sulit. Sesulit merentangkan tangan menutupi gunung Fuji pada cerita di awal tadi.

Saya ingat Rasulullah SAW, orang yang benar-benar menjadi “milik khalayak.” Dan semua sahabat ingin mendekat karena beliau seperti magnet yang memancarkan kharisma. Beliau seumpama sumur kebijakan yang tak habis ditimba.

Tetapi nyatanya memang beliau dekat dengan semua orang. Dalam sebuah riwayat kita pernah dengar bahwa setiap orang yang berbicara dengan beliau akan merasa bahwa merekalah orang yang paling diperhatikan.

Tentu kita tahu, bagaimanapun akan tetap ada sahabat yang masuk dalam lingkaran terdekat beliau, seperti khulafaur rasyidin. Tetapi itupun kita paham karena situasi dan kondisi membuatnya begitu.

Dan dalam lain cerita, ada juga seorang sahabat yang tak begitu intens bertemu beliau, tetapi kepada sahabatnya yang lain –yang dekat secara jarak dan frekuensi pertemuan- beliau katakan untuk mencari seseorang yang bernama Uwais Al Qarniy (orang yang tidak dekat secara fisik dengan beliau itu tadi).

Lewat cerita sejarah kita tahu, Uwais Al Qarniy ini hanya sekali saja pergi ke tempat Rasulullah, dan itupun tidak sempat bertemu. Tetapi namanya disebut-sebut sebagai orang yang makbul doanya, dan khulafaur Rasyidin meminta doa pada beliau. Meski secara fisik Uwais Al Qarniy tidaklah berada pada lingkaran terdekat Rasulullah SAW.

Dan dalam suatu hadits, Rasulullah pernah juga bersabda bahwa sahabat beliau adalah orang-orang yang belum pernah bertemu muka dengan beliau, tetapi mengimani dan mencintainya. [2]

Intinya saya rasa, kita menjadi fakir sajalah kepada Allah[3], dan nanti kita akan dihantarkan untuk masuk dalam majelis orang-orang yang sama-sama fakir kepada Allah.

Jangan mencari orangnya, tetapi carilah Allah dan kita akan didekatkan kepada siapapun yang berjalan ke arah yang sama.

Tetapi sebenarnya, keseluruhan cerita tentang merangkum Gunung Fujiyama ini saya tuliskan dalam kaitannya dengan Ilustrasi satu lagi ini.

Masih dalam Lathaiful Minan. Suatu hari Ibnu Athaillah yang merasa begitu dekat dan ingin meniru Sang Guru dalam amaliyah dan kezuhudannya, datang menemui gurunya dan hendak mengutarakan hasrat untuk meninggalkan usaha lahiriah. Karena beliau merasa bahwa usaha lahiriah itulah yang menyebabkan beliau tidak total dalam mengabdi kepada Allah. (Dengan bekerja, dan sibuk berkecimpung dalam aktivitas duniawi, maka beliau sulit membersamai Sang Guru, dan lagi sulit untuk mengabdi total kepada Allah, menurut beliau kala itu.)

Tetapi apa jawab gurunya? “Bukan begitu caranya, tetaplah dalam posisi yang Allah berikan kepadamu. Bagian untukmu yang Allah berikan lewat diriku pasti akan sampai kepadamu.”

Artinya jelas. Bahwa yang pedagang tetaplah menjadi pedagang. Yang dokter tetaplah menjadi dokter. Yang guru tetaplah menjadi guru. Yang pegawai tetaplah dengan kepegawaiannya.

Karena makna-makna mengenai hubungan manusia dan Tuhannya itu akan ditemui dalam keseluruhan panjang cerita di “gerbong kereta” kita masing-masing.

Sesuatu yang para ulama arif katakan dengan “khauf” atau rasa takut kepada Tuhan, bukanlah sebuah ungkapan abstrak yang hanya bisa ditemui dengan peribadatan adiluhung dan memesona dalam jumlah, tetapi ianya juga tercetak jelas dan bisa dicecap dalam keseharian kita yang dihantam berbagai-bagai masalah.

Sang pegawai yang limbung diterpa urusan kantor, pada akhirnya merasakan kekuasaan Allah dan melihat keagungan Allah lewat cerita dalam kesehariannya. Itulah gerbong keretanya.

Sesuatu yang para ulama arif katakan dengan “roja’” atau pengharapan kepada Tuhan, juga bukan sebuah emosi abstrak yang hanya bisa ditemui dengan zikir beribu lafadz.

Tetapi ianya juga berkelindan pada keseharian seorang dokter yang setiap hari melihat puluhan pasangan suami-istri khusyu berdoa untuk kelahiran bayi-bayi mereka. Atau seorang lemah yang terbaring pada ranjang rumah sakit dan melantunkan doa kesembuhan. Itulah gerbong keretanya.

Jika kita telah mengerti bahwa yang penting adalah mengakrabi kebenaran, dan menjadi fakir kepada Allah agar kita terkumpulkan pada majelis orang-orang yang sama.

Maka kereta pembawa kita menemukan makna-makna perhubungan manusia dan Tuhan itu sejatinya jalan hidup kita sendiri-sendiri. Kereta yang tak akan pernah meninggali.

Dalam pemaknaan seperti itulah, rasanya kita tak perlu bersedih hati untuk tak mampu secara fisik dekat dengan orang-orang arif yang “dimiliki khalayak”, pun tak perlu bersedih hati untuk melihat ketertinggalan pencapaian ibadah dibandingkan rekan-rekan yang gemilang. Karena sebenarnya kita tak pernah ketinggalan kereta. Kita sudah di dalam kereta. Keretanya ialah cerita hidup setiap kita.

Tinggal merubah cara pandang bahwa segalanya adalah cara Dia mengajar, sehingga segalanya adalah pula cara kita belajar. Dan kita perlu menyalin ulang petuah Syaikh Abdul Qadir Jailani, petuah indah berikut ini:

Berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.[4]

 

catatan kaki:

[1] Sang ulama zuhud nan arif itulah yang mengubah pandangan Ibnu Athaillah dari yang melulu memandang negatif pada tasawuf menjadi mengetahui bahwa tak selamanya tasawuf itu keliru, sebagaimana tak semua pembelajar fikih itu benar penafsirannya.

[2] Diriwayatkan dari Abu Jum’ah ra yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah ra yang berkata “Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau”. Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab “Ya ada, yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744 dengan sanad yang shahih.

[3] Fakir kepada Allah adalah ungkapan majazi, maksudnya adalah merasa butuh terhadap pertolongan Allah.

[4] Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuh Al Ghaib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s