TUNGGANGAN YANG MELINTASI KEBENDAAN

doorPernahkah rekan-rekan berdo’a kepada Tuhan, dalam rangka meminta pilihan apakah sebaiknya makan mie goreng atau pecel lele untuk makan malam?

Rasanya tidak pernah, bukan?

Kenapa tidak pernah? Kenapa tidak sebaiknya kita berdo’a saja untuk keseluruhan detail hidup kita? Bukankah setiap kejadian akan berkaitan dengan kejadian lainnya dalam sebuah aksi reaksi kompleks, hingga pada akhirnya tak satupun kejadian yang tak punya imbas? Lalu kenapa tak berdo’a saja untuk semua hal? Dulu saya pernah bertanya seperti itu dalam batin saya sendiri.

Tetapi bukankah akan menjadi ganjil apabila kita berdoa dan meminta petunjuk untuk pilihan antara mie goreng atau pecel lele. Untuk apakah pesan jus jeruk atau es teh manis? Untuk apakah hari ini pakai kemeja biru atau kemeja warna merah dengan pola garis-garis? Ganjil bukan?

Itu memang kebingungan yang ganjil, rasanya tak masuk akal dan tentu tidak praktikal untuk dilakukan, tetapi saya belum mengerti kala itu apa landasan filosofinya kenapa tidak kita praktekkan berdoa di segala detail hidup?

Jawaban mengenai hal tersebut baru saya mengerti berbilang tahun kemudian. Setelah mengakrabi kajian para arifin, yang memberi tahu tentang keutamaan mengingati Allah. Bahwa sak bisa-bisanya kita harus belajar memraktekkan mengingati Allah dalam apapun kondisi: duduk, berdiri, berbaring, sebisa-bisanya mengingati Allah. Itu point pertama.

Point kedua adalah bahwa mengingati Allah itu berarti juga kita tidak mengingati benda-benda. Pecel lele, jus jeruk, kemeja biru dan merah, naik angkot ataupun gojek, semua itu adalah benda-benda. Dan mengingati Allah adalah bukan mengingati benda-benda tersebut. Itu point keduanya.

Dan yang paling penting saya rasa adalah berikut ini. Setelah kita belajar untuk dawam mengingati Allah dalam segala kondisi kehidupan kita. -Dan itu berarti bahwa kita mengingati Allah dalam lapang dan sempitnya kita-. Maka keseluruhan kejadian hidup yang mempertemukan kita dengan makna lapang dan sempit itu; sejatinya adalah jalan untuk kita mengingatiNya. Bukan mengingati kejadian hidupnya atau bendanya.

Indah sekali pesan orang-orang arif ini.

Kita misalkan saja begini. Kita bekerja sejak pagi, dan kita memulakan segala kehidupan kita dengan basmallah. ‘Memulakan kerja dengan basmallah’ itu adalah sebagai bentuk ingatan kepada Allah. Kemudian, kita memulai hari dalam kondisi dimana ingatan kepada Allah itu masih sinambung dan terjaga. Kita masih stay tune pada kondisi mengingati Allah.

Karena kita masih stay tune dalam ingatan Allah itulah sebabnya kita tak usah sibuk berdoa apakah kita akan keluar rumah lewat pintu depan atau pintu belakang, apakah naik motor atau naik mobil? Karena semua itu sudah dalam kondisi tinggal GO saja.

Kita sudah tinggal JUST DO IT, sambil memulakan segala sesuatunya dengan basmallah dan ingatan kepada Allah terjaga pada batin kita.

Lalu, dalam keseharian kita bekerja itu, akan ada banyak sekali hal yang mempertemukan kita dengan situasi lapang dan sempit.

Kejadian-kejadian yang menghantarkan situasi lapang dan sempit itu, sejatinya kebendaan. Dan seperti laiknya kebendaan; dia akan dengan cepat menghilangkan ingatan kita pada Allah yang sejak awal hari kita jaga untuk sinambung itu tadi.

Maka….agar ingatan pada Allah tetap terjaga, kita gunakanlah kejadian hidup yang kita temui itu, segala apapun yang membetot perhatian kita itu, sebagai “tunggangan” untuk ‘kembali’ pada Allah.

Ada situasi lapang yang memesonakan; sebelum dia membetot dan mencuri ingatan kita pada Allah, maka kita jadikan suasana itu sebagai tunggangan. Kita berdoa pada Allah sebagai bentuk kesyukuran. Imbasnya adalah, suasana senang yang kebendaan itu urung memenuhi batin kita, tetapi malah menjadikan kita semakin terkunci pada ingatan kepada Allah.

Ada situasi sempit yang menyesakkan; sebelum dia membetot dan mencuri ingatan kita pada Allah, maka kita jadikan suasana sempit itu sebagai tunggangan. Kita berdoa pada Allah sebagai bentuk kita meminta pertolongan. Imbasnya nanti, suasana sempit dan kesulitan keduniawian itu urung memenuhi batin kita, tetapi malah menjadikan kita semakin terkunci pada ingatan kepada Allah.

Jadi ternyata, yang pokok adalah mengisi hari-hari kita dengan ingat pada Allah. Dan kita jadikan apapun saja suasana batin yang kita temukan dalam keseharian; suasana yang sejatinya kebendaan; kita alihkan lagi menjadi pintu doa yang membuat kita malah semakin kembali lagi ke Allah.

Saya rasa itulah sebabnya mengapa kita tidak usah berdo’a yang lucu-lucu dan sholat istikoroh untuk apakah sebaiknya membeli cemilan coklat atau goreng kentang. Selain tidak praktikal dan menggelikan, ternyata itu sama saja dengan membawa hal kebendaan ke dalam batin kita yang sejatinya sedang mengingati Allah. Orang kita sedang mengingati Allah, eh malah hal tak penting dan kebendaan dibawa-bawa.

Lain halnya dengan kebalikannya. Kita sudah memulakan hari dengan mengingati Allah, kita jaga ingatan pada Allah itu agar sinambung dalam duduk, berdiri, berbaringnya kita, dan tiba-tiba ada-ada saja kejadian hidup yang berat dan menyesakkan; maka sebelum keduniawian yang melelahkan itu mencuri perhatian kita, kita berdo’a pada Allah agar menyelamatkan kita. Do’a yang semacam itulah yang mengkonversi urusan kebendaan menjadi makna pengenalan. Do’a yang menemukan kekerdilan diri dan mengakui Allah punya kebesaran. Semakin berdo’a dalam konteks macam begini, semakin kenallah pada keagungan dan keindahannya Allah.

Dan baru belakangan ini saja saya mengerti, inilah maksud dari hadits Rasulullah SAW yang mengatakan sesiapa yang sibuk berdzikir sampai lupa meminta, maka akan diberikan lebih baik dan lebih utama ketimbang orang yang sibuk meminta.[1]

Dulu saya kira hadits itu maksudnya kalau begitu tak usah meminta saja. Ternyata, hadits itu berbicara mengenai level, maqom seseorang. Orang yang hatinya sudah dipenuhi dengan Allah melulu, maka orang itu akan dijamin hidupnya. Wis pokoknya beres.

Tetapi, sebelum sampai kesitu ada prosesnya. Prosesnya ya antara lain seperti pesan guru-guru kearifan. Ingatlah Allah dalam setiap jenak hidup kita. Dan saat ada kesulitan, kebutuhan hidup, atau kesenangan menggelora, apapun saja urusan keduniawian yang sejatinya “berat” buat kita, jadikan hal tersebut sebagai tunggangan kita untuk kembali padaNya.

Lewat Do’a. Do’a yang menegakkan kehambaan. Do’a yang melintasi urusan-urusan kebendaan. Do’a yang lebih sebagai ekspresi pengenalan dan pengakuan.

catatan kaki:

[1] Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s