MINDFULNESS, DAN PENEMUAN KEKERDILAN

images (1)Dalam suatu hadits, disebutkan bahwa Rasulullah SAW dalam sehari beristighfar tak kurang dari seratus kali.[1]

Sewaktu saya masih kuliah dulu, hadits ini saya maknai dengan begitu sederhana. Rasulullah saja yang maksum dalam sehari beristighfar seratus kali minimal, apatah lagi kita, maka kita harus banyak-banyak beristighfar paling tidak seratus kali. Syukur-syukur lebih.

Berbilang tahun berlalu, dan saya mencermati pesan-pesan dari guru-guru yang arif, barulah saya memahami dengan sedikit lebih dalam akan hal tersebut.

Para arifin, dengan terbiasanya mereka dzikrullah atau mengingati Allah, mereka berada pada kondisi yang istilah kerennya adalah “mindfulness” kondisi sadar penuh.

Ilustrasi sederhananya mengenai kondisi mindfulness ini mungkin begini, orang-orang awam seringkali mengalami apa yang disebut sebagai swing mood. Perubahan mood yang begitu drastis. Kadang gembira, kadang senang. Tetapi perubahan antara satu dan lain suasana kejiwaan itu terjadi begitu cepat, dan orangnya sendiri kadang-kadang tidak sadar, ujug-ujug sudah bad mood saja.

Padahal, senang dan atau gembira merupakan suasana kejiwaan yang dipicu oleh sesuatu, pemicunya biasanya adalah fikiran manusia itu sendiri.

Jadi apa sebab orang-orang sering tidak sadar kok ujug-ujug sudah bad mood atau ujug-ujug sudah kemrungsung? Sebabnya adalah karena, mereka tidak “awas” dengan gerak-gerik fikirannya sendiri. Fikiran mereka, pada gilirannya memicu emosi kejiwaan mereka. Sederhananya begitu.

Dan para arifin, ternyata terlatih untuk berada dalam kondisi mindfulness  itu tadi, yaitu sangat sadar terhadap gerak-gerik fikiran dan emosi kejiwaan mereka sendiri.

Apa konsekuensi dari kondisi mindfulness ini? Salah satunya adalah mereka menjadi sangat “kenal” dengan diri sendiri.

Apa konsekuensi dari semakin mengenal diri? Konsekuensinya adalah semakin tahu jelek-jeleknya diri. Karena, sesuatu yang tidak terlihat atau tidak teramati oleh tingkat kesadaran kewaskitaan orang awam; hal itu bisa diamati oleh orang yang sudah mindfulness.

Misalnya saja, dua orang yang sama-sama duduk diam di rumah karena tidak ada kerjaan. Orang satunya menghabiskan waktu dengan membaca, orang yang satunya juga membaca.

Jika salah seorang dari mereka adalah orang-orang yang mindfulness, maka konsekuensi logisnya adalah orang yang mindfulness tadi akan lebih banyak beristighfar atas “dosa”nya.

Apa dosanya? Wong mereka cuma duduk diam di rumah dan membaca?

“Dosa”nya –kalaulah boleh mengistilahkan begitu- adalah apa yang bergejolak pada batin mereka sendiri.

Orang yang mindfulness mengistighfari bersit fikiran yang mungkin mengutuk pemerintah saat membaca berita politik di majalah, mungkin mengistighfari kemarahan, mungkin mengistighfari kelalaian karena tahu batinnya disibukkan dengan sesuatu yang mengganggu ingatannya pada Allah. Mungkin mengistighfari rasa iri yang teramati terbit di hatinya. Dan apapun saja gerak-gerik fikiran dan imbas perasaan yang sama sekali tidak disadari oleh orang-orang yang belum mencapai kondisi mindfulness ini.

Mereka mengingati Allah, dan waspada terhadap gerak-gerik fikiran dan perasaannya sendiri.

Menyadari fakta itu, kita menjadi mengerti pada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa orang-orang awam mengistighfari perbuatan mereka, sedangkan orang-orang yang arif mengistighfari sesuatu yang bahkan belum dia lakukan, karena dia sudah ‘awas’ terhadap gerak-gerik bibit fikiran dan gejolak rasa mereka sendiri sebelum semuanya itu terejawantah di alam perbuatan.

Seorang kawan pernah bercerita pada saya, ada seorang anak muda dari pesantren yang berkunjung ke rumah seorang temannya. Temannya menyodori minuman, dan menawarkan agar anak muda itu tadi segera minum.

Tapi apa jawab anak muda itu? “Tunggu sebentar, masih ada nafsunya.”

Jawaban yang sangat abstrak, dan baru bisa dimengerti dalam konteks cerita tentang mindfulness itu tadi. Orang yang awas, bahkan bisa meneliti apakah sebuah perbuatan dipicu oleh dorongan hawa, atau tidak.

Ketekunan untuk mengingati Allah, dan pada gilirannya berimbas pada kondisi mindfulness ini rupanya menjadikan hamba untuk selalu menilai banyak kesalahan yang terjadi pada dirinya.

Dan ternyata, menyadari bahwa diri sendiri bersalah, itu baik, selama kesadaran bahwa diri kita jelek itu menjadi pemicu kita untuk “kembali” kepada Yang Mengampunkan Segala Kejelekan.

Dan ternyata para Nabi pun juga mengakrabi Allah dalam suasana kejiwaan yang merasa diri hina-dina dan jelek sangat.

Nabi Adam, memulai tugas kekhalifahan dengan sebuah ‘kesalahan’. Nabi Yunus, menjemput kegemilangan dakwahnya, dengan ‘kekhilafan’ yang menyebabkan dia ditelan ikan NUN. Nabi Muhammad, beliau maksum, terpelihara, tetapi semakin tinggi seseorang semakinlah dia akan menyadari kekerdilan diri, yang pada gilirannya membuatnya mengakrabi Allah juga dalam suasana kejiwaan yang fakir seperti itu tadi. 100 kali sehari minimal beristighfar dan meminta ampun.

Jadi, untuk yang sudah ‘mendewasa’, saya rasa tahapan istighfarnya mesti dibalik. Bukan semata memperbanyak istighfar pada lafadz, tetapi tidak masuk kedalam kondisi mindfulness. Melainkan, secara subjektif saya rasakan kita mesti ikuti polanya para arifin itu tadi.

Mengingati Allah dengan sebanyak-banyaknya, lalu nanti kita akan menjadi awas dan waspada terhadap gerik fikiran dan rasa kita sendiri, sehingga nanti muncullah rasa fakir dan hina-dina, yang mau tak mau akan memaksa istighfar untuk keluar dari lisan kita.

Dalam pemaknaan seperti itu, barulah kita mengerti bahwa orang-orang yang berjalan “pulang” menuju Allah, tidaklah berhenti dalam sebuah posisi dimana mereka merasa sudah jadi orang baik. Maksudnya, mereka malah menjadi orang yang semakin mengerti bahwa diri mereka tidak baik. Semakin mengerti bahwa diri tidak baik, maka semakin mereka terus menuju Allah.

Disinilah baru saya sadari, kekhilafan sebagian pola peribadatan yang mengedepankan aspek lahiriah SEMATA. Mereka memperbanyak kuantitas, saat kuantitas menjadi banyak, mereka menilai itu sebagai suatu kebaikan. Saat kuantitas menurun, mereka desperate dan merasa urung menuju Allah.

Sedangkan pola yang diajarkan para arifin adalah membetulkan posisi aspek batiniah, seiring dengan menjalankan aspek lahiriah. Batin yang benar, akan berimbas pada pengenalan akan kekecilan diri. Semakin merasa kecil, semakinlah mereka meminta keampunan dari Yang Besar. Orang yang terus menerus merasa kecil, menganggap bahwa sejatinya perjalanan itu tidak pernah sampai, maka itu mereka terus menerus meminta tolong. Penambahan kualitas ibadah pada akhirnya adalah konsekuensi logis dari sikap yang semakin minta tolong dan semakin minta tolong.

Saat seseorang mengakui kekecilan dirinya, pada saat itulah dia akan bertemu dengan Kebesaran Dia.

Para pendosalah yang akan bisa memaknai Pengampunan. Seperti kata Ali bin Abi Thalib, bahwa beliau mendapati dirinya sendiri sebagai yang lemah dan fakir, dan akhirnya mengenali Allah sebagai yang Kuasa dan Kaya.[2]

Saat kita berjalan menuju Allah, kata orang-orang arif, kita haruslah menemukan diri sebagai yang kecil dan tak berdaya. Hanya dengan begitu, maka kita bisa melihat dunia ini sebagai pentas pagelaran demonstrasinya Allah lewat parade ilmu dan kreasiNya yang tak akan habis ditulis dengan pena sebanyak seluruh pepohon dan tinta sebanyak tujuh laut.

Hanya yang menemukan kekerdilan dirinyalah yang menyadari bahwa DIA-lah Al Mutakabbir. Yang Maha Sombong. Yang berhak sombong. Yang untuk mengenalkan diriNya kepada kita yang kecil dan sangat kecil…sangat kecil…sangat kecil ini; DIA sampai membuat pagelaran kolosal sebesar jagad raya ini.

Dan jagad raya yang -bagi kita manusia- sudah besar ini, bagiNya tetaplah kecil. Seumpama biji pasir pada hamparan gurun. DIA-lah Yang Besar. Yang  Berhak Sombong. Yang KebesaranNya hanya bisa ditemui oleh orang yang menemukan kekecilan dirinya sendiri.

catatan kaki:

[1] “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim).

[2] Ali bin Abi Thalib berkata: “Allah membuatku mengenal diriku sendiri melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]” (Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Al Qur’an Tematik Spiritualitas dan Akhlak, (452), 2010)

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s