NO YOU ARE NOT THE CENTER OF THE UNIVERSE

not centerJudul di atas, saya kutip bulat-bulat dari video yang diposting salah seorang rekan pada laman Facebooknya. Sebuah video yang sebenarnya sudah cukup banyak pada laman YouTube dalam berbagai versi. Intinya adalah membandingkan skala bumi vs planet-planet lain dalam satu tata surya kita, dan dibandingkan lagi dengan ukuran bintang-bintang besar di jagad semesta ini. Kesimpulannya jelas, kita sangat kecil.

Tetapi yang menarik bagi saya sebenarnya adalah judulnya, bahwa kita bukanlah pusat alam semesta. We are not the center of the universe.

Makna itu adalah makna kiasan, tetapi saya merasakan bahwa ternyata memang kecenderungan manusia adalah menginginkan dirinya untuk menjadi pusat perhatian.

Teringat dulu semasa kuliah, pada sebuah organisasi ada slogan, “seandainya tak ada kita, maka Allah akan adakan orang-orang lain untuk membantu.” Dulu slogan itu saya pandang sebatas penyemangat saja, agar berlomba-lomba dalam kebaikan, kalau saya tak ambil kesempatan baik itu, maka orang lain yang akan mengisi slot kebaikan yang ada.

Ternyata sekarang slogan itu bisa kita maknai dengan lebih spiritual dan dalam. Bahwa memang kita bukan center of the universe. 

Seorang arif bertanya dengan retoris, “jika esok kita tak ada, dunia berputarkah tidak?”

“Berputar.” jawab orang-orang.

“Jika esoknya lagi kita masih tak ada, dunia berputarkah tidak?”

“Berputar.” Jawab orang-orang lagi.

“Kalau begitu kita tak penting, bukan?” Pungkas beliau dengan retoris. “Memang tak penting, dan tetaplah begitu.”

Kenyataan itulah yang belakangan benar-benar merubah cara pandang saya terhadap hidup. Dengan jujur menelisik kedalam ruang batin sendiri, dan mengakui sebenarnya bahwa ternyata selama ini saya –mungkin juga kita- melakukan sedemikian banyak aktivitas dan perbuatan yang disetir oleh suasana batin yang abstrak yang ghaib berupa keinginan untuk menjadi pusat semesta.

Apapun saja variasi cerita pada luarannya, ternyata sering sekali disetir oleh dorongan rasa ingin diakui itu.

Seandainya ada sebuah pertanyaan, maka orang akan berlomba-lomba menjawab jika mereka mengetahui jawabannya. Sesungguhnya, letak kelezatannya adalah bukan pada ‘menjawab’nya itu, melainkan pada sensasi bahwa kita “mengetahui“, lebih tahu, atau tahu lebih dulu. Pusat semestanya adalah kita.

Membeli rumah yang megah, sebenarnya pun bukan terletak pada rumahnya, tetapi terletak pada rasa nikmat untuk dianggap mampu. Pusat semestanya adalah kita.

Kita berpartisipasi dalam banyak kegiatan sosial misalnya, masih juga pusat semestanya adalah kita, lewat persepsi kita bahwa tanpa kita andil akan berantakanlah kegiatan itu.

Seakan-akan kita begitu penting.

Berpartisipasi itu baik, tetapi merasa bahwa partisipasi kitalah yang menentukan keseluruhan jalannya semesta ini, adalah keliru.

Cara paling sederhana untuk mengetahui apakah segala aktivitas kita disetir oleh keinginan untuk diaku-aku itu tadi, adalah dengan jujur terhadap gejolak rasa kita sendiri.

Para arifin mengatakan, untuk membedakan dorongan yang ‘bersih’ dan dorongan yang disetir oleh ‘hawa nafsu’ caranya adalah cobalah tahan sejenak ketika kita punya keinginan.

Saat gejolak ingin menjawab pertanyaan, maka tahan sejenak. Ingin melakukan sesuatu, coba tahan sejenak. Dan jujurlah mengamati gejolak rasa kita sendiri, karena tabiatnya hawa nafsu adalah seperti anak kecil yang akan berontak bila keinginannya tidak dipenuhi.

Saya cukup terbeliak juga bahwa dalam diri saya sendiri begitu banyak hal yang ternyata disetir oleh keinginan diaku, yang begitu halus dan hampir-hampir luput diamati.

Cirinya sesederhana hal itu tadi, jika ditahan, dia akan berontak, dan rasa akan bergejolak menginginkan pengakuan. Awalnya agak sulit mengamati diri sendiri, lama kelamaan makin jelas dan makin kenal dengan diri sendiri.

Dan setelah kita memahami bahwa ternyata keinginan “menjadi ada,” dan “diakui” itulah yang menyetir kita, persepsi bahwa kitalah pusat semesta itu yang memenuhi batin kita. Maka untuk menghilangkannya adalah dengan menyadari bahwa alam raya ini berjalan sejauh ini, selama ini, dengan alurnya sendiri, tanpa ada sedikitpun campur tangan kita adalah untuk menceritakan diriNya. Bukan menceritakan kita.

Semua tentang diriNya dan tak pernah tentang kita.

Saat kita belajar membuang konteks diri kita dari apapun yang kita amati dan kerjakan, maka pelan-pelan persepsi kita bahwa kitalah yang menjadi faktor, kitalah salah satu variabel yang penting dalam hidup ini; akan sirna.

Karna lama kelamaan menjadi sadar bahwa diri kita, dan sebagaimana jutaan atau trilliunan hal lainnya di dunia ini, bergerak dalam plot gerak Maha Besar yang sudah ditulisNya untuk menceritakan DIA.

Dengan begitu kita melakukan segalanya dengan ringan dan tanpa gejolak hawa. Karena, dalam bekerjapun sebenarnya kita mengamati. Seperti kita ada di dalam cerita, tetapi sekaligus menjadi penonton. Begitulah kira-kira.

Dan memang we are not the center of the universe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s